
Amelia merasa aneh dengan tingkah pak Anwar. Gelagatnya sangat mencurigakan. Bahkan wajahnya nampak serius ketika sedang berbicara. Entah siapa lawan bicaranya di telepon membuat Amelia penasaran. Namun, Amelia tak seberani itu menanyakan.
Amelia pura-pura bersikap biasa saja ketika pak Anwar sudah selesai menelepon.
"Mel, bapak mau keluar dulu. Ada sesuatu yang harus bapak urus!"
"Iya pak, hati-hati!"
Amelia tak bertanya lebih, toh itu urusan pak Anwar. Amelia tak seberani itu untuk menanyakan kemana pak Anwar pergi dan apa yang ia lakukan.
Kelihatan dari wajahnya memang terlihat serius seolah ada sesuatu yang terjadi.
Pak Anwar langsung pergi mengendarai mobilnya menuju markas persembunyian tim mereka.
Di sana sudah ada Farhan ternyata, ya pak Anwar pergi karena ada perintah dari Farhan.
"Berikan berkas ini pada mereka, biarkan mereka yang menghancurkan Bedebah itu. Kita hanya tinggal menunggu hasilnya!"
"Dan, satu lagi, berikan saksi pada polisi seolah ini kerja keras mereka!"
Perintah Farhan pada pak Anwar, sang kaki tangan. Menyamar jadi guru hanya ingin melindungi anak-anak.
"Jika sudah selesai, jemput Aurora. Karena besok acara pernikahan pamannya!"
"Siap tuan!"
Sesudah memberikan instruksi Farhan langsung pergi dari markas tersebut. Sebuah markas yang Farhan sulap menjadi sebuah cafe.
Mungkin di luar terlihat cafe namun ada pintu rahasia di dalamnya. Di mana cafe itu pernah di jadikan Farhan merayakan ulang tahun sang istri ke tiga puluh delapan di mana waktu Queen mengandung Aksara.
Farhan langsung meluncur ke rumah sakit Bunda Husna dimana sang istri dan putranya sedang menunggu.
Harusnya hari ini pernikahan Alam dan Amira di langsungkan. Namun, karena insiden penembakan di rumah sakit membuat Alam memundurkan satu hari karena tak mau membuat Amira tertelan di saat keadaan Moreo belum siuman.
Namun, kini Moreo tiga jam lalu baru siuman bahkan sudah bisa di mintai keterangan oleh polisi.
Moreo menceritakan se alakadarnya yang ia lihat tanpa mengurangi dan melebihi.
Karena memang Moreo awalnya berniat menjenguk Amira dan Alam di rumah sakit sekalian mengobati luka di keningnya.
Namun, ketika Moreo membuang muka karena tak mau melihat kemesraan Alam dan Amira. Moreo melihat seseorang yang memerhatikan Alam. Awalnya Moreo sendiri tak mempedulikannya. Itulah kenapa kemaren Moreo bukannya langsung pergi malah diam disitu. Bukan kuat melihat kemesraan yang Alam dan Amira ciptakan melainkan melihat gelagat orang tersebut yang mencurigakan.
Dan, ketika Moreo ingin pergi orang tersebut menodongkan sniper dari celah jendela mobil yang di tutup sedikit. Hingga penembakan itu terjadi. Namun, sialnya Moreo tak mengenali wajah tersebut karena memakai masker dan kaca mata hitam.
"Apa anda sempat melihat plat mobil nya!"
"Tidak, karena posisinya menyamping. Tapi ..,"
Moreo terdiam berusaha mengingat-ingat merk dan body mobil tersebut.
Deg ...
Moreo terpaku ketika menyadari sesuatu. Mobil tersebut Moreo hapal siapa pemiliknya. Karena mobil tersebut sudah di rancang khusus lagi dari segi body dan warna. Dan di Indonesia jarang yang memilikinya.
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Ah, saya lupa!"
Ucap Moreo sambil memegang kepalanya yang memperlihatkan kesakitan. Membuat para polisi panik hingga mereka memilih menyudahi saja integrasi mereka apalagi dokter sudah memperingati mereka.
Polisi juga tak bisa berbuat apa-apa jika sudah begini karena mereka juga tak mau mengambil resiko.
"Terimakasih atas kerja samanya, semoga anda lekas sembuh!"
Ucap polisi sambil memberi hormat lalu pergi dari ruangan Moreo.
Polisi tersenyum saja melihat keluarga besar Al-biru dan Prayoga yang menunggu di luar.
"Bagaimana pak, apa anda sudah menemukan titik terang?"
Tanya Fandi sambil berdiri bertanya pada polisi yang sudah mengintrogasi Moreo.
"Belum, anda tenang saja kami akan berusaha menindak lanjuti kasus ini sampai selesai,"
"Maaf tunggu sebentar!"
Ucap pak polisi sopan karena ada yang menelepon dirinya. Pak polisi langsung mengangkatnya.
Seketika wajah pak polisi menegang terlihat jika yang mereka bahas masalah serius. Namun, Fandi dan yang lain tak berani bertanya.
"Maaf tuan, saya harus segera pergi!"
Izin pak polisi karena ada sesuatu yang di temukan anak buahnya.
Fandi mempersilahkan saja karena dia juga tak bisa mencegah kepergian pak polisi.
"Mah, boleh Rara masuk sendiri ke dalam. Ada yang harus Rara bicarakan dengan Moreo,"
Ucap Amira meminta izin pada sang mama begitupun pada yang lainnya. Mereka mengerti Amira pasti butuh waktu empat mata untuk berbicara.
"Silahkan sayang, kami menunggu di sini!"
Ucap Melati membuat Amira mengangguk, karena memang ada yang harus Amira bicarakan.
Sedang Alam berada di ruangannya karena harus istirahat juga.
Amira duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Tepatnya di samping Moreo dimana posisi Moreo menyamping ke arahnya.
"Apa sudah lebih baik?"
Tanya Amira menatap sendu Moreo yang terlihat lemah.
"Iya, aku tak selemah itu!"
Canda Moreo karena tak mau membuat Amira merasa bersalah dan mengasihaninya.
"Aku tahu, Terimakasih!"
Ucap tulus Amira karena sudah menyelamatkan calon suaminya. Ada rasa nyeri di hati Moreo ketika Amira bilang Terimakasih.
Moreo faham apa yang di maksud Amira, karena ia sudah menyelamatkan Alam.
__ADS_1
Mereka terdiam, dengan pikirannya masing-masing. Entah harus dari mana Amira memberi tahu Moreo jika ia akan menikah besok.
"Maafkan aku!"
Ucap Amira menatap dalam Moreo, walau bagaimanapun Amira sudah menyakiti Moreo selama ini.
"Aku gak apa!"
"Besok aku akan menikah!"
Deg ...
Jantung Moreo rasanya berhenti berdetak di detik itu juga. Nafasnya tercekat dengan tangan mengepal erat.
Menikah!
Sungguh kabar yang sangat menyakitkan bagi Moreo. Bagaimana bisa Amira benar-benar tega padanya.
Amira memegang tangan Moreo yang terdiam. Membuat Moreo menatap Amira dalam.
Amira tahu ia begitu jahat memberi kabar menyakitkan di saat Moreo sedang seperti ini. Namun, Amira akan lebih jahat lagi jika Moreo tak di kasih tahu.
"Maafkan aku,"
Ucap Amira tulus, Amira tak mau mereka menjadi musuh karena masalah hati. Sedang hati Amira sendiri sudah terkunci rapat oleh Alam.
"Selamat!"
Ucap Moreo tersenyum getir, ia tak bisa apa-apa jika sudah begini. Bahkan sekedar merebut Amira pun Moreo tak sanggup.
Ingin sekali Moreo berteriak sekencang-kencangnya nya kenapa dunianya tak seindah dunia orang lain. Namun, Moreo hanya bisa diam membisu dengan segala rasa sakit yang mengoyak dadanya.
"Aku berharap kamu akan bahagia di kemudian hari, tentu dengan wanita yang kamu cintai!"
"Cepat sembuh, maaf aku harus segera pergi!"
Ucap Amira sambil melepaskan genggamannya. Amira harus sudahi obrolan ini karena Amira takut ia menangis melihat keadaan Moreo yang tak baik-baik saja.
Moreo hanya bisa menatap sendu kepergian Amira. Kini ia sendiri dalam ruang sepi, terbelenggu akan cinta yang mati.
Ingin sekali Moreo menahan, tapi apakah daya. Tak ada kuasa baginya untuk menahan Amira tetap tinggal.
Apa ini karena hukuman Tuhan, dulu dia mendekati Amira karena ada maksud tertentu dan sekarang hatinya di patahkan ketika Moreo mulai jatuh cinta.
Sungguh miris bukan, kehidupan macam apa yang Moreo jalani.
Bahkan dalam keadaan seperti ini pun sang Kakek gak ada. Moreo merasa sendiri, seolah semua orang meninggalkan dia. Tak ada yang perduli padanya gak ada.
Semua orang hanya bisa memanfaatkan dirinya saja. Gak ada yang tulus mencintai dia gak ada.
Bahkan kakeknya sekali pun!
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1