Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 33 Kenapa om!


__ADS_3

"Mama, Ayah, Rara pulang!"


Girang Amira bersenandung ria seolah Amira sedang menunjukan bahwa dia sedang bahagia.


Jek dan Melati hanya saling tatap bingung ada apa dengan putrinya. Kenapa terlihat bahagia sekali.


Amira memeluk sang mama lalu mencium pipinya begitupun dengan Jek.


"Rara ke kamar dulu mau mandi gerah!"


Ucap Amira langsung berlari, sedang Melati dan Jek di buat bingung dengan tingkah putrinya.


"Amira terlihat bahagia, ada apa?"


Tanya Melati pada suaminya karena merasa aneh. Apa Amira terlihat bahagia karena bertemu Alam atau bagaimana.


"Mungkin bertemu teman lamanya!"


"Teman lama!"


"Iya, ternyata Amira melakukan pertemuan dengan teman kuliahnya waktu di London. Mungkin, dia merasa senang!"


Jawab Jek yakin, karena anak buahnya melaporkan begitu. Melati hanya diam saja sambil berpikir. Mungkin yang di katakan suaminya benar. Apalagi memang hari ini Alam tak keluar menemui Amira karena dirinya tadi bicara dengan Alam.


Bahkan Melati juga tak lama baru sampai rumah tidak mungkin Amira bahagia karena bertemu Alam. Mungkin, iya Amira terlihat cerah karena habis bertemu teman lamanya.


"Bagaimana pertemuan tadi?"


Tanya Jek, apa Alam berubah pikiran atau tidak.


"Masih sama, tapi aku yakin Alam akan lebih memilih keluarganya dari pada menghancurkannya!"


"Apa seyakin itu!"


"Iya, aku tahu bagaimana sikap anak itu. Dia tak akan tega menyakiti hati kedua orang tuanya,"


"Syukur lah, semoga saja mereka tak melangkah terlalu jauh!"


Ujar Jek begitupun dengan Melati berharap seperti itu.


Bahkan Jek dan Melati belum bisa percaya dengan kebenaran ini. Putrinya dan Alam saling mencintai. Sungguh, membuat Jek benar-benar pusing bagaimana itu terjadi dan sejak kapan.


.


Sedang Amira berdiri tepat di depan cermin yang berada di kamar mandi. Senyuman indah terukir di bibir Amira.


Namun, senyuman itu hilang seketika. Bahkan raut bahagia pun tak ada lagi. Berganti dengan mata berkaca-kaca. Bahkan sendari tadi Amira mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras.


Entah ada apa dengan Amira kenapa tiba-tiba dia menangis. Bahkan tangisan itu begitu pilu. Apa Alam menyakitinya tadi, kenapa Amira menangis seperti itu.


Amira menenggelamkan tubuhnya di bathtub yang sudah di penuhi air sendari tadi. Dada Amira begitu sesak dan sakit.


Kenapa?


Ada apa?

__ADS_1


Amira memunculkan kembali kepalanya lalu bersandar dengan benar.


"Kenapa om!"


Lilir Amira merasakan sesak mengingat kejadian tadi di kantor.


"Kenapa om menanggung semua nya!"


Isak Amira tertahan, bahkan Amira sampai mengigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak keluar.


Amira masih belum bisa percaya dengan semua fakta yang dia dengar sendiri. Rasanya ini sangat mustahil.


Jadi!


Jadi, selama ini sang mama yang membuat Alam menjauh darinya. Jadi selama ini sang mama yang yang merencanakan semuanya. Jadi dan jadi, semuanya karena sang mama.


Sang mama yang meminta Alam untuk menyakitinya. Bagaimana mungkin sang mama sekejam ini. Bahkan dengan teganya sang mama membuat Alam harus berjanji sesuatu yang sulit Alam lakukan.


Bagaimana mungkin Alam sekuat itu di tekan oleh sang mama. Bagaimana mungkin Alam sekuat itu menahan rindu selama empat tahun lamanya. Sungguh Amira tak menyangka.


Amira tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Alam menahan nya sendiri, menanggung beban sendiri akan janji yang sulit ia lakukan.


"Om, kenapa tak bercerita!"


Ucap Amira gemetar membayangkan jika ia harus di posisi Alam.


Pantas saja sang mama selalu saja membicarakan Moreo karena itu salah satunya menjauhkan dia dan Alam.


Dan, yang lebih menyakitkan lagi, Amira juga di paksa harus menerima Moreo yang bahkan hanya Amira anggap sahabat.


Bahkan sekarang Alam masih bisa tetap tenang menghadapi semuanya.


Amira ingin marah, namun tak mungkin Amira lakukan. Itu, sama saja menyulitkan Alam.


Apa yang Alam pikirkan, menjaga pertengkaran walau hatinya sakit. Kenapa mereka harus berada di posisi yang sulit.


Andai saja Alam tak terlahir dari keluarga Mangku Alam mungkin cerita mereka akan sedikit berbeda.


Namun, nyata nya kenyataan itu tak bisa di hindari.


Kini mereka berdua yang harus berjuang antara menentang atau melepaskan.


Dengan kasar Amira menghapus air matanya, Amira harus tetap berpura-pura tak tahu apa-apa. Amira hanya ingin melihat sejauh mana kedua orang tuanya memisahkan mereka.


"Rara tak akan membiarkan om berjuang sendiri. Sampai kapanpun Rara tak akan melepaskan om dan om tak boleh menyerah!"


Gumam Amira mengepalkan kedua tangannya.


Kini Amira tahu satu alasan yang selama ini Amira ingin tahu. Kenapa omnya berubah dan bersikap seolah tak peduli. Itu semua karena sang mama yang telah membuat Alam harus berjanji dengan janji yang tak Alam sukai.


Bahkan ini sudah sangat lama, tapi Alam tak mau menceritakannya sama sekali pada dirinya.


Amira faham kenapa Alam tak mau bercerita, karena tak mau membuat dirinya membenci kedua orang tuanya sendiri.


Bahkan Alam masih saja bisa terlihat baik-baik saja di depannya. Sungguh, Amira tak akan pernah membiarkan Alam merasakan rasa sakit sendiri.

__ADS_1


Baiklah, jika Alam berusaha terlihat baik-baik saja maka Amira juga akan melakukan hal yang sama.


Mencoba bersikap bodoh yang tak tahu apa-apa. Biarlah mereka menjalani semuanya seperti ini. Dan, Amira akan mengikuti alurnya sejauh mana kedua orang tuanya bertindak.


Amira menyudahi berendamnya karena sudah terlalu lama. Dia dengan cepat membilas tubuhnya.


Amira menatap penampilannya di cermin. Seperti biasa Amira akan merubah mimik wajahnya kembali. Seolah memang tak terjadi apa-apa.


"Semangat Rara!"


Monolog Amira menyemangati dirinya sendiri seperti orang bodoh. Bahkan bibir Amira kembali tersenyum. Sungguh sangat menakutkan tingkah Amira bahkan lebih menakutkan dari pada orang yang marah.


Perut Amira sudah terasa lapar, apalagi dia tadi berendam lama.


Seperti nya enak jika makan langsung. Amira turun ke bawah di mana kedua orang tuanya sudah ada di sana.


"Wah ikan!"


Ucap Amira semangat melihat menu makanan kesukaannya.


Malam ini Amira terlihat begitu lahap, bahkan sampai membuat Jek dan Melati melongo.


"Sayang makannya pelan-pelan!"


Tegur Melati takut Amira ke tulangan.


"Rara lapar sekali mah, apalagi tadi Rara makan siang cuma sedikit!"


Ujar Amira santai membuat Jek hanya menggelengkan kepala saja.


"Ya sudah,. tapi hati-hati!"


Amira hanya mengangguk saja, sungguh Amira seperti mempunyai kepribadian ganda.


Kadang bersikap manja, kadang marah kadang pula cuek. Namun, sikap Amira keluar tergantung ke pada siapa nya dulu ia bicara.


" Dokumen yang kamu minta sudah ayah kirim. Maaf, tadi pagi ayah gak sempet!"


"Baiklah, nanti Rara pelajari!"


Ucap Amira santai sambil membereskan piring kotor.


"Mah, Ayah seperti nya besok Rara pulang terlambat. Karena jadwal Rara besok sedikit padat!"


"Baiklah, jangan lupa selalu kabari saja!"


"Ok!"


Bersambung ....


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


.


__ADS_1


__ADS_2