Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 25. Cemburu


__ADS_3

Jek hanya bisa pasrah ketika putrinya masih tak mau bicara padanya.


Bahkan Amira pergi tanpa sarapan terlebih dahulu.


Karena suasananya sudah berbeda, Amira tak akan mungkin kerja lagi sebagai Office Girl di perusahaan Q.B grup. Semuanya karena sang ayah. Jadi percuma Amira menyamar lagi, toh semuanya sudah terbongkar.


Semua orang menunduk hormat pada Amira ketika mereka berpapasan dengan Amira. Walau bagaimanapun Amira adalah putri Jek berarti keponakan bos mereka.


Melihat bagaimana sikap para karyawan padanya, Amira menjadi semakin kesal. Kenapa semuanya jadi seperti ini.


"Vina!"


Panggil Amira membuat Vina langsung berdiri kaku.


Vina tak tahu harus bersikap bagaimana, ketika mengetahui siapa teman sebanarnya.Vina menunduk ketika Amira sudah berada di hadapannya.


Amira hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal. Vina juga sama seperti yang lainnya.


"Hey, aku ini temanmu. Kenapa kau malah menghindar!"


Kesal Amira melihat Vina seperti orang ketakutan seperti itu.


Vina membulatkan kedua matanya ketika Amira tiba-tiba memeluknya.


"Jangan berubah atau aku akan marah!"


Ancam Amira sambil berbisik di telinga Vina.


Sungguh Vina entah harus bahagia atau bersedih. Ternyata Amira masih mau berteman dengannya. Vina pikir Amira tak akan mau berteman dengannya.


"Aku harus keruang om ku, aku pasti menemui kembali!"


Ucap Amira langsung pamit, apalagi Amira tahu. Vina harus melakukan pekerjaan nya lagi.


Amira rasanya tak sabar bertemu dengan omnya. Apalagi Amira harus membicarakan masalah perpindahan dirinya.


Amira menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan Tifani. Hubungan mereka tak sebaik itu.


Bahkan Tifani hanya bisa diam tak bisa bicara apa-apa seolah bibirnya terkunci.


Entah harus bersikap apa Tifani ketika mengetahui siapa Amira sebenarnya. Pantas saja waktu itu Amira begitu berani tanpa rasa takut menampar dirinya. Bahkan mempermalukan dirinya di hadapan semua orang.


Yang lebih parah lagi Tifani mengancam akan memecat Amira. Namun, seperti ya ketakutan itu kini tertimpa pada Tifani.


Bagaimana kalau Amira dendam dan membalas perbuatannya.


"Apa om saya ada di dalam?"


Tanya Amira dingin, kini Amira tak akan takut lagi mengakui dan menemui Alam secara terang-terangan.


"A-ada!"


Gugup Tifani, rasanya sulit sekali bagi Tifani bicara benar pada Amira setelah apa yang ia lakukan.


"Terimakasih!"


Amira berlalu begitu saja, padahal sebenarnya Amira hanya sengaja bertanya karena ingin tahu. Apa Tifani akan masih bersikap angkuh atau tidak. Nyatanya nyali Tifani hanya sebatas ikan teri.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Amira langsung menerobos masuk.


"Dom, kau itu kebiasaan. Jika masuk ketuk pintu dulu!"


Cetus Alam tanpa mengalihkan pandangannya.


Amira hanya tersenyum saja mendengar teguran dari Alam. Bisa di pastikan berarti orang yang berani masuk tanpa mengetuk pintu hanya Dom saja.


Cup ...


Deg ...


Alam terperanjat dari duduknya ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya.

__ADS_1


Alam terkejut, Alam pikir itu Dom ternyata Amira.


Bukannya senang, Alam bersikap biasa saja bahkan terkesan cuek.


Amira menautkan kedua alisnya melihat respon Alam yang terlihat tak senang melihatnya.


"Kenapa cemberut, apa ada masalah?"


Tanya Amira karena merasa heran dengan sikap Alam yang berbeda. Bahkan malah memalingkan mukanya bak anak kecil yang merajuk.


"Om ada apa, ini muka kenapa gak enak di pandang!"


Canda Amira yang justru malah membuat Alam semakin cemberut. Bahakan Alam hanya diam saja enggan untuk menyahut.


"Om!"


"Om!"


Bruk ...


Alam membulatkan kedua matanya ketika Amira menarik kursinya lalu dengan cepat Amira duduk di pangkuan Alam.


"Turun Ra,"


Ketus Alam terlihat dingin, entah apa yang terjadi. Kenapa Alam bersikap seperti ini.


"Om kenapa sih, apa Rara ada salah!"


Bingung Amira akan sikap Alam yang merajuk. Tak biasanya Alam bersikap bak anak kecil.


Grep ...


Karena kesal Amira menangkup pipi Alam bahkan sampai bibir Alam manyun.


"Kenapa?"


"Om!"


"Om!"


"Kalau gak mau bicara, ya sudah. Rara mau pergi makan siang bersam--"


"Jangan pergi!"


Ucap Alam cepat memeluk Amira dari belakang. Alam tak akan membiarkan Amira makan bersama Moreo.


Amira harus tetap di sampingnya bukan di samping orang lain.


"Jangan temui Moreo!"


Amira menautkan kedua alisnya mendengar nada kesal Alam yang melarang dirinya bertemu Moreo.


Kini Amira tahu, kenapa omnya merajuk. Apa omnya cemburu semalam melihat dia di bawa pergi oleh Moreo.


Seketika senyum Amira mengembang melihat kecemburuan Alam yang begitu unik.


"Om cemburu?"


"Ya!"


Ketus Alam membuat Amira malah terkekeh, ternyata Alam jujur juga. Biasanya kalau di film-film yang Amira tonton laki-laki tak akan mau ngaku karena gengsi.


"Kenapa tertawa, perasaan gak ada yang lucu!"


"Om tuh yang lucu, masa cemburu pada Moreo!"


"Ya tentu cemburu, kamu pergi dengan mantan pacar. Bahkan cecunguk itu merangkul kamu!"


Ketus Alam benar-benar kesal karena Amira malah menggodanya. Bahkan terlihat tak merasa bersalah sama sekali.


"Walaupun mantan pacar, tapi om kan tahu di hati Rara cuma ada om!"

__ADS_1


Bluss ..


Alam tersipu ketika Amira menggodanya.


Bahkan Amira tersenyum geli melihat tingkah omnya yang berbeda.


Padahal Alam orang yang kaku dan dingin. Tapi, di hadapan Amira Alam seolah menjelma menjadi kucing betina.


"Sudah jangan merajuk lagi!"


"Maaf!"


Ucap Alam membuat Amira terdiam, kenapa sekarang omnya malah minta maaf. Bahkan wajahnya kini terlihat serius.


Alam menarik pinggang Amira agar merapat dengannya. Lalu Alam menyelipkan helatan rambut ke belakang telinga Amira.


"Maaf, kemaren om gak bisa berbuat apa-apa. Om gak bisa membantu kamu keluar dari situasi yang kamu gak suka!"


"Jangan minta maaf, Rara ngerti kok. Rara yakin Om tak akan membiarkan Rara berada di situasi sulit jika waktu dan tempat nya aman!"


"Om hanya merasa tak berguna!"


"Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Rara gak apa, justru Rara minta maaf sudah membuat om cemburu!"


Alam menarik Amira ke dalam pelukannya. Sesekali Alam mencium puncak kepala Amira.


Lama mereka berpelukan, kini Alam mengajak Amira duduk. Agar obrolan mereka terlihat santai.


"Om merasa ada yang aneh gak?"


"Aneh kenapa?"


"Keputusan ayah!"


"Maksudnya!"


"Rara merasa aneh saja kenapa ayah mendadak mengenalkan Rara pada publik. Rara meras Ayah sedang menjauhkan Rara dengan Om!"


"Apa ayah mengetahui tentang hubungan kita!"


Alam terdiam, entah apa yang harus Alam katakan. Ternyata Amira mulai menyadari akan hal itu. Apa Alam harus memberi tahu yang sebenarnya atau tidak.


Bahwa kedua orang tua mereka memang sudah tahu kalau mereka saling mencintai.


"Gak mungkin sayang!"


"Masa sih!"


"Gak mungkin ya, apa ini perasaan Rara saja!"


Cup ...


Alam mengecup bibir Amira karena merasa lucu. Dia yang memberi pertanyaan dia juga yang menjawabnya.


"Om!"


Cup ...


"Apa!"


"Nyebelin!"


"Tapi suka kan?"


"Gak tahu ah,"


Cup ...


"Om!!!"


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2