
Semenjak kejadian kemaren membuat Jek menjadi diam. Bahkan Jek memutuskan tak datang ke kantor.
Jek ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan semuanya.
Kini Jek sadar, selama ini jalan yang ia ambil memang salah. Dan, dulu sang ayah pun sama. Namun, Jek akan memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Jek memilih kehilangan segalanya dari pada Jek harus kehilangan Amira. Putrinya harta paling berharga di hidupnya.
Dinda dan Fandi benar, Amira anak penurut dan patuh. Namun, kali ini Amira menentang dirinya. Karena ingin memperjuangkan cintanya.
Bukankah cinta mengubah karakter seseorang. Sama seperti yang Amira lakukan. Dan, baru kali ini Amira menentang kedua orang tuanya walau tidak dengan cara memberontak tapi diamnya Amira mampu membuat Jek dan Melati miris.
"Kapan mau menemui pak Broto?"
Tanya Melati pada suaminya yang duduk melamun tanpa mau menyentuh sarapannya.
"Nanti siang!"
"Bagaimana keadaan Amira?"
Tanya Jek balik, karena Melati baru saja dari kamar Amira mengantarkan makan.
Walau Amira tak pernah memakan makanan yang di bawa Melati. Tapi, Melati tak akan bosan untuk membawanya kembali.
"Masih sama, tak mau bicara!'
Ucap Melati sendu lalu duduk di samping sang suami.
Jek menghela nafas berat, entah sampai kapan Amira menyiksa dirinya sendiri. Dan tentu Jek merasa sangat terpukul akan hal itu. Dan, baru kali ini Amira melakukan hal gila seperti itu.
Karena sebelum nya Amira tak pernah melakukan hal-hal yang menyiksa dirinya sendiri. Amira selalu ceria dalam keadaan apapun. Namun, kini keceriaan itu seolah di renggut paksa oleh keadaan. Dan, tak ada lagi sosok ceria lima hari ini. Bahkan rumah yang selalu hangat akan kemanjaan Amira kini telah hilang.
Senyap, bak di telan kegelapan. Seolah tak membiarkan setitik cahaya masuk.
"Sayang, apa kamu tak apa jika kita kehilangan semua ini!"
Ucap Jek tiba-tiba menatap nanar sang istri yang sudah dua puluh empat tahun menemani hidupnya.
Melati memegang tangan suaminya lembut lalu menciumnya. Seulas senyuman terukir indah di bibir Melati.
"Tak apa, bagiku putri kita adalah harta yang paling berharga dari apapun!"
Kini Jek semakin yakin akan keputusannya. Dia tak akan takut lagi membatalkan perjodohan ini. Walau harus kehilangan segalanya. Dan, tentang janji, Jek yakin ayahnya di alam sana pasti akan setuju dengan keputusan yang ia ambil.
Saatnya Jek berdiri di atas kakinya sendiri.
"Kita harus bicara!"
Ucap Jek beranjak dari duduknya. Begitupun Melati ikut berdiri.
Suami istri itu berjalan menuju lantai atas di mana putrinya berada.
Semoga dengan kabar ini putrinya mau makan dan melanjutkan hidupnya lagi.
__ADS_1
Cklek ...
Melati membuka pintu kamar Amira yang sudah tidak di kunci lagi. Jek dan Melati masuk, Melati menghela nafas berat ketika melihat makanan yang tadi ia bawa belum di makan sama sekali oleh Amira.
"Sayang,"
Sungguh Jek tak sanggup melihat putrinya seperti ini. Berbaring sambil menangis dalam diam bahkan tatapannya begitu kosong.
"Kenapa kamu menyiksa diri kamu sendiri, Nak!"
Ucap Jek lemah, mengangkat kepala Amira dan meletakkannya di atas pangkuannya. Jek menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mata Amira.
"Maafkan ayah, nak. Maaf!"
Jek memeluk Amira yang lemah tak berdaya, bahkan sekedar membalas pelukan Jek pun Amira tak mampu.
"Dengarkan ayah baik-baik nak, ayah akan membebaskan kamu dari rasa sakit ini. Ayah dan mama merestui kalian. Bangkitlah, dan kejar kebahagiaan kamu!"
"Maafkan Ayah dan Mama selama ini terlalu egois, tak peduli akan perasaan kamu. Maafkan kami nak!"
Ucap Jek sudah tak bisa membendung kesedihannya lagi. Sungguh rasanya hati Jek terasa di remas-remas. Tak ada pelukan hangat yang selalu melingkar di perutnya. Tak ada kata manja yang keluar dari mulut Amira.
Amira lemah, bahkan sekedar membalas pelukan sang Ayah Amira tak mampu. Bibirnya bungkam seolah tak sanggup untuk berkata. Hanya air mata yang menjadi jawaban betapa rapuhnya Amira saat ini. Berapa tersiksanya Amira, betapa merindunya, dan betapa bahagianya Amira ketika kedua orang tuanya sudah memberikan keputusan yang ingin Amira dengar.
"Ayah harus pergi, ada sesuatu yang harus ayah selesaikan. Sekali maafkan ayah sayang, tolong jangan benci ayah!"
Cup ...
Jek pamit pergi pada Melati, Melati hanya mengangguk saja berharap semuanya cepat selesai.
Melati membenarkan letak tidur Amira menjadi sandaran. Melati menghapus air mata Amira.
"Sayang!"
Ucap Melati sambil mengelus rambut hitam Amira yang dulu indah kini terlihat lusuh bahkan terasa kasar.
"Maafkan mama jika belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu. Maafkan mama jika tak pernah mengerti perasaan kamu. Maafkan mama yang sudah membuat kamu seperti ini, nak. Mama pikir, jalan yang mama ambil paling benar. Nyatanya mama salah besar. Maukah Rara memaafkan mama!"
Lilir Melati menggigit bibir bawahnya agar tak terisak. Sungguh hati ibu mana yang kuat melihat keadaan putrinya yang sekarat.
"Ma ..,"
Deg ..
Melati terkejut mendengar panggilan dari sang putri. Sudah lima hari Amira tak memanggilnya. Kini putrinya memanggilnya lagi. Sungguh Melati terharu akan hal itu. Bahkan kini Amira memandangnya sayu.
Bibir kering itu berusaha bicara walau terasa sakit dan sulit.
"Sayang kamu memanggil mama, katakan sekali lagi!"
"Ma-mama!"
Hiks ...
__ADS_1
Tangisan Melati pecah saking bahagianya mendengar putri nya kembali memanggil dia. Sungguh, Melati sangat sangat bahagia.
"Se-se-sesak!"
Lilir Amira karena sang mama terlalu erat memeluknya saking bahagianya Melati.
"Maafkan mama sayang, maaf!"
Sesal Melati sambil melerai pelukannya. Tak henti-henti Melati mengecup puncak kepala Amira dengan penuh kasih sayang.
Kini rasanya Melati bisa bernafas lega melihat putrinya sudah kembali.
"Ra-rara makan ya, mama suapin!"
Sungguh, Melati harus berkata apa lagi saking bahagianya melihat Amira mengangguk.
Melati mengambil bubur yang sudah dingin, tak apa. Setidaknya Amira mau makan dan minum obat. Bagi Melati itu sudah cukup.
Dengan telaten Melati menyuapi Amira hati-hati. Bahkan Melati mengigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak pecah lagi.
Di setiap suapan yang Amira terima maka di situ air mata Melati keluar.
Amira menggeleng, tanda bahwa ia tak mau makan lagi. Padahal baru tiga suap, namun Melati tak memaksa. Sudah sangat bahagia jika Amira mau makan kembali. Berarti Amira sudah mempunyai harapan baru.
Tak lupa Melati memberi obat supaya Amira cepat kuat kembali.
Sudah selesai Melati menaruh kembali keatas naskah.
Grep ...
Amira menggenggam tangan Melati lemah, bahkan seolah itu bukan genggaman namun sebatas menempel di lengan Melati.
"Ada apa sayang, apa ada yang di ingi--"
Deg ...
Melati diam membeku ketika tangan lemah sang putri menghapus air matanya. Kini mata Amira tidak terlihat kosong, sekarang tatapan itu seolah punya harapan kembali.
"Rara sayang mama!"
"Maafin Rara!"
Bukannya berhenti tangisan Melati malah semakin pecah. Bahkan bukan pecah lagi, rasanya Melati tak sanggup menahan kebahagiaan ini. Terlalu bahagia hingga Melati sulit untuk berkata.
Dua wanita berbeda usia itu saling peluk dengan tangisan bahagia mewakilinya. Bukan tangisan kesedihan lagi. Tapi, kali ini hanya tangisan bahagia sangat sangat bahagia.
Melati semakin yakin, bahwa keputusan mereka memang benar. Kebahagiaan Amira adalah segalanya. Amira harta berharga dari apapun.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1