Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 28 Pertengkaran


__ADS_3

Semuanya berubah kembali ketika Amira sudah pindah ke perusahaan induk.


Namun, hubungan mereka tetap baik-baik saja. Bahkan Alam dan Amira selalu menyempatkan waktu makan siang bersama di apartemen Alam.


Mereka menjalani hari demi hari seperti itu, walau harus sembunyi-sembunyi tapi mereka menikmatinya.


Bahkan, Alam semakin menggenggam Amira. Seolah Alam takut Amira akan terlepas.


Dom, benar. Alam harus menikmati setiap waktu dan momen kebersamaan nya dengan Amira. Karena momen itu mungkin tak akan pernah terulang kembali. Apalagi kedua orang tua mereka menentang hubungannya.


Dan tentu, kebersamaan dan pertemuan Alam dan Amira tak luput dari campur tangan Dom sendiri.


Dom hanya ingin sahabatnya itu bahagia. Sudah cukup selama ini Alam menderita, biarkan sejenak dia bahagia.


Entah siapa di sini yang egois, yang penting Dom akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan sahabatnya.


Bahkan ketika Fandi dan Dinda tahu kebenaran tentang putranya. Alam tak lagi pulang ke rumah, karena Dinda terlanjur kecewa.


Namun, entah ada angin dari mana sang mama menyuruh Alam pulang.


Alam entah harus senang atau sedih akan titah dari sang mama. Karena Alam merasa tak enak dengan panggilan sang mama menyuruhnya pulang.


Seolah ada sesuatu serius yang akan di bicarakan. Namun, Alam berusaha tenang berharap bukan perkara serius.


Karena tak mau mengecewakan sang mama Alam berusaha dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Sisanya tentu Alam akan memberikannya pada Dom. Dan Dom lagi yang akan menjadi sasarannya.


"Sampaikan permohonan maaf, karena aku tak bisa bertemu dengannya!"


Ucap Alam pada sahabat nya. Di mana seharusnya Alam masih ada jadwal satu pertemuan lagi. Karena Alam di suruh pulang makan jadwal itu Alam serahkan pada Dom.


Alam mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dan, kini Alam sudah berada di depan mansion. Semua bodyguard memberi hormat pada tuan muda mereka yang sudah lama tak pulang.


Namun, Alam merasa heran melihat ada mobil lain selain mobil mom and dad di sana. Karena tak mau ambil pusing Alam dengan cepat masuk ke dalam rumah.


Deg ..


Alam terkejut ketika banyak orang di dalam, sudah Alam sadari ternyata memang benar. Sang mama memanggilnya bukan untuk menyuruh dia tinggal tapi pasti akan membahas sesuatu yang lebih besar.


Alam berjalan santai berusaha bersikap biasa seolah Alam tak akan takut lagi dengan apapun. Alam cuma butuh waktu beberapa bulan saja.


Dengan tenang Alam duduk di hadapan sang mama. Karena memang itu kursi yang kosong.


"Apa ada yang mau mama bicarakan hingga Kak Jek dan kak Melati harus disini juga!"


Ucap Alam tak mau bertele-tele, melihat kehadiran dua kakak sepupu nya.


"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu itu?"


"Tidak! apa yang salah mah, Alam mencintai Amira!"

__ADS_1


Jawab tegas Alam membuat Jek mengepalkan kedua tangannya. Hampir saja Jek melayangkan tinju pada Alam jika tak di tahan oleh Melati.


Kini Alam akan mengakui perasaannya, tanpa rasa takut sama sekali. Karena tak boleh ada yang bisa menghalangi langkahnya. Alam akan terus mempertahankan Amira sekuat yang dia bisa.


Dinda menatap putranya dengan pandangan yang berbeda. Entah apa yang di rasakan Dinda ketika mendengar jawaban tegas sang putra.


Fandi hanya diam saja melihat sejauh mana putra kebanggaannya melangkah.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, maka mama bersumpah sampai kapanpun mama tak akan merestui hubungan kalian!"


Deg ...


Alam mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras. Rasanya dada Alam sangat sakit mendengar pertentangan kedua orang tua mereka.


Tak pernah sekalipun Alam melihat sang mama semarah itu. Namun, Alam akan tetap pada pendiriannya.


"Alam tak peduli, Alam akan tetap mempertahankan Amira!"


"Tapi kakak tak merestui juga hubungan kalian. Sadar Alam, kamu itu adikku dan kakak tak akan membiarkan putri kakak bersama omnya sendiri!"


"Terserah, lakukan apa yang ingin kalian lakukan untuk memisahkan kami. Tapi, saya harap kalian tak menekan Amira seperti yang kalian lakukan pada saya. Jika kalian tak ingin Amira benar-benar pergi!"


Brak ...


Jek menggebrak meja karena kesal dengan jawaban Alam yang tak merasa takut sama sekali. Bahkan Alam malah menekan mereka balik dengan kelemahan Amira yang mempunyai watak keras kepala.


"Amira putriku tau apa kamu tentang putriku!"


Alam bukan anak yang suka menentang orang tuanya. Tapi, lihatlah kali ini Alam berubah menjadi orang lain.


"Alam, kami memanggil kamu kesini bukan untuk ribut. Kami hanya minta kamu sadar, bahwa apa yang kamu lakukan salah. Hubungan kalian salah, cinta kalian salah!"


Cetus Melati angkat bicara, berharap Alam masih Alam yang dulu.


"Tak ada yang salah, kami saling mencintai!"


Plak ...


Dinda menatap tajam putranya yang benar-benar berubah. Seolah apa yang Dinda lihat bukan putranya tapi orang lain.


"Mama benar-benar kecewa!"


Lilir Dinda dengan jatuhnya air mata, Dinda pergi ke kamarnya karena percuma membahasnya juga. Maka hasilnya akan tetap sama dan Dinda akan semakin sakit melihat putra kebanggaan menentang keputusan dia.


Alam hanya diam saja tak bergeming melihat sang mama pergi dengan kekecewaan.


"Lihatlah, Alam. Apa kamu mau menyakiti hati kami. Menghancurkan keluarga ini dengan rasa tak pantas itu!"


"Alam akan tetap pada pendirian Alam!"


Tegas Alam tak gentar bahkan walau harus mendapat tamparan dari sang mama.


Alam pergi begitu saja tanpa peduli teriakan, makian yang di lontarkan Jek padanya.

__ADS_1


Bagi Alam, dia sudah melakukan hal yang seharusnya ia lakukan.


"Maafkan Alam mah!"


Gumam Alam langsung meninggalkan rumah tempat dulu ia kembali.


Sedangkan Dinda dia menangis sejadi-jadinya melihat perubahan putranya. Bahkan Dinda bisa melihat begitu besar cinta yang Alam miliki untuk Amira. Harus dengan cara apa lagi Dinda bicara sedang semuanya sudah terlihat jelas.


"Apa ini masalah restu atau rasa sakit yang tak bisa sayang hapus dari dulu!"


Dinda malah semakin terisak mendengar ucapan sang suami. Rasanya dadanya sangat sesak sekali ketika mengungkit masa lalu.


"Apa tak bisa melupakannya, atau karena hatimu dari dulu sudah kak Angga curi!"


Deg ...


Dinda menatap suaminya dengan sendu, puluhan tahun mereka hidup seolah baik-baik saja.


Nyatanya ada satu permasalahan yang tak bisa mereka hindari yaitu hati.


"Dad, apa yang kamu maksud!"


"Cuma ada dua, cinta atau benci!"


Ujar Fandi dingin, menatap istrinya. Sudah puluhan tahun Fandi menemani istrinya namun sampai sekarang Fandi belum mampu mengenal dengan baik karakter istrinya itu.


Dinda hanya bisa membulatkan kedua matanya tak menyangka kalau suaminya masih belum percaya akan dirinya.


"Dad!"


"Waktu itu aku memukul Alam bukan karena cinta yang Alam miliki untuk Amira. Tapi, kelakukan Alam yang tak aku terima. Aku tak pernah mengajarkan dia untuk melecehkan perempuan, apalagi Amira cucuku sendiri!"


"Lalu, apa alasan kamu menentang sebegitu hebatnya, katakan agar aku mengerti!"


Dinda semakin terisak melihat kemarahan suaminya. Apa benar dia yang salah, tak seharusnya dia juga sampai bersumpah.


"Dad, kamu meragukan aku!"


"Bukan aku yang meragu, tapi sikap kamu yang membuat aku ragu!"


Dinda memeluk Fandi dari belakang, Dinda tak mau ada ke salah fahaman. Mereka sudah tua, kenapa masalah ini jadi membuat mereka juga berantem.


"Dad, jangan pernah ragu akan diriku. Hati ku sudah kamu miliki dari dulu, bahkan sebelum hadirnya Queen di perutku. Ak-aku cuma benci membenci keadaan ini. Aku benci pada diriku sendiri, kenapa aku belum bisa menerima Jek, memaafkan Angga semuanya aku benci. Karena mereka hidupku hancur, hati putriku hancur. Kenapa harus Amira, kenapa harus keturunan Prayoga!"


Deg ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ..


.


__ADS_1


__ADS_2