Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 23 Rara sayang dan cinta om


__ADS_3

Percakapan semalam dengan sang ayah nyatanya membuat Amira nampak gelisah. Entah apa yang harus ia putuskan.


Amira masih bimbang untuk mengambil keputusan seorang diri. Seperti nya Amira benar-benar harus membicarakannya dengan Alam.


Tak hentinya Amira melirik jam pergelangan tangannya. Amira harus sabar menunggu sampai jam istirahat. Karena sekarang Alam sedang berada di ruang rapat.


Tidak mungkin kan tiba-tiba Amira masuk dan mengacaukan semuanya. Amira harus benar-benar menunggu rapat itu selesai baru Amira bisa menemui Alam.


Sedangkan di ruang Rapat Alam baru saja menyelesaikan rapat nya. Alam mengendorkan dasinya karena merasa cukup pusing hari ini.


Belum lagi ada beberapa bagian divisi yang melakukan kesalahan.


"Dom check lagi laporan-laporan mereka jangan sampai melakukan kesalahan dan Tifani, bantu Dom menyelesaikan semuanya. Saya ingin malam ini selesai!"


Ucap Alam tegas bahkan nadanya sedikit membentak membuat Dom dan Tifani tak berani protes.


Karena tak mau semakin pusing Alam segera beranjak dari ruang rapat menuju ruang dirinya.


Rasanya hari ini sungguh melelahkan bagi Alam. Entah karena pekerjaan kantor atau memang kondisi Alam yang mulai lemah.


Grep ...


Tubuh Alam membeku ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Alam memejamkan kedua matanya menghirup aroma parfum yang begitu menenangkan yang Alam tahu siapa pemiliknya.


"Apa hari ini cukup melelahkan?"


Ucap Amira dalam posisi masih memeluk Alam dari belakang. Alam memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.


"Biarkan seperti ini sejenak!"


Pinta Alam memeluk erat Amira, dengan senang hati Amira membalas pelukan Alam.


Rasa kesal dan lelah yang tadi Alam rasakan kini telah hilang. Seolah Amira adalah magnet yang sangat ampuh menghilangkan rasa kesal itu.


"Om makan ya, ini udah waktunya makan siang!"


Alam mengangguk saja lalu melepaskan pelukannya. Amira menyuruh Alam duduk.


"Suapin!"


"Dengan senang hati!"


Amira menyuapi baby besar nya dengan sangat hati-hati. Sesekali Amira juga menyuapi dirinya sendiri karena Alam juga menyuruhnya makan. Hingga mereka makan dalam sendok dan wadah yang sama.


Romantis bukan, namun sayang momen ini pasti tak akan lama Amira rasakan karena ia harus segera pindah kantor.


"Terimakasih cinta!"


Ucap Alam tulus membuat Amira tersipu, kemaren Alam memanggilnya pacar, sekarang Cinta entah ada panggilan apa lagi yang akan Alam sematkan untuk dirinya.


"Tunggu di sini, om mau ke kamar mandi!"


Izin Alam masuk kedalam kamar pribadi nya yang memang terdapat di ruang kerjanya. Kamar yang memang sengaja Alam buat untuk istirahat dirinya.


Amira terkejut baru tahu bahwa di ruangan omnya ada sebuah kamar.

__ADS_1


Amira penasaran namun urung ketika Alam tak mengizinkannya masuk.


Dengan cepat Alam menutup pintu kamarnya, Alam berjalan kearah naskah lalu mengeluarkan sesuatu di dalam laci. Alam menyimpannya kembali di tempat berbeda seolah Alam tak mau Amira melihatnya. Entah apa yang sedang Alam sembunyikan padahal tidak apa lah jika Amira tahu.


Namun, seperti ya memang Amira tak usah tahu dengan barang yang Alam genggam.


"Ra, sini!"


Amira beranjak dari duduknya menuju Alam yang menyuruhnya masuk ke dalam kamar.


"Om punya kamar?"


"Iya, ini buat istirahat om jika lembur!"


Jawab Alam santai, Amira melihat-lihat, kamar yang cukup luas dan rapi. Bahkan ada beberapa buku-buku tersusun rapi di lemari.


"Ada yang mau Rara ceritakan?"


Ucap Amira tanpa menatap lawan bicaranya. Amira bicara sambil berjalan menelusuri setiap sudut kamar.


"Apa, katakanlah!"


Jawab Alam mengikuti kemana langkah Amira.


Amira menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Alam. Kemudian Amira berjalan kearah shopa lalu duduk di sana. Alam mengikutinya, duduk di samping Amira.


"Ada apa?"


"Ayah meminta Rara menemaninya di acara launching nanti!"


Amira mengerucutkan bibirnya kesal karena jawaban Alam malah di luar ekspektasi nya. Amira pikir Alam akan mencegahnya.


"Kok bagus sih, itu artinya semua orang tahu Rara siapa dan cepat kemungkinan Rara langsung pindah kantor tidak sesuai yang di rencanakan!"


"Dan, Rara gak mau jauh dengan om!"


Kesal Amira cemberut, kenapa omnya bisa terlihat santai.


"Sayang!"


Bluss ...


Pipi Amira memerah ketika Alam memangilnya sayang. Namun, sekuat tenaga Amira menahan untuk tak tersenyum karena masih kesal Alam menyetujui keinginan sang ayah.


"Sayang lihat om!"


Pinta Alam menarik dagu Amira agar menatap dirinya. Alam mengulum senyum ketika melihat wajah Amira yang tersipu. Namun, bukan itu yang akan di bahas Alam. Ini waktunya bukan menggoda.


"Dengar itu lebih baik, apa sayang lupa, hubungan kita sedang di sembunyikan. Jika sayang kekeh di sini itu akan membuat kedua orang tua kita curiga. Lebih baik kita terpisah kantor tapi kita masih bisa bertemu secara diam-diam tanpa ada yang curiga bukan!"


Jelas Alam supaya Amira mengerti, karena terlalu beresiko jika Amira masih tetap berada di perusahaan nya.


Besar kemungkinan hubungan mereka akan tercium.


"Tapi Rara gak mau jauh dari om, entah kenapa Rara merasa om akan pergi!"

__ADS_1


Deg ...


Alam terkejut mendengar penuturan Amira. Bagaimana bisa Amira punya rasa mengerikan seperti itu. Alam di sini tak akan ke mana-mana bahkan hatinya sudah Amira ikat.


"Kita bisa bertemu tanpa merasa takut sayang, mengertilah. Bukankah ini demi hubungan kita. Kalau waktunya sudah membaik, om janji akan menghadap kedua orang tua kita dan mengatakan yang sebenarnya!"


"Bagaimana kalau mereka menentang!"


"Om berjanji akan berusaha memperjuangkan kamu selagi om bisa!"


Serius Alam membuat Amira malah terisak. Alam menarik Amira ke dalam pelukannya. Alam berharap, ia bisa menjalani hari-hari bahagia bersama orang terkasih ya.


"Terus waktu kita kapan bertemu, Rara yakin kesibukan membuat kita semakin jauh!"


"Siapa bilang!"


Ucap Alam malah membuat Amira mengerutkan kening.


"Setiap hari di jam istirahat kita bisa bertemu!"


"Pegang kartu ini, kita bisa makan siang bersama di apartemen om!"


Ucap Alam, Amira memandang kartu yang Alam berikan padanya.


Sebuah kartu akses masuk apartemen. Amira tahu dimana letak apartemen itu. Terletak di antara perusahaan induk dan perusahaan Q.B Grup.


"Apa om sudah merencanakan ini semua?"


"Ya tentu! bagaimana bisa om juga bisa jauh-jauh dengan kamu!"


Amira kembali memeluk Alam, bahkan sekarang pelukannya semakin erat. Begitu pun Alam membalas pelukan Amira.


Alam berharap ini yang terbaik untuk menyembunyikan hubungan mereka. Karena Alam yakin, sang Daddy dan Jek tak akan lepas setiap hari memantau dirinya.


Bahkan Alam tahu, sang Daddy sudah memasang mata-mata untuk memantau dirinya. Jika begitu, Alam tak bisa bergerak bebas.


Dan, lebih baik beda perusahaan namun masih tetap bisa bertemu dengan alasan pekerjaan tentunya.


Karena di hotel unit apartemen Alam adalah hotel yang sering di gunakan untuk melakukan pertemuan.


"Ya ampun, Rara harus kembali!"


Pekik Amira terkejut bahkan sampai melepaskan pelukannya. Ini sudah terlalu lama Amira menghilang teman-teman pasti sedang mencari dirinya.


"Ya sudah, kembalilah!"


"Rara sayang dan cinta om!"


Cup ...


Alam tersenyum ketika Amira menghadiahi keningnya sebuah kecupan.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1



__ADS_2