
Amira begitu menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Perjalanan Jakarta-Bandung kurang lebih membutuhkan waktu dua jam empat puluh lima menit. Itupun kalau tidak macet.
Amira memegang tangan Alam sambil menyandarkan kepalanya di dahu Alam.
Sesuai permintaan Farhan, anak buah Farhan yang membawa mobil. Karena semua keluarga tak memperbolehkan Alam membawa mobil.
Jadi, Amira dan Alam hanya duduk manis saja menikmati perjalanan yang begitu indah. Apalagi ketika sudah memasuki kawasan pengalengan.
Udara sejuk menyeruak masuk kedalam mobil ketika Amira membuka jendelanya. Dengan pemandangan indah yang memanjakan mata.
Apalagi Alam dan Amira akan menginap di penginapan Lux Camp Pengalengan By Horison. Sebuah penginapan yang menyatu dengan alam membuat suasana nampak nyaman dan damai.
Mereka memilih di sana karena menyukai kesejukan alam asri tanpa polisi. Di tambah pemandangan yang sangat indah tentunya.
Tepat jam sebelas siang mereka sampai di sana.
Sang bodyguard sedang berbicara dengan penjaga resort.
Entah apa yang mereka bicarakan Alam tak mau ikut campur. Tak lama sang penjaga menghampiri mereka.
"Selamat siang tuan, Nyonya. Mari saya antar ke tempat yang sudah kami sediakan!"
Ucap sang penjaga sopan dengan senyum ramahnya.
Alam dan Amira mengikuti langkah sang penjaga ketika sang bodyguard mengisyaratkan untuk mengikuti mereka.
"Silahkan di lihat-lihat dulu,"
Alam dan Amira masuk ke salah satu penginapan yang terlihat anggang dari jajaran penginapan lain. Di mana tempatnya strategis. dan tak takut apapun yang mereka lakukan terdengar orang. Karena mereka di tempatkan di tempat khusus. Di mana ketika membuka jendela maka mata mereka akan di manjakan oleh pemandangan pegunungan yang sangat indah dan danau.
"Kami menyukainya!"
"Baik, ini kuncinya. Jika ada sesuatu yang di butuhkan hubungi saya. Maka saya siap melayani tuan dan nyonya!"
"Terimakasih banyak pak!"
Ucap tulus Amira dan Alam membuat sang penjaga hanya tersenyum saja lalu pergi.
"Apa kamu menyukai sayang?"
Tanya Alam memeluk Amira dari belakang ketika Amira membuka salah satu jendela kayu.
"Suka, apalagi tempatnya sangat asri menyatu sama alam seperti nama om!"
"Syukurlah kalau suka!"
Cup ...
Alam mencium pipi kanan Amira, lalu melepaskan pelukannya.
Alam membereskan barang-barangnya kedalam lemari. Begitupun dengan punya Amira.
"Dear, biar sama aku saja!"
"Tidak apa, sayang duduk saja di sini!"
Tolak Alam lembut sambil mendorong sang istri duduk di bibir ranjang.
Amira pasrah saja, ia memerhatikan Alam membereskan semuanya. Bahkan Amira tak pernah canggung sama sekali ketika barang berharganya Alam juga yang rapihkan.
Toh, Alam adalah suaminya dan itu tak masalah selagi Alam juga mau melakukannya.
__ADS_1
"Parfum simpan di sini saja!"
Ucap Amira meletakan di atas naskah dekat dengan pas bunga.
"Sudah aku bilang, sayang diam saja!"
Protes Alam karena Amira membantunya menaruh kecantikan dan alat-alat mandi. Karena Amira ngeyel tak mendengarkan perkataannya.
Alam menarik Amira kedalam pangkuannya, di mana Alam duduk di lantai dengan punggung yang menyandar ke sisi ranjang.
"Bandel ya,"
"Rara kan cuma mau bantuin!"
Rengek Amira sambil mengerutkan bibirnya pura-pura merajuk.
"Tak boleh, kamu di sini ratu, maka biarkan hamba yang melakukannya!"
"Benarkah!"
"Ya,"
Jawab Alam santai, namun Alam tak menyadari bahwa Amira tersenyum seringai. Seolah sedang merencanakan sesuatu di otak kecilnya.
"Bolehkah seorang ratu memerintah?"
"Ya, dia berhak atas semuanya!"
"Benarkah?!"
"Baiklah, sekarang katakan wahai ratuku, apa yang anda minta. Hambamu akan siap melayani?"
Ucap Alam sambil tersenyum manis menatap Amira penuh cinta.
Seketika senyuman Alam semakin melebar ketika mendengar perintah Amira. Jika itu yang Amira mau maka Alam kapanpun akan siap melaksanakannya.
"Dengan senang hati,"
Jawab Alam tanpa beban membuat Amira tersenyum manis. Sungguh Amira sangat gemas pada suaminya ini.
"Bagian mana dulu?"
Goda Alam sambil menurun naikkan kedua alisnya. Dengan senyuman di bibir seksinya.
"Ini,"
Ucap Amira sambil menunjuk hidung mancungnya.
Dengan senang hati Alam mengangguk, perlahan tangan Alam mengelus pipi Amira. Lalu menyelipkan tangan Alam ke belakang leher Amira.
Dengan gerakan lambat Alam menarik Amira semakin mendekat.
Cup ...
Amira membulatkan kedua matanya ketika Alam mengecup bibirnya bukan hidung mancungnya.
Kecupan yang sangat dalam bahkan Alam sedikit menyesapnya.
"Sudah!"
Ucap Alam tersenyum lebar di mana membuat Amira mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Curang,"
Ketus Amira memukul kecil dada bidang Alam.
"Aku mencintaimu,"
Amira menghentikan pukulan kecilnya yang memang tak berarti apa-apa di dada Alam. Amira menatap wajah tampan Alam dengan seksama. Wajah yang begitu ia cintai tak berkurang sedikitpun. Yang ada Amira selalu di buat jatuh cinta oleh wajah ini.
Perlahan mata Amira berhenti di bibir merah merekah Alam yang alami. Rasanya Amira ingin selalu merasakan kecupan dari bibir ini. Seolah Amira haus akan hal itu, tak cukup bagi Amira hanya satu kali.
Alam faham betul apa yang sang istri inginkan.
Cup ...
Dengan cepat Alam mengecup kembali bibir Amira. Kecupan sangat dalam hingga membuat Amira mematung.
Perlahan Alam menggerakkan bibirnya seolah meminta Amira untuk menyambutnya. Dengan senang hati Amira melakukannya.
Keduanya seolah sedang mencari rasa manis yang membuat mereka candu. Rasanya ini tak akan pernah bosan mereka lakukan. Gebuan cinta bercampur nafsu terlihat jelas dari keduanya.
Namun, sebisa mungkin Alam memperlakukan Amira dengan lembut. Sangat-sangat lembut hingga membuat Amira melayang.
Tak pernah Amira merasakan sebahagia ini, jika bukan Alam yang menciptakan kebahagiaan itu.
Ada rasa yang tak bisa Amira jabarkan oleh kata. Sungguh ini bukan sekedar ciuman yang memabukkan. Namun, ciuman yang Alam berikan sebuah cinta dan kasih sayang.
Seolah Alam sedang memberi tahu pada Amira. Bahwa Amira adalah wanita satu-satunya yang Alam cintai, sayangi, inginkan dan miliki. Tak ada yang lain, walau di luar sana banyak yang lebih dari Amira.
Namun, sipat manja, merajuk nya tak akan sama. Mereka berbeda dengan perbedaan itu Alam begitu mencintai Amira.
"Om,"
Lilir Amira menatap sayu Alam. Seolah Amira tak bisa terus di perlakukan seperti ini terus.
"Hm,"
"Ini masih siang!"
Dengan konyolnya Amira bicara seperti itu. Emang masalah dengan siang hari, bahkan Alam tak peduli akan hal itu.
Bukan menurunkan keinginan lebih Alam namun, tingkah Amira yang menggemaskan membuat Alam semakin menginginkan Amira bersatu dengannya.
"Apa kamu lupa, suamimu bisa menciptakan malam di siang hari!"
Ucap Alam lembut membuat Amira teringat momen makan siang romantis di apartemen Alam yang Alam sulap jadi suasana malam.
"Jendela!"
Alam faham apa yang Amira ucapkan. Dengan ringan Alam menggendong Amira lalu di merebahkannya Amira di atas ranjang.
Alam berjalan menutup jendela yang tadi Amira buka. Alam menutupnya dengan rapat setiap celah cahaya yang masuk. Hingga suasana di dalam nampak gelap. Seperti yang di inginkan. Siang ini juga akan Alam jadikan malam yang sangat indah. Bahkan ini akan menjadi momen paling indah di antara momen-momen yang lain.
Karena kebahagiaan bukan di lihat dari tempat atau suasananya saja. Tapi bagaimana cara Alam melakukan hal terbaik untuk Amira. Sehingga membuat Amira nyaman tanpa rasa takut.
Membuat Amira akan selalu mengingat ini semua di sepanjang hidupnya. Bahwa ada laki-laki kaya namun selalu menciptakan hal sederhana tapi, membuahkan hasil istimewa.
"Aku mencintaimu, Amira Putri Jacob Prayoga,"
"Aku lebih dari itu Laskar Sky Mangku Alam!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah,komen dan Vote Terimakasih ..