Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 91 Terlupakan


__ADS_3

Sudah berhasil mengendalikan emosinya Amira kembali keruangan sang suami. Di mana di sana sudah ada seluruh keluarga nya. Seperti biasa Amira akan mencoba baik-baik saja dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Semua keluarga hanya bisa diam tak bisa bicara apapun melihat kondisi Amira.


Mereka memilih bungkam saat ini membiarkan Amira menghampiri Alam yang berbaring lemah.


Fandi mengisyaratkan pada yang lain untuk keluar memberikan ruang bagi Amira. Pasti ada banyak yang ingin Amira katakan atau sekedar menangis di hadapan sang suami.


Suasana nampak hening, hanya detik an suara monitor saja yang terdengar.


Amira perlahan memegang tangan sang suami lalu menciumnya dengan lembut.


"Dear, kenapa belum bangun!"


"Ayo bangun, tak lelah kah terus tidur. Bagaimana denganku,"


"Bangunlah, jangan terlalu lama tidur aku kesepian. Tak ada yang menemaniku, tak ada yang memelukku, tak ada yang bercerita. Bukankah dear belum menulis hari ini, bercerita tentang kita. Lihatlah, halaman ini masih kosong."


Amira terus saja mengajak bicara Alam tanpa lelah dan bosen berharap Alam segera bangun.


Namun, berjam-jam Amira bercerita belum ada tanda-tanda Alam akan bangun.


Alam masih damai dalam tidurnya seolah apapun yang Amira katakan tak menggangu dirinya.


Seolah Alam sudah nyaman dengan keadaan ia sekarang.


Namun, perlahan Alam menggerakkan jari tangannya. Bulu matanya mengerjap pertanda Alam sudah sadar.


Alam mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Bau obat menyeruak masuk kedalam indra penciuman Alam. Membuat Alam mengerti jika ia berada di rumah sakit.


Alam ingin menggerakkan tangannya namun terasa berat. Alam melirik ke bawah ternyata itu adalah Amira yang sedang tertidur sambil memegang tangan Alam.


Alam berusaha melepaskan tangannya yang di pegang Amira. Gerakan Alam mengusik tidur Amira membuat Amira terbangun.


"Dear, kamu sudah sadar!"


"Terimakasih dear, kamu sudah bangun, terimakasih. Aku takut ..,"


Ucap Amira terisak sambil memeluk Alam, namun ada yang berbeda. Alam tak membalas pelukan Amira bahkan Alam terlihat datar menatap Amira.


"Aku panggil dokter ya, tunggu!"


"Siapa kamu!"


Deg ...


Satu kata mampu membuat jantung Amira berdetak kencang. Tubuhnya mematung dengan tangan mengepal erat. Bahkan dada Amira tiba-tiba terasa sesak hingga sulit bernafas.


"Siapa kamu?"


Dam ....


Rasanya dada Amira seperti di tikam ribuan anak panah. Sangat sakit dan sesak, mendengar kalimat itu lagi. Kalimat yang Amira benci berada di antara mereka. Kenapa harus ada kalimat itu di antara mereka kenapa?


Alam menautkan kedua alisnya melihat Amira hanya diam mematung saja tanpa mau berbalik.

__ADS_1


"Hey, hallo. Siapa kamu?"


Ucap Alam sekali lagi, namun tetap tak mendapat sahutan. Amira pergi begitu saja tanpa berani menengok ke belakang.


Brak ...


Amira menutup pintu cukup keras membuat semua keluarga yang berada di luar terkejut melihat keadaan Amira.


Mata Amira memerah dengan rahang mengeras. Bahkan tangannya mengepal erat dengan tatapan kosong. Jantungnya terus berdetak kencang membuat Amira merasakan sesak.


"Sayang kamu kenapa?"


Ucap Melati terkejut melihat keadaan putrinya. Amira hanya diam saja tak bisa menjawab karena rasanya lidahnya begitu kelu untuk sekedar bicara.


"Hey, nak. Jawab mama ada apa?"


Melati menangkup pipi Amira berharap Amira sadar. Karena Amira hanya diam saja dengan tatapan kosongnya.


Fandi langsung masuk ke dalam guna melihat apa yang terjadi.


Fandi tersenyum lebar ketika melihat putranya sudah sadar.


"Son, kamu sudah sadar?"


"Dad,"


"Apa kamu baik-baik saja, sebentar Daddy panggil dokter dulu!"


"Siapa wanita tadi dad, kenapa memanggilku sayang?!"


Bagaimana mungkin Alam bisa tak mengingat istrinya sedang Alam masih mengingat ia.


Kini Fandi mengerti apa yang terjadi pada Amira.


Fandi menatap sendu sang putra, hati Amira pasti hancur ketika terlupakan oleh orang tersayang.


Alam menjadi semakin bingung kenapa orang-orang malah bereaksi seperti itu. Emang apa yang terjadi pada dia.


Di keheningan itu, teralihkan ketika dokter Raftha masuk ke dalam lalu memeriksa keadaan Alam.


Terlihat jelas raut kesedihan di wajah dokter Raftha. Seperti nya virus itu semakin menyebar dan kini beberapa gangguan mulai terlihat.


"Anda tak boleh banyak bergerak dulu, istirahat lah. Dan, jangan terlalu di paksa mengingat!"


Jelas dokter pada Alam membuat Alam mengangguk saja.


Dokter Raftha mengisyaratkan pada Fandi untuk ikut keluar dengannya.


Fandi pamit pada Alam karena ada urusan dengan dokter Raftha.


Di luar keadaan Amira masih sama diam dengan tatapan kosongnya.


"Seperti yang sudah pernah jelaskan. Virus itu semakin menyebar ke selaput otak dan pasien akan mengalami gangguan ingatan, pendengaran dan penglihatan. Daya ingatnya akan berubah-ubah, terkadang ingat kembali dan lupa hingga sampai bagaimana pasien bertahan!"


Semua keluarga menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sungguh, se miris itu keadaan Alam. Bagaimana dengan Amira, jangan di tanyakan lagi.

__ADS_1


Sesudah menjelaskan dokter Raftha pamit undur.


Semua keluarga saling tatap satu sama lain. Mereka memilih masuk meninggalkan Amira dengan Melati di luar.


"Sayang, jika ingin menangis menangis lah. Jangan di tahan kamu akan sesak. Menangis lah, tak apa!"


Ucap Melati memeluk Amira erat, sungguh cobaan apa lagi terhadap putrinya. Begitu banyak kesakitan yang Amira terima.


Tes ...


Tes ...


Tetesan-tetesan air mata perlahan mengalir keluar dari mata Amira. Amira tak sekuat itu terus menahan kesesakan di dadanya. Ini terlalu sesak dan sakit, bolehkah Amira menangis, bolehkah Amira menjerit dengan kesesakan ini yang begitu menyakitkan.


"Dia melupakan Rara mah, dia melupakan Rara mah ..,"


Lilir Amira menangis, memeluk erat tubuh sang mama. Melati ikut menangis juga tak kuat melihat keadaan Amira seperti ini. Ini terlalu berat cobaan yang di hadapi Amira.


Mampu kah Amira bertahan, kuat menjalani semuanya.


Amira mengigit bibir bawahnya agar tangisan ya tidak pecah. Agar tak ada yang mendengar, hanya dia seorang.


Tiba-tiba tubuh Amira melemah membuat Melati terkejut.


"Sayang, kamu kenapa nak. Amira bangun sayang, Rara!!"


Panik Melati membuat Jek langsung keluar dari ruangan Alam.


"Sayang ada apa?"


"Putriku hiks ... dia pingsan!"


Jder ...


Jek membulatkan kedua matanya melihat putrinya yang lemah tak berdaya. Hati orang tua mana yang sanggup melihat ini semua.


Jek dengan cepat langsung menggendong Amira mencari dokter atau suster yang bisa membantu.


"Dok, tolong putri saya. Dia pingsan!"


Salah satu dokter yang kebetulan lewat menyuruh Jek membawa Amira ke ruang kosong yang baru saja pasien nya pulang.


Dokter tersebut langsung memeriksa keadaan Amira.


Sang dokter menautkan kedua alisnya bingung. Kadang terlihat tegang membuat Jek dan Melati terlihat cemas. Pasalnya wajah sang dokter terlihat tak mengenakan seolah ada sesuatu yang terjadi.


Entah apa, Jek dan Melati berharap tak ada hal yang serius terjadi pada putrinya. Walau mereka berdua masih was-was melihat bagaimana reaksi dokter.


"Saya butuh cek darah untuk memastikan sesuatu!"


Ucap Dokter membuat Jek mengangguk saja pertanda bahwa ia mengizinkan yang terpenting putri ya tak terjadi apa-apa.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2