
Plak ...
Suara tamparan begitu keras terdengar nyaring di telinga Dinda dan Melati. Bahkan sampai Melati menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang terjadi.
Fandi menampar Jek dengan keras, dimana Fandi tak pernah sekalipun melakukannya sebelumnya.
Fandi menatap tajam Jek yang sudah ia anggap putranya sendiri bukan sekedar keponakan saja. Namun, apa yang dilakukan Jek dan Melati sungguh sangat keterlaluan.
Bagaimana mungkin mereka menyiksa Amira sampai segitunya. Padahal mereka faham betul bagaimana sifat dan karakter Amira.
"Ayah macam apa kau ini hah, jika kalian tak merestui setidaknya jangan kurung Amira bak seorang tahanan. Kalian yang paling tahu siapa Amira. Dia selalu menuruti semua ucapan kalian, perintah kalian. Bahkan Amira memilih diam terbelenggu oleh hukuman yang kalian lakukan. Apa lagi yang kalian mau hah, setidaknya jangan dulu paksa Amira di saat hatinya rapuh dan hasilnya seperti ini!"
Bentak Fandi sungguh benar-benar sudah tak bisa mengontrol emosinya. Sungguh Fandi kecewa dengan apa yang Jek lakukan.
"Terus apa yang harus Jek lakukan om, apa! kita sama-sama tahu, bahwa kita tak merestui hubungan mereka!"
"Tempo hari harusnya kau faham, bahwa Tante mu sudah merestui hubungan mereka!"
"Itu terlambat, buat apa aku harus membiarkan putriku bersama orang yang sekarat!"
"Setidaknya biarkan Amira yang menentukan nya!"
"Sama saja, putriku pasti akan memilih dengan Alam. Lalu bagaimana dengan masa depannya jika harus dengan Alam!"
"Itu lebih baik dari pada kau mengurung dia tanpa tahu apa yang terjadi. Jika Alam pergi dan Amira tak sempat melihatnya siapa nanti yang dipersalahkan. Yang ada Amira pasti membenci kalian!"
"Itu lebih baik, supaya Amira bisa dengan cepat melupaka--"
"Cukup!!!"
Bentak Dinda menutup telinganya, membuat Jek dan Fandi menghentikan perdebatannya.
Tangisan Dinda sudah pecah tak sanggup lagi jika melihat perdebatan ini. Dinda tak sanggup jika harus kehilangan Alam. Dan, Dinda tak sanggup lagi jika hidup Amira akan hancur jika itu terjadi.
"Sudah puas kalian berdebat hah. Kita di sini salah, kita yang salah. Harusnya kita mengerti akan kebahagiaan anak-anak hiks..,"
Rasanya Dinda sudah tak sanggup lagi menahan kesakitan di hatinya.
"Bisakah kau membatalkan perjodohan itu, biarkan mereka bersatu!"
__ADS_1
"Itu tidak mungkin Tan, walaupun bisa tapi kami tak bisa menikahkan Amira dengan Alam!"
Ucap Melati ikut bersua, sudah cukup bagi Melati sendari tadi diam, kini dia harus bicara yang sebenarnya.
"Apa karena pesan terakhir dari Angga!"
Duarr ...
Jek dan Melati terkejut jika Dinda mengetahuinya. Bagaimana bisa Dinda tahu akan hal itu. Bukankah waktu itu Angga bicara dengan Melati dan Jek saja.
"Kenapa dia selalu egois hah, kenapa. Tak cukupkah dia menyakiti hati ku dan putriku. Apa dia masih mau menyakiti putraku juga!"
"Puluhan tahun aku selalu diam dengan rasa sakit ini. Bahkan putriku sampai terlantarkan. Apa kami menuntut lebih dari kalian. Kasih sayang, cinta dan keluarga. Katakan Jek katakan, apa Angga memberikannya pada kami!"
Teriak Dinda tepat di depan Jek, membuat Jek terdiam karena saking terkejutnya mendengar isi hati Dinda. Bahkan Jek tak bisa bicara apa-apa, sekedar bernafaspun Jek terasa sulit.
"Ayo katakan, dan sekarang di saat dia pergi pun dia masih menyakiti putraku. Apa salah kami hah, kenapa kalian selalu egois!"
"Aku diam bukan berarti tak tahu apa-apa, bahkan kalian menekan putraku sendari dulu agar selalu menjauhi Amira!"
Habis sudah Kesabaran Dinda, Dinda sudah tak bisa lagi menahan amarah, kecewa dan sedihnya.
"Kenapa diam hah, ayo katakan. Kenapa kalian sekejam ini. Kau, empat tahun menekan putraku aku diam!"
Tunjuk Dinda pada Melati yang terdiam karena masih shok dengan kebenaran ini.
"Dan, kau merampas kasih sayang Queen aku diam. Dan di saat Alam dan Amira jatuh cinta, kenapa Angga ingin memisahkannya. Katakan kenapa!"
"Tolong berikan cinta untuk putraku hiks ..,"
Sungguh, Dinda tak kuat lagi untuk meneruskan ucapannya. Dadanya semakin terasa sakit jika di teruskan. Bayangan kesakitan Alam yang selalu mengadu pada Queen membuat hati Dinda teriris.
Ya, sendari dulu Dinda tahu, bahwa putranya mencintai Amira. Namun, ketika mendengar Angga ingin menjauhkan Amira dari Alam membuat Dinda terasa sakit. Hingga Dinda memutuskan tak merestui mereka karena Dinda tak mau berurusan lagi dengan keluarga Prayoga.
Fandi memeluk sang istri erat, sungguh Fandi tak tahu apapun hal itu. Sejak kapan istrinya tahu akan wasiat Angga. Kenapa tak membicarakannya pada dia. Kenapa istrinya selalu menanggung rasa sakit sendiri dari pada berbagi padanya. Apa karena Fandi adik ipar dari orang yang menyakiti dirinya. Atau ada alasan lain sehingga Dinda selalu memilih memendamnya sendiri.
"Jek, kau sudah merampasnya dari kami sejak dulu. Tante mohon jangan rampas kebahagiaan Alam. Hanya Amira harapan hidup putraku!"
Lilir Dinda terisak, sungguh hatinya sangat lelah selama ini terus menyimpan kesakitan. Jika saja tak ada Queen yang selalu menguatkan mungkin sendari dulu Dinda sudah hilang arah.
__ADS_1
Hanya Queen penguat Dinda, hingga saat ini ia bertahan.
Dengan tak meminta apapun dari keluarga Prayoga Queen seolah mengatakan kalau dia sudah tak butuh apa-apa lagi. Dan tak akan meminta apapun dari Angga.
Jek menatap nanar Dinda, dengan mata berkaca-kaca. Sungguh Jek tak menyangka. Apa yang ia dan sang ayah lakukan dulu menjadi bom waktu saat ini.
Walau Jek akui, semuanya sudah ia rampas dari Dinda dan Queen. Kasih sayang, cinta, seorang ayah dan semua kekayaan. Tak sepeserpun yang Queen dapatkan. Jek memang egois sendari dulu, selalu mementingkan kepentingannya sendiri.
Sekarang apa yang harus Jek lakukan. Sungguh Jek menyesal. Jika ingin memilih Jek juga tak mau berada di posisi seperti ini.
Pertengkaran yang mereka ciptakan kini telah usai, suasana menjadi hening. Hanya isakan Dinda yang terdengar pilu.
"Jek semua keputusan ada di tangan kamu. Om yakin, kamu bisa membuat keputusan yang bijak. Apapun yang terjadi, ingat kamu masih punya Om!"
Ucap Fandi sebelum Fandi membawa sang istri pergi dari kediaman Jek.
Bruk ...
Jek menjatuhkan tubuhnya kelantai dengan kepergian Dinda dan Fandi.
Sebuah tangisan tak bisa Jek tahan lagi. Sungguh Jek tak mau berada di posisi seperti ini.
Jek sendari dulu ingin memperbaiki semuanya. Namun, keadaan Jek yang memaksa Jek melakukan semua ini. Jek sadar Jek sudah menyakiti hati putrinya. Namun, Jek juga tak bisa melepaskan harta berharga sang ayah.
Melati memeluk sang suami, berharap beban yang selama ini suaminya simpan terlepaskan. Melati tahu, suaminya juga berada di posisi yang sangat berat. Melati tak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti permintaan Angga.
"Sayang apa aku sekejam itu!"
Isak Jek di pelukan sang istri. Sungguh Jek tak berdaya. Kenapa semuanya jadi seperti ini. Jek pikir dia satu-satunya orang yang tersakiti akan sebuah tanggung jawab besar. Namun, nyatanya bukan ia yang tersakiti tapi orang lain.
Jek akui, sendari dulu Queen dan Dinda tak menuntut apa-apa darinya. Namun, karena sebuah keegoisan membuat Jek terbelenggu di dalam jurang penyesalan.
"Aku akan melepaskan semuanya!"
"Apa sudah yakin!"
"Aku tak mau kehilangan putriku!"
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...