Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 17 Keresahan Melati


__ADS_3

Amira terus saja kepikiran dengan apa yang terjadi tadi di kantor. Kenapa omnya terlihat menyesal dengan apa yang mereka lakukan. Amira tidak mengerti kenapa omnya banyak sekali berubah.


Amira meraba bibirnya yang masih merasakan sentuhan bibir Alam. Amira bisa merasakan debaran hebat yang omnya rasakan. Tapi, Amira tak mengerti kenapa omnya tak berkata apa-apa dan malah menyuruhnya pergi.


"Aku harus meminta penjelasan dari Om!"


Gumam Amira karena belum cukup puas untuk membuktikan kalau omnya juga mempunyai rasa yang sama.


Amira benar-benar yakin kalau Alam mencintainya juga. Tapi, kenapa Alam seolah tak peduli padanya. Apa ada sesuatu yang sedang omnya sembunyikan dari dia.


Amira terus berpikir keras mengingat bagaimana Alam menciumnya penuh tekanan nan kehati-hatian seolah takut dia kesakitan. Setelah itu Alam tak berkata apa-apa.


Ya, sekarang Amira seperti nya mulai curiga. pasti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Alam hingga sikap Alam memang sedikit terlihat berbeda.


Dari mulai menginginkan dia bersikap sebagai keponakan dan perlakuannya padanya. Namun, tatapan itu, Amira sulit membacanya. Tatapan aneh yang selalu omnya berikan pada dia.


Entah kenapa, Amira tiba-tiba merasa dadanya sesak. Seolah akan ada sesuatu yang terjadi.


Karena tak mau berpikir yang tidak-tidak, Amira berusaha memejamkan kedua matanya berharap hari esok akan segera tiba.


Amira tidak sabar mempertanyakan kejelasan yang terjadi di antara mereka. Amira ingin sejelas-jelasnya dan ingin mendengar kalau Alam mengaku mencintainya juga.


Bukan selalu menghindar jika Amira membahas masalah perasaannya.


Jika Amira sedang berpikir keras tentang hubungan mereka. Berbeda dengan Jek dan Melati.


Mereka sedang duduk serius di atas ranjang.


Jek tak menyangka, sang istri menceritakan sesuatu yang sangat mengejutkan bahkan rasanya Jek sulit untuk bernafas.


Bagaimana mungkin Jek kecolongan, dan kenapa juga sang istri baru menceritakannya. Sungguh Jek tak habis pikir pada istri ya.


Jika saja Jek tak menceritakan tentang pekerjaan Amira sesungguhnya. Tentu, sang istri sampai kapanpun tak akan menceritakannya pada dirinya.


"Kenapa baru cerita sekarang sayang, lihatlah. Putri kita melangkah sejauh ini!"


Kesal Jek benar-benar shok mengetahui semuanya.


Sekarang Jek mengerti kenapa putrinya begitu kekeh ingin bekerja di perusahaan Q.B grup.


"Maafkan aku, aku pikir Putri kita tak melangkah sejauh ini. Bukankah Rara masih pacaran dengan Moreo tapi kenapa Rara masih mengejar Alam?!"


"Mana ku tahu sayang, aku saja masih shok mendengar apa yang kamu ceritakan. Sejak kapan putri kita mencintai omnya sendiri?"


"Waktu Rara di rumah sakit lima tahun lalu!"


Flash back ....


"Kenapa om berubah!"

__ADS_1


Lilir Amira merasa asing dengan Alam yang tak seperti dulu lagi. Bahkan Alam yang ada di hadapan nya sekarang seperti bukan Alam yang dulu.


"Tidak ada yang berubah!"


"Apa om tak menyayangiku lagi!"


Hening ...


Tak ada jawaban dari Alam, hanya helaan nafas berat yang terdengar.


"Sayang, kamu sama seperti Fatih!"


"Kenapa om selalu jawab seperti itu!"


"Kamu kan masih keponakan saya, sama seperti Fatih!"


"Tapi Rara bukan Fatih, kita terhalang!"


"Cukup Rara, tolong jangan seperti ini,"


"Tapi Rara sayang om sebagai wanita bukan keponakan!"


"Kamu masih kecil, mengerti apa tentang cinta!"


"Rara sudah besar!"


"Cukup!"


Alam merasa bersalah karena sudah membentak Amira. Namun, Amira selalu memancingnya.


"Ra, maafkan om. Om tak bermaksud membentak kamu."


"Om jahat, apa salahnya Rara mencintai om. Rara yakin om juga suka sama Rara,"


Flash back on ....


Entah reaksi apa lagi yang harus Jek perlihatkan mendengar cerita semuanya.


Bagaimana mungkin sang istri menyembunyikan hal sebesar ini pada dirinya. Bahkan ini sudah cukup lama dan putrinya masih memendam rasa yang sama.


"Apa Alam juga mencintai Amira?"


"Aku tak tahu sayang, hanya itu yang aku dengar dari percakapan mereka karena Alam waktu itu langsung pamit pergi!"


Jek mengusap wajahnya kasar karena benar-benar sangat pusing memikirkannya. Bagaimana mungkin adik sekaligus keponakannya mencintai putrinya sendiri.


Sungguh Jek benar-benar tak percaya dengan semuanya.


"Ini tak bisa di biarkan, Rara tak boleh mencintai omnya sendiri. Oh, ya ampun kenapa bisa seperti ini!"

__ADS_1


"Bagaimana kalau perjodohan itu di percepat!"


Deg ...


Jek terdiam mendengar usul dari sang istri. Bahkan Jek memijit pangkal hidungnya karena merasa pusing. Masalah satu belum usai kini timbul masalah lain.


"Sayang, apa kamu tak lihat reaksi putri kita waktu itu. Bahkan dia terlihat marah, bisa-bisa Amira benar-benar tak mau menggantikan ku di perusahaan!"


"Tapi sayang, kalau Amira terus bekerja di sana besar kemungkinan mereka!"


Sungguh Melati tak sanggup melanjutkan ucapannya. Jek mengerti kemana arah pembicaraan sang istri.


"Aku akan cari waktu yang pas membahas perjodohan itu. Tapi, sementara aku bisa memastikan Amira tak akan kerja lagi di sana!"


"Bagaimana caranya, anak itu keras kepala!"


"Sebentar lagi Fatih akan berangkat ke Jerman untuk belajar di sana seperti yang Farhan lakukan. Aku yakin, putri kita tak akan menolak jika Farhan yang menarik Amira menggantikan Fatih untuk sementara waktu!"


"Terus perjodohan itu?"


"Kita pikirkan nanti, yang terpenting kita jauhkan dulu Amira dan Alam!"


Ucap Jek tegas, Entah apa yang harus Jek lakukan. Apa Jek harus bilang pada Fandi atau tidak tentang masalah ini.


Jek yakin, Fandi dan Dinda belum tahu tentang masalah ini.


Entahlah Jek jadi pusing. Entah bagaimana reaksi Fandi dan Dinda jika tahu putra kebanggaan mereka mencintai cucunya sendiri.


Hubungan antara mereka memang sejak dulu sudah rumit dan sekarang menjadi semakin rumit ketika hadirnya cinta di antara Alam dan Amira.


"Sekarang kita tidur, jangan terlalu banyak pikiran biar aku saja yang urus semuanya!"


Akhir Jek mengajak istrinya untuk tidur, apalagi besok Jek harus rapat dengan Alam juga dan beberapa perusahaan lain dan tentu Farhan dan Fatih ikut juga dalam rapat itu.


Melati menurut saja apa yang di katakan suaminya. Melati percaya, suaminya pasti akan melakukan yang terbaik untuk semuanya.


Melati memang tak akan melarang putrinya untuk jatuh cinta pada siapapun. Hanya saja Alam keluarga mereka walau Melati tahu Alam dan Amira sah-sah saja jika menikah.


Andai saja Alam tak lahir dari Dinda istri om suaminya. Mungkin Melati tak akan pernah melangkah sejauh ini. Memisahkan Amira dari Alam dan menghadirkan Moreo di hidup Amira.


Melati pikir dengan mendukung hubungan Moreo akan membuat putrinya melupakan Alam. Ternyata Melati salah besar. Bahkan ujung-ujungnya Amira malah kembali mengejar Alam.


Padahal ini sudah empat tahun lamanya. Tapi putrinya masih saja sama. Entah harus dengan cara apa lagi Melati memisahkan mereka. Bahkan memperingati Alam pun Melati sudah lakukan lima tahun lalu.


Tapi, nyatanya takdir membuat mereka dekat kembali.


Semoga Moreo sudah berhasil mendapatkan hati Amira!


Batin Melati sambil mencari posisi nyaman di dada bidang sang suami. Melati berharap suaminya benar-benar bisa mengatasinya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2