Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 39 Keadaan Vina


__ADS_3

Amira memeluk Vina begitu erat agar Vina tidak terjatuh lagi.


Entah apa yang harus Amira lakukan untuk menenangkan Vina. Agar Vina tak terus-menerus menangis.


Bagaimana Vina tak menangis jika ibu, orang yang Vina punya satu-satunya telah pergi meninggalkan ia untuk selama-lamanya.


Kakak pergi dan sekarang ibunya, Vina benar-benar menjadi gadis sebatang kara di dunia ini.


Kenapa begitu cepat, padahal Vina belum bisa membahagiakan ibunya. Membawa sang ibu jalan-jalan, berbelanja dan yang lainnya. Namun, kini semua itu tinggal harapan.


Kini ibu nya sudah pergi, entah harus bagaimana mana sekarang Vina menjalani hidupnya.


Amira semakin mengeratkan pelukannya ketika Vina benar-benar tak berdaya bersimpuh di pinggir makam sang ibu yang satu jam lalu sudah di kebumikan.


Rijal hanya diam saja berdiri tanpa tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk sekedar bicara pun Rijal tak berani melihat Amira yang berusaha menenangkan Vina.


"Vi, kita pulang ya. Ini sudah mau hampir magrib!"


Bujuk Amira berharap Vina mau pulang. Namun, Vina masih tak bergeming. Walau tangisannya mulai reda namun bibir Vina tetap bungkam.


"Vi, kita pulang ya!"


"Kalian pulang saja duluan!"


Ucap Vina dingin dengan tatapan kosongnya. Membuat Amira menggeleng kuat. Bagaimana Amira bisa membiarkan Vina tinggal di makan sendiri an apalagi sudah mau hampir magrib.


"Vi, ibu kamu pasti gak suka lihat kamu seperti ini. Kita pulang ya!"


Vina masih tak bergeming, tatapannya terus terpaku pada gundukan tanah. Bahkan mata Vina terlihat membengkak dengan tatapan mulai kabur akibat terus menangis.


"Rasanya aku ingi--"


Belum sempat Vina menyelesaikan ucapannya. Dia keburu pingsan duluan. Dengan sigap Rijal menggendong Vina menuju mobilnya.


Lalu mereka meninggalkan pemakaman. Entah harus di bawa kemana Vina. Amira jadi bingung sendiri karena ia tak tahu di mana rumah Vina. Ke hotel tidak mungkin karena Amira harus menginap di sana. Hingga, pada akhirnya nya Amira menyuruh Rijal pulang kerumahnya saja.


Sebelum itu Amira memberi tahu dulu sang mama jika dia pulang membawa salah satu temannya.


Vina di baringkan di kamar tamu dengan hati-hati oleh Rijal. Sesudah selesai Rijal langsung pamit pulang.


"Gadis malang!"


Gumam Melati sambil menyelimuti Vina. Sedang Amira langsung mandi guna membersihkan diri apalagi baju yang ia kenakan sangat kotor.


Sudah menyelesaikan ritual mandinya, Amira segera memakai baju santai. Lalu turun ke bawah. Di lihatnya sang mama sedang duduk di ruang keluarga.


"Mah,"


Melati menoleh ketika putrinya memanggil, lalu tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaannya, apa Vina sudah sadar?"


"Belum, seperti nya gadis itu terlalu bersedih dan menyimpan banyak kesakitan!"


"Sebenarnya siapa dia, maksud mama Vina?"


"Vina teman Rara waktu kerja di Q.B grup, dia baik. Vina pingsan akibat terlalu sedih menangisi kepergian ibunya!"


"Innalillahiwainnailaihirojiunn ...,"


Melati menutup mulut karena shok, sungguh benar-benar gadis malang.

__ADS_1


"Maaf ya, Rara bawa ke sini. Soalnya Rara gak tahu rumahnya di mana. Tapi, melihat hanya Vina doang yang mengurus acara pemakaman tadi sudah bisa di pastikan Vina hidup hanya dengan ibunya saja!"


"Gak apa sayang, sungguh kasihan sekali gadis itu!"


Ucap Melati benar-benar iba, melihat keadaan Vina membuat Melati jadi teringat akan satu teman putrinya yang dulu pernah tinggal di rumahnya.


Gadis rapuh, namun selalu berusaha kuat, sepertinya tidak jauh dengan Vina.


"Gadis itu mengingatkan mama pada teman Rara dulu!"


"Shofi!"


"Iya, mama hampir saja melupakannya. Mungkin sudah terlalu tua!"


"Ngomong-ngomong ayah kok belum pulang?"


"Ada urusan penting katanya!"


"Hm, Rara lihat Vina dulu ya mah!"


Amira beranjak menuju kamar tamu di mana Vina berada. Amira menutup kembali pelan-pelan agar tak menggangu Vina.


Amira berjalan semakin dekat, Amira duduk di bibir ranjang sambil melihat wajah Vina yang nampak pucat dan kurusan.


"Empat bulan kita tak bertemu, seperti nya hidup kamu berat!"


Gumam Amira menghapus air mata yang keluar di mata Vina yang terpejam.


Bahkan dalam tidur pun dunia tak membiarkan Vina sejenak merasakan kebahagiaan.


Deg ...


Amira terkejut ketika melihat tangan Vina yang bergerak.


Dan, benar saja. Vina membuka kedua matanya.


Vina memegang kepalanya yang terasa berat bahkan tenggorokan nya merasa haus seolah Vina sudah melakukan lari maraton.


"Minum dulu!"


Ucap Amira sambil mendekatkan segelas air minum.


Vina meminum air itu dengan cepat seolah sedang kehausan.


"Di mana ini, kenapa kepalaku pusing?"


"Kamu ada di rumah ku!"


"Ra!"


Panggil Vina seolah baru mengenali sosok di hadapannya itu. Vina merasa bingung kenapa dia harus berada di rumah Amira.


Kenapa Amira membawanya kerumah Amira.Emang apa yang terjadi.


Deg ...


Sekelebat bayangan terlihat di memori Vina membuat Vina kembali merasakan sesak di dada. Bahkan Vina mencengkram erat seprai dengan rahang mengeras.


"Ibu!"


Lilir Vina berbarengan dengan jatuhnya air mata.

__ADS_1


Kini Vina ingat, kenapa dia bisa merasakan pusing sehebat ini. Karena dia terlalu banyak menangis atas kepergian sang ibu.


Amira menarik Vina ke dalam pelukannya mencoba untuk menenangkan Vina yang kembali menangis.


"Aku tak tahu harus berkata apa, cuma kamu harus ingat! kamu gak sedang sendirian!"


Vina semakin menangis kencang membalas pelukan Amira. Kenapa Vina seberuntung ini mempunyai teman se baik Amira.


Lama Vina menangis dan menenangkan hati dan pikirannya. Toh, ini sudah terjadi. Sesedih apapun Vina tetap Tak akan bisa mengembalikan ibunya.


Vina harus kuat dan tangguh untuk menghadapi ujian ini.


"Ra, aku harus pulang!"


"No, ini sudah malam. Kamu menginap di sini!"


"Aku ingin pulang!"


"Tidak!"


Tegas Amira tak mau tahu Vina harus menginap di rumahnya. Amira tak akan membiarkan Vina sendirian dalam keadaan seperti ini. Sampai mereka berdebat sengit dan pada akhirnya Amira lah yang memenangkan pertandingan itu.


"Sudah jangan merasa kecil, kita makan malam dulu. Kamu butuh ke kuatan untuk menghadapi hidup baru!"


Vina terdiam mendengarkan ucapan Amira. Vina tak menyangka bisa berteman dengan orang sebaik ini. Padahal mereka berteman tidak cukup lama apalagi Amira harus pindah kerja.


Amira membawa Vina keluar kamar menuju meja makan di mana sang mama dan sang ayah sudah ada. Entah sejak kapan Jek pulang kenapa Amira tak dengar apapun.


Amira menunduk hormat bercampur malu melihat kedua orang tua Amira.


"Sayang, jangan berdiri terus. Ajak Vina nya duduk!"


Amira langsung menyuruh Vina duduk di sampingnya.


"Ayo naik, jangan malu-malu. Makan yang banyak ya!"


Mereka makan dengan tenang, walau Vina nampak malu namun tetap berusaha bersikap sopan.


Sesudah makan, Amira membawa Vina menuju kamarnya di lantai atas. Tidak kembali ke kamar tamu.


"Cuci muka, dan ganti baju gih. Semoga bajunya pas di tubuh kamu!"


Ucap Amira mendorong Vina masuk ke dalam kamar mandi.


Sambil menunggu Vina keluar, Amira duduk di kursi meja belajarnya. Guna mengecek email yang masuk.


Tak lama Vina keluar dengan pakaian yang tadi Amira berikan sangat pas di tubuh Amira.


"Kita tidur di sini!"


"Tapi Ra,"


"Gak ada tapi-tapi an. Sudah malam ayo tidur!"


Ucap Amira sambil menarik Vina menuju ranjang. Sungguh Vina merasa tak enak hati sudah merepotkan Amira.


"Selamat tidur!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1



__ADS_2