
Karena tak ada yang merawat Vina, maka Amira memutuskan merawat Vina sampai Vina sembuh. Walau Vina menolak namun, Amira tetap merawatnya bahkan sampai pekerjaan dia juga Amira serahkan pada Rijal. Kecuali jika ada yang penting maka Amira datang dan langsung pergi lagi ke rumah sakit.
Sudah tiga hari Vina di rawat di rumah sakit, sudah tiga hari pula Alam tanpa kabar membuat Amira di buat berpikir keras. Kenapa tiba-tiba Alam menghilang tanpa jejak dan Alam hanya memberi pesan jika ia ada urusan mendadak ke Bali lagi.
Namun, Amira merasa tak percaya, karena hatinya mengatakan jika Alam sedang menyembunyikan perkara yang lebih besar.
Bahkan ketika Amira menelepon pasti yang mengangkat adalah Dom. Dan, Dom selalu mengatakan bahwa Alam sedang sibuk, meeting lah dan bertemu klien di luar.
Sungguh Amira jadi benar-benar di buat kesal dengan setiap jawaban Dom yang dingin. Apa se rumit itu pekerjaan hingga sampai tak memberi kabar padanya bahkan sekedar bicarapun satu menit tak bisa.
Di dalam kekesalan dan kegalauan nya Amira berusaha tetap tenang seolah tak terjadi apa-apa.
Amira fokus dulu merawat Vina sampai Vina sembuh. Dan, baru Amira akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Kak, Vina perhatikan nampaknya kakak gelisah?"
Ucap Vina ketika Amira mengajaknya ke taman rumah sakit.
Amira duduk di kursi sedang Vina di kursi roda.
"Entahlah, aku selalu sulit untuk bercerita!"
"Tak apa, tenangkan saja dulu hati dan pikiran kakak dengan perkara yang baik-baik. Vina yakin kegelisahan itu pasti akan hilang,"
Amira tersenyum mendengar ucapan bijak Vina. Amira benar-benar masih tak menyangka jika Vina usianya baru menginjak dua puluh tahun.
"Apa kamu mau kuliah?"
Deg ....
Vina terkejut akan pertanyaan Amira. Kenapa jadi dia yang terpojok dengan pertanyaan Amira.
Namun, detik berikutnya Vina tersenyum tipis walau senyuman itu tak bisa membohongi sorot mata sendu Vina.
"Ingin! itu adalah cita-cita Vina. Mungkin Vina akan menabung dulu baru nanti akan masuk kuliah jika sudah ada uangnya!"
"Semoga berhasil!"
Semangat Amira memegang tangan Vina membuat Vina tersenyum.
Amira bukan tak ingin membantu namun Amira tahu Vina pasti akan berusaha menolaknya. Maka Amira akan melakukan apa saja untuk membantu Vina Tampa harus di ketahui.
"Terimakasih kak,"
"He'em, sekarang kita kembali ke kamar!"
Ucap Amira namun Vina menahannya membuat Amira kembali duduk.
"Bisakah Vina di sini sebentar lagi, di dalam gak enak bau obat!"
Mohon Vina memelas karena tak betah berlama-lama di dalam ruang rawatnya.
"Baiklah, tapi sebentar ya jangan lama-lama!"
Vina mengangguk sambil tersenyum cerah. Membuat Amira ikut tersenyum juga.
Dret .. dret ....
__ADS_1
Suara ponsel Amira berbunyi menandakan panggilan masuk.
Amira melihat siapa yang menelepon, Amira tersenyum dan izin mengangkat telepon dari sang mama.
"Hallo, iya mah, ada apa?"
"..... "
"Seperti nya malam ini gak bisa mah. Nanti siapa yang menjaga Vina!"
Ucap Amira menolak halus sambil melirik ke arah Vina yang sedang mengelus bunga-bunga yang mekar.
"...."
"Tapi mah, Rara gak bisa, gak mungkin Rara meninggalkan Vina sendirian,"
"......,"
"Baiklah, kalau begitu nanti Rara usahakan!"
Amira menatap nanar ponselnya yang teleponnya sudah mati. Amira menautkan kedua alisnya nampak heran dengan permintaan sang mama.
Kenapa secara tiba-tiba sang mama memintanya pulang karena akan ada acara makan malam dengan salah satu partner kerja sang ayah. Apa Amira harus ikut juga, rasanya sangat aneh jika Amira ikut kalau tidak di dalamnya ada sesuatu.
"Aneh!"
Gumam Amira ketika mengingat kembali alasan sang mama. Sungguh Amira di buat bingung saja. Namun, karena Amira tak mau ambil pusing Amira kembali ke tempat di mana Vina berada.
"Apa ada sesuatu kak?"
Tanya Vina terlihat Amira nampak kebingungan.
"Ayo masuk, kita sudah lama di luar!"
Ucap Amira tak ingin di bantah lagi. Amira mendorong kursi roda Vina langsung ketika Vina akan proses.
Vina menghela nafas berat ketika Amira benar-benar membawanya ke dalam.
Amira membantu Vina naik ke atas ranjang. Walau kaki Vina masih bisa berjalan namun Vina tetap harus menggunakan kursi roda dulu.
"Sudah istirahat, jangan berpikir macam-macam,"
"Aku akan keluar sebentar beli buah!"
Izin Amira langsung keluar karena stok buah sudah habis di kamar rawat Vina.
Huh ...
Amira membuang nafas kasar ketika sudah keluar dari ruang Vina. Bahkan Amira memukul-mukul dadanya berharap kesesakan di dadanya menghilang.
Amira kembali mengeluarkan ponselnya menelepon kembali nomor Alam sambil berjalan menuju lantai bawah.
Namun tak ada satupun teleponnya yang di jawab. Tapi, Amira tak akan menyerah terus menelepon dan menelepon sampai sampai nomor Alam menjadi tak aktif.
"Sitt,"
Umpat Amira ketika nomor Alam malah tak aktif. Sebenarnya kemana dia. Kenapa tak memberi kabar sama sekali membuat Amira benar-benar merasa kesal dan marah. Kenapa Alam selalu saja suka pergi tiba-tiba bahkan tanpa pesan sekalipun.
__ADS_1
Apa sesibuk itu urusan kantor hingga sampai mengabaikannya. Sungguh jika Amira bertemu maka Amira akan benar-benar marah.
Bahkan tanpa sadar Amira menghentak-hentakan sepatunya ke lantai hingga menimbulkan bunyi nyaring. Membuat orang-orang nampak aneh melihat tingkah Amira ada juga yang tersenyum geli melihat wajah Amira yang menggemaskan.
Namun, Amira tak memperdulikan itu semua. Bagi Amira, dia harus mencari tahu kemana Alam pergi. Jika Amira tahu sesuatu yang di sembunyikan Alam maka Amira benar-benar akan marah besar.
Tak pernah Amira sekesal ini pada orang, namun karena Alam membuat Amira benar-benar ingin melupakan emosinya.
"Tenang Ra, Alam tak akan macam-macam di belakang kamu!"
Gumam Amira pada dirinya sendiri tepatnya Amira menenangkan hatinya yang mulai gelisah dan cemas. Apalagi terakhir mereka bertemu Alam memang sedikit nampak terlihat aneh dan berbeda.
"Doakan saja semoga baik-baik saja!"
Gumam Amira lagi sebelum dia menyebrang jalan menuju swalayan yang memang tak jauh dari rumah sakit Bunda Husna.
Dari pada harus membawa mobil dan memutarnya jauh lebih baik Amira jalan kaki saja toh gak terlalu jauh-jauh amat.
Bruk ....
Seorang anak kecil berlari menubruk kaki Amira membuat Amira menghentikan langkahnya.
"Ya ampun Starla, kamu gak apa nak?"
Ucap seorang wanita yang mengejar bocah kecil.Yang berlari menginginkan es krim.
"Es krim mah, es krim!"
Rengek bocah imut itu pada mama nya.
"Sebentar sayang, minta maaf dulu sudah menabrak Aunty!"
Ucap sang mama pada putri kecilnya. Sang mama langsung menggendong putrinya dan berniat minta maaf
Deg ...
"Kamu!"
Ucap Amira dan sang mama membulatkan kedua matanya melihat siapa yang di tabrak putri kecilnya.
"Am-amira, apa kabar?"
Tanya Amelia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Entah mimpi apa semalam Amelia bisa bertemu dengan teman lamanya.
Amira hanya diam saja melihat Amelia dan bocah imut yang Amelia gendong. Lalu Amira melihat pada Amelia lagi yang terlihat nampak berbeda ketika mereka berpisah empat tahun lalu.
"Hey, Ra apa kamu baik-baik saja!"
"Am-Amelia!"
Ucap Amira ber bata seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sungguh, ini sudah empat tahun mereka berpisah dan bertemu di keadaan yang berbeda.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,, komen dan Vote Terimakasih ...
.
__ADS_1