
Rumah sakit Bunda Husna ...
Hari ini Alam di bawa jalan-jalan ke taman menggunakan kursi roda. Amira yang mendorongnya. Tak pernah sekalipun Amira meninggalkan Alam. Ia merawat dengan baik Alam sampai keadaan Alam jauh lebih baik.
Kedua orang tua mereka membiarkan Amira merawat Alam. Mereka hanya memerhatikan dari kejauhan saja takut Amira membutuhkan sesuatu.
Amira menghentikan dorongannya tepat di salah satu pohon yang ada di taman. Amira duduk di salah satu kursi sendang Alam tetap di atas kursi roda.
"Cuacanya lumayan cerah!"
Ucap Alam sambil menengadahkan pandangannya keatas.
"Apa dear sudah merasa lebih baik,"
"Iya, karena kamu yang merawatnya!"
"Karena aku tak akan membiarkan calon suami ku di rawat orang lain, bahkan nenek sekalipun!"
Alam terdiam wajahnya berubah murung, membuat Amira menautkan kedua alisnya bingung.
"Kenapa, apa dear gak mau menikah denganku!"
Alam tetap saja bungkam, Entah kenapa dengan Alam. Bukankah ini yang mereka inginkan. Sudah mendapatkan restu mama mereka akan segera menikah. Tapi kenapa Alam malah terlihat tak senang.
Amira menggenggam tangan Alam. Lalu membawanya keatas pangkuan dia.
"Apa yang om takutkan, apa karena penjelasan dokter!"
Alam memberanikan diri menatap wajah cantik Amira. Gadisnya selalu saja terlihat ceria dalam hal apapun.
Bagaimana Alam tidak sedih jika ingatan Alam di setiap harinya menghilang. Alam hanya takut ia akan benar-benar melupakan Amira. Bagaimana mungkin Alam membuat Amira menderita hidup bersama orang pesakitan.
"Rara yakin om pasti sembuh, jikapun itu terjadi maka Rara tak akan membiarkan om melupakan aku barang sedikitpun. Aku akan membuat om terus mengingat aku, cinta om!"
"Bahkan jika perlu aku akan menulis di setiap sudut ruangan jika aku adalah cintanya om. Dan aku juga akan memenuhi rumah kita nanti dengan poto-poto kita agar om akan selalu ingat jika Aku adalah satu-satunya orang yang om Cintai!"
"Apa aku terlalu egois menahan kamu, kamu berhak bahagia sayang dengan orang yang tak akan meninggalkan kamu!"
Ucap Alam sendu, Alam pikir dia akan sehat setelah operasi. Nyatanya tetap sama, bahkan sekarang kadar ingatan Alam mulai melemah. Alam takut, ia benar-benar melupakan orang yang di cintainya.
Alam tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Amira jika ia suatu hari nanti melupakan dirinya.
"Om bicara apa sih, itu tak akan pernah terjadi. Om tak akan pernah meninggalkan aku. Jika om pergi maka aku juga akan pergi. Apalah hidup ini jika om tak ada di sisi Rara!"
"Sayang!"
"Dengar om, kita sebenar lagi akan menikah. Jangan berpikir aneh-aneh. Sehebat apapun penyakit itu menghilangkan ingatan om, dia tidak lebih hebat dari aku yang akan berusaha tetap mengingatkan om pada cinta kita!"
"Kemari lah!"
Ucap Alam sambil menepuk pahanya, mengisyaratkan Amira untuk duduk di pangkuannya.
"Berat!"
__ADS_1
"Seberat apapun badan kamu, kamu tak akan bisa mengalahkan kekuatan ku!"
Amira tersenyum karena Alam bisa saja membalikan ucapannya. Dengan ragu Amira duduk di pangkuan Alam. Alam memeluk erat tubuh Amira, menghirup dalam-dalam aroma parfum yang Amira pakai. Alam akan mengingat ini, bau ini, cinta ini dan tubuh ini.
Alam berharap ia tak akan melupakan semua yang ada pada diri Amira.
"Aku mencintaimu dear, jangan berpikir untuk menyerah!"
Ucap Amira pelan memeluk tubuh Alam. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang Alam.
"Maafkan aku cinta, jika keputusasaan aku membuatmu terluka!"
Ucap Alam sambil mengecup puncak kepala Amira.
Mereka saling berpelukan menikmati momen indah ini. Di bawah pohon besar d engan semilir angin yang menerpa wajah mereka.
Dinda yang melihat itu semua hanya bisa menangis dalam diam di pelukan sang suami. Begitupun dengan Melati di pelukan Jek.
Sungguh mereka tak menyangka, kisah putra putrinya sebegitu rumit. Bahkan ketika mereka sudah merestui namun cobaan lain datang.
Bagaimana bisa mereka kuat menghadapi kenyataan pahit ini.
Terutama Dinda, yang tak sanggup jika melihat putranya di setiap hari kesakitan. Dan, sewaktu-waktu penyakit itu akan melemahkan ingatan Alam. Jika sudah begitu apa yang harus mereka lakukan.
Andai saja kesakitan itu bisa di gantikan maka Dinda orang yang pertama memilih menggantikannya. Putranya terlalu muda untuk menghadapi ujian besar ini.
Mereka semua buru-buru menghapus air mata mereka ketika melihat Amira sudah kembali.
"Kenapa sayang?"
"Waktunya om makan siang dan minum obat,"
"Biar kakek saja yang dorong, kamu juga jangan terlalu kecapean!"
Amira mengangguk patuh bergeser membiarkan Fandi mendorong kursi roda kembali ke ruangannya.
Amira mengikuti saja dari belakang bersama Dinda. Sedang Melati dan Jek mereka pergi ke kantin guna membeli makan untuk Amira karena Amira tidak makan makanan rumah sakit.
"Terimakasih, Dad!"
Ucap Alam tulus karena Fandi sudah membantunya berbaring kembali di atas brankar.
"Ya sudah, kami keluar dulu!"
Fandi dan Dinda keluar membiarkan Amira dan Alam berdua. Tak lama Melati masuk memberikan makan pada Amira. Amira juga harus makan karena badannya belum cukup kuat.
Sesudah memberikan makan pada Amira Melati pun langsung keluar kembali menemui suaminya yang masih berada di kantin rumah sakit.
"Mau aku suapin?"
Tawar Amira pada Alam yang terlihat sedikit kesusahan. karena selang infus yang menancap di punggung tangannya.
Tanpa banyak bicara lagi Amira mengambil alih piring yang dipegang Alam. Amira menyuapi Alam dengan hati-hati.
__ADS_1
"Dear, kamu juga harus makan biarkan aku sendiri, aku bisa!"
"Tidak apa aku suapin kamu dulu baru aku makan,"
Ucap Amira santai, kembali menyuapi Alam. Alam ingin menolak tapi Amira menatap tajam dirinya seolah Amira tak mau ada penolakan. Hingga Amira selesai menyuapi Alam. Baru giliran dirinya sendiri yang makan.
Pada suapan ketiga, Alam menahan tangan Amira lalu merebut sendok yang di pegang Amira.
Aaaa ...
Amira tersenyum ketika Alam menyuapinya balik dengan keadaan baik-baik saja. Tidak terlihat kesusahan atau sakit.
Kini Amira faham, ternyata Alam tadi sengaja terlihat kesusahan agar disuapin. Dan kini giliran Amira sendiri yang di suapin Alam. Karena jenis makanan mereka berbeda hingga mereka tak bisa makan sepiring berdua.
"Udah!"
Ucap Alam tersenyum sambil memberikan suapan terakhir pada Amira.
"Terimakasih, Dear!"
"Kasih kembali!"
Mereka terkekeh dengan tingkah konyol mereka sendiri.
Sesudah makan dua-duanya langsung makan obat. Sungguh, pasangan yang sangat konyol. Sakit bareng, makan bareng, minum obat bareng. Seolah mereka dua manusia yang sulit di pisahkan. Apapun keadaannya mereka akan bersama dalam suka maupun duka.
Hal sederhana yang mereka ciptakan akan selalu mereka rekam jelas agar tak terlupakan.
"Ngomong-ngomong ponselku di mana ya?"
Tanya Alam, karena semenjak siuman dia belum sekalipun melihat Dom menjenguknya. Entah kemana sahabatnya itu. Tak biasanya Dom tak menemui dia.
"Gak tahu, mungkin nenek yang menyimpannya!"
"Kenapa?"
"Gak, aku cuma ingin tahu dimana Dom berada,"
"Oh, Dominic. Mungkin dia lagi sibuk di kantor jadi belum sempat menjenguk!"
"Hm!"
Alam bergumam saja, kemungkinan apa yang Amira katakan memang benar. Dom sangat sibuk di kantor hingga belum ada waktu untuk menjenguknya. Alam jadi merasa bersalah karena sudah membuat sahabatnya kerepotan.
"Jangan banyak pikiran, sekarang om harus tidur siang!"
"Baiklah cinta, tapi temenin!"
Rengek Alam membuat Amira terkekeh gemas melihat Alam yang merajuk bak anak kecil.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,komen dan Vote Terimakasih
__ADS_1