
Hari ini Alam tak bisa berangkat bareng bersama sang istri karena ada meeting pagi.
Terpaksa Amira membawa mobil sendiri, walau begitu Amira mengerti sang suami sedang sibuk meninjau perkembangan produk barunya lagi.
Namun Amira akan selalu mengingatkan Alam akan hal kecil apapun. Bahkan sampai Alam menulis nota di bagian-bagian tertentu yang sering Alam gunakan atau kerjakan.
Seperti dari mulai ponsel, Amira mengganti wallpaper ponsel Alam dengan Poto ketik mereka tidur. Bahkan Amira memberikan catatan setiap harinya pada Alam agar Alam jangan lupa makan dan minum obat. Harus istirahat cukup jangan lelah bekerja.
Apapun akan Amira lakukan agar Alam ketika lupa dia bisa membaca itu. Ingatan Alam hanya dianggap di tulisan saja bukan di memori.
Walau begitu Amira tak pernah mengeluh di hadapan Alam. Ia akan selalu tegar dan kuat menahan kesesakan itu.
Alam tersenyum melihat rentetan catatan yang harus Alam lakukan. Sampai Amira mengingatkan Alam agar selalu menulis isi hatinya di dalam buku yang sudah Amira siapkan yang baru karena sudah lima buku penuh oleh catatan Alam.
"Kamu memang menggemaskan sayang,"
Gumam Alam menatap wallpaper ponselnya.
"Maaf tuan, meeting akan segera di mulai!"
Ucap Dom menyadarkan lamunan Alam yang sendari tadi malah bengong.
"Ah iya, ayo!"
Ucap Alam membuat Dom mengangguk saja. Dom begitu sedih melihat setiap hari sahabatnya terus berjuang melawan maut. Walau Dom tahu, Alam akan kalah sampai kapanpun.
Tapi, setidaknya Alam sudah berjuang keras hidup bersama Amira.
Acara meeting awalnya baik-baik saja namun lama kelamaan bicara Alam mulai ngelantur dengan wajah pucat nya.
Dom dengan sigap langsung berdiri menahan tubuh Alam yang akan ambruk.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?"
"Sa-saya baik,"
Ucap Alam yang mulai merasa blur penglihatannya.
Tes ...
Darah segar keluar dari hidung Alam membuat Dom panik begitu dengan yang lain.
"Tifani, cepat siapkan mobil!"
Perintah Dom menahan tubuh Alam agar tidak jatuh. Dom terus mencoba berinteraksi dengan Alam agar kesadaran Alam tetap ada.
Tifani langsung berlari keluar dengan kepanikannya. Begitupun dengan yang lain karena terkejut melihat kondisi bos mereka.
Dengan cepat Dom membopong Alam di bantu dengan beberapa orang menuju lantai bawah.
Karena kejadian yang mendadak membuat semua karyawan gaduh bahkan sampai ke telinga Vina dan Andri.
Vina langsung berlari menuju loby dan benar saja Alam terlihat tak berdaya dengan darah yang terus keluar dari hidungnya. Bahkan sepertinya Alam sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Deg ...
Amira memegang dadanya yang tiba-tiba merasa sesak. Bahkan langkah Amira hampir saja terjatuh jika bukan Rijal yang menahannya.
Perasaan Amira mulai tak enak, pikirannya langsung tertuju pada sang suami. Dengan cepat Amira mengambil ponselnya berbarengan dengan sebuah telepon masuk.
Vina!
Gumam Amira melihat siapa yang menelepon. Dengan cepat Amira langsung mengangkatnya.
Dam ...
Rasanya dada Amira sedang di tikam oleh pisau sangat sakit dan perih bahkan matanya mulai memerah dengan genangan air yang terus memaksa keluar.
Rijal yang melihat reaksi Amira langsung terkejut, pasalnya rekasi Amira begitu terlihat menyedihkan.
"Jal, aku harus ke rumah sakit suamiku masuk rumah sakit. Handle pertemuan ini!"
Ucap Amira langsung berlari menuju lift, rasanya jantung Amira berhenti berdetak mendengar berita menyakitkan itu.
Tidak Amira harus tetap tenang, ia tak boleh lemah Alam tak menyukainya. Amira harus kuat harus kuat dan kuat.
Berkali-kali Amira menahan nafas berkali-kali pula Amira membuang nafas kasar.
Amira berusaha mengendalikan konsentrasi menyetir agar ia juga selamat sampai tujuan. Amira berharap sang suami baik-baik saja.
Hingga sampai lah Amira di rumah sakit Bunda Husna. Amira langsung menanyakan di mana ruang suaminya berada. Sudah mendapatkannya Amira kembali berlari mencari dimana ruang sang suami.
"Dom!"
Panggil Amira membuat Dom langsung berbalik.
"Ra,"
"Ba-bagaimana ke-keadaan s--"
"Tenang Ra, dokter masih memeriksanya di dalam. Kamu duduk dulu, tenang ya!"
Bujuk Dominic berusaha menenangkan Amira agar tidak terlalu panik. Mereka hanya bisa berdoa untuk kebaikan Alam saja.
Amira duduk di kursi tunggu dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.
Cklek ....
Pintu terbuka membuat Amira dan Dom langsung berdiri.
Terlihat jelas raut tegang sang dokter membuat Amira sungguh tak tahan.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok?"
Tanya Amira berusaha menahan kesesakan di dadanya. Sungguh ini sangat sakit sekali, kenapa harus sekarang.
"Ikut ke ruangan saya!"
__ADS_1
Ucap dokter Raftha membuat Amira langsung mengangguk. Amira dengan perasaan berkecamuk terus mengikuti dokter Raftha menuju ruangannya.
"Dari hasil pemeriksaan tadi, virus itu semakin menyebar dan mengakibatkan terinfeksi sel-sel dalam otak. Pasien akan sering kali mengalami gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, epilepsi dan gangguan ingatan,"
"Jika virusnya semakin menyebar maka pasien akan mengalami hal-hal dari empat penyebab itu. Jika itu terus berlanjut maka akan banyak gangguan lagi seperti gagal ginjal!"
Amira mengepalkan kedua tangannya erat ketika mendengar semua penjelasan dokter. Sungguh ini sangat menyakitkan bagi Amira. Apa Amira mampu menghadapi semua ini.
Kenapa secepat ini, di saat Amira benar-benar belum siap.
Kenapa!
"Nona bisa melihat dari sini, hasil ct scan tadi!"
Ucap dokter Raftha lagi, dokter Raftha menjelaskan dengan perinci bagian-bagian yang membahayakan.
Namun, seperti nya Amira tak mendengarkan. Amira terlalu fokus pada dunianya sendiri.
Tatapan kosong terlihat jelas di mata Amira dengan air mata yang terus mengalir deras. Dokter Raftha terdiam tidak melanjutkan lagi penjelasannya karena melihat keadaan Amira yang kurang baik.
Seolah Amira berada dalam kesedihannya sendiri tak peduli dengan orang di sekitarnya.
Dunia Amira terlalu rapuh untuk di katakan, bahkan dokter Raftha pun menjadi iba melihat ya.
Pasti sungguh berat Amira menjalani ini semua.
Apalagi Alam adalah pasien dokter Raftha dari beberapa tahun kebelakang.
Seorang Dokter spesialis bedah dan dokter spesialis psikolog juga.
Jadi dokter Raftha faham betul bagaimana yang di alami pasien-pasien nya. Terutama keluarganya.
Amira keluar dari ruangan dokter Raftha dengan tatapan kosong. Berjalan tanpa arah tujuan. Entah mau kemana Amira, sebab jalan yang Amira pakai bukan jalan menuju ruang suaminya.
Amira menjatuhkan tubuhnya di sebuah lorong. Amira di sana menangis sejadi-jadinya. Sambil menenggelamkan kepalanya di antara dua lutut.
Sungguh ini sangat menyakitkan, apa Amira benar-benar sanggup. Bukankah ini jalan yang memang Amira inginkan.
Saya tidak tahu, sampai kapan pasien terus bertahan. Kita serahkan saja pada Tuhan, semoga pasien bisa sembuh.
Ucapan dokter Raftha kembali terngiang di ingatan Amira. Amira tidak bodoh jika tidak faham akan ucapan itu.
Amira tahu, untuk itu Amira memilih pergi dari ruangan dokter Raftha karena sudah tak sanggup lagi mendengarkan itu semua. Hati Amira sudah hancur berkeping-keping dari awal mula Alam masuk rumah sakit. Dan sekarang hatinya bertambah hancur ketika dokter Raftha menjelaskan secara detail kondisi Alam.
"Tidak dear, jangan sekarang tolong. Kamu belum menitipkan malaikat kecil di perutku. Biarkan dia hadir dulu sebelum kamu pergi. Agar aku tetap bisa melihat bagian diri kamu. Jangan tinggalkan aku tanpa meninggalkan kenangan terindah!"
Lilir Amira mengusap perut ratanya berharap ada malaikat kecil segera hadir sebelum Alam benar-benar meninggalkannya.
bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1