Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 15 Jadilah koponakan


__ADS_3

Alam terdiam melamun seorang diri, bahkan Alam menyuruh asisten untuk melarang siapa saja yang ingin menemuinya.


Alam tak tahu apa yang harus ia lakukan. Bukankah Alam harus senang karena jika begitu Amira tak akan menggangunya lagi. Dan, tak akan ada pertentangan antara dua keluarga.


Tapi, kenapa Alam merasa tak senang akan hal itu bahkan mendengarnya saja membuat dada Alam sesak.


Bolehkah sekarang Alam egois, tapi bagaimana tentang keluarga nya.


Memikirkan itu semua membuat Alam benar-benar pusing bahkan sampai Alam lagi-lagi melewatkan makan siangnya. Sungguh Alam begitu prustasi sekarang. Apa yang harus ia lakukan. Apa berjuang sama-sama atau tetap seperti ini selalu menjadi pengecut.


Ingat bro, jangan jadi seorang pengecut. Jika cinta katakanlah, jangan sampai loe menyesal. Kamu masih punya kesempatan bisa melihatnya, jangan sampai loe mengalami apa yang aku rasakan!


Alam menghela nafas berat ketika mengingat apa yang Dom ucapkan. Sekarang apa yang harus ia putuskan. Karena semuanya tinggal di tangan Alam.


Apa Alam benar-benar merelakan Amira dengan orang lain atau tidak.


Namun, lagi-lagi ego Alam begitu tinggi apalagi ucapan seseorang lima tahun lalu masih terngiang di ingatan Alam.


Hingga membuat Alam harus bersikap seperti ini yang pada akhirnya berujung menyakiti Amira.


Tok ... Tok ...


Ketukan pintu membuat Alam diam saja, Alam tak peduli siapa yang mengetuk pintu. Namun, lama kelamaan Alam kesal juga karena pintu ruangannya di ketuk terus.


Alam melihat cctv guna tahu siapa yang mengetuk pintu ruangannya.


Sesudah tahu siapa yang mengetuk pintu, Alam menekan tombol remote hingga pintu itu terbuka otomatis.


"Kenapa belum makan?"


Alam hanya diam saja mendengar pertanyaan dari Amira. Alam memandang lamat-lamat wajah Amira yang kembali ceria.


Apa memang Amira selalu seperti itu. Mudah sekali menyembunyikan apapun dengan keceriaan nya.


"Rara bawa makanan om makan ya!"


Ucap Amira sambil menyimpan kotak makan di atas meja. Lalu Amira menyimpan secangkir kopi di meja kerja Alam.


Amira tak mau lama-lama di ruang Alam karena emosinya belum stabil. Akibat percakapan tadi pagi membuat Amira seperti nya butuh energi lagi untuk sekedar bicara lagi dengan Alam.


Namun, Amira sulit membuka pintu bahkan berkali-kali di buka pun tetap sulit.


"Om, tolong buka pintunya!"


Mohon Amira ingin segera keluar, Amira hanya takut tak bisa menahan perasaan nya lagi sama seperti tadi.


Alam beranjak dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Amira. Semakin dekat membuat Amira mundur hingga mentok di pintu.


"Om!"


Panggil Amira karena merasa aneh dengan sikap omnya. Apa karena masalah tadi pagi. Apa Alam marah karena dirinya. Amira terus berpikir yang jauh tanpa bisa tenang. Apalagi Alam menatapnya aneh, tatapan berbeda yang baru kali ini Amira lihat.


Tiba-tiba Alam menarik Amira ke dalam pelukannya. Alam memeluk erat Amira, gadis kecilnya yang dulu selalu menempel padanya.


"Om!"


"Biarkan seperti ini, pekerjaan membuat om pusing!"

__ADS_1


Amira terdiam dengan apa yang Alam katakan. Apa benar karena pekerjaan bukan karena dirinya. Namun, Amira tak berani bicara apalagi merasa Alam benar-benar berbeda mungkin karena pekerjaan.


Karena biasanya Alam selalu menggunakan kata saya, jarang menyebut dirinya sendiri jika memang Alam ketika menganggap Amira keponakannya.


Alam menghirup dalam-dalam wangi parfum Amira yang mungkin Alam kapan lagi bisa mencium wanginya dan memeluk Amira sepuasnya.


Ini entah pelukan terakhir atau pelukan awal Alam mengubah semuanya.


"Om, kaki Rara pegal!"


Rengek Amira karena sudah merasa pegal dari tadi berdiri terus. Alam melerai pelukannya lalu menangkup wajah Amira.


Di tatapnya wajah ini, wajah yang sendari dulu selalu mengusik hidupnya.


"Bisakah Rara menganggap saya, Om!"


"Please!"


Mohon Alam ketika mendapat gelengan dari Amira.


Alam hanya ingin mengenang momen dulu waktu mereka kecil sebelum timbul rasa lebih dari sekedar saudara.


"Hanya sebentar, jadilah keponakan bukan wanita yang mencintai omnya sendiri!"


Amira terdiam mendengar permintaan Alam. Sebenarnya apa yang ingin Alam lakukan, namun karena penasaran Amira mengangguk ragu.


"Terimakasih!"


Ucap Alam tersenyum sambil mengelus kepala Amira. Yang dulu selalu Alam lakukan pada Amira.


Amira hanya terpaku mendapat perlakukan manis lagi dari Alam. Entah sudah sangat lama momen itu menghilang ketika Amira mengatakan cintanya.


Lagi-lagi Amira terpaku ketika Alam menarik lengannya dan mendudukkan ia di atas shopa.


Apa harus seperti ini jika ingin membuat Alam kembali lagi seperti dulu. Tapi, Amira ingin lebih dari sekedar ini.


"Kamu masih ingat apa yang om suka!"


Binar Alam ketika membuka kotak makan yang tadi Amira bawa.


Bagaimana Amira lupa makanan kesukaan omnya sendiri. Bahkan, walau empat tahun Amira pergi, Amira tak akan pernah melupakan sekecil apapun yang pernah di lalui mereka bersama.


Jika ini yang om inginkan, tak apa. Yang penting om bersikap manis walau harus menganggap Rara keponakan.


Batin Amira merasa sesak, kenapa harus keponakan membuat Alam bisa semanis ini. Kenapa tidak bisa lebih.


"Ra!"


"Iya!"


"Kenapa melamun, ayo makan atau mau om suapin!"


Ujar Alam mengulang waktu dulu, ketika Amira hanya diam menatap makanan tanpa mau menyentuhnya.


"Jangan rusak momen ini dengan perasaan mu!"


Cetus Alam mencegah Amira bicara aneh-aneh. Amira hanya tersenyum merasa lucu dengan apa yang Alam lakukan.

__ADS_1


Baiklah, jika ini mau Alam maka Amira akan memerankan perannya sebagai keponakan baik, keponakan yang di sayangi Alam.


"Baiklah, Rara keponakan om. Puas!"


Ketus Amira berpura-pura kesal membuat Alam mengangguk setuju.


Pada akhirnya mereka makan dengan tenang seperti yang sering dulu mereka lakukan. Tak ada perdebatan lagi, yang merusak momen itu.


"Kamu itu makan selalu belepotan, kalah sama Aurora!"


Deg ...


Amira terkejut akan perlakuan Alam lagi. Di mana Alam mengusap bibirnya yang belepotan menurut Alam.


Andai saja ini perlakukan laki-laki terhadap wanita mungkin Amira akan merasa bahagia. Tapi, perlakukan manis Alam hanya sebatas keponakan saja tak lebih dari itu.


"Biarin, kan ada om yang membersihkannya!"


"Kau ini, kamu itu sudah besar Ra,"


"Tapi, di mata om Rara selalu seperti anak kecil!"


"Ya memang kamu itu anak kecil!"


Mereka terkekeh dengan tingkah mereka sendiri. Seolah mereka sejenak melupakan apa yang terjadi.


"Bagaimana kuliah kamu di sana?"


"Baik om, bahkan Rara menjadi lulusan terbaik di sana!"


"Itu bagus, kenapa gak lanjut S2?"


"Ayah kan nyuruh Rara pulang, pengennya sih lanjut tapi nanti saja deh di pikirannya!"


Jelas Amira sambil membereskan tempat makan tadi.


Mereka sama-sama diam seolah sudah kehabisan cerita dan tak ada lagi yang harus di bahas.


"Jadilah seperti ini jika tak mau om berubah!"


"Rara tak janji om,"


Cup .....


Amira mengecup pipi Alam membuat Alam melotot dengan apa yang Amira lakukan.


"Ra!"


"Katanya keponakan, bukankah itu yang sering Rara lakukan dulu!"


Tegas Rara menekan kata keponakan agar Alam tak marah padanya. Memang dulu Amira selalu saja suka mencium Alam diam-diam.


"Dadah om, Rara pergi dulu!"


Ucap Amira layaknya anak kecil berlari keluar ruangan Alam. Alam hanya terkekeh saja melihat tingkah Amira yang menggemaskan. Sama seperti dulu tak ada yang berubah, bahkan Amira semakin cantik dan imut.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2