
Sinar mentari nampak malu-malu mengintip Amira yang baru bangun dari tidurnya. Bulu mata indah nya perlahan mengerjap-enjap lucu hingga menampakan keindahan bola mata kecoklatan.
Dengan sedikit malas Amira beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Sekitar tiga puluh menit Amira baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.
Hari ini ada rapat penting di perusahaan dan tentu kali ini Farhan yang akan memimpin. Untung saja sebelum tidur Amira sudah menyiapkan berkas-berkas nya hingga dia sedikit kesiangan bangun tidur.
Ini sudah dua bulan Amira menggantikan peran Fatih. Tidak terlalu rumit untuk di pelajari dan di kerjakan. Tentunya karena kecerdasan Amira.
Kini Amira sudah rapih dengan stail nya. Dia harus berangkat lebih awal untuk mendiskusikan sesuatu dengan Rijal.
"Gak sarapan dulu sayang!"
"Gak mah, hari ini ada meeting pagi!"
Ucap Amira sambil mengambil kunci mobil. Sesudah pamit dengan ayah mamanya Amira langsung pergi.
Jalanan kota Jakarta seperti biasa akan sedikit macet walau Amira harus berangkat pagi. Berdesak-desakan untuk mengambil jalan nyaman.
Hingga Amira sampai juga di kantor dengan sedikit kekesalan.
"Pagi Bu!"
Para karyawan menyapa Amira ramah seperti biasa Amira akan mengangguk saja lalu meneruskan jalannya lagi menuju dimana ruangannya berada.
"Pagi nona!"
"Pagi Jal,"
Ucap Amira langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Bagaimana, apa menurut mu tentang kerja sama itu?"
"Seperti nya ada beberapa poin yang harus di ganti. Saya lihat sepertinya itu sedikit menguntungkan mereka, harusnya sih sama!"
Jawab Rijal tegas membuat Amira memangut saja. Ternyata pikirannya juga tak jauh dari Rijal.
"Tolong kamu atur kembali pertemuan kita dengan tuan Chris. Seperti kita akan menolaknya jika dia tak mau merubah sedikit isi perjanjiannya!"
"Baik nona, saya akan segera lakukan!"
"Dan satu lagi Jal, bisakah kamu membantuku sebagai teman?"
Ucap Amira membuat Rijal menghentikan langkahnya. Rijal berbalik menatap Amira lalu tersenyum.
"Laksanakan, seperti biasa kan!"
Amira tersenyum sambil mengangguk ternyata Rijal faham akan apa yang ia maksud.
Untung saja Amira punya teman sekaligus asisten yang bisa di andalkan.
"Senang berteman dengan mu!"
"Aku lebih dari itu!"
Ucap Rijal langsung keluar dari ruangan Amira menuju ruangannya yang di mana ruangan Rijal ada di sebelah ruangan Amira.
Rijal memang sudah berjanji akan mengabdikan hidupnya untuk dua keluarga besar itu. Karena mereka lah yang membuat Rijal bisa sesukses ini. Dengan pekerjaan yang bagus.
__ADS_1
Rijal menandai poin-poin penting untuk meeting nanti. Rijal melirik jam pergelangan tangannya yang sebentar lagi meeting di mulai.
Rijal segera beranjak guna memberi tahu Amira.
"Nona lima menit lagi meeting di mulai!"
"Baik,"
Jawab Amira, Amira sebelum beranjak mengetik pesan untuk seseorang.
.
Jika Amira di sibukkan meeting berbeda dengan Alam yang terlihat sangat santai. Namun, tangannya menata sesuatu di meja makan.
Alam tersenyum ketika maha karyanya sudah selesai. Butuh tiga jam untuk Alam menatanya. Karena Alam ingin hasil sempurna.
Alam ingin makan siang ini terlihat romantis. Bahkan sampai Alam sendiri yang memasaknya juga.
Tak lupa Alam menutup semua jendela berserta penutupnya. Hingga ruangan nampak gelap. Alam tak membiarkan sedikit cahaya matahari masuk ke dalam Apartemen nya.
Hingga apartemen Alam terlihat seperti suasana malam. Apalagi Alam juga memasang lilin-lilin membentang jalan menuju meja makan.
Hanya ini yang bisa Alam lakukan, karena tidak mungkin Alam mengajak Amira makan malam. Terlalu beresiko jika memaksakan ke hendak.
Alam melirik jam pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan jam satu siang. Namun, nampaknya Amira belum datang juga.
Dengan setia Alam tetap menunggu kedatangan sang kekasih.
Ting ...
Notifikasi pesan berbunyi membuat Alam dengan cepat membuka ponselnya.
Alam terdiam mematung membaca pesan dari Amira. Kenapa mendadak seperti ini memberi tahunya sedang Alam sudah mempersiapkan semuanya.
Dengan berbarengan pesan itu suara pintu di ketuk.
Ketukan itu semakin kencang membuat Alam semakin kesal.
Kenapa gak mengerti sih, orang Alam lagi kesal dengan Amira karena mereka gagal makan siangnya. Padahal Alam sudah menyiapkan semuanya.
Cklek ...
"Ada ap--"
Deg ...
Alam diam mematung melihat siapa yang ada di depan pintu apartemen nya. Bahkan mulut Alam menganga tak percaya.
Alam menatap orang di depannya dari atas sampai bawah lalu kembali lagi menatap wajah orang itu.
Cup ...
"Kenapa bengong!"
Ucap Amira tersenyum manis pada Alam yang langsung tersadar ketika Amira mengecup bibirnya.
Hampir saja Alam tak mengenali siapa yang ada di hadapannya. Kalau tidak Amira bicara.
__ADS_1
Karena penampilan Amira nampak berbeda. Amira mengenakan dress berwarna hitam tanpa lengan yang sangat kontras dengan kulit putih bersihnya. Apalagi rambut Amira sengaja di gerai guna menutupi punggung mulusnya.
Ini sangat cantik benar-benar cantik. Karena baru kali ini Alam melihat Amira berpenampilan seperti ini. Nampak berbeda terlihat anggun nan terkesan dewasa.
Pantas saja Alam hampir tak mengenalinya, karena nyatanya Amira berdandan dulu sebelum datang. Pantas saja lama sampai Alam menunggu.
"Cantik!"
Satu kata keluar dari bibir Alam membuat Amira tersipu. Bahkan mungkin pipi Amira sedikit merona.
Alam mengulurkan tangannya dengan senang hati Amira menyambutnya.
Amira nampak menautkan kedua alisnya karena bingung. Kenapa apartemen terlihat gelap. Namun, detik berikutnya Amira di buat terperangah melihat pemandangan di depannya.
Ini seperti makan malam romantis yang Alam ciptakan di siang hari. Intinya siang serasa malam.
"Apa kamu suka?"
"Yes, I Love You!"
Alam menggandeng tangan Amira menuju meja makan. Alam mempersilahkan Amira duduk. Lalu Alam duduk di kursinya sendiri.
Amira menatap ke sekeliling ruangan, dengan hati berbunga-bunga. Baru kali ini Amira di perlakukan seromantis ini dengan cara sederhana namun unik di mana membuat Amira benar-benar merasa bahagia.
"Kamu menyiapkan ini semua?"
Bukannya menjawab Alam malah tersenyum mendengar satu kata yang Amira ucapkan di satu kalimat tanya.
"Sekarang kamu, bukan om lagi!"
Goda Alam membuat Amira tersipu, sungguh hati Amira merasakan debaran yang sangat hebat.
"Ya, karena sekarang kamu kekasihku. Bukan om ku!"
"Terimakasih dear, sudah mencintaiku sedalam itu!"
Ucap Alam tulus membuat Amira tersenyum malu-malu.
"Kasih kembali, dear!"
Mereka sama-sama tersenyum dengan mata saling tatap satu sama lain. Terlihat jelas pancaran cinta yang begitu besar dari keduanya.
Saling tatap, saling lempar senyum dengan jutaan kupu-kupu yang berterbangan di hati keduanya.
Ini gila Benar-benar gila. Sungguh cinta mereka seolah tak akan pernah terpisahkan.
Senyuman manismu akan selalu ku ingat di setiap hembusan nafasku. Bahkan jika raga ini tak lagi bersama kamu akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang ku cintai.
Teruslah tersenyum, hingga kamu lupa caranya bersedih.
Namun, ketika kesedihan itu datang. Ingatlah, bahwa kedua mataku akan selalu memandang mu.
Jerit batin Alam terus memandang wajah cantik Amira yang terlihat merona di temari cahaya lilin-lilin.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1
.