
Perlahan bulu mata Amira mengerjap-enjap lucu sampai Amira benar-benar membuka matanya. Amira bangun dari tidurnya.
Amira tersenyum melihat Alam yang tidur di atas shopa. Semalam memang mereka sedikit berdebat masalah tidur.
Di mana Alam memilih tidur di atas Shopa saja. Alam hanya tak ingin khilaf jika tidur satu ranjang bersama Amira.
Amira menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Amira berjalan menuju di mana Alam berada.
Di tatapnya wajah tampan di hadapannya. Bahkan ketampanannya berkali-kali lipat saat tidur.
Cup ...
Amira mengecup kening Alam lembut nan penuh hati-hati takut Alam akan bangun. Sesudah itu, Amira langsung beranjak keluar.
Amira menuju dapur guna membuat sarapan untuk mereka berdua. Walau Amira tak terlalu bisa masak. Namun, kalau sekedar bikin sandwich, roti bakar atau nasi goreng itu mudah.
Namun, Amira memilih sandwich saja untuk menu sarapan mereka.
Tak lupa segelas susu hangat untuk pelengkap sarapan mereka.
"Selesai!"
Amira tersenyum bangga melihat hasil karyanya. Ia membawa dua potong sandwich, dua gelas susu hangat ke dalam kamar.
Di lihatnya Alam masih belum bangun, Amira menyimpan nampan di atas meja.
"Dear!"
Panggil Amira membangunkan Alam, namun nyatanya Alam tak terusik. Alam malah bergerak berganti posisi memunggungi Amira.
"Dear bangun!"
Bisik Amira di telinga Alam berharap Alam mau bangun. Namun, tetap saja hasilnya sama.
"Dear bangun sudah siang!"
"Dear!"
Alam yang merasa tidurnya terganggu perlahan membuka kedua matanya.
Hal pertama yang Alam lihat wajah cantik Amira.
Cup ...
"Ayo bangun, aku sudah bikin sarapan!"
Ucap Amira sambil mengecup bibir Alam. Alam langsung bangun lalu tersenyum melihat sarapan yang sudah Amira buat.
"Sebentar!"
Ucap Alam beranjak menuju kamar mandi guna mencuci mukanya dulu dan gosok gigi. Tak lama Alam kembali keluar dengan wajah segar walau belum mandi.
"Terimakasih cinta!"
__ADS_1
Bluss ...
Wajah Amira memerah mendengar ucapan manis dari Alam. Sungguh pagi ini Alam membuat dirinya tersipu.
Mereka berdua sarapan bersama dengan segelas susu hangat.
"Apa rencana kita selanjutnya?"
Tanya Amira pada Alam, Alam terdiam sejenak. Ya, apa rencana mereka selanjutnya.
Alam yakin, sekarang keberadaan Amira sedang di cari. Walau semua orang tidak tahu apartemen Alam namun, Alam yakin cepat atau lambat keberadaan apartemen nya pasti di ketahui.
Apalagi suasana nampak panas setelah perdebatan Amira dan Moreo. Pasti kini kedua orang tua mereka akan secara terang-terangan memisahkan mereka.
Dan, jika sekarang mereka menghadap maka situasinya akan semakin tak kondusif. Dan, semuanya akan semakin kacau. Yang Alam takutkan hanya Amira. Alam faham betul bagaimana sifat dan sikap Amira jika sudah keras kepala. Maka, Amira tak akan pernah mendengarkan siapapun termasuk kedua orang tuanya.
Alam hanya takut, semua nya semakin runyam dan tak terkendali. Apalagi kondisi dia sendiri saat ini tak baik-baik saja.
"Kita akan berlibur!"
Deg ...
Amira membulatkan kedua matanya mendengar rencana gila Alam. Bagaimana bisa Alam dengan entengnya bicara tentang libur di saat keadaan mereka sedang di cari-cari. Sungguh, Amira jadi kesal sendiri, bukannya mencari solusi Alam malah semakin membuat semuanya runyam.
"Apa kamu percaya padaku?"
"Bagaimana kita liburan, permasalahan kita belum selesai!"
Kesal Amira benar-benar tak percaya Alam masih kekeh ingin berlibur.
Di tatapnya wajah cantik Amira tanpa makeup. Lalu Alam mengusap bibir merah alami Amira dengan ibu jarinya.
"Sayang, percuma kita sekarang bertemu mereka. Di saat hati kita sama-sama panas. Bukan menghasilkan sebuah keputusan bagus melainkan akan semakin rumit!"
Jelas Alam lembut memberi pengertian pada kekasihnya. Apalagi Alam faham betul bagaimana sifat Jek ketika sedang marah. Sikap tempramen nya pasti akan keluar dan Alam yakin yang ada malah keributan yang tercipta.
Biarkan semuanya berpikir dulu dengan cara masing-masing. Alam hanya tak ingin, di sini Amira yang tertekan.
"Biarkan mereka berpikir memisahkan kita dengan cara mereka. Namun, bisakah kita tenang dulu dan ciptakan momen indah kita. Sebelum kita menghadapi badai besar!"
Amira terdiam, memang ada benarnya juga apa yang Alam katakan. Apalagi mereka jarang bertemu dan kini masalah satu datang.
Dan, Amira yakin pasti kebersamaan mereka semakin terkikis.
"Aku percaya padamu, Dear!"
Alam tersenyum mendengar jawaban Amira yang memang ini yang ia inginkan. Alam mendekat, lalu mengangkat dagu Amira.
Cup ...
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Amira. Ada sebuah tekanan yang menandakan bahwa Alam sangat puas dengan jawaban Amira.
Bisakah mereka tetap seperti itu, saling mengasihi dengan taburan cinta dan kasih sayang tanpa harus ada pertentangan.
__ADS_1
Yang awalnya hanya sebuah ciuman berubah ada tuntutan lebih dari keduanya. Seolah mereka tak akan pernah puas menyesap rasa manis yang mereka ciptakan.
Namun, Alam dan Amira tak segila yang di bayangkan. Mereka tetap tahu aturan yang harus mereka lakukan.
Alam melepaskan tautannya ketika merasa Amira sudah kehabisan nafas. Alam menyatukan kening mereka dengan nafas memburu. Bahkan pundak mereka naik turun.
"Aku akan menelepon Dom, kamu bersiaplah!"
Amira hanya mengangguk saja menurut apa yang Alam katakan.
Mereka benar-benar sudah sepakat akan mengambil libur sejenak. Berharap momen itu momen yang mampu Alam ciptakan di setiap waktu yang ada.
Alam menelepon Dom untuk menyiapkan keperluannya.
Jangan di tanya bagaimana marahnya Dom atas permintaan Alam.
"Kamu sudah gila, Lam. Apa yang kamu lakukan hah. Itu akan membahayakan diri kamu. Stop berbuat gila!"
"Lakukan saja apa yang aku minta, jangan berdebat. Aku tak punya banyak waktu!"
Tegas Alam langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ini sudah menjadi keputusan Alam, makan apapun yang terjadi Alam akan terima mungkin itu takdirnya.
Alam tak perlu membawa perlengkapan banyak karena semuanya sudah selesai di sana. Begitupun dengan keperluan Amira. Mereka tinggal berangkat saja tanpa harus membawa apapun. Ini hal gila yang baru Alam lakukan selama hidupnya. Dan, Alam yakin itu semua tak akan pernah bisa terulang kembali. Harapan ia tipis untuk menunggu terlalu lama.
Alam hanya menggunakan kesempatan selagi kesempatan itu masih ada. Toh, Alam yakin, berangkat atau tidak dia berlibur maka hasilnya akan tetap sama.
Restu itu tak akan pernah ada. Karena masalahnya bukan ada pada diri Alam dan Amira tapi pada diri sang mama dan almarhum kakek Angga.
Ya, masalahnya ada di sana dan Alam juga tak bisa merubah apapun. Semuanya sudah terjadi, dan itu terjadi.
Bahkan Alam juga tak pernah menginginkan berada di posisi seperti itu.
Alam faham apa yang membuat sang mama kecewa terhadap dirinya. Karena masalahnya berada di masa lalu yang masih terbawa sampai sekarang.
Bahkan kakek Angga juga berwasiat, apapun yang terjadi maka keturunannya tak ada yang boleh menikah dengan keturunan Dinda.
Karena kakek Angga tahu, kesalahan dia di masa lalu tak bisa mengubah masa depan. Dan, itu akan terjadi. Ketika Alam dan Amira saling jatuh cinta.
Entah dari siapa Alam tahu alasan itu. Namun, itu semua tak akan ada yang berubah terkecuali dari salah satu ada yang mengalah.
Antara restu atau merelakan!
Amira dan Alam yang menyerah atau kedua orang tua mereka yang menyerah.
"Maafkan Alam mah, ini kebahagiaan Alam. Hanya sebentar, Alam janji tak akan pernah menjerat Amira lagi! Dan Alam akan pergi jauh!"
Bersambung ...
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...