Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 35 Bagaimana bisa!!!


__ADS_3

Sesudah makan, Alam mengajak Amira nonton. Masih di tempat sama, yaitu apartemen Alam.


Alam duduk merapat dengan Amira, mereka saling berpegangan tangan.


Film yang mereka tonton bukan Film romansa atau horor. Namun kartun yang berjudul Raya and the last dragon. Film yang menceritakan tentang arti keluarga, sahabat dimana semua manusia berubah menjadi batu.


Jika orang lain sepasang kekasih akan menonton film-film romansa tapi tidak dengan Alam dan Amira. Namun, film itu mempunyai kesan tersendiri. Di mana Raya sang pemeran utama berjuang mencari pecahan bola kristal yang di curi akibat keserakahan manusia. Demi mengembalikan sang ayah yang berubah menjadi batu, bukan sang ayah saja tapi seluruh kehidupan.


Bahkan Amira yang menonton itu menjadi melow sendiri. Bahkan Alam harus lera kemejanya menjadi sasaran penghapus air mata dan ingus Amira.


"Dear, bajuku kotor!"


"Biarin, nanti aku cuci!"


Ucap Amira santai sambil menghapus sisa air matanya karena film selesai dengan happy ending.


Alam hanya menggelengkan kepala dengan tingkah Amira yang seperti anak kecil. Alam pikir dia akan menonton film-film romantis bersama Amira. Namun, nyatanya Amira malah punya Film pilihan sendiri dan Alam di paksa harus mengikuti apa yang Amira sukai.


Sungguh, Alam tak menyangka kalau dia bisa jatuh cinta pada gadis unik di sampingnya. Bahkan tingkahnya saja jika bersama dirinya akan berubah layaknya anak kecil saja.


"Terimakasih untuk hari ini, Dear!"


Ucap Amira tulus sambil membenarkan penampilannya.


"Sama-sama, aku antar pulang ya!"


"Jangan, aku pulang sama Rijal!"


Alam hanya mengangguk saja, mengiyakan apapun yang Amira katakan.


Amira berjalan masuk kedalam kamar yang ada di apartemen Alam. Tepatnya Amira masuk kedalam kamar Alam guna mengganti pakaian nya.


Seketika Amira mematung melihat penampakan kamar Alam yang begitu rapi.


Namun, yang membuat Amira terpaku melihat Poto dirinya yang menempel di dinding. Dari mulai Poto dia kecil sampai dewasa. Namun, Amira mengerutkan kedua alisnya ketika melihat poto-poto dirinya waktu kuliah di London.


"Bagaimana bisa!"


Gumam Amira menutup mulutnya tak percaya begitu banyak Poto dirinya waktu di London dalam berbagai ekspresi dan aktivitas yang Amira lakukan.


Bukankah selama ini Alam tak pernah menghubunginya bahkan pesan dia pun selalu terabaikan.


Bagaimana mungkin Alam mempunyai Poto aktivitas dirinya selama di London. Sejak kapan! apa Alam selama ini memata-matai dirinya.


Sungguh Amira seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Namun, Amira mengingat satu kejadian di mana dia akan di lecehkan ketika dia pulang malam. Tapi, tiba-tiba ada yang membantunya.


Bahkan apapun bahaya yang Amira dapatkan pasti dengan kebetulan ada saja yang menolongnya. Walau Amira tak tahu siapa orang yang menolongnya karena selalu pergi begitu saja tanpa memberi waktu bagi Amira sekedar berucap Terimakasih.


"Ap-apa selama ini!"


Gumam Amira gemetar seolah tak bisa berkata apa-apa lagi. Ini bagai kejutan baginya. Jadi selama ini Alam melindunginya, Alam tak pernah mengabaikannya. Kenapa Amira tak sadar akan hal itu, kenapa!


Jadi jadi, selama ini cintanya tak pernah bertepuk sebelah tangan. Cintanya sudah terbalaskan dari dulu.

__ADS_1


Sungguh Amira merasa benar-benar tak percaya.


Sebegitu besarkah cinta Alam sampai ia rela menahan sakit sendirian. Menahan rindu sendirian. Empat tahun bukan waktu yang mudah bagi Alam.


Buru-buru Amira menghapus air matanya lalu berbalik keluar.


"Dear!!!"


Teriak Amira membuat Alam yang sedang membereskan lilin-lilin langsung berbalik karena terkejut akan teriakan Amira.


Amira berlari dengan air mata yang jatuh, lalu melompat kearah Alam. Alam yang terkejut dengan apa yang Amira lakukan refleks menjatuhkan lilin-lilin karena harus menahan tubuh Amira agar tidak jatuh.


Amira melingkarkan tangannya di leher kokoh Alam. Dengan satu tangan mengelus wajah Alam.


"Kenapa?"


Tanya Alam pura-pura tak tahu, padahal Alam bisa menebak apa yang membuat Amira seperti ini.


Cup ...


Bukannya menjawab Amira malah mencium bibir Alam dengan air mata yang kembali keluar. Sungguh Amira mencintai laki-laki ini. Kenapa Alam selalu bisa menjungkir balikan hatinya. Kejutan ini begitu indah dari apapun.


Alam yang awalnya diam tak lama membalas ciuman Amira. Bahkan ciuman itu begitu bergairah. Seolah ciuman itu adalah sebuah kerinduan yang haus akan pertemuan. Dan, mungkin sampai kapanpun rasa rindu itu tak akan pernah hilang.


Plupp ...


Tautan mereka terlepas ketika Alam mendudukkan Amira di atas meja makan yang sudah Alam dan Amira bereskan tadi sebelum menonton.


Nafas mereka terengah-engah dengan tatapan cinta dan kerinduan. Seolah mereka akan membayar segala rasa sakit yang dulu mereka rasakan bersama.


"Aku mencintaimu ... aku mencintaimu ... aku mencintaimu ...,"


Amira terus saja mengulang-ulang kata itu sambil memeluk erat Alam. Seolah Amira tak mau lagi kehilangannya.


Begitu pun dengan Alam merengkuh tubuh Amira dengan penuh kasih sayang.


Lama mereka saling berpelukan sambil mengungkapkan kata cinta dari keduanya.


Perlahan Alam melerai pelukannya. Alam menghapus sisa air mata di pipi Amira.


"Berjanjilah untuk selalu bahagia dan tersenyum!"


"Kebahagiaan ku hanya dengan kamu, Laskar Sky Mangku Alam!"


Alam hanya tersenyum saja tak menyahuti perkataan Amira.


"Sudah, sekarang cepat ganti baju. Kasihan Rijal dari tadi menunggu!"


"Kenapa sekarang jadi gak mau pulang!"


Rengek Amira menarik lagi Alam kedalam pelukannya. Rasanya mereka seolah belum puas untuk mengekpresikan rasa cinta mereka.


"Gak boleh gitu, kamu harus pulang!"


"Tapi gak mau, aku ingin disini!"

__ADS_1


"Nanti kalau semuanya berpihak pada kita!"


"Jadi harus pulang ya!"


"Iya!"


"Tapi malas ganti baju!"


"Mau aku gantiin bajunya!"


Bruk ...


Amira dengan refleks langsung mendorong Alam. Dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Amira menatap horor pada Alam yang malah terkekeh.


"Aku bukan anak kecil!"


Cetus Amira langsung berlari masuk ke dalam kamar. Amira tersenyum-senyum sendiri sambil memegang dadanya.


Karena tak mau semakin gila, Amira dengan cepat mengganti pakaian nya dengan pakaian yang pertama Amira pakai dari rumah.


Sudah selesai Amira keluar kembali. Amira tersenyum manis pada Alam yang sudah selesai membereskan semuanya.


"Aku pulang ya!"


"Hati-hati!"


Mereka berpelukan untuk terlahir kalinya. Namun, Alam tiba-tiba menahan lengan Amira ketika langkah Amira sudah membuka pintu.


"Ku mencintaimu, dear!"


Lilir Alam dengan tatapan sayu nya.


"Aku juga, kamu adalah hidupku!"


Cup ...


Sebagai tanda perpisahan Amira mengecup bibi kanan Alam.


Rasanya Alam ingin mencegah Amira pergi namun Alam tak boleh melakukannya.


Tiba-tiba Alam memegang dadanya lalu menutup pintu cepat.


Sedang Amira juga melakukan hal yang sama memegang dadanya yang terus berdebar. Bahkan Amira tersenyum-senyum sendiri, mengingat momen tadi.


Jika Amira sedang kasmaran, berbeda dengan Rijal yang sendari tadi sudah menunggu. Rijal sangat kesal sendiri pada Amira. Katanya dia harus buru-buru datang. Tapi, dia malah di buat setengah jam menunggu sampai kakinya keriting.


Jika bukan saudara Fatih sudah Rijal pergi dari tadi. Ini namanya penyiksaan.


Awas saja nanti, Rijal tak akan mau membantu Amira lagi. Namun, mana berani seperti itu.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


.

__ADS_1



__ADS_2