
Satu Minggu Alam dan Amira menghabiskan honeymoon di pengalengan, Bandung.
Kini mereka sudah kembali ke Jakarta. Menjalani aktivitas masing-masing.
Alam yang sudah bisa masuk kerja begitupun dengan Amira. Dan, tentu sekarang Amira bukan kerja di perusahaan F.B grup lagi melainkan perusahaan ayahnya sendiri.
Karena om Farhan yang memerintah Amira kembali untuk membantu Jek mengatasi masalah di kantor dan menyelesaikannya.
Karena walau bagaimanapun Farhan berhak atas perusahaan itu. Karena ada lima puluh persen bagian Queen di sana.
Walau Queen tak pernah mengambilnya sama sekali karena sudah Queen berikan sahamnya atas nama Amira.
Kini mereka menjalani kehidupan sedikit nampak berbeda. Di mana Amira sedikit lebih sibuk dari pada Alam. Karena akibat kekacauan yang di lakukan Jek. Namun, walaupun begitu Amira tetap menjalaninya dengan serius agar permasalahannya cepat selesai dan merubah sedikit aturan dan struktur. Amira tak mau kecolongan lagi, bahkan semenjak Amira bergabung sudah ada beberapa orang yang terdepak jabatannya atau terdepak keluar dari perusahaan.
Namun, walaupun begitu Amira tak akan membiarkan dirinya pulang terlalu larut. Atau terkadang juga Alam akan menemani Amira di kantor.
Desak desuk hubungan mereka di bicarakan namun Amira dan Alam tak peduli akan hal itu. Mereka fokus pada dirinya sendiri dari pada harus mendengarkan omongan orang lain.
Karena bagi mereka, mendengarkan omongan orang lain hal ter ribet dalam hidup mereka.
Apalagi sikap Alam dan Amira yang masa bodo terhadap orang lain membuat orang-orang bungkam dengan sendirinya.
Orang yang ingin menjatuhkan akan selalu mencari-cari kesalahan orang lain sekecil apapun. Bagi Alam dan Amira yang penting mereka tak mengusik dan merugikan pihak lain.
So, jalani kehidupan kita masing-masing dengan bersikap baik pada siapapun.
Hari ini Alam berencana menjemput sang istri pulang. Karena jadwal pulang Alam lebih cepat dari pada Amira.
Semenjak menikah Alam selalu membawa mobil sendiri tidak lagi dengan Dom. Karena Alam pasti akan pulang dengan Amira.
Alam tersenyum ketika sudah ada di depan gedung perusahaan Amira. Tanpa pikir panjang Alam melangkah masuk. Tujuannya saat ini hanya ruangan Amira.
Alam masuk lif menuju lantai lima belas di mana ruangan Amira berada.
Ting ...
Suara pintu lif terbuka, dengan santainya Alam berjalan menuju ruang Amira berada.
Cklek ...
"Say--"
Alam menghentikan ucapannya ketika ruangan Amira kosong. Ruangan ini nampak rapih pertanda tak ada penghuninya.
Kemana Amira, tak biasanya sang istri pergi tanpa memberi kabar.
"Maaf tuan, apa tuan mencari nona?"
Ucap sekertaris tiba-tiba muncul membuat Alam langsung berbalik.
"Hm,"
"Nona memberi pesan, tuan menunggu di sini. Nona ada sedikit urusan mendadak tadi!"
"Hm,"
Sang sekertaris tak bicara lagi karena bingung harus bicara apa. Sedang sikap Alam begitu dingin sekali.
Pada akhirnya sang sekertaris memilih meninggalkan Alam saja sendiri di ruang Amira.
Bicara sama orang dingin memang selalu serba salah. Jika kita tak bisa menempatkannya.
Cukup katakan yang penting jangan buat basa basi. Itulah Alam, yang selalu seperti itu.
Alam duduk di kursi kebesaran sang istri lalu memutar-mutar kursinya. Sambil melebarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan.
Tak ada yang aneh, ruangan ini cukup bersih dan rapih.
Sepuluh menit ...
Lima belas menit ...
__ADS_1
Dua puluh menit ...
Sampai setengah Jam Alam menunggu tak ada tanda-tanda Amira kembali. Sampai Alam mengantuk dan tidur di atas sofa yang berada di ruang Amira.
Cklek ...
Amira membuka pintu ruang kerjanya. Terlihat jelas rasa letih di wajah Amira. Namun, rasa letih itu tak sebanding dengan rasa bersalahnya karena lupa tak memberi kabar sang suami sampai membuat sang suami menunggu lama pula.
Amira berjalan menuju sofa di mana Alam tertidur di sana.
Amira membuka blazer yang ia kenakan lalu menyimpannya di atas meja. Amira duduk di bawah, memandang wajah tampan Alam yang terlihat damai dalam tidurnya.
Perlahan tangan lentik Amira mengelus wajah Alam sangat lembut seolah Amira takut menggangu tidur Alam.
Grep ...
Alam memegang tangan Amira ketika Amira menjauhkan tangannya dari wajah ia. Perlahan Alam membuka kedua matanya. Hal pertama yang Alam lihat senyum manis sang istri membuat Alam juga ikut tersenyum.
"Sudah selesai pekerjaan nya?"
"Sudah,"
Alam bangkit dari tidurnya lalu menarik tangan Amira supaya duduk di pangkuannya. Alam memeluk Amira erat sambil menelusup kan kepalanya di tengkuk leher Amira menghirup dalam-dalam wangi tubuh Amira.
"Wangi!"
"Aku belum mandi loh,"
"Tetap wangi, aku suka!"
"Masa?"
"Hm, tadi mengerjakan apa?"
"Ada terjadi sedikit masalah di proyek, pihak mereka meminta aku untuk menanganinya langsung,"
"Maaf ya, tadi tidak izin dulu. Terburu-buru sampai lupa,"
"Tidak apa, tapi jangan di ulangi,"
"Janji!"
Cup ..
"Sekarang ayo kita pulang,"
Ucap Alam sambil mengecup bibir Amira sekilas.
Alam bangkit sambil mendirikan Amira. Alam juga memakaikan kembali blazer Amira. Membawa tas Amira lalu satu tangannya lagi menggandeng lengan Amira.
Mereka beriringan jalan menuju lift. Amira tersenyum sang suami tak banyak menuntut untuk dia menceritakan secara detail kesalahannya. Amira bersyukur mempunyai suami yang sangat pengertian. Cukup menegur secara halus tak berlebihan.
"Terimakasih, Dear!"
Ucap tulus Amira sambil tersenyum ketika Alam membukakan pintu mobil untuknya. Sungguh Alam selalu memperlakukan ia dengan baik sangat baik.
Amira memeluk lengan kekar Alam sambil menyandarkan kepalanya di pundak Alam. Alam hanya tersenyum saja melihat kemanjaan sang istri.
Dengan tenang Alam mengendarai mobil hingga tiba-tiba Alam menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa, Dear?"
"Mau jajan tidak!"
Ucap Alam sambil menunjuk ke depan di mana banyak sekali penjual kaki lima yang menjual berbagai macam makanan.
"Boleh,"
"Apa?"
"Roti bakar kayanya enak,"
__ADS_1
"Mau rasa apa?"
"Blueberry saja!"
"Baik, tuan putri tunggu di sini ya,"
Alam langsung keluar sambil menggulung bagian lengan kemejanya sampai sikut.
"Roti bakar satu pak, rasa blueberry!"
"Baik, silahkan tunggu!"
Alam duduk di kursi yang sudah di sediakan. Banyak pasang mata yang melirik Alam. Pasalnya ada cowo sekeren Alam jajan di pinggir jalan.
Sungguh pemandangan yang sangat indah sekali.
Namun, Alam cuek saja sibuk dengan ponselnya dimana Alam sedang membalas chat sang istri. Membuat Alam senyam-senyum sendiri membacanya.
Justru tingkah Alam malah membuat cewek-cewek yang melihatnya meleleh. Alam bak aktor Turki saja, senyumannya yang selalu manis.
"Ini tuan, totalnya dua puluh lima ribu,"
"Terimakasih, Pak!"
"Eh, tunggu tuan, ini terlalu banyak!"
"Buat bapak saja, dan tolong buatkan dua porsi besar buat orang itu!"
Ucap Alam sambil menunjuk dua anak yang sedang duduk di bawah pohon dengan keadaan lapar.
"Baik tuan, terimakasih!"
Alam langsung pergi saja menuju dimana istrinya berada.
"Ini,"
"Terimakasih, Dear!"
"Sama-sama,"
Amira langsung memakan roti bakar kesukaannya. Sesekali menyuapi Alam yang sedang menyetir.
"Ah, panas sayang. Gak di tiup-in dulu,"
Protes Alam dengan suara kurang jelas, membuat Alam menepikan mobil dulu. Istrinya sungguh jahil, sudah tahu masih panas kenapa memberikannya pada dia.
"He .. he .. sengaja!"
Kekeh Amira membuat Alam menghela nafas. Ingin marah namun sayang, Alam hanya bisa cemberut saja.
"Masih panas ya, Dear?"
"Iya, gak enak tahu!"
Cup ...
Amira mengecup bibir Alam sedikit menekan dalam membuat Alam hanya diam saja saking terkejut dengan apa yang Amira lakukan.
"Bagaimana, sudah gak panas lagi!"
"Belum!"
"Nanti saja di rumah!"
"Sayang,"
"Jalan, Dear!"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...
__ADS_1