
Amira masih diam terpaku di atas tubuh Alam. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Amira terdiam sulit untuk berkata-kata bahkan untuk bernafas pun Amira kesulitan.
Tangan Alam masih melingkar indah di pinggang Amira. Walau masih cukup lemah namun, Alam masih bisa menahan Amira agar tidak beranjak.
Lama kelamaan mata Amira mulai memerah menampung genangan kristal bening yang siap meluncur kapan saja.
"Dear,"
"Se-sejak kapan?"
Ucap Amira gemetar, rasanya Amira sulit bernafas melihat pemandangan di depannya. Alam, kekasihnya nya sudah membuka mata. Sejak kapan!
Amira benar-benar terkejut, bahkan rasanya ini seperti mimpi. Apa Amira bermimpi, ini tidak nyata.
Perlahan tangan Alam mengusap pipi Amira, tepatnya menghapus air mata Amira yang tanpa sadar Amira sudah menjatuhkannya.
"Kenapa menangis, hm!"
"Ja-jahat hiks ..,"
Ucap Amira mulai terisak sambil memukul kecil dada Alam. Tangisan Amira mulai menjadi bahkan sampai terdengar keluar.
Amira menyembunyikan kepalanya di tengkuk leher Alam berharap ini memang nyata bukan sebatas bunga tidur.
Suara isakan Amira malah semakin besar ketika tangan lemah Alam mengusap-usap punggung Amira.
Berarti ini nyata, ini bukan mimpi.
"Maaf!"
Hanya kata itu yang mampu Alam ucapkan. Alam tahu, kekasihnya pasti sangat marah akan kondisi dirinya. Apalagi sudah dua Minggu ia koma.
Alam tentu tahu karena tadi Alam sempat bertanya mengenai hal dirinya.
"Maaf!"
Sekali lagi Alam minta maaf berharap tangisan Amira akan berhenti. Apalagi tubuh lemah Alam mulai merasa sakit akibat bobot tubuh Amira yang menghempit dadanya.
Namun, sekuat tenaga Alam hanya diam saja membiarkan Amira meluapkan amarahnya. Amira pantas marah pada dia yang sudah membuat Amira menunggu.
Amira mengangkat kepalanya, hidung Amira memerah dengan mata yang mulai bengkak akibat terlalu lama menangis.
"Benarkah ini kamu, Dear!"
Alam hanya mengangguk saja sambil terus menghapus air mata yang tak hentinya keluar dari pelupuk mata Amira.
"Bukan mimpi!"
"Ini nyata!"
"Ak-aku takut ini hanya sebatas mim--"
Amira tak bisa melanjutkan ucapannya lagi ketika bibirnya di bungkam oleh bibir Alam. Hanya sebatas menempel, namun penuh penekanan seolah Alam sedang meyakinkan Amira bahwa ini bukan mimpi tapi nyata.
"Apa sekarang sudah yakin?"
Tanya Alam ketika Alam melepaskan kecupannya.
Amira mengangguk ragu, walau pada dasarnya Amira begitu bahagia jika Alam benar-benar kembali. Ini nyata bukan sekedar mimpi seperti sebelum-sebelumnya.
Cup ...
__ADS_1
Entah siapa yang memulai, mereka kembali berciuman. Kali ini dengan sedikit permainan penuh tekanan. Seolah mereka sedang meluapkan rasa rindu yang menggebu. Menyesap rasa manis dari bibir masing-masing yang tak akan pernah habis.
Kini bukan Amira yang kehabisan nafas melainkan Alam. Bagaimana tidak kehabisan nafas, Alam baru bangun beberapa jam lalu dari komanya dan tubuhnya belum cukup stabil tapi mereka sudah melakukan hal extra.
Nafas mereka memburu apalagi Alam, rasanya mereka belum cukup puas melepas rasa rindunya.
Namun, mereka harus menyudahi itu jangan sampai kebablasan yang akan membahayakan tubuh Alam yang belum cukup pulih.
Amira kembali memeluk Alam, kini dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Begitupun dengan Alam membalas pelukan Amira.
.
Lama mereka berpelukan, Amira mulai melerai pelukannya. Karena mendengar suara ringis an dari Alam seolah Alam sedang menahan sakit.
"Apa ada yang sakit, Dear?"
Tanya Amira panik sambil turun dari brankar Alam.
"Tidak!"
"Jangan bohong?"
"Enggak,"
Ucap Alam lemah, memegang tangan Amira. Alam menatap wajah cantik Amira yang nampak sedikit berbeda.
"Sayang, apa kamu juga sakit?"
Tanya Alam memicingkan kedua matanya menelisik setiap tingkah Amira.
"Di sini sakit!"
Alam terdiam ketika Amira membawa tangannya ke dada dia. Sambil menatap Alam sendu.
"Di sini sakit, Dear. Sangat sakit bahkan aku sampai sekarat!"
Ucap Amira lemah sambil memeluk lengan Alam yang berada di dadanya.
"Kenapa selalu menahan sakit sendirian, kenapa gak bilang. Aku gak sanggup jika harus kehilangan kamu,"
"Maaf!"
"Tolong jangan buat aku takut, aku tak sanggup jika harus kehilangan kamu,"
"Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu berada di samping ku. Sampai ajal menjemput. Apa artinya aku tanpa kamu!"
"Ak--"
"Suttt!!"
Alam menghentikan ocehan bibir Amira dengan telunjuknya.
Sungguh Alam tak sanggup melihat Amira yang seperti ini. Rasanya dada Alam sakit sangat sakit sekali. Bagaimana bisa Alam menyakiti kekasihnya sedalam ini.
Apa Amira melakukan sesuatu yang menyiksa dirinya sendiri. Jika iya, maka Alam orang pertama yang bersalah atas semuanya.
"Aku sudah di sini, aku tak akan kemana-mana lagi. Maaf sudah membuat mu kesakitan seorang diri!"
Sesal Alam, tak sanggup jika harus melihat Amira tak berdaya seperti ini. Apa yang sudah ia lakukan, sampai menyakiti Amira sedalam ini.
Bukankah Alam sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu membuat Amira bahagia sampai Amira lupa caranya bersedih.
__ADS_1
"Maukah kamu memaafkan aku, cinta?"
Amira mengangguk cepat sambil memeluk Alam kembali.
Kini pelukan mereka terasa ringan, tak menekan Alam. Hingga Alam tak merasa kesakitan.
Mereka hanyut dalam pelukan kasih sayang dan cinta tanpa sadar jika kedua orang tua mereka melihatnya.
Jahat jika mereka memisahkan kebahagiaan Alam dan Amira. Lihatlah, pasangan itu begitu saling mencintai. Tak kasihan kah mereka jika harus menentang kembali.
Mungkin hidup mereka akan lebih hancur dari pada sebelumnya.
"Sekarang apa rencana mama sama kakak, apa kalian tak melihat kasih sayang mereka!"
Ucap Queen memandang sang mama dan Jek secara bergantian.
Jek terdiam mendapati pertanyaan dari adiknya.
"Mama tak akan menghalangi mereka lagi, mama akan bahagia jika putra mama juga bahagia!"
Ucap Dinda tegas, cukup baginya melihat satu kali Alam hancur. Dinda tak mau melihat yang kedua kalinya.
Sedang Jek hanya menunduk seolah ada keraguan di sana. Bahkan tangan Jek mengepal erat.
Melati yang melihat kegelian suaminya dengan cepat langsung memegang tangannya hingga membuat Jek menoleh.
Melati tersenyum seolah mengisyaratkan apapun keputusan Jek Melati akan mendukungnya.
Toh, Melati yakin dengan amanah itu Angga pasti akan mengerti dan Melati yakin Angga akan jauh lebih bangga merestui Amira dan Alam dari pada melanjutkan perjodohan itu.
Dan, tentang perusahaan Melati tak peduli lagi walau ia harus jatuh miskin. Toh, dulu Melati juga hidup dalam kesederhanaan.
"Kenapa diam kak, apa ada hal yang membuat kakak ragu?"
Tanya Amira lagi karena sendari tadi Jek malah diam dengan tingkah cemas dan gelisah nya.
Queen tersenyum melihat Jek tak mau bicara sama sekali. Queen tahu apa yang membuat Jek meragu lagi.
"Apa yang kakak takutkan ini!"
Ucap Queen sambil memberikan sebuah map biru pada Jek.
Jek yang awalnya tak mengerti maksud Queen seketika membulatkan kedua matanya ketika melihat isi berkas itu.
"Ba-bagaimana kamu tahu ini!"
Ucap Jek terkejut akan berkas yang Queen berikan padanya. Bahkan selama ini Jek tak pernah memberi tahu tentang permasalahan kantor pada Queen. Tapi, bagaimana bisa Queen mengetahui ini semua.
"Dulu ayah kenapa bodoh harus meminjam sejumlah uang yang cukup besar hanya karena ingin memasok perusahaan supaya tidak bangkrut. Dan kakak, melakukan hal yang sama. Pada akhirnya Amira yang harus menanggung semuanya dengan perjodohan yang ayah ciptakan!"
"Kenapa kalian selalu mempersulit diri kalian, kenapa tak minta bantuan pada ku!"
Deg ...
Rasanya Jek tak bisa bernafas mendengar ucapan Queen. Bagaimana bisa Queen bisa tahu tentang itu semua. Dan, selama ini Queen diam saja, sungguh Jek sangat malu.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1