
Semua keluarga baru bisa merasa tenang ketika keadaan Amira mulai stabil.
Kram di perutnya mulai reda membuat Amira harus cukup istirahat.
Namun, jika keadaan Amira terus seperti itu maka itu akan membahayakan pada janin di dalam kandungan Amira.
Mereka harus sebisa mungkin jangan membuat Amira melamun, sampai stres memikirkan semuanya. Amira harus kuat menjalani ini semua.
Melati dan Jek karena tak kuat melihat keadaan putri mereka. Mereka tak berani untuk masuk ke dalam. Mereka takut tak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
Mereka akan masuk jika Amira sudah tertidur saja. Selebihnya maka sekarang ada Shofi yang menjaga Amira. Menemani Amira bahkan tak beranjak sedikitpun dari sisi Amira.
Sedang Bunga, dia tak bisa seperti Shofi karena harus mengurus anak dan suaminya. Apalagi Sekar yang tak bisa diam, jika di bawa ke rumah sakit takut malah menggangu Amira.
Amira sendiri hanya banyak diam dan Sesekali menulis. Entah apa yang Amira tulis hanya dia yang tahu. Shofi hanya akan membantu apa yang Amira butuhkan.
Begitulah hari-hari yang Amira jalani, tanpa ada obrolan sedikitpun. Walau Amira tahu, kedua orang tuanya akan datang di waktu dia tidur. Padahal, Amira akan selalu mendengar setiap kalimat yang kedua orang tuanya ucapkan.
Bahkan sekalipun dengan Shofi, Amira belum bisa mengobrol banyak. Dia hanya mengangguk atau mengedipkan mata sebagai isyarat menjawab pertanyaan Shofi.
Bagi Shofi tak masalah, yang terpenting dia bisa sedikit menebus waktu yang telah hilang selama hampir lima tahun ini.
Amira memegang tangan Shofi membuat Shofi langsung menatap Amira sambil tersenyum.
"Ada apa?"
Tanya Shofi lembut, dulu Amira yang selalu bertanya seperti itu ketika Shofi dalam keadaan rapuh. Menjadi pundak bagi tempat berlindung ya.
"Apa butuh sesuatu katakanlah, apa?"
Amira hanya menggelengkan kepala, namun Amira berusaha bangun membuat Shofi dengan sigap langsung membantu menyandarkan Maira supaya nyaman duduknya.
Amira membawa tangan Shofi pada perut buncitnya. Membuat Shofi terdiam dengan wajah linglung nya. Bahkan tubuh Shofi mematung merasakan gerakan kecil dari perut Amira.
Amira tersenyum tipis membuat mata Shofi berbinar.
"Ra, dia menendang!"
Pekik Shofi girang lalu duduk mendekat mengusap perut Amira. Gerakan dari baby Amira terasa jelas di tangan Shofi membuat Shofi bahagia.
"Di menyukaiku, aku yakin dia pasti gak sabar ingin segera melihat ibunya!"
"Aku yakin, kamu pasti sembuh!"
Amira hanya tersenyum saja melihat Shofi bahagia memegang perutnya.
"Jaga dia untukku!"
Deg ...
Seketika senyuman di bibir Shofi lenyap bak di telan bumi. Shofi menatap Amira tak percaya, bagaimana bisa Amira bicara seperti itu.
"Ra, aku yakin kamu akan sembuh. Aku akan berusaha mendatangkan dokter-dokter luar negeri untuk membantu persalinan kamu nanti!"
__ADS_1
Amira hanya menggeleng saja sambil tersenyum tipis seolah kepergian sebentar lagi menyapa.
Tak ada yang bisa Amira sesali dengan keputusan yang ia ambil. Bukankah hidup itu harus berkorban atau di korbankan.
Tak ada yang abadi, semuanya pasti akan pulang ketempat asal.
Bagi Amira, ia sudah cukup bertahan menahan segala rasa sakit itu. Amira hanya ingin istirahat sejenak. Agar kesakitan itu menghilang.
"Maaf selama ini tak mencari mu!"
"Tidak Ra, aku yang harus minta maaf karena tak pulang ke sini. Maaf aku tak ada di saat kamu butuh!"
"Jaga Fatih, cinta dia masih sama seperti dulu walau ingatannya belum kembali. Tapi, Fatih selalu merasa dalam hidupnya ada yang menghilang. Dan, setiap kali di dekat kamu, jantung Fatih berdebar. Membuat Fatih yakin, jika kamu adalah belahan hatinya yang hilang. Percayalah, Fatih akan mengingat semuanya!"
"Aku tak tahu Ra, jangan terlalu banyak berpikir. Fokuslah pada kesembuhan kamu. Aku bisa mengatasi masalahku,"
Ucap Shofi membenarkan selimut Amira.
Amira tersenyum saja melihat bagaimana Shofi mengalihkan pembicaraan. Pasti selama ini hidup yang Shofi jalani berat juga.
"Apa ayah dan mama ada?"
"Ada di luar,"
"Sebentar aku panggilkan,"
Ucap Shofi lagi membuat Amira hanya tersenyum tipis saja mengalihkan rasa sakit yang begitu menyesakan dadanya.
Shofi membuka pintu, semua orang yang ada di luar langsung berdiri.
"Ayah, mama. Amira ingin bicara sama kalian,"
Ucap Shofi membuat Melati memegang tangan Jek erat. Sungguh Melati tak sanggup. Biasalah Melati kuat sekedar tersenyum agar putrinya tak merasa sedih.
Dengan ragu Jek dan Melati masuk ke dalam, sedang Shofi duduk di dekat Dinda sengaja menghindar dari Tante Queen dan Om Farhan.
"Sayang,"
Panggil Jek membuat Amira perlahan membuka kedua matanya Amira tersenyum melihat kedua orang tuanya.
"Mah, ayah!"
Lilir Amira lemah karena tadi sempat menahan rasa sakit di perutnya. Apalagi rasa sakit itu terus menjadi di setiap harinya. Dan bahkan rasa sakit itu semakin membuat Amira sekarat. Apalagi kandungan Amira sudah memasuki tujuh bulan lebih dan di setiap tendangan anaknya membuat Amira kesakitan.
Apalagi jika Amira sedang mengingat Alam, maka rasa sakit itu semakin tak terkendali lagi.
"Rara sayang mama dan ayah, maaf jika selama ini Rara egois ..,"
Lilir Amira lemah bahkan suaranya saja seakan menghilang tertelan angin.
"Sayang jangan banyak bicara, sudah. Kamu istirahat lagi!"
Amira menggelengkan kepala dengan tangan mengepal erat di bawah selimut.
__ADS_1
"Maafkan Rara mah, ayah ... maaf ...,"
Lilir Amira semakin terasa berat untuk sekadar mengucap. Keringat dingin keluar akibat menahan rasa sakit yang begitu dahsyat.
"Sayang, kamu kenapa nak. Jangan buat mama takut. Sayang hiks ..,,"
Panik Melati menangkup pipi Amira yang terlihat memerah menahan sakit.
Akhh ...
Rapuh sudah pertahanan Amira menahan rasa sakit yang sendari tadi ia tahan. Amira memegang perutnya yang terasa kram seolah mencekik dirinya.
Melati sudah tak bisa membendung kesedihannya melihat keadaan putri ya yang kesakitan.
Sedang Jek sendari tadi langsung memanggil dokter dengan rasa cemas dan panik menghantui mereka.
Bahkan membuat Fandi, Dinda, Farhan , Queen dan Shofi berdiri karena terkejut.
Tangisan Amira dan Melati terdengar sangat jelas membuat mereka semua juga sangat panik.
Para dokter langsung berbondong masuk menangani Amira.
Melati terpaksa harus keluar karena dokter memerintahkan mereka untuk keluar.
Tangisan mereka pecah melihat bagaimana Amira di dorong menuju ruang operasi seperti nya kali ini keadaan Amira cukup serius.
Yang lebih mengejutkan lagi Amira mengalami pendarahan hebat.
Bahkan sampai Melati pingsan di pelukan Jek melihat bagaimana tersiksanya Amira.
Pada hari itu semuanya begitu panik, cemas, sedih dengan keadaan itu. Tak pernah menyangka jika Amira akan mengalami hal itu.
Seperti nya kisah mereka harus berakhir seperti ini. Berakhir sangat menyakitkan meninggalkan orang-orang tersayang dengan cara yang begitu pilu.
Sebuah kekuatan cinta yang begitu kuat, seolah mereka tak sanggup lama berpisah hingga pada Akhirnya Amira memilih pergi menyusul sang suami menyisakan kenangan indah yang membuat mereka terpukul.
Takdir yang harus mereka jalani, begitu penuh luka liku kehidupan. Perjuangan cinta yang sangat singkat namun melekat di hati yang mengingat.
Kematian tak akan ada yang tahu, kapan mereka menjemput. Dan pada waktu itu tiba, semuanya harus kuat meletakan kepergian putra dan putri satu-satunya Meraka.
Tak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Namun, cinta mereka begitu kuat untuk di kenang begitu hebat untuk sekedar di ceritakan.
Perjalanannya cukup rumit di jalani, cukup kuat bertahan.
Tak ada yang lebih indah dari pada kisah mereka yang pergi namun seolah masih ada di ingatan orang-orang yang mencintainya.
Meninggalkan kenangan manis semanis senyuman mentari pagi yang tersenyum melebarkan kehangatan ke setiap penjuru bumi.
Inikah kisah mereka yang pada akhirnya harus pergi untuk selama-lamanya.
Tamat ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote, Terimakasih ...
__ADS_1