
Seperti biasa Amira akan mengajak Alam ke taman di pagi atau sore hari. Agar Alam bebas menghirup udara segar. Dan, tentunya agar Alam cepat sembuh.
Alam harus segera sembuh karena mereka akan menikah. Jika Alam masih sakit maka mereka harus sabar menunda acara pernikahan itu.
Amira juga menulis kisah mereka kedalam laptop nya. Menceritakan kisah mereka dan apa saja yang mereka lalui. Hingga sampai saat ini. Agar Alam bisa terus mengulang kenangan mereka dengan membacanya walau Amira tahu ingatan Alam kadang stabil kadang tidak.
Mungkin dari awal cerita hanya ada kesakitan yang Amira tulis. Namun, sekarang Amira menulis sebuah kebahagiaan yang tak bisa tergambarkan.
Perjuangan mereka, tak mudah untuk mereka lewati. Namun, Amira selalu yakin jika cintanya tak pernah salah.
"Sayang, sejak kapan kamu menulis?"
Tanya Alam ketika membaca sebuah catatan yang Amira tulis di laptop. Walau awal membaca Alam sangat kesakitan karena yang Amira tulis sikap dia yang begitu jahat. Namun, kisah itu terganti oleh kenangan indah yang akan selalu Amira kenang.
"Sudah lama!"
"Apa aku dulu sejahat itu?"
"Ya, bahkan om selalu tega padaku!"
Ketus Amira cemberut jika mengingat masa lalu mereka.
"Maaf!"
"Tapi, sekarang gak. Om sekarang adalah sumber kebahagiaan aku!"
"Benarkah begitu!"
"Iya, baca saja di sana. Terlalu indah untuk sekedar di jabarkan!"
Ucap Amira tersenyum tulus pada Alam. Alam mengangguk kembali membaca catatan Amira. Kadang kala Alam sendiri tersenyum membacanya bahkan sampai pipinya merona.
Kini Alam jadi senyum-senyum sendiri membacanya. Sungguh gadis kecilnya bisa saja.
Merangkai sebuah kejadian yang begitu sempurna sama persis dengan yang mereka alami.
Sungguh calon istri nya itu ternyata sangat berbakat dalam membuat diksi yang bermakna.
Sajak-sajak cinta yang Amira ungkapkan begitu indah untuk sekedar di jabarkan.
Sehebat itukah cinta mereka, bahkan Alam sendiri seakan tak menyangka jika dirinya seperti itu.
Bahkan dengan detailnya Amira menjelaskan bagaimana ketika ia cemburu. Bak anak kecil yang merajuk ketika keinginannya tak di turuti. Sungguh Alam jadi malu sendiri membacanya.
Se konyol itukah ia ketika cemburu bahkan Amira sangat rinci sekali menggambarkannya lewat tulisan.
Hingga Alam membaca di akhir cerita wajah Alam semakin memerah padam. Pasalnya Amira menceritakan bagaimana momen liburan mereka ketika ke Pelabuhanratu.
Apalagi momen ketika mereka berkuda, sungguh momen yang sangat indah bahkan Alam masih bisa merekam jelas setiap adegannya.
"Wajah om memerah,"
Goda Amira membuat Alam gelagapan.
"Enggak, jangan ngaco!"
Elak Alam langsung memberikan laptop nya pada Amira. Karena memang Alam sudah selesai membaca.
"Beneran loh, kalau seperti ini Om terlihat menggemaskan!"
Bluss ...
Wajah Alam semakin merah padam ketika Amira terus menggodanya. Bagaimana bisa gadis kecilnya menggoda dia. Bahkan Alam sendiri sampai tersipu, siapa yang mengajarinya.
__ADS_1
Amira tersenyum geli melihat kelakukan Alam, jika dari dulu Amira tahu bahwa Alam tak kuat di goda mungkin sendari dulu Amira akan menggodanya. Sialnya Amira baru tahu sekarang.
"Sudah jangan menggoda ku terus!"
Ucap Alam menarik tangan Amira hingga Amira mendekat kepadanya. Tepatnya Amira berdiri di hadapan Alam dengan pinggang Alam yang berada di sisi kiri kana pinggang Amira.
"Sayang, apa kamu se cinta itu?"
"Iya,"
"Aku jadi takut!"
Ucap Alam sendu menatap kedalam bola mata Amira.
"Bagaimana kalau suatu hari nanti aku melupakanmu,"
"Maka dengan catatan itu om akan mengingatnya kembali. Dan ini!"
Ucap Amira yakin sambil memberikan sebuah buku pada Alam.
"Tulis diksi-diksi cinta om pada ku. Maka om tak akan ragu dengan tulisan om sendiri. Bahwa aku satu-satunya gadis yang om cintai!"
"Dengan begini Om akan selalu mengingat kembali bahwa aku adalah gadis yang sendari dulu om inginkan!"
"Baiklah aku akan menulis semuanya di sini tentang ku dan tentang kita!"
"Terimakasih sayang, kamu mau menemani aku,"
"Itu tak gratis!"
Ketus Amira membuat Alam menautkan kedua alisnya bingung. Apa maksudnya tak gratis. Memang Alam harus membayarnya, bagaimana mungkin Amira seperti itu.
"Apa yang harus aku lakukan,"
Bisik Amira sensual di telinga Alam membuat Alam seketika tersenyum. Sungguh gadisnya kecilnya mulai berani menggoda dia terus.
"Mau kemana!"
Cegah Alam menahan pinggang Amira ketika Amira akan kabur. Alam semakin menarik pinggang Amira hingga Amira semakin mendekat.
Lalu Alam menarik tangan Amira hingga Amira setengah membungkuk. Tepat wajah Amira di depan wajah Alam.
Dengan cepat Alam menahan tengkuk Amira lalu menekannya hingga bibir mereka bersatu.
Amira membulatkan kedua matanya dengan apa yang Alam lakukan. Pasalnya Alam menciumnya di tempat umum. Alam semakin menekan tengkuk Amira membuat ciuman itu semakin dalam. Walau Amira masih diam saja karena masih terkejut dengan apa yang Alam lakukan.
Sakit!
Sungguh sangat sakit hati Moreo melihatnya. Bagaimana bisa Moreo melihat pemandangan yang sangat menyakitkan.
Niat ingin menjenguk Amira dan Alam sekalian mengobati luka di keningnya. Namun, Moreo malah mendapatkan pemandangan yang sangat menyakitkan.
Moreo mengepalkan kedua tangannya erat bahkan rahangnya sampai mengeras.
Bagaimana mungkin Amira sekejam itu padanya. Sungguh hati Moreo sangat sakit sekali. Ternyata hubungan mereka sudah sejauh ini
Namun, bodohnya Moreo masih diam mematung menyaksikannya. Bukannya pergi malah tetap berdiri. Seolah Moreo sedang menguji hatinya sekuat apa ia bertahan.
"Besok kita akan menikah!"
Putus Alam tersenyum lebar membuat Amira melongo.
"Besok!"
__ADS_1
"Ya, supaya cepat gratis!"
Amira terkekeh mendengar ucapan Alam yang sangat konyol.
"Tapi Om kan belum sembuh!"
"Siapa bilang, sudah kok!"
Deg ..
Amira membulatkan kedua matanya ketika Alam berdiri kuat dari kursi Rodanya. Bagaimana bisa dan sejak kapan Alam bisa berdiri. Bukankah kaki Alam masih sangat kaku.
"Om!"
"Maaf sayang, sebentar nya dari kemaren-kemaren aku sudah bisa berjalan normal!"
"Om!!!"
Geram Amira merasa kesal seolah sedang di permainkan. Bagaimana bisa omnya begitu tega membiarkan dia terus bersedih melihat kondisi Alam.
Alam benar-benar keterlaluan.
"Semoga kamu bahagia, Ra. Aku akan belajar ikhlas!"
Gumam Moreo sakit melihat canda tawa mereka. Karena sudah tak kuat lagi Moreo memilih pergi.
Namun, seketika Moreo menghentikan langkahnya ketika ada sesuatu yang tidak beres.
Moreo berbalik menatap kearah Amira dan Alam yang sedang berpelukan.
Kemudian Moreo membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Moreo berlari kencang ke arah Amira dan Alam.
Entah apa yang terjadi dengan Moreo, Moreo seperti orang yang sedang panik.
"Alam awas!!!"
Dorr ...
Bruk ....
Amira dan Alam terkejut ketika tiba-tiba Moreo menabrak punggung Alam. Bahkan Alam sampai terhuyung ke depan.
"Sittt,"
Umpat seseorang ketika bidikannya malah salah target. Ingin membidik lagi namun tubuh Alam terhalang Moreo. Karena sudah terlalu banyak orang seseorang tersebut langsung pergi jangan sampai ada yang mengetahui dia.
Sebuah tembakan yang melesat tanpa menimbulkan suara. Tepat mengenai punggung Moreo.
"Mo-mereo!"
Pekik Amira terkejut ketika Moreo terjatuh. Yang lebih membuat Amira terkejut lagi punggung Moreo yang berdarah akibat tembakan tersebut.
"Dokter, suster!!"
Teriak Alam memangil dokter dan suster. Alam langsung mengangkat Moreo dan mendudukkannya di atas kursi roda dia.
Sungguh Alam tak menyangka jika dia akan menjadi target orang lain. Siapa yang berencana mau membunuhnya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1