Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 71 Mimpi


__ADS_3

"Dear,"


Panggil Amira tersenyum cerah melihat Alam yang sedang duduk sendiri di sebuah kursi di tengah-tengah taman yang sangat indah.


Amira berlari menghampiri Alam lalu duduk di samping Alam. Tak sampai di situ, Amira memeluk lengan kekar Alam lalu menyandarkan punggungnya di bahu kokoh Alam.


Amira sangat bahagia sekali bisa bertemu Alam kembali.


"Kenapa kesini?"


Ucap Alam sedikit ketus membuat Amira mengerucutkan bibirnya gemas.


"Kangen, apa kamu gak kangen aku, Dear?"


"Kangen!"


"Terus, kenapa kaya gak senang aku ke sini!"


"Di sini bukan tempat kamu sayang, pulanglah!"


"Gak mau, Rara mau pulang kalau sama Om!"


"Aku gak bisa sayang, pulanglah terlebih dahulu!"


"Pokonya aku gak mau pulang kalau gak sama kamu, Dear. Aku kangen ini!"


Amira memeluk erat tubuh kekar Alam, bahkan Amira duduk di pangkuan Alam sambil melingkarkan tangannya di leher kokoh Alam.


"Kalau gak mau pulang gak apa, Aku temenin ya!"


Ucap Amira lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Alam. Alam membalas pelukan Amira. Merengkuhnya seolah Alam tak mau kehilangan Amira. Namun, tatapan Alam memancarkan kesedihan. Bukan kebahagiaan yang terlihat.


Entah apa yang terjadi, kenapa seperti itu. Bukankah ini yang Alam inginkan bersama Amira selamanya. Namun, kenapa Alam terlihat ragu.


"Dear!"


Panggil Amira sambil mendongak kan kepalanya guna bisa melihat wajah tampan Alam.


"Kenapa?"


"Apa dear bahagia bersama ku!"


"Sangat cinta, bahkan lebih dari itu!"


"Lalu, kenapa gak mau pulang bersama!"


"Sayang, dengarkan aku. Aku sungguh sangat mencintaimu. Namun, seperti nya aku tak bisa. Jalan kita sudah berbeda!"


"Tidak, jalan jika masih sama. Kenapa kamu menyerah di saat kedua orang tua kita merestui!"


Bentak Amira sungguh sangat marah dengan apa yang Alam katakan. Bagaimana bisa Alam bicara seperti itu tanpa memikirkan perasaan nya.


"Maafkan aku Ra, tapi ini yang terbaik!"


"Yang terbaik buat om, tapi tidak dengan Rara hiks ..,"


Tangisan Amira mulai pecah karena kesal dan marah dengan apa yang Alam katakan. Kenapa Alam semudah itu menyerah di saat mereka sudah di restui.


Alam memeluk erat Amira berharap Amira tenang. Alam tak bermaksud seperti itu, namun rasanya Alam tak bisa untuk menemani Amira lebih lama. Jalan mereka sudah berbeda dan Alam tak mau mengekang Amira. Biarlah Amira mencari kebahagiaan dengan yang lain walau tak bersama dia.


"Menikahlah dengan Moreo!"

__ADS_1


Deg ....


Amira membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang Alam katakan. Sungguh Amira tak habis pikir dengan jalan pikiran Alam. Kenapa semudah itu Alam berkata. Apa Alam tak memikirkan bagaimana perasaan nya. Ini sungguh sangat sakit dan menyakitkan.


Mereka sudah berjuang sejauh ini, dan ketika sudah mendapat restu kenapa Alam malah menyerah dan menyuruh ia menikah dengan orang lain.


"Tidak, Rara tak mau, Rara maunya sama Om. Menikah sama om dan menghabiskan masa usia kita seperti kakek Fandi dan nenek Dinda!"


"Cukup Ra, jangan seperti ini. Tolong mengertilah!"


"Siapa yang harus mengerti siapa om! harusnya om mengerti, yang Rara inginkan adalah Om!"


Cup ...


Amira mengecup bibir Alam membuat Alam terpaku. Alam membiarkan Amira berbuat apa saja terhadap dirinya. Hingga Amira puas dan melepaskannya sendiri.


"Kita pulang ya, Rara tahu Om sedang tak enak badan!"


"Tidak Ra, cukup! jangan melewati batas!"


"Apa yang salah om, kenapa om jadi seperti ini!"


"Sudah om katakan kita tak bisa bersama, menikahlah dengan Moreo!"


"Kenapa om menyerah, bukankah om sudah berjanji akan terus memperjuangkan Rara!"


Bentak Amira penuh emosi, sungguh hatinya sangat sakit kenapa bisa Alam tiba-tiba berubah pikiran.


"Ra, bukan saya menyerah tapi kita itu bak Heterogen, seperti Air dan Pasir. Walaupun bisa bersama tapi hanya sebatas saudara bukan sepasang kekasih. Menikahlah dengan Moreo!"


"Rara gak bisa hiks.., Rara maunya Om bukan Moreo ..,"


"Kita tak bisa menyakiti hati kedua orang tua kita!"


"Maaf kan om, sayang. Om akan tetap pada keputusan om!"


"Kembalilah, atau om yang akan pergi!"


"Tidak hiks .., om jangan seperti ini, Om!!!"


"Jangan tinggalin Rara, Om!!!"


"Om!!!"


"Sayang bangun, kamu kenapa, Nak,"


"Om!!!"


Jerit Amira terbangun dari tidurnya dengan nafas naik turun. Sungguh mimpi apa barusan. Mimpi itu sangat mengerikan bahkan sampai Amira menangis di dunia nyata.


"Sayang kamu baik-baik saja?"


Hiks ...


Amira memeluk Melati erat karena masih takut dengan mimpi barusan. Mimpi itu mimpi yang paling menakutkan bagi Amira. Mengingatnya saja membuat Amira semakin ketakutan bahkan sampai tubuhnya gemetar. Amira semakin mempererat pelukannya membuat Melati sedikit sesak. Namun, Melati tetap diam saja berharap Amira segera tenang.


Melati terus mengelus-elus punggung Amira berharap Amira segera tenang. Sedang Amira terus terisak dalam diam, bahkan nafasnya masih memburu.


Amira memejamkan kedua matanya erat berharap mimpi buruk itu segera pergi.


Deg ...

__ADS_1


Amira tersadar dengan satu hal, bukankah ia berada di rumah sakit bahkan di ruang sama dengan Alam. Seketika Amira menengok ke samping di mana brankar Alam berada.


Dam ....


Amira terdiam melihat Alam masih ada di sampingnya. Bahkan terlihat tenang dan damai. Seolah Alam sedang menikmati tidur panjangnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


Tanya Melati lagi karena merasa Amira mulai tenang kembali bahkan pelukannya terlerai.


"Ma-mah, bolehkah Rara tidur dengan om Alam!"


Deg ...


Melati membulatkan kedua matanya mendengar permintaan konyol apa dari putrinya.


Begitupun dengan semua orang yang terkejut atas permintaan Amira.


Melati terdiam,. bingung harus berkata apa. Melihat wajah Amira yang memelas dengan mata berkaca-kaca saja sudah membuat Melati sakit.


Melati melirik Fandi dan Dinda yang terbangun juga akibat teriakan Amira. Melati seolah mengisyaratkan akan minta izin apa boleh atau tidak.


Fandi mengangguk cepat karena tak tega melihat Amira tubuhnya terguncang. Entah mimpi apa sehingga membuat Amira ketakutan seperti itu. Fandi yakin, bukan mimpi bisa.


"Boleh sayang, sini mama bantu!"


Jawab Melati cepat ketika sudah mendapat jawaban dari Fandi.


Dengan cepat Amira merangkak naik keatas brankar Alam. Untung saja brankar Alam lebih besar dari brankar Amira.


Amira membaringkan tubuhnya di samping Alam. Lalu memeluk erat tubuh kaku Alam. Amira menenggelamkan kepalanya di tengkuk leher Alam.


Hiks ...


Amira terus menangis tertahan sambil mengeratkan pelukannya. Seolah takut Alam pergi jauh darinya. Amira tak akan sanggup bila itu terjadi.


Bahkan mimpi itu saja sudah membuat Amira gila setengah mati.


*Jangan tinggal kan aku, Dear. Aku mohon bangunlah bangun!!!


Jangan buat aku ketakutan, jangan tinggalkan aku. Please bangun*!!"


Hiks ...


Amira terus saja terisak membuat Melati sungguh tak sanggup melihatnya.


Begitupun Fandi dan Dinda menatap sendu Amira. Sebenarnya apa yang Amira mimpikan kenapa sampai ketakutan seperti itu. Bahkan tubuh Amira yang bergetar karena tangis membuat tubuh kaku Alam juga ikut terguncang.


Sungguh, tangisan itu terdengar pilu. Bahkan sampai air mata Amira membasahi pundak dan leher Alam.


Tetesan demi tetes air mata Amira yang menembus baju pasien Alam. Teras dingin menembus kulit Alam.


Bahkan rasa dingin itu mulai Alam rasakan kesejukannya di alam bawah sadar. Bahkan Alam seolah mendengar panggilan panggilan Amira yang terus memanggil namanya.


Alam berusaha bangun, namun seolah masih sulit. Alam hanya bisa menjerit dalam kekakuannya.


Dear!!!


Tolong, jangan bersedih cinta!


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2