
"Ra, aku mau pulang saja ya,"
Ucap Vina tiba-tiba meminta pulang. Vina tak enak hati jika tinggal di rumah Amira. Apa lagi Vina sudah merasa baikan.
"Kenapa, kamu masih sakit!"
"Aku udah sehat, aku tak biasa tinggal di rumah orang!"
Jujur Vina karena memang Vina tak biasa berada di lingkup orang-orang berada. Vina selalu akan merasa kecil.
Amira terdiam lalu menghela nafas berat. Amira juga tak bisa memaksa Vina karena faham apa yang Vina rasakan.
Namun, Amira juga tak mungkin membiarkan Vina sendirian di saat kondisi seperti ini.
"Vi, tunggu sebentar!"
Amira minta izin keluar kamar guna mencari sang mama. Ternyata sang mama berada di dapur sedang masak untuk makan malam.
"Mah,"
"Iya sayang, kenapa?"
"Vina meminta pulang!"
Melati langsung menghentikan kegiatan sejenak lalu berbalik menghadap putrinya.
"Kenapa seperti itu?"
"Vina kurang nyaman tinggal di sini, apalagi memang Vina agak sulit beradaptasi dengan orang baru!"
"Tapi sayang, kata kamu Vina seorang diri. Bagaimana kalau sakit nya kambuh dan gak ada yang ngerawat,"
Itu yang Amira takutkan, apalagi Amira belum tahu bagaimana rumah Vina.
"Mah, bolehkan Rara yang menginap di rumah Vina. Rara tak bisa membiarkan Vina sendirian di saat seperti ini!"
Melati tersenyum, putrinya kalau membantu pasti gak akan setengah-setengah. Sama seperti dulu Amira membantu Shofi.
"Ya sudah, tapi bagaimana kerjaan kamu!"
"Nanti Rara akan izin saja, toh besok Rara gak terlalu banyak jadwal!"
"Ya sudah, tapi mama siapkan makan dulu. Jadi nanti, kalau sudah sampai kalian makan, apalagi Vina harus minum obat!"
"Ok, terimakasih mah. Mama memang yang terhebat!"
Cup ...
Puji Amira sambil mengecup pipi sang mama. Lalu Amira kembali ke kamar dengan senyum mengembang di bibirnya.
Di lihatlah Vina ternyata sudah siap dengan tasnya. Membuat Amira menghela nafas, seperti nya Vina memang benar-benar akan pergi.
"Tunggu! aku akan ngizinin kamu pulang tapi aku anterin!"
"Tapi, Ra. Aku sudah banyak merepotkan. Gak apa aku pulang sendiri saja!"
"No, aku akan tetap mengantar!"
Tegas Amira tak bisa di bantah. Membuat Vina mengangguk pasrah saja.
Amira tersenyum kerena Vina mengalah juga. Mereka sudah siap berangkat, begitupun dengan Melati sudah menyiapkan kotak makan.
Vina pamit tak lupa juga mengucapkan banyak terima kasih pada Melati karena sudah merawatnya dengan penuh kasih.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan nak,"
Vina hanya tersenyum saja tak menanggapi ucapan Melati. Karena bingung juga harus berkata apa.
__ADS_1
"Hati-hati bawa mobilnya!"
"Siap mah!"
Mereka sesudah pamit langsung pergi menuju lantai bawah dimana Mobil Amira berada.
Vina nampak aneh dengan rumah temannya ini. Di luar nampak rumah dua lantai. Tapi ternyata tiga lantai dengan bawah tanah. Pantas saja tak ada parkir mobil di atas. Ternyata memang parkirnya masuk ke sini. Sungguh Vina benar-benar kagum dengan rumah Amira.
"Vi, tulis alamat kamu di sini!"
Ucap Amira menyerahkan ponselnya pada Vina untuk mengetik alamatnya di google map.
Vina pun menuliskan alamat rumahnya.
"Gak terlalu jauh!"
Gumam Amira melihat di mana alamat Vina.
Amira terus mengemudikan mobilnya menuju alamat yang di tuju. Lumayan masuk ke gang-gang kecil. Nyatanya Vina tinggal di sebuh rumah sederhana. Namun layak di tempati.
"Maaf, rumahku tak sebesar rumah mu!"
"Gak apa, tapi aku nyaman ko!"
Ucap Amira santai karena tak mau Vina merasa minder.
"Terimakasih sudah mengantar aku!"
Ucap Vina tulus sambil memeluk Amira. Namun, bukannya menjawab Amira malah duduk di sopa tua. Membuat Vina menautkan kedua alisnya.
Harusnya Amira langsung pulang bukan malah duduk.
"Ra-"
"Seperti aku akan menginap di sini!"
Vina membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang Amira katakan.
"Jangan bercanda Ra,"
Cemas Vina sambil ikut duduk di samping Amira. Bahkan Vina ragu memperlihatkan bagaimana kamarnya. Kamar sempit dengan ranjang yang cukup satu orang. Walaupun dua, berarti harus tidur menyamping.
"Aku gak bercanda, aku akan menginap di sini!"
Tegas Amira tak mau di debat.
"Ra, aku baik-baik saja. Aku gak apa kok. Jangan berlebihan!"
"Siapa yang berlebihan, jangan geer!"
Vina malah menautkan kedua alisnya bingung dengan ucapan Amira. Sungguh Vina tak suka di kasihani.
"Maksudnya!"
"Aku nginap di sini mau telepon dengan pacar aku. Kalau di rumah selalu di awasi mama sama ayah!"
Vina semakin mengerutkan keningnya bingung dengan alasan Amira. Vina tak percaya jika kedua orang tua Amira melarang anaknya pacaran. Padahal Amira sudah besar.
"Jangan bohong Ra,"
"Beneran Vina, ngapain aku bohong!"
Vina tak bisa menjawab lagi karena merasa aneh dengan alasan Amira. Namun, Vina juga lelah berdebat karena seperti nya Amira keras juga.
"Tapi, Ra ranjang aku sempit!"
"Kamu itu ngelarang aku jadi karena masalah ranjang!"
__ADS_1
Glek ..
Vina menelan ludahnya kasar, sungguh ini mah benar-benar membuat Vina tak bisa ngomong lagi.
"Sudah, jangan banyak pikiran. Kamu istirahat aku mau teleponan dulu!"
Ucap Amira santai seolah dia tuan rumahnya. Dan, bodohnya Vina malah diam bak orang bodoh.
"Ayo tunjukan di mana kamar kamu!"
Dengan bodohnya Vina berjalan menuju arah kamarnya.
Dan benar saja, kamar Vina tak seluas kamar mandi Amira. Bahkan ranjangnya juga muat satu orang. Jika ingin dua orang berarti harus tidur menyamping.
"Tapi, sebelum istirahat kita makan dulu!"
Ucap Amira dengan entengnya bersikap seperti rumah nya sendiri. Bahkan Amira mencari letak dapurnya dan menyiapkan makanan yang di bawa dari rumah.
Vina lagi-lagi bak orang bodoh hanya mengikuti kemana langkah kaki Amira melangkah. Seperti seorang adik yang sedang menguntit kakak ya.
"Ayo makan, kamu harus makan. Terus minum obat!"
Tes ...
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Vina. Melihat perlakuan Amira padanya membuat Vina seolah Dejavu dengan almarhum kakaknya. Sang kakak dulu kalau pulang kerumah pasti akan bilang seperti itu jika di dalam keadaan sakit.
"Kenapa menangis, apa aku menyakitimu!"
Vina hanya menggelengkan kepala saja,. sambil makan makanan yang sudah Amira siapkan.
Amira hanya tersenyum saja melihat tingkah Vina. Bagi Amira, Vina terlihat lucu nan polos. Apa benar mereka seumuran, namun di lihat dari tingkah, sikap dan wajah Vina seperti nya Amira lebih tua dari Vina.
Vina menghentikan suapannya lalu menatap Amira dalam. Tatapan itu memancarkan sebuah kerinduan yang sangat berat.
"Kenapa?"
"Bolehkah, aku memanggil kamu kakak?"
Ha .. ha ...
Amira malah ketawa karena merasa lucu dengan ucapan Vina yang konyol. Mana ada Vina memanggilnya kakak. Bukankah mereka satu usai.
Namun, Amira langsung menghentikan tawanya ketika melihat wajah Vina yang murung.
"Kakak, kita ini seumuran. Masa aku di panggil kakak!"
Vina menggeleng kuat membuat Amira menautkan kedua alisnya bingung.
"Maaf, aku berbohong tentang usia. Sebenarnya usiaku sembilan belas tahun mau dua puluh!"
Amira langsung menghentikan suapannya lalu menatap intens Vina. Kenapa Amira baru sadar kalau Vina itu ternyata masih polos. Bahkan tatapan itu begitu menggemaskan.
Mengingatkan Amira pada Aurora.
Mungkin karena Amira anak tunggal jadi Amira mudah sekali menyayangi orang lain yang layak di sayangi.
Amira tersenyum tulus sambil mengusap lengan Vina.
"Lakukan apapun yang menurut kamu nyaman!"
Seketika Vina tersenyum cerah mendengar jawaban Amira.
"Kakak!"
Deg ...
Bersambung .....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah,komen dan Vote Terimakasih