
Amira terbangun dari tidurnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat. Amira melihat sekeliling dimana ia berada.
"Ini bukan kamarku!"
Lilir Amira lemah mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dan dimana ia berada.
Amira menghela nafas berat ketika ia sudah mengingat apa yang terjadi padanya.
"Apa nenek membawaku ke rumahnya!"
Monolog Amira pada dirinya sendiri, Amira menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu beranjak dari ranjang.
Amira menengok kanan kiri melihat rumah sangat sepi.
"Di mana nenek!"
Amira terus berjalan mencari keberadaan nenek dan kakek nya.
"Sudah bangun!"
Amira langsung berbalik melihat sang nenek masuk dari pintu belakang sambil membawa keranjang buah. Sepertinya nenek sudah mengambil buah dari taman belakang.
"Kenapa hm?"
"Tak ada nek, maaf Rara ketiduran!"
"Nenek ngerti, mau makan, nenek yakin kamu pasti lapar!"
Amira mengangguk saja karena memang perutnya terasa lapar. Apalagi ini sudah sore dan Amira melewatkan makan siangnya.
Amira melirik kesana kemari mencari seseorang namun tak ada. Amira yakin kalau Alam datang padanya. Atau memang Amira merasa mimpi saja, tapi kenapa mimpi itu begitu indah.
"Om Alam belum pulang nek!"
"Belum, katanya masih ada urusan di kantor!"
"Oh!"
Amira sedikit kecewa, Amira pikir Alam sudah pulang dan menghampirinya. Ternyata Amira memang mimpi. Karena tak mungkin Alam bersikap manis seperti itu padanya jika ia bangun.
"Kenapa sayang?"
"Tidak apa nek, nek seperti nya Rara harus pulang. Rara takut mama khawatir!"
"Padahal nenek masih kangen!"
"Maafkan Rara nek, nanti Rara main lagi kesini!"
"Ya sudah, di antar supir ya!"
Amira hanya mengangguk saja, menurut apa yang di katakan Dinda.
Amira megambil ponsel dan tas selempang ya. Ia pulang karena takut sang mama mencarinya.
Namun, Amira menghentikan gerakannya ketika akan masuk mobil. Amira baru sadar bahwa ada mobil Alam terparkir. Amira mengedarkan penglihatannya ke sekeliling.
__ADS_1
Apa om memang sudah tak mencintaiku lagi, kenapa harus berbohong!
Batin Amira sakit langsung masuk ke dalam mobil dengan perasaan sesak.
Kenapa harus berbohong untuk menghindari dirinya. Apa sebegitu bencinya Alam pada dirinya.
"Ada apa, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari mama?"
Tanya Dinda ketika melihat putranya muncul di balik tembok menuju ruang tamu.
"Tidak ada mah,"
"Mama tahu siapa kamu Alam, kenapa?"
"Tadi Alam memarahi Rara, karena sudah menggangu pekerjaan Alam!"
Bohong Alam menyesal karena baru kali ini dia berbohong pada sang mama. Alam hanya tak ingin sang mama curiga akan hubungan dia dan Rara seperti apa.
Entah bagaimana jadinya jika Dinda tahu bahwa Rara menyukai putranya. Apakah kecewa atau merestui nya.
"Oh, jangan terlalu keras nak, sepertinya Rara punya masalah besar. Apalagi tadi mama dengar Rara mengigau cinta cinta begitu!"
"Jaga cucu mama jangan sampai Rara di sakiti sama laki-laki, jika tahu orangnya mama akan bejek-bejek orang itu!"
Glek ...
Alam menelan ludahnya kasar melihat emosi sang mama. Apa jadinya jika sang mama tahu yang sebenarnya. Apa sang mama akan menghukum dia.
"Alam yang telah menyakitinya mah, apa mama Akan membenci Alam!"
Alam memutuskan pergi ke kamarnya saja guna menenangkan pikirannya sejenak.
Alam seakan lupa jika kebohongannya di ketahui Amira.
Tadi Alam merasa panik melihat Amira akan bangun. Dengan cepat Alam tadi keluar dari kamar tamu dan mencari sang mama.
Karena terlalu panik Alam tak sadar tidak menyembunyikan mobilnya yang terparkir nyata.
Entah bagaimana perasaan Amira sekarang, mungkin pikirannya semakin kacau.
Perasaan, pikiran dan semuanya. Belum lagi urusan dia sama Moreo yang belum usai karena Moreo kekeh tak akan melepaskan dirinya.
Bukannya Amira langsung pulang, namun Amira menyuruh supir berhenti sebentar. Amira ingin menenangkan hati dan pikirannya dulu sebelum benar-benar pulang.
Niat hanya sebentar, malah lama bahkan hari sudah mulai gelap.
Amira yang tersadar, menyuruh supir langsung mengantarkannya ke rumah.
"Terimakasih pak,"
"Sama-sama non!"
Amira tersenyum ramah pada supir neneknya. Dengan senyum mengembang dan bernyanyi ria, Amira masuk rumah.
Itulah Amira, akan selalu memasang wajah ceria di depan keluarganya.
__ADS_1
"Mama, ayah!"
Teriak Amira membuat Melati tersenyum melihat kedatangan putri ya begitupun dengan Jek.
"Putri mama baru pulang, kenapa. Kelihatannya sedang bahagia!"
"Iya dong, Rara bahagia!"
"Habis ketemu Moreo ya, tadi juga Moreo mampir ke sini, membawakan mama dan ayah oleh-oleh!"
Amira tersenyum kaku menanggapi cerita sang mama. Kenapa Moreo selalu menggunakan sang mama untuk menekan dirinya.
"Kapan kalian melanjutkan ke jenjang serius, mama tak sabar meminang cucu!"
"Mah kok kesitu sih, Rara kan baru kerja!"
"Gak apalah sayang sambil kerja, bahkan Moreo juga sudah siap melamar kamu. Mama setuju jika kalian menikah!"
"Mah!"
Tanpa sadar Amira meninggikan suaranya. Ternyata Amira tak sepandai itu mengendalikan perasaannya. Ada kalanya Amira lelah menahan semuanya.
"Maafkan Rara mah, Rara tak bermaksud!"
Sesal Amira menatap sang mama dan sang ayah dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali Amira menangis menceritakan semuanya pada ke dua orang tuanya. Tapi, itu tidak mungkin.
"Rara mau istirahat, besok Rara harus kerja!"
Pamit Amira langsung beranjak dari duduknya. Amira menaiki satu persatu anak tangga dengan linangan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
Sedangkan Melati menatap sendu sang putri. Karena masih terkejut akan perubahan sikap putrinya. Baru kali ini Melati melihat putrinya seperti sedang menahan kesakitan.
"Sayang, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?"
Tanya Jek karena merasa heran kenapa istrinya seolah bersemangat menjodohkan Moreo dengan Amira. Bukankah itu terlalu cepat untuk membahas sebuah pernikahan.
"Tidak ada, tapi, apa salah ucapanku tadi!"
"Ucapan sayang gak ada yang salah, namun sayang terlalu terburu-buru mengatakan keinginan itu. Lagi pula Putri kita baru di Indonesia, baru lulus dan baru masuk kerja. Jangan dulu buat Amira memutuskan sesuatu yang lebih berat. Apalagi Putri kita belum mau menggantikan aku di perusahaan. Jangan sampai keinginan kita malah membuat Amira kabur!"
Jek berusaha memberi pengertian pada Melati. Jangan sampai Amira malah marah akan pembahasan yang masih jauh melangkah.
Jek hanya ingin Amira menggantikan dulu posisi dirinya di perusahaan. Baru membicarakan tentang pernikahan.
Sepertinya Jek seakan melewatkan sesuatu yang terjadi. Dan, sang istri menyembunyikan nya dari dirinya.
Entahlah, Jek tak mau ambil pusing. Karena sang istri tak mungkin menyembunyikan apapun dari dirinya.
Maafkan mama nak, mama tak ada niat menekan kamu. Mama cuma khawatir dengan apa yang mama takutkan selama ini.
Itu tak boleh terjadi! apa aku harus benar-benar memberi tahu suami ku tapi aku belum ada bukti!
Bersambung* ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1