
Dokter Raftha memutuskan supaya Amira berada dalam ruang yang sama dengan Alam. Biasanya keluarga pasien yang akan meminta. Ini dokter Raftha sendiri yang menyarankan Amira berada dekat dengan Alam. Bahkan dokter Raftha menyuruh beberapa perawat untuk mempersiapkan brankar untuk Amira.
Hingga pada akhirnya Amira dan Alam berbaring sebelahan walau berbeda brankar.
Sungguh ikatan mereka sangat kuat hingga membuat semua tak bisa berkata apa-apa. Terutama Melati dan Jek ketika mendengar penjelasan dokter. Rasanya mereka tak percaya dengan apa yang dokter Raftha katakan.
Apa benar selama ini mereka yang membuat Amira seperti ini. Bagaimana mungkin keadaan Amira separah itu.
Bagaimana bisa, mereka pikir Amira selama ini baik-baik saja. Bahkan Amira tak pernah mengeluh sama sekali. Putrinya selalu ceria dalam situasi apapun. Selalu merajuk pada mereka.
Sungguh, Melati dan Jek mereka merasa bukan ibu yang baik bagi Amira. Bagaimana bisa mereka membuat putrinya sendiri kesakitan seperti ini.
Bahkan sampai tekanan batinnya terguncang. Apa selama ini mereka terlalu memaksa Amira guna mencapai tujuan yang mereka inginkan. Orang tua macam apa mereka, sungguh Jek dan Melati sangat berdosa.
Melati menatap putrinya yang berbaring lemah dengan selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya. Karena tangan kanan Amira di perban akibat bekas gigitan Amira sendiri.
"Maafkan mama sayang, maafkan mama!"
"Mama yang sudah membuat kalian seperti ini. Mama jahat hiks ..,"
Isak Melati tak kuat melihat putrinya seperti ini.
Bagaimana bisa Melati sekejam ini. Dulu Melati menekan Alam untuk menjauhi Amira sekarang Melati menekan putrinya. Begitu jahat ya Melati, kenapa ia bisa sekejam ini.
"Maafkan mama, nak!"
Melati tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sampai sesuatu terjadi pada Amira dan Alam. Maka orang yang pertama pantas di salahkan adalah dirinya.
"Sudah sayang, jangan seperti ini!"
Ucap Jek merengkuh tubuh sang istri, Jek tak kuasa melihat istrinya terus menangis menyalahkan dirinya sendiri.
Bukan hanya Melati yang salah di sini, Jek juga salah. Karena awal mula dari dirinya sendiri. Yang tak bisa tegas dalam mengambil sikap.
Jika sudah begini mereka hanya bisa saling salahkan.
Bahkan jika mereka memohon waktu ingin di putar kembali. Tentu itu tak akan pernah bisa terjadi. Waktu yang sudah berputar tak bisa di ulang kembali. Hanya ada penyesalan yang selalu mereka rasakan.
"Kita perbaiki semua sebelum terlambat!"
"Apakah masih bisa, lihatlah putriku tak berdaya, Alam pun sama!"
"Sayang, kita harus percaya bahwa keajaiban Tuhan pasti ada. Kita cukup berdoa dan melakukan yang terbaik untuk mereka berdua!"
Bujuk Jek berharap istrinya akan tenang. Jika istrinya terus seperti ini, Jek takut istri nya malah jatuh sakit.
Siapa nanti yang akan menguatkan dia jika istrinya juga ikut-ikutan sakit.
"Sudah ya, putri kita dan Alam butuh istirahat. Seperti nya kita harus kembali membawa perlengkapan Amira!"
Melati mengangguk lemah, ia beranjak meninggalkan ruangan Alam. Walau berat, Melati tetap melakukannya.
__ADS_1
Di luar Dinda dan Fandi sedang menunggu. Mereka tak mau menggangu Jek dan Melati.
Melihat Jek dan Melati keluar, Dinda dan Fandi beranjak dari duduknya.
"Bagaimana?"
Tanya Dinda pada Melati, sendari tadi Dinda sangat cemas sekali mengenai Amira. Walau bagaimanapun Amira tetap cucunya sama seperti Fatih, Aurora dan Aksara.
"Amira belum bangun, mungkin dia butuh istirahat!"
"Kami mau pulang dulu, mengambil keperluan Amira!"
"Silahkan, Amira akan kami jaga!"
"Terimakasih, Tan!"
Dinda mengangguk saja sambil tersenyum tipis.
Dinda akan menjaga Amira dan Alam, menjaga mereka berdua dengan baik.
Walau sebentar nya Dinda juga sangat shok dengan keadaan Amira yang sebenarnya. Keadaan nya sampai separah ini.
Dinda dan Fandi masuk kedalam setelah Melati dan Jek pamit pulang.
Dinda menatap nanar melihat Alam dan Amira berbaring lemah tak berdaya.
Huh ...
Dinda menghela nafas berat, seperti nya hari ini hari terberat bagi Dinda. Harus menyaksikan dua orang yang saling jatuh cinta berbaring tak berdaya.
Dinda berharap, kehadiran Amira akan membuat Alam cepat bangun dari komanya. Karena Amira harapan satu-satunya agar Alam kembali.
Dinda berjanji, jika Alam bangun ia akan menikahkan langsung putranya dengan Amira.
Berharap akan ada kebahagiaan ketika mereka sadar. Dan tak ada kesedihan lagi. Cukup bagi mereka mengalami hal sulit, Dinda tak akan membiarkan hal sulit terjadi lagi pada putranya. Dinda akan melakukan apa saja agar putranya bahagia.
Fandi menghela nafas melihat istrinya terus berjaga. Menjaga Amira dan Alam, bahkan pandangannya tak lepas dari mereka berdua.
"Sayang,"
"Iya, Dad!"
"Makan dulu ya, supaya gak sakit. Pola makan sayang semenjak Alam sakit jadi berantakan!"
"Nanti Dad!"
"Bagaimana sayang bisa menjaga Alam jika sakit!"
Huh ...
Dinda membuang nafas kasar, benar apa yang di katakan suaminya. Jika ia sakit maka ia tak bisa menjaga Alam.
__ADS_1
Fandi tersenyum ketika Dinda menganggukkan kepala.
Suami istri itu duduk di atas shopa, dengan telaten Fandi menyiapkan makanan yang baru saja ia beli.
"Daddy suapin ya!"
"Iya!"
Fandi menyuapi Dinda dengan hati-hati, penuh kasih sayang dan cinta.
Walau usia mereka sudah tak lagi muda. Tapi, cinta mereka tak pernah pudar sedikit pun. Malah, Dinda selalu di buat jatuh cinta oleh Fandi di setiap harinya. Dinda sungguh beruntung mendapatkan suami super pengertian.
"Sudah dad,"
"Ini belum habis, tanggung!"
"Dari tadi Daddy yang suapin mama, sekarang giliran mama suapin Daddy!"
Ujar Dinda sambil mengambil kotak makan. Lalu menyuapi Fandi dengan telaten.
Sungguh pemandangan yang sangat indah. Di usinya yang sudah tua mereka masih bisa menjaga cinta mereka.
Hal kecil yang mereka lakukan membuat siapa saja akan iri melihatnya.
Fandi selalu mampu menenangkan sang istri. Di setiap masalah apapun. Bawaan yang tenang, dan santai membuat Dinda merasa nyaman dan terlindungi.
Walau Dinda tahu, jika marah, maka marahnya Fandi akan melebihi orang yang suka marah.
"Apa sekarang hatinya sudah lebih baik!"
"Berkat Daddy, terimakasih dad, sudah mau bersabar selama ini!"
"Berikan terus cinta maka Daddy akan membuatmu nyaman dan aman!"
Mereka berdua sama-sama tersenyum bak anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Mereka tak sadar jika sendari tadi Amira sudah sadar dari pingsannya. Amira melihat jelas bagaimana interaksi Fandi dan Dinda. Sungguh, Amira iri akan keharmonisan mereka. Walau sudah tua namun mereka masih bisa menciptakan hal-hal romantis.
Amira melirik ke samping di mana ada Alam di sana. Amira berharap, ia bisa seperti itu bersama Alam. Hingga maut memisahkan mereka.
Tangan Amira terulur memegang tangan Alam. Karen brankar mereka merapat membuat Amira dengan mudah membawa tangan Alam kedalam pelukannya.
Lalu Amira mengecup punggung tangan Alam.
"Cepat bangun Om, Rara menunggu!"
Gumam Amira memeluk erat tangan Alam sambil memejamkan kedua matanya kembali. Amira berharap ia akan bertemu Alam di alam mimpi yang indah.
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1
.