
Jam delapan malam Amira dan Alam sampai di rumah.
Fandi dan Dinda berada di ruang keluarga, mereka sedang bercengkrama.
"Buat mama sama Daddy!"
Ucap Alam meletakan martabak di hadapan mereka.
"Terimakasih sayang,"
"Jangan lupa makan!"
"Kami sudah makan di luar mah, ya sudah kami naik ke atas dulu!"
"Ya sudah kalau begitu,"
Alam dan Amira langsung naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada.
"Dear, aku dulu yang mandi!"
"Ikut!"
Cetus Alam langsung membuat Amira terdiam.
"Ya sudah,"
Alam tersenyum sumringah ketika sang istri mengizinkan mandi bareng.
Suami istri itu mandi bareng saling menyabuni satu sama lain sampai selesai mandi.
Amira dan Alam memakai piyama tidur, namun bukannya langsung tidur Amira malah diam.
"Sayang kenapa?"
"Aku lapar,"
Alam terdiam menautkan kedua alisnya mendengar sang istri bilang lapar. Bukankah tadi sudah makan roti makar dan nasi goreng di jalan. Kenapa sekarang masih bilang lapar.
"Masa, emang tadi belum kenyang?!"
Bingung Alam, kenapa sang istri masih bilang lapar.
"Aisst, Dear, kamu yang buat aku lapar kembali. Habis bukannya mandi kamu malah minta lebih,"
Ketus Amira membuat Alam malah terkekeh. Alam akui ini salah dirinya, apalagi memang biasanya kalau sesudah mandi suka merasa lapar. Apalagi tadi mandinya plus plus-an.
"Ya sudah, tunggu di sini. Biar aku yang ngambil nasi!"
Alam langsung beranjak menuju lantai bawah. Di bawah masih ada Fandi dan Dinda.
"Ada apa sayang?"
Tanya Dinda ketika melihat Alam yang menuruni anak tangga.
"Rara katanya lapar,"
__ADS_1
Jawab Alam santai langsung melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Alam mengambil nasi dan lauk pauknya satu porsi hanya untuk Amira saja. Karena Alam masih merasa kenyang.
Sesudah selesai, Alam kembali ke lantai atas di mana sang istri pasti sudah menunggu keberadaannya.
Dan benar saja, Amira sedang duduk di atas Sofa menunggu kedatangan Alam. Alam menghampiri sang istri lalu duduk di sampingnya.
Aaa ...
Dengan senang hati Amira menyambut suapan dari Alam. Entah kenapa Amira sangat lapar sekali. Dan, ini begitu terasa nikmat yang Amira rasakan.
"Pelan-pelan sayang,"
"Hm,"
Dengan penuh kesabaran Alam terus menyuapi Amira sampai selesai. Bahkan Amira Benar-benar menghabiskannya tanpa sisa.
"Porsi makan kamu banyak, tapi kenapa gak gemuk-gemuk?!"
"Tidak tahu, mungkin udah dari sananya begini!"
"Ya sudah, jangan lupa minum vitamin nya!"
Amira mengangguk lalu mengambil vitamin yang Amira konsumsi.
"Biar kan saja di situ dear, besok saja taruh nya!"
Cegah Amira ketika Alam akan beranjak guna menyimpan kembali piring bekas Amira makan.
"Peluk!"
Rengek Amira manja sambil merentangkan kedua tangannya dengan bibir yang sengaja di kerucutkan.
Jika sudah begini apa boleh buat, Alam tak bisa menolaknya. Alam merangkak naik keatas ranjang. Lalu menarik sang istri kedalam pelukannya.
"Sudah, ayo tidur!"
Ucap Alam mengecup kepala sang istri. Amira tersenyum sambil mengeratkan pelukannya dengan kepala yang terus di sembunyikan di tengkuk leher Alam.
"Dear, mimpi indah!"
"Ya, kamu juga!"
Alam memejamkan kedua matanya sambil menghirup dalam-dalam aroma sampo yang Amira pakai. Sangat wangi menenangkan membuat Alam nyaman.
Tak butuh waktu lama, Alam sudah terlelap dalam tidurnya. Terdengar dari nafasnya yang sudah teratur tenang.
Perlahan Amira kembali membuka matanya lalu bergerak pelan guna bisa melihat wajah tampan sang suami.
"Dear, aku tahu kamu pura-pura kuat!"
Gumam Amira Lilir, dengan air mata yang membasahi pipinya.
Sendari tadi sebenarnya Amira ingin menangis sekencang-kencangnya mengingat tadi.
__ADS_1
Amira tadi keluar sebenarnya bukan untuk meninjau proyek tapi menghindari Alam.
Dom memberi tahu jika penyakit Alam kembali kambuh bahkan sampai mimisan
kembali. Namun, Alam memaksa untuk menjemput Amira.
Untuk itulah Amira keluar lama karena ingin menenangkan hatinya yang rapuh jangan sampai di hadapan Alam Amira bersedih.
Sampai Alam menunggu dan ketiduran, karena Amira sengaja melakukan itu agar Alam tak menyadari kalau ia habis menangis.
Merasa sudah tenang, Amira kembali dan berusaha bersikap biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa.
Perlahan Amira mengelus bibir seksi Alam yang merah merekah.
Untuk itulah Amira bersikap manja karena Amira tak ingin melewatkan satu detik pun waktu bersama Alam. Karena Amira tak tahu, kapan tiba Alam akan berubah dan melupakannya.
Untuk itu Amira akan terus meminta kebahagiaan dari Alam ketika ada waktu senggang. Amira berharap ada malaikat kecil segera hadir di perutnya. Melengkapi kebahagiaan dan kesedihan mereka. Setidaknya jika Alam sudah benar-benar pergi ada buah cinta mereka yang Alam tinggalkan.
Hingga Amira tak akan terlalu bersedih ketika sudah waktunya Alam pergi. Karena Alam meninggalkan bagian dari hidupnya untuk menemani Amira di kehidupan selanjutnya.
Itulah yang sedang Amira rencanakan, anggap saja Amira egois namun tak ada pilihan lagi.
Ketika Alam pergi kenangan apa yang akan menemani hidup kesendirian Amira kecuali ada belahan Alam yang tertinggal.
Terkecuali, Amira juga harus ikut pergi bersama Alam.
"Jika kamu lupa katakan ya. Jangan di sembunyikan. Karena aku tak suka kepura-puraan!"
"Dan, biarkan aku yang bekerja keras memberikan cinta kepada kamu sampai kamu ingat bahwa aku mencintaimu sampai kamu lupa bahwa ada orang yang mencintaimu!"
"Bukankah kamu pernah berkata dalam mimpiku. Kita itu seperti Zat Heterogen, seperti Air dan Pasir tak bisa bersatu. Walaupun bisa maka kita hanya sebatas saudara. Kini aku akan berdebat dengan kamu, jika Zat Heterogen ini yang menyatukan kita walau kita berbeda frekuensi namun bersatu untuk saling melengkapi kekurangan masing masing bukan bersatu membentuk kesempurnaan seperti Zat senyawa!"
Lilir Amira mengecup bibir Alam sekilas lalu Amira menempelkan kepalanya di dada bidang Alam. Amira ingin mendengar jelas detak jantung Alam yang berirama tenang. Mengalun indah di telinga Amira sampai Amira ingin selalu mendengar detak jantung ini di setiap harinya.
Sampai Amira tahu bahwa detakan ini hanya untuknya tak ada yang lain.
"Tak ada yang lebih indah dari hidupku selain mencintaimu. Hidup bersamamu merasakan kebahagiaan menghirup udara bersama-sama membentuk sebuah keluarga yang damai!"
"Aku tak pernah menyesal bisa jatuh cinta pada mu, justru aku akan menyesal jika tak mencintaimu. Kamu adalah duniaku, alam semesta yang mempersatukan kita di alam hidupmu. Seperti namamu yang hadir di alam ku!"
"Bermimpi indah lah sejenak, jangan merasa takut aku akan bersedih. Akan ku berikan apa yang kamu mau. Tersenyum sampai aku lupa caranya bersedih. Tertawa sampai aku lupa caranya sakit. Kamu sudah mengajarkan itu semua dalam hidupku!"
"Jangan pernah merasa bersedih ketika kamu akan melupakanku, ingatlah. Akan ku tunjukan bagaimana cara kamu mencintai sampai kamu ingat kembali bahwa aku adalah wanitamu!"
"Aku yakin, di ingatanmu mungkin namaku mulai ter delete. Tapi, aku yakin, namaku tak akan pernah ter delete di hatimu mu. Di ruang kedap suara yang hanya bisa kamu rasakan. Di ruang kedap suara yang hanya kamu bisa mendengar jika namaku tertata di sana!"
"I love you forever till my last breath. Just like you who love me till your last breath! (Aku mencintaimu selamanya sampai nafas terakhirku. Sama seperti kamu yang mencintaiku sampai nafas terakhirmu!)"
Laskar Sky Mangku Alam ...
Amira menghentikan ketikan di laptop nya karena sudah merasa cukup mengingatkan Alam bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang Alam inginkan.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1