
Dari semalam Alam sulit sekali untuk tidur. Bahkan kepalanya terasa sakit. Padahal hari ini ada pertemuan untuk membahas ke lanjutkan launching nya produk baru mereka.
Tak mungkin Alam tak hadir dalam pertemuan itu. Karena Alam yang akan menjadi pembicaranya.
Karena memikirkan perbuatan dirinya yang tak terkendali membuat membuat Alam pusing. Bahkan Alam tak tahu harus menjawab apa jika Amira bertanya akan perbuatannya.
Walau, Alam tahu, Amira yang terlebih dulu menciumnya. Tapi, salahnya dirinya kenapa malah mencium balik Amira bahkan jika Alam tak sadar mungkin Alam akan melakukan hal lebih pada keponakannya sendiri.
Huh ...
Alam membuang nafas kasar, memikirkan itu semua membuat Alam sangat frustasi. Alam lebih baik memikirkan masalah perusahaan dari pada masalah perasaan.
Kenapa serumit ini masalah percintaan nya. Belum lagi kedua orang tuanya menuntut dia untuk segera menikah.
Memikirkannya membuat Alam sekaan ingin memecahkan kepalanya.
Berkali-kali Alam memijat keningnya yang semakin terasa pusing.
Hingga Alam tak sadar jika Amira sudah masuk kedalam ruangannya. Bahkan Amira sudah berdiri di hadapannya.
"Apa om sakit?"
Deg ...
Alam terkejut mendengar suara Amira bahkan Alam sampai menjatuhkan beberapa berkas.
Sial!
Kenapa Alam tak menyadari Amira masuk, bahkan ketukan pintu nya juga Alam tak mendengarnya.
"Om sakit?"
Ucap Amira mengulang pertanyaan nya yang belum di jawab.
"Tidak!"
"Tapi, wajah om terlihat pucat!"
Ucap Amira khawatir melihat wajah Alam yang nampak pucat.
Plak ...
Alam menepis tangan Amira yang akan menyentuh keningnya membuat Amira terperanjat akan sikap Alam yang mulai berubah lagi.
"Keluar, Ra!"
Cetus Alam tak mau Amira lama-lama berada di ruangannya. Alam tak mau sang Daddy nanti melihatnya. Karena memang rencananya Fandi akan berkunjung ke perusahaan yang dulu Fandi dan Dinda kelola.
Namun, Amira yang keras kepala tak semudah itu menyerah. Amira hanya khawatir melihat wajah Alam yang nampak pucat. Seperti nya Alam sedang sakit dan Amira tak mau itu terjadi.
"Gak mau, sebelum om menjawab. Apa om sakit?"
"Tidak!"
"Bohong!"
"Jangan membuat saya marah Amira!"
Geram Alam mulai tersulut emosi kenapa Amira tak mengerti dan malah memancing emosinya.
Alam tak mau menyakiti Amira lebih jauh lagi ketika dia tak bisa mengontrol emosinya. Bahkan Alam mengepalkan kedua tangannya merasa kepalanya semakin berdenyut nyeri.
Amira tersentak mendengar ucapan Alam yang memanggil dirinya saya lagi bukan om. Pertanda bahwa Alam memang sedang marah.
"Rara hanya khawatir om, wajah om pucat banget!"
"Keluar!"
__ADS_1
"Gak mau!"
Akhhh ....
Amira memejamkan kedua matanya ketika Alam mengangkat tangannya. Namun, Amira tak merasakan apa-apa. Perlahan Amira membuka kedua matanya kembali. Seketika Amira membulatkan kedua matanya ketika Alam malah menampar dirinya sendiri.
"Stop om, apa yang om lakukan!"
Panik Amira karena merasa terkejut akan apa yang Alam lakukan. Baru kali ini Amira melihat Alam bersikap seperti itu. Seolah orang yang ada di hadapan dirinya bukan omnya sendiri.
"Keluar!"
Bentak Alam mendorong Amira yang memeluknya. Namun, Amira si keras kepala masih saja tak mau keluar dan malah membuat Alam semakin pusing.
"Rara khawatir, lihat wajah om semakin pucat!"
"Stop Ra, jangan melewati batas. Kamu keponakan saya!"
Bentak Alam tak bisa mengendalikan emosinya ketika Amira malah memeluknya. Hingga Alam dengan kasar melepaskan pelukan Amira bahkan membuat Amira terjerembab dimana hampir saja terbentur meja.
"Benarkah keponakan!"
Ketus Amira tersenyum sinis pada Alam yang selalu saja seenaknya sendiri.
"Tolong, jangan begini! ini salah!"
"Kita saling mencintai om!"
"Tidak! kamu keponakanku ya keponakan!"
"Benarkah keponakan, terus kemaren apa! kenapa om mencium ku!"
Deg ...
Alam tak bisa berkutik karena itu memang salah dirinya kenapa bisa malah mencium Amira bahkan sampai membuat Amira kehabisan nafas.
"Anggap saja saya lupa!"
Plak ...
Amira tak habis pikir bagaimana bisa Alam berbuat sekejam itu padanya. Mempermainkan perasaan dirinya dengan apa yang Alam perbuat.
Seolah Alam kemaren sedang membawanya terbang tinggi dan hari ini Alam menjatuhkannya kembali.
"Lupakanlah, itu hanya sebuah ciuman. Mungkin kamu sudah terbiasa!"
Plak ...
Untuk kedua kalinya Amira menampar Alam karena merasa benar-benar Alam sudah merendahkan dirinya.
Hanya! terbiasa!
Apa Alam serendah itu memandang dirinya. Bahkan kemaren adalah ciuman pertama bagi dirinya. Tapi Alam, sungguh Amira benar-benar kecewa.
"I hate you, Laskar Sky Mangku Alam!"
Deg ...
Alam menjatuhkan tubuhnya sendiri ketika Amira sudah pergi.
Amira benar-benar sudah membencinya. Bahkan sampai Amira menyebut nama dirinya. Bahkan semarah apapun Amira, Amira tak pernah sekalipun memanggil nama lengkapnya. Tapi kini, dirinya sudah benar-benar membuat Amira marah dan kecewa.
"Maafkan saya!"
Lilir Alam dengan jatuhnya air mata, bahkan Alam sampai mengigit bibir bawahnya agar isak nya tak terdengar.
Tanpa Alam sadari percakapan dirinya terdengar oleh seseorang. Bahkan orang itu mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras.
__ADS_1
Seolah tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
Kenyataan yang sangat pahit dan menyakitkan. Bahkan seolah apa yang dia dengar itu sebuah mimpi. Namun, nyatanya memang nyata.
Sejak kapan?
Pertanyaan itu keluar dari hati seorang itu karena tak menyangka dengan apa yang ia dengar.
"Alam!"
Deg ...
Alam terkejut ketika tiba-tiba Dom masuk bahkan sampai mengunci pintu.
Buru-buru Alam menghapus air mata agar Dom tidak mengejeknya.
"Ada apa?"
"Harusnya aku yang tanya, apa yang terjadi kenapa Amira bisa menangis?"
Tanya Dom sengit, karena barusan Dom melihat Amira berlari sambil menangis.
"Menyuruh Amira melupakan semuanya!"
"Gak mungkin, pasti ada kata yang kamu ucapkan hingga dia sampai menangis!"
Sengit Dom karena merasa tak percaya dengan apa yang Alam katakan. Dom tahu betul bagaimana Amira. Sesakit apapun Amira jarang menangis kecuali jika ada perkara yang memang membuat hati Amira benar-benar sakit.
"Ak-aku menganggap Rara wanita murahan!"
Bugh ...
Satu pukulan melayang membuat Alam langsung tersungkur.
"Apa kamu sudah gila hah, bahkan kau tahu Amira tak pernah melakukan itu!"
"Biarkan dia marah, itu lebih baik!"
"Tapi gak gini caranya Lam, kamu benar-benar menyakitinya!"
Akhh ...
Jerit Alam memegang kepalanya yang terasa sakit kembali.
Dom yang tadinya kesal dan marah jadi panik ketika melihat Alam kesakitan memegang kepalanya.
"Lam, apa kamu belum meminum obatnya!"
Alam hanya diam saja karena kepalanya sangat sakit sekali. Dom menggeram kesal lalu mencari obat Alam.
Sesudah menemukannya Dom langsung menyuruh Alam segera meminumnya.
Dom jadi panik sendiri apalagi tuan besar sebentar lagi pasti sampai.
Jangan sampai tuan besar melihat keadaan Alam yang seperti ini.
Entah apa yang terjadi pada Alam, kenapa ingin menyembunyikan semuanya dari kedua orang tuanya. Bahkan Dom juga ikut membantu. Separah apa yang Alam rasakan kenapa terlihat kesakitan sekali.
Alam harus segera pulih kembali, apalagi setengah jam lagi meeting akan di mulai.
Dalam rasa sakitnya Alam masih bisa tersenyum sinis. Seolah Alam menertawakan hidupnya yang malang.
"Dom, berjanjilah apapun yang terjadi Amira harus menikah dengan Moreo!"
"Kau gila!"
"Aku hanya tak ingin, Amira hidup dengan orang seperti ku!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...