Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 100 Ekstra Part (Kami sayang kamu nak)


__ADS_3

Semua orang nampak terdiam melihat Mentari yang tertidur di atas ranjang Amira dan Alam, mereka bisa melihat dengan jelas kesedihan yang Mentari alami.


Mentari tertidur dengan posisi tengkurap sambil memeluk foto dan surat yang Melati berikan tadi gadis mungil itu begitu sangat menyedihkan bahkan mereka semua tak bisa berkata apa-apa selain hanya menangis dalam diam mereka tahu Mentari sangat membutuhkan sosok ibu dan papa, mereka tahu bahwa selama ini Mentari sangat merindukan Amira dan Alam namun mereka juga tahu bahwa selama ini Mentari selalu bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa seolah dia baik-baik saja Mentari sama seperti Alam dan Amira yang selalu dia dalam rasa sakit yang dia rasakan.


Sungguh malang masib gadis kecil itu dan mereka akan selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada Mentari mereka akan selalu menjaga semampu yang mereka bisa melindungi Mentari dari siapapun namun tanpa sadar ke posesif an mereka membuat Mentari menjadi anak pendiam sulit untuk mengekspresikan keinginannya sendiri gadis yang malang yang membuat siapa saja merasa sedih melihatnya.


"Apa buku ini juga harus kita berikan?"


Ucap Melati sambil memegang sebuah buku tebal.


"Jangan, Mentari terlalu kecil untuk membaca buku ini. Dia belum cukup mengerti tentang konflik orang dewasa. Kita berikan nanti di saat usia Mentari tujuh belas tahun, di saat Mentari sudah mengerti!"


Jelas Queen menatap sendu keponakannya. Gadis itu terlalu manis untuk di abaikan. Queen menarik selimut guna menutupi tubuh Mentari.


Bau Alam dan Amira bercampur di sana, bau yang sangat khas Amira sukai. Mereka memang sengaja tak mengganti seprai dan selimut terakhir yang di pakai Alam dan Amira.


Mereka sengaja memasangnya dan tetap menjaga wangi itu agar sedikit mengobati rasa rindu Mentari pada kedua orang tuanya.


Dan semua keluarga juga menjaga apartemen itu supaya tetap bersih agar Mentari bisa nyaman jika ingin ke sana.


Semua keluarga keluar dari kamar Amira membiarkan Mentari tidur di sana.


Mereka duduk berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang.


Fatih dan Shofi saling tatap satu sama lain, seolah ada yang akan mereka sampaikan.


"Mohon perhatiannya sebentar,"


Ucap Fatih membuat semua orang terdiam menatap Fatih yang akan bicara serius.


"Ada apa Kak?"


Tanya Queen menatap putranya yang sebentar lagi akan menjadi ayah lagi.


"Fatih hanya meminta izin, bolehkah Fatih dan Shofi membawa Mentari ke Jerman untuk sekolah di sana!"


Ucap Fatih hati-hati takut menyinggung Melati dan Jek.

__ADS_1


Farhan dan Queen terdiam mendengar permintaan putranya. Mereka diam karena yang lebih berhak atas Mentari kini Melati dan Jek saja.


"Kenapa membawanya ke sana. Apa kalian ingin memisahkan kami dari Mentari!"


Ketus Melati membuat Fatih menghela nafas berat. Ini yang Fatih takutkan karena pasti Melati salah faham.


"Bukan seperti itu Tante, om. Apakah kalian tidak lihat, Mentari tumbuh menjadi anak pendiam bahkan Mentari tak seceria senyuman di bibirnya. Apa kita tak melihat banyak kesedihan di mata Mentari. Di sini terlalu banyak kenangan yang membuat Mentari sedih. Bahkan di sekolah pun Mentari selalu di olok-olok oleh temannya karena tak punya orang tua. Apa kalian ingin melihat Mentari seperti itu!"


Jelas Fatih membuat Melati dan Jek terdiam karena mereka tak tahu soal itu. Mereka pikir Mentari baik-baik selama ini, apalagi Mentari selalu ceria dan tak banyak bertanya.


Fatih bicara seperti itu bukan karena ingin menjauhkan Mentari dari Omanya. Tapi, Melati dan Jek terlalu larut dalam kesedihan dan rasa bersalah hingga mereka tak sadar jika Mentari butuh mereka bukan mereka butuh Mentari untuk sekedar obat rindu.


Queen menatap putranya dengan tatapan berbeda. Queen tahu apa yang di maksud sang putra.


Yang Fatih ceritakan hampir sama persis dengan apa yang ia lalui. Apa Fatih tidak mau Mentari tumbuh seperti Queen yang akan tertutup sama siapapun jika sudah besar nanti. Tak bisa mengekplorasi keinginannya sendiri.


"Bagaimana om, Tante?"


Ucap Fatih lagi membuat Mentari dan Jek terdiam saling tatap satu sama lain.


"Queen setuju dengan apa yang Fatih katakan, bukankah begitu, By!"


Fatih dan Shofi tersenyum karena kedua orang tuanya sudah setuju tinggal Jek dan Melati saja.


"Fatih tak berniat memisahkan Mentari dengan Oma nya. Fatih hanya ingin memberikan suasana baru. Setidaknya Mentari di sana tak akan di olok-olok orang karena Fatih akan memasukan Mentari pada KK keluarga kami menjadi putri pertama kami,"


Jek dan Melati merasa terpojok, karena mereka juga mengakui apa yang di katakan Fatih ada benarnya juga. Setidaknya Mentari harus bisa melupakan kesedihannya. Agar Mentari tumbuh menjadi gadis kuat.


"Baiklah, jika itu yang terbaik. Om dan Tante tak bisa melarang. Kami yang akan berkunjung ke sana satu pekan sekali!"


Fatih dan Shofi tersenyum karena semua keluarga sudah menyetujuinya.


Fatih hanya berharap keponakannya tidak merasakan sedih lagi. Biarkan Mentari menghirup udara bebas yang berbeda.


Walau Fatih dan Shofi tak bisa menampik, pasti di hati Mentari yang dia butuhkan Amira dan Alam. Kasih sayang kedua orang tua yang ada.


Tapi, setidaknya Fatih menjauhkan Mentari dari lingkungan buruk.

__ADS_1


"Terimakasih jika kalian sudah menyetujuinya!"


"Kapan rencana kalian akan kembali!"


"Menunggu Mentari siap ikut dengan kami. Kami juga tak akan memaksa jika Mentari tidak mau. Setidaknya kami hanya ingin yang terbaik untuk Mentari,"


Kini bukan Fatih yang bicara melainkan Shofi yang angkat bicara. Walau bagaimanapun Amira pernah menitipkan Mentari padanya di sisa hidupnya. Meminta Shofi untuk menjaga Mentari.


Mungkin dulu Shofi tak berani membicarakan amanah itu apalagi di saat itu ada sebuah perdebatan antara Dinda dan Melati di mana mereka sama-sama ingin mengurus Mentari.


Tapi kini Mentari sudah besar dan cukup mengerti keadaan dan baru kali ini Shofi bicara pada Fatih dan Fatih menyetujuinya.


Membawa Mentari ke Jerman karena memang Shofi dan Fatih tinggal di Jerman. Apalagi, Shofi tak bisa tinggal di Indonesia karena harus meneruskan perusahaan sang Daddy. Dan, Fatih juga memegang cabang perusahaan yang ada di Jerman.


Sedang perusahaan yang Alam kelola kini Aurora yang mengelolanya. Dan tentu kini Rijal bukan lagi mengikuti Fatih melainkan Rijal mengajarkan Aksara. Apalagi kini Aksara sudah tumbuh dewasa. Walau masih Sekolah SMA tapi Aksara sudah belajar mengelola perusahaan.


Farhan sengaja menempatkan Aurora di perusahaan cabang bukan induk seperti Aksara karena nanti perusahaan itu akan Farhan berikan pada Mentari jika Mentari sudah besar nanti. Dan, Aurora dia tak mau apa-apa selain terbang mengejar mimpinya yang ingin menjadi Dokter.


Dan, satu syaratnya yaitu Aurora harus membantu perusahaan cabang.


Begitu lah kehidupan keluarga itu sekarang. Semuanya akur dalam didikan kasih sayang. Dalam didikan cinta mengajarkan anak-anak untuk tidak serakah.


Mereka mengajarkan kasih sayang sesama saudara. Saling tolong dan saling mencintai. Karena Queen pernah berada di posisi itu. Jadi sekuat tenaga Queen berusaha jadi bunda yang baik untuk anak-anak nya dan hasilnya seperti ini.


Kak, jangan cemas ya. Fatih akan merawat Mentari seperti putri Fatih sendiri.


Om, jangan khawatir ya, Fatih akan menjaga Mentari sekuat yang Fatih bisa.


Akan Fatih ajarkan Mentari menjadi anak yang kuat namun tetap rendah hati.


Batin Fatih menatap Poto Amira dan Alam yang tersenyum seolah mereka merestui apa yang akan Fatih lakukan.


Kami sayang kamu nak ...


Bisik Amira dan Alam di telinga putrinya yang sedang tertidur nyenyak dengan mimpi indahnya. Di mana Mentari bertemu Amira dan Alam di alam sana bahkan Mentari sampai tersenyum.


Selesai ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2