Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 60 Tidak, itu tidak boleh terjadi!


__ADS_3

Sudah beberapa hari Amira di kurung di kamarnya. Jek dan Melati tak mengizinkan Amira kemana-mana.


Bahkan makan dan minum pun Melati yang mengantarkannya. Namun, tak ada satupun makanan yang Amira makan.


Bagaimana Amira mau makan jika kabar Alam saja tidak tahu. Apa Alam baik-baik saja atau tidak.


Baru kali ini Amira mengalami hal seperti ini, terkurung seolah Amira adalah tahanan. Bahkan ponsel dia pun di sita oleh sang ayah.


Hanya tangisan yang setiap hari memenuhi kamar Amira. Sekarat dalam rasa rindu yang menyesakan. Tak ada yang bisa mengobati rasanya kecuali pertemuan.


Bahkan Amira menolak bertemu dengan Moreo juga. Amira masih marah dengan apa yang Moreo lakukan. Bagi Amira Moreo terlalu egois memaksa dirinya. Sampai Moreo menyetujui perjodohan tanpa memberi tahu dia terlebih dahulu.


Namun, Jek dan Melati bukan tanpa sebab mengurung Amira di dalam kamar. Mereka hanya belum siap jika harus di benci putrinya sendiri jika mengetahui keadaan Alam.


Bahkan Jek dan Melati sendiri belum siap datang kerumah sakit. Mereka belum siap bertemu Fandi dan Dinda. Apalagi Jek, Jek merasa bersalah pada Dinda. Karena walau bagaimanapun Dinda pernah menjadi istri ayahnya, dan tentu jadi ibunya juga.


Entah apa yang harus Jek katakan, jika bertemu dengan Fandi dan Dinda apalagi dengan Queen.


Semuanya jadi kacau tanpa di inginkan. Jek juga tak mau berada di posisi seperti ini.


Semuanya sudah terjadi dan tak bisa di ulang kembali.


"Sayang apa yang harus kita lakukan, aku tak mau melihat Amira seperti ini. Tak pernah sebelum nya Amira se terpuruk ini,"


Lilir Melati tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi Melati memegang amanah yang sangat besar di satu sisi juga Melati tak mau membuat putrinya terpuruk bahkan sampai sekarang Amira tidak mau makan.


Jek pun terdiam, dia juga tak tahu harus bagaimana. Sedang perjodohan itu sudah lama di rencanakan. Tepatnya, Angga dan pak Broto yang merencanakan itu. Dan, itu menjadi amanah besar sebelum Angga meninggal. Tentu, tentang amanah itu Alam juga tahu.


"Seperti nya kita harus ke rumah sakit, walau bagaimanapun aku sudah membuat Alam tak berdaya!"


Putus Jek, mau sampai kapan masalah ini tidak di selesaikan. Jek tak mau masalahnya semakin rumit jika ia tak segera menyelesaikannya. Apalagi Jek dan Melati belum tahu sepenuhnya keadaan Alam yang sebenarnya. Mereka hanya tahu, keadaan Alam kritis akibat pukulan Jek.


"Perketat penjagaan, jangan sampai putriku kabur. Dan, jangan lupa antarkan makan malam ke kamarnya. Saya ada urusan di luar!"


Perintah Jek pada para bodyguard nya.


"Dia tuan!"


Jek dan Melati langsung bersiap berangkat ke rumah sakit Bunda Husna. Rumah sakit di mana Alam di rawat di sana.


Sepanjang jalan Melati hanya diam saja, entah apa yang dia pikirkan. Begitupun dengan Jek. Pikiran mereka sungguh sangat kacau.


Mereka tak tahu apa yang akan terjadi di sana. Apakah Fandi dan Dinda menerima kehadiran mereka atau tidak.


Jalanan Jakarta sore ini sedikit macet membuat Jek harus sabar untuk sampai ke tujuan.

__ADS_1


Hingga pukul lima sore Jek sampai di rumah sakit Bunda Husna.


"Sus mau tanya, ruang pasien Laskar Sky Mangku Alam di mana ya?"


Tanya Jek pada sang resepsionis sambil menggenggam tangan Melati yang terasa dingin.


"Tunggu sebentar pak, saya cek dulu!"


Jawab sang resepsionis ramah. Jek mengangguk saja walau Jek sudah tak sabar.


"VIP Room nomor satu, lantai Lima!"


"Terimakasih, sus!"


Sesudah mendapatkan apa yang Jek mau. Jek dan Melati langsung bergegas ke sana menggunakan lift.


Perasaan Jek dan Melati harap-harap cemas, bahkan sendari tadi jantung mereka berdetak tak karuan.


Jek dan Melati melihat-lihat dimana VIP Room nomor satu. Bahkan Jek sedikit terkejut ketika Alam di tempatkan di ruang khusus. Apa sakitnya separah itu sampai Alam harus benar-benar berada di ruang khusus yang tak sembarang orang masuk.


Deg ...


Jek dan Melati terdiam ketika Farhan dan Queen keluar dari ruangan tersebut.


Mata Jek dan Queen saling tatap satu sama lain. Tatapan Queen begitu dingin seperti biasanya. Namun, kali ini sedikit berbeda, Jek bisa merasakannya.


Ucap Queen memecah keheningan, tanpa menunggu jawaban Jek, Queen langsung masuk kembali.


Farhan hanya diam saja lalu duduk di kursi tunggu. Apalagi memang sendari dulu Farhan tak terlalu dekat dengan Jek.


"Apa yang sebenarnya terjadi, apa Alam mempunyai penyakit serius?"


Tanya Jek hati-hati berharap Farhan akan memberi tahunya. Namun, Farhan memilih bungkam saja. Karena bagi Farhan dia tak ada hak untuk memberitahu Jek. Biarlah Dinda dan Fandi sendiri yang memberi tahu mereka.


"Biru!"


Cklek ...


Jek tak bisa meneruskan ucapannya ketika mendengar pintu di buka.


Nampak lah Queen, Fandi dan Dinda keluar dengan raut wajah sedih. Bahkan kesedihan itu terlihat jelas sekali. Seolah mereka benar-benar terpukul dengan keadaan Alam.


"Om, Tante!"


"Masuklah!"

__ADS_1


Potong Queen karena tak mau Jek membahas masalah anak-anak dulu. Keadaannya kurang kondusif.


Jek hanya pasrah saja bersama Melati. Mereka berdua masuk kedalam ruang rawat Alam.


Deg ...


Melati dan Jek terpaku melihat bagaimana kondisi Alam. Banyak selang yang menempel di tubuh Alam dengan kepala yang di perban. Bahkan mulut Alam pun di pasang selang.


Bibir Melati gemetar sulit untuk berkata. Bahkan sekedar mendekat pun rasanya mereka tak mampu. Sungguh keadaan Alam benar-benar sangat memperihatinkan kan.


Begitu pun dengan Jek, ia tak menyangka perbuatannya mengantarkan Alam di titik terendah. Di titik dimana Alam sedang berjuang sendiri melawan maut.


Walau operasi yang di lakukan telah berhasil namun sampai saat ini Alam masih belum sadar. Alam koma sudah tiga hari, entah sampai kapan Alam seperti ini.


"Sayang!"


Jek menarik sang istri kedalam pelukannya berharap sang istri akan tenang. Sungguh mereka tak tahu harus berkata apa. Bahkan melihat keadaan Alam saja membuat mereka tak kuat.


Bagaimana dengan Fandi dan Dinda sebagai kedua orang tuanya.


Hati mereka pasti jauh lebih sakit dan sedih di bandingkan Jek dan Melati.


Sungguh, jika Amira tahu keadaan Alam separah ini mungkin Amira benar-benar akan hilang arah. Apa yang harus Jek dan Melati katakan pada Amira.


Karena tak kuat melihat kondisi Alam, Jek membawa sang istri keluar. Takut sang istri malah tak bisa mengendalikan kesedihannya.


"Om, Tante!"


Lilir Jek menatap Fandi dan Dinda dengan tatapan sesal. Begitupun dengan Melati yang tak bisa lagi menahan air matanya untuk tak keluar.


"Alam di vonis Meningitis, dimana bakteri sudah menggerogoti selaput otak Alam. Kemungkinan besar, Alam akan mengalami hilang ingatan secara perlahan jika ia sadar nanti!"


Dam ...


Penjelasan dingin Queen bak ribuan panah yang menancap tepat di dada Jek dan Melati. Bahkan Melati sampai menutup mulutnya agar tak menjerit. Jek dengan sigap menahan tubuh sang istri agar tidak jatuh.


Sungguh, fakta yang sangat menyakitkan sekali. Sejak kapan Alam menderita Meningitis. Bahkan sudah separah itu hingga kecil harapan Alam bisa sadar kembali.


Sungguh Jek dan Melati tak bisa membayangkan bagaimana jika Amira tahu tentang keadaan Alam. Pasti hancur sudah hati Amira.


Tidak, itu tak boleh terjadi!


Jerit batin Melati mencengkram erat lengan Jek.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2