
"Lam, kondisi kamu belum pulih. Kamu mau kemana!"
Kesal Dom yang entah harus bagaimana lagi memperingati Alam.
"Aku harus pulang, aku merasa Amira sedang tak baik-baik saja!"
"Tapi Lam, kondisi kamu belum sepenuhnya pulih. Tolong kali ini saja menurut!"
Namun, sayang. Alam tak memperdulikan ucapan Dom. Alam dengan kasar mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya.
Dom mengepalkan kedua tangannya kenapa Alam tak mau mengerti kalau dirinya khawatir.
Dengan berat hati Dom mengikuti Alam dengan perasaan campur aduk.
"Biar aku yang nyetir!"
Ketus Dom, Dom hanya tak mau terjadi sesuatu di jalan.
Sungguh, Dom tak mau berada di situasi sulit seperti ini. Bahkan dari kemaren Alam terus saja menyusahkan ya.
"Apartemen Dom, aku yakin Amira sedang di sana. Dia sedang membutuhkanku!"
Ucap Alam lemah, entah kenapa tiba-tiba dada Alam terasa sesak dan sakit. Pikiran Alam langsung tertuju pada Amira. Alam berharap, Amira baik-baik saja.
"Dom cepetan!"
Dom hanya bisa mencengkram stir mobil tak memperdulikan ocehan Alam. Yang penting sampai dengan selamat.
Dom hanya takut, kondisi Alam semakin memburuk. Alam harus segera melakukan operasi paling tidak kemoterapi.
Namun, sialnya Alam tak mau melakukan itu karena dampaknya sangat besar.
Hingga, tiba saatnya mereka sampai, Alam langsung keluar tanpa peduli Dom yang memarkirkan mobil dengan benar.
"Alam, kau benar-benar!"
Kesal Dom berlari mengejar Alam ketika sudah selesai memarkirkan mobil.
Akhh ...
Alam semakin menekan dadanya yang terasa sesak dengan kepala yang berdenyut. Dengan sigap Dom membantu agar Alam tidak jatuh. Hingga sampai lah mereka di depan unit apartemen Alam.
"Dear!"
Alam berdiri kaku ketika mendengar teriakan Amira. Dengan ragu, Alam berbalik.
Bruk ...
Amira berhambur kedalam pelukan Alam bahkan membuat Alam hampir saja terjatuh jika tak ada Dom yang menahannya di belakang.
"Hiks .., kemana saja. Rara takut ... Rara takut!"
"Mereka mau menjodohkan Rara dengan Moreo!"
Deg ...
Seketika tubuh Alam menegang mendengar kata perjodohan. Bahkan Dom pun ikut terkejut.
Alam tersenyum kecut, ternyata mereka melangkah lebih cepat dari dirinya.
"Bawa Rara pergi, Rara tak mau. Rara mau sama Om!"
Ucap Amira ketakutan mempererat pelukannya.
Amira semakin menangis histeris ketika Alam hanya diam saja tak menanggapi ucapannya sama sekali.
"Dear!"
__ADS_1
Panggil Alam lembut mencoba menenangkan Amira.
Sebelum itu Alam mengisyaratkan untuk Dom pergi membereskan sesuatu. Alam membawa Amira segera masuk ke apartemen. Jangan sampai ada orang lain yang melihat, di kira dia sudah membuat nangis anak orang.
Alam mengelus-elus punggung Amira berharap Amira akan tenang. Karena gak mungkin bagi Alam bicara jika Amira terus histeris.
.
Lama Alam berusaha menenangkan Amira. Kini Amira mulai tenang dan berhenti menangis.
Alam memberikan minum pada Amira supaya Amira lebih tenang lagi.
"Dear, selama ini kamu kemana?"
Tanya Amira menatap tajam pada Alam. Amira baru sadar, jika dia harus mempertanyakan masalah ini sebelum membahas yang lain.
"Ak--"
"Apa pekerjaan terlalu penting dari pada aku hiks ..,"
Buru-buru Alam menarik kembali Amira kedalam pelukannya. Bahkan sesekali Alam mengecup puncak kepala Amira. Berharap Amira tenang jangan sampai terus menangis.
Amira melepaskan diri dari pelukan Alam lalu menatap Alam intens.
"Lihatlah, dear, kamu jadi kurusan bahkan kamu terlihat lelah,"
Ucap Amira cemas, seolah Amira melupakan masalah perjodohan nya dan malah menjadi cemas melihat Alam yang akhir-akhir ini nampak berbeda.
"Aku janji gak akan terlalu lelah bekerja, maafkan aku kemaren-kemaren aku benar-benar sibuk dan mendadak!"
"Aku maafin, tapi tolong jangan di ulangi. Jangan buat aku cemas dan jangan buat aku kecewa!"
"Iya!"
Mereka berpelukan kembali bahkan kini Amira terlihat erat memeluk Alam.
Amira pikir pak Bara waktu itu hanya bercanda saja. Bahkan awalnya Amira sendiri yang memanasi Alam dengan perjodohan itu. Namun, siapa sangka itu bukan candaan tapi sebuah kenyataan yang harus Amira dengar. Jika memang kedua orang tua Amira menginginkan itu.
"Om,"
"Hm,"
"Apa om benar-benar mencintai Rara?"
Alam refleks langsung mendorong bahu Amira pelan supaya wajah Amira terlihat jelas di matanya.
Alam mengelus pipi Amira lembut sambil tersenyum.
"Jangan bertanya jika kamu sudah tahu jawabannya. Bahkan kamu sudah nakal melihat poto yang ada di laci kantor!"
Ucap Alam membuat Amira tersenyum, ternyata Alam sudah menyadarinya.
"Dengarkan om baik-baik sebab om tak akan mengulang lagi!"
Ucap Alam tegas menatap dalam kedalam bola mata Amira.
"Kamu adalah hembusan nafas om, kekuatan om. Jangan pernah ragu, di hatiku sudah penuh dengan namamu. Dan, duniaku hanya milik mu!"
Cup ....
Kini Amira yang memulai mencium bibir Alam. Dengan senang hati Alam menyambutnya.
Hanya sebuah ciuman lembut tak menuntut. Mereka seolah sedang meluapkan kerinduan mereka dan segala rasa yang ada.
Mereka mencoba menikmati waktu mereka tanpa peduli dengan urusan besar mereka.
Cup ...
__ADS_1
Alam menyudahi ciumannya dengan sebuah kecupan dalam. Lalu Alam mengusap bibir Amira yang sedikit bengkak akibat ulahnya dengan ibu jarinya. Sedangkan satu tangan Alam lagi, Alam gunakan untuk menahan Amira.
"Aku tak akan membiarkan kamu di miliki orang lain selagi aku masih bisa bernafas!"
"Apa dear akan mempertahankan Rara?"
"Aku akan berjuang, meminta restu mereka!"
Tegas Alam membuat Amira berkaca-kaca. Ini yang Amira mau selama ini dari Alam.
"Jangan menangis, aku benci melihatnya. Tersenyumlah,"
Amira bukannya tersenyum malah terisak sambil memeluk Alam. Bahkan Amira menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Alam.
"Kita tunggu waktu yang pas, bicara pada mereka,"
"Bagaimana cara bicaranya, Rara takut mereka malah memisahkan kita!"
"Jangan takut, kita berusaha dulu!"
"Tapi, bagaimana kita meminta restu pada mereka?"
"Kamu tenang saja, masalah itu biar aku yang urus. Lebih baik kita habiskan waktu bersama kita aja dulu!"
Ucap Alam, Alam tidak mau terlalu keras memikirkan masalah itu. Karena Alam tahu bagaimana hasil akhirnya.
Biarlah Alam membuat momen-momen indah bersama Amira. Menciptakan suatu kisah yang romantis walau hanya sebentar. Alam akan mengingatnya, mengingat momen itu di setiap hembusan nafas nya.
Alam tahu siapa orang yang bisa membantu ya. Alam berharap orang tersebut tak menentang hubungan mereka sama seperti kedua orang tua mereka.
"Om,"
"Hm,"
"Entah kenapa Rara selalu ingin bersama Om kemana om pergi walau harus meninggalkan dunia ini!"
"Wusss, Bicara itu jangan ngawur sayang. Kamu tak akan kemana-mana, kita di sini!"
"Bolehkah Rara egois hanya ingin bersama om. Rara tak mau berpisah, mereka terlalu jahat untuk memisahkan kita!"
"Maka, marilah kita egois untuk bersama di sini!"
"Saling mencintai!"
"Saling menjaga!"
"Saling menyayangi!"
"Janji!"
"Janji!"
Alam membawa Amira keatas pangkuannya. Lalu memeluk Amira erat, begitu pun dengan Amira.
Sekarang mereka sedikit lega karena sudah membicarakan semuanya bagaimana kelanjutan hubungan mereka.
Bicara dari hati ke hati tanpa menimbulkan perdebatan. Apalagi pola pikir Alam dan Amira luas dan dewasa.
Bahkan mereka masih bisa bicara tenang di situasi yang sangat genting di mana kedua orang tua mereka sudah bereaksi.
Sungguh pasangan ini sangat lucu, dan romantis.
Selalu berusaha tenang menyikapi berbagai masalah. Tak terburu-buru dan tak ada emosi yang di luapkan. Mereka bagaimana air yang mengalir begitu tenang.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ..
__ADS_1