
"Sayang, sudah istirahat. Mama perhatikan akhir-akhir ini wajah kamu pucat!"
"Jangan terlalu keras menjaga Alam, ada kami di sini. Kamu harus tetap sehat demi anak kalian,"
"Iya mah, tolong jaga Alam dulu ya. Rara mau mandi!"
"Serahkan pada mama,"
"Rara sayang mama!"
Cup ...
Amira mengecup pipi sang mama sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Melati menatap sang putri dengan perasaan tak menentu. Seolah ada sesuatu yang sang putri sembunyikan dari dia.
Melihat dari sikap dan tatapannya yang mulai berubah.
Tes ...
Amira buru-buru mengelap darah yang keluar dari hidungnya dengan gemetar.
"Jangan sekarang nak,"
Lilir Amira sambil mengelus perutnya yang terasa nyeri. Semakin besar janin itu tumbuh maka Amira sering merasa kesakitan. Tak jarang, Amira juga menggigit tangannya agar tangisan itu tak keluar.
Bahkan hidung Amira sekarang mulai sering mengeluarkan darah.
Dengan sedikit kasar Amira membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Lalu dengan cepat buru-buru mandi karena takut membuat semua orang cemas.
Setelah selesai mandi, Amira langsung keluar dengan wajah segar kembali walau wajah pucat nya masih terlihat.
Amira tersenyum melihat sang suami sudah selesai minum obat. Hari ini Alam terlihat nampak berbeda dari biasanya. Terlihat segar seperti orang yang sudah sembuh.
Bahkan Alam tidak lagi berbaring di atas ranjang melainkan duduk di sebuah kursi.
"Dear,"
Amira mendekat dengan senyum indahnya. Alam langsung berbalik sambil tersenyum tipis.
Sinar mentari nampak menyinari Alam membuat Alam terlihat bercahaya.
"Sayang,"
Panggil Alam sedikit kuat seolah Alam punya sedikit ke kuatan.
"Rindu!"
Ucap Alam lagi memeluk Amira ketika Amira sudah berdiri di hadapan Alam.
Cup ...
Alam mengecup perut buncit sang istri dengan gemetar.
"Selamat pagi anak papa, sehat selalu nak!"
Ucap Alam sambil mengusap-usap perut Amira.
"Dear,"
Cegah Amira terkejut ketika Alam turun dari kursinya.
"Gak apa sayang, aku kuat kok!"
__ADS_1
Balas Alam sambil tersenyum seolah Alam nampak baik-baik saja. Bahkan Alam yang menyuruh Amira duduk di kursi yang sempat dia duduki.
Amira hanya menurut saja apa yang Alam lakukan.
Alam duduk di bawah sambil menempelkan telinganya di perut buncit sang istri.
"Nak, apa kamu mendengar suara papa. Papa sayang sama kamu,"
"Kamu buah cinta papa sama ibu, apa kamu mendengarnya! papa mencintai kamu!"
"Berikan jawaban jika kamu juga mencintai papa,"
"Kenapa diam, apa kamu sedang tidur. Ayo bangun, sapa papa!"
Awwss ...
Jerit Amira meringis ketika merasakan anaknya menendang cukup kuat. Bahkan membuat Alam sendiri terkejut.
"Sayang,"
Lilir Alam dengan mata berkaca-kaca menatap sang istri yang menggigit bibir bawahnya karena perutnya merasa nyeri. Namun, Amira berusaha menahannya karena tak mau merusak momen langka ini.
"Anak kita, dia membalas!"
"Iya, dear!"
"Sayang,"
Binar Alam ketika merasakan lagi tendangan dari anaknya. Bahkan terasa jelas di telapak tangan Alam seolah membekas. Bahkan tangan Alam sampai gemetar sendiri.
"Hay, nak. Kamu mendengar papa!"
"Papa sayang kamu, jaga ibu ya!"
Amira terus menahan sakit ketika anaknya terus menendang seolah merespon apapun yang Alam katakan.
Alam mengangkat kepalanya guna melihat wajah sang istri.
"Sayang, terimakasih sudah menjaganya. Aku bahagia. Maaf jika kamu harus sendiri merasakan sakit,"
"Dear, kamu bicara apa!"
"Aku cinta kamu, kamu adalah nafas terakhirku. Terimakasih sayang sudah mau menemaniku sejauh ini!"
"Tak ada yang lebih indah dari mencintaimu, tak ada yang lebih mempesona selain melihatmu. Bahkan sampai titik ini, titik di mana aku harus berhenti merasakannya!"
"Sayang, papa merasa lelah, biarkan papa memeluk kamu dan ibu!"
Lilir Alam menempelkan kembali telinganya di perut buncit Amira.
Alam bisa merasakan tendangan kecil dari calon anaknya. Alam tersenyum merasakannya dengan air mata yang menetas.
Amira mengelus kepala Alam dengan penuh kasih sayang. Karena anaknya tak lagi menendang. Seolah ini adalah sebuah perpisahan.
Perpisahan yang tak pernah terbayangkan bagaimana jadinya.
Tak pernah berpikir akan seperti ini. Sampai Amira tak sadar akan satu hal.
"Dear,"
Panggil Amira merasakan ada sesuatu yang aneh.
Deg ...
__ADS_1
Tubuh Amira menegang dengan tangan gemetar melihat wajah tampan sang suami merosot keatas pangkuannya.
"Tidak!!!"
Jerit Amira membuat semua orang langsung terkejut. Fandi dan Jek langsung masuk tetkala mendengar jeritan Amira.
"Dear, dear bangun hey dear!!!"
"Jangan bercanda ini tak lucu, dear hiks ... kamu kenapa,"
Isak Amira menangkup wajah Alam yang dimana hidung Alam banyak mengeluarkan darah.
"Dear, aku mohon jangan sekarang hiks ... Dear, aku tahu kamu kuat!"
"Om!!!"
Teriak Amira mengguncang-guncang tubuh lemah Alam. Jangan ditanya bagaimana reaksi semua keluarga.
Mereka menangis dalam diam melihat semua itu. Seolah mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Kita tak pernah tahu, kapan ujian itu datang menghantam titik terendah kita.
Keadaan Alam membuat semua keluarga panik. Bahkan tangisan Amira terus terdengar pilu terngiang di telinga mereka.
Dengan cepat Fandi dan Jek membawa Alam ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk.
Jangan sampai hal buruk terjadi, apalagi melihat Amira yang seperti itu membuat semua keluarga semakin panik.
Di saat seperti ini semua keluarga juga di buat panik ketika melihat Amira merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
Oh ya ampun!
Melati dan Dinda menjadi semakin panik karena anak dan menantu dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
Sungguh ini kejadian yang tak ingin mereka saksikan. Semua ini terlalu menyakitkan bagi mereka. Bagaimana bisa anak dan menantunya jadi seperti ini. Dua-duanya dalam keadaan tak baik-baik saja.
Pikiran buruk terus berkecamuk di benak mereka dengan berbagai asumsi dan ketakutan. Apalagi melihat Amira yang terus menahan sakit sambil memegang perutnya.
Melati memeluk sang putri erat menguatkan dengan sebuah delapan seorang ibu pada putrinya.
Perasaan sakit menghantam dada Melati melihat bagaimana putrinya menjerit sakit. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Amira kenapa Amira juga bisa kesakitan seperti ini.
Sungguh, Andai saja Melati bisa menggantikan rasa sakit sang putri mungkin Melati sudah memohon itu.
Sayang kamu kenapa nak, jangan sekarang ibu mohon. Jangan marah pada ibu ya, ibu hanya ingin memberikan kehidupan kepadamu. Biarkan ibu dan papa yang berkorban agar kamu tetap ada. Agar kamu bisa mendengar cerita bahwa perjuangan kami tak mudah.
Agar kamu faham bahwa ibu sayang kamu, mencintai kamu, hingga ibu memilih kamu yang ada. Agar kelak kamu bisa membaca setiap bait cinta yang sudah papa dan ibu tulis untuk kamu.
Tetap bertahan nak, ibu sayang kamu!
Jerit batin Amira dengan rasa sakit yang begitu ngilu. Bahkan sakit ini tak bisa di jabarkan oleh kata.
Semua orang begitu panik memindahkan Alam dan Amira ke atas brankar lalu mereka berdua di dorong ke ruang yang berbeda.
Di sisa kesadaran Amira Amira masih bisa memegang tangan sang suami dan menatap sang suami hingga tangisan dan kepanikan orang-orang mulai melemah di telinga Amira.
Jika kamu benar-benar pergi, aku ikhlas Dear ...,
Sampai di mana Amira benar-benar hilang kesadarannya tak ingat apa-apa lagi. Hanya ada kegelapan yang Amira lihat dengan rasa sakit yang terasa mencekik seolah Amira merasa ini akhir dari perjuangan nya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1