
"Dok, tolong pertahankan saya tak mau kehilangan dia!"
"Ini sangat berbahaya, janin ini tak boleh tumbuh semakin besar karena itu bisa membahayakan nyawa nona!"
"Lakukan apa saja agar janin ini tetap ada, saya mohon dok!"
Pinta Amira Lilir, dadanya sangat sesak sekali ketika dia harus di diagnosa kanker. Kanker rahim yang akan membahayakan calon baby itu jika di biarkan tumbuh. Amira harus segera melakukan operasi. Namun, Amira memilih mempertahankan janinnya walau ia harus mempertaruhkan nyawa demi sebuah kehidupan baru.
Ya, sejak awal Amira sudah tahu kehamilannya sangat berbahaya. Tapi, Amira tetap mempertahankannya. Dan, sekarang keadaan Amira semakin memburuk, jika tidak segera di tangani maka akan semakin membahayakan keduanya. Apalagi janin Amira masih belum cukup kuat.
"Dok, berapa bulan lagi saya harus menunggu janin ini kuat?"
"Dua puluh empat atau dua delapan Minggu. Tapi, ini resiko yang sangat berbahaya. Karena semakin janin itu tumbuh besar maka itu semakin membahayakan keselamatan nona!"
"Tolong dok, buat janin ini kuat sampai suami saya bisa merasakan tendangannya!"
Pinta Amira memelas pada sang dokter yang memeriksanya.
"Tapi, apa anda juga suatu hari nanti akan meninggalkannya!"
Deg ....
Amira terdiam mendengar ucapan Dokter karena Amira tak berpikir kesana.
Biarlah Amira terang gap egois yang pada akhirnya dia juga meninggalkan anaknya sendiri.
"Dia pasti mengerti suatu hari nanti, jika keputusan yang ibunya ambil adalah keputusan benar. Aku ibunya, aku menyayangi dia sepenuh jiwaku. Dia buah cinta kami. Jika pada akhirnya kami pergi maka harus ada salah satu dari kami yang tetap ada. Baby ini harus ada, supaya dia tahu, kedua orang tuanya sangat menyayangi dia, kami mempertaruhkan nyawa demi kehidupan dia. Agar dia tahu kaki sangat mencintai dan menyayanginya!"
"Kami ingin dia tetap ada dok!"
Sang dokter menghela nafas berat, entah seperti apa kisah mereka jadinya. Tapi, sang dokter melihat, jika kekuatan cinta mereka sangat besar. Seolah mereka tak bisa di pisahkan. Jika satu pergi maka yang satunya lagi harus pergi, dan pada akhirnya meninggalkan kenangan yang suatu hari nanti pasti bertanya.
Kenapa papa sama ibu memilih pergi!
Amira berjalan linglung keluar dari ruangan dokter. Ini sudah menjadi keputusan Amira. Bagaimana bisa Amira hidup tanpa Alam, biarkan anaknya saja yang hidup tanpa kedua orang tua karena Amira yakin anaknya tak akan pernah kekurangan kasih sayang.
Cinta keluarganya pasti akan mencukupi semuanya.
Ini bukan sebuah pilihan karena Amira sendiri tak mau seperti ini. Tapi, keadaan ini yang membuat Amira memilih jalan ini.
Apalah daya, bahkan sekarang sang suami keadaannya semakin buruk. Ingatannya setiap hari terkuras habis.
Hanya tinggal diksi-diksi ungkapan yang meyakinkan Alam jika dia akan menjadi seorang papa.
Walau pun begitu, Amira tetap setia berada di samping Alam menyakinkan Alam jika semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Bahkan Amira menolak Alam di rawat di rumah sakit. Amira memilih Alam di rawat di apartemen saja dan para dokter saja yang datang ke apartemen. Entah sudah berapa puluh juta uang yang keluar menyewa dokter khusus merawat Alam. Bahkan bukan hanya satu atau dua melainkan lima dokter yang menangani Alam.
Fandi tak tahun bangkrut akan perusahaan, yang terpenting angin mereka Mereka masih bisa melihat putranya ada.
Dom, yang menyaksikan itu semua hanya bisa mengisi seorang diri. Kisah sahabat nya ternyata harus seperti ini.
Kebahagiaan yang di rasakan Alam tak sebanding dengan rasa sakit yang Alam derita.
Tapi, Dom salah besar. Kebahagiaan singkat yang Alam rasakan bersama orang yang dia cintai menghapus semua rasa sakit yang bertahun-tahun Alam lalui.
Kebahagiaan singkat ini terlalu besar untuk Alam jabarkan. Jika rasa sakit yang ia alami semuanya hanya bagian kecil saja di bandingkan sebuah anugrah Alam akan menjadi seorang papa walau Alam sendiri apa ia masih sanggup bertahan untuk sekedar melihat anaknya lahir atau sekedar merasakan sebuah tendangan anaknya.
"Sayang, kamu dari mana saja. Mama khawatir, bahkan ponsel kamu tak bisa di hubungi?"
Tanya Melati menghampiri putrinya yang baru datang, entah dari mana Amira tiba-tiba pergi begitu saja.
"Bagaimana keadaan suamiku mah?"
Bukannya menjawab Amira malah balik bertanya. Membuat Melati menghela nafas berat.
"Dia baik-baik saja, masuklah dari tadi dia mencari kamu!"
Tanpa pikir panjang Amira langsung masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan lagi sang mama.
Cklek ...
Alam perlahan membuka matanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Alam tersenyum kaku melihat wanita yang masuk ke kamarnya.
Walau Alam lupa sama Amira, tapi Alam meyakini hatinya jika Amira adalah istrinya dan ibu dari anaknya seperti yang orang-orang katakan. Bahkan di kamar pun Amira sengaja memasang Poto pernikahan mereka yang cukup besar dan banyak Poto mereka lainnya dari kecil, jaman pacaran dan menikah.
Hingga Alam hanya bisa meyakinkan jika Amira benar-benar istrinya.
"Dari mana?"
Tanya Alam lemah membuat Amira sekuat tenaga berusaha tersenyum.
"Beli ini!"
Ucap Amira sambil memperlihatkan alat mendeteksi janin. Jadi kapanpun Alam bisa mendengarkan pertumbuhan calon anaknya.
"Mau coba?"
Alam hanya mengangguk lemah saja karena ia tak bisa bangun. Apalagi tubuh Alam di pasang berbagai alat medis.
"Tak ada gerakan!"
__ADS_1
Lilir Alam lemah menatap sayu Amira.
"Sabar ya, mungkin beberapa bulan lagi dia akan menendang!"
"Berapa lama!"
"Dua atau tiga bulan lagi!"
"Apa aku mampu bertahan selama itu,"
Amira terdiam menggigit bibir bawahnya, ingin sekali Amira menjerit dengan keadaan ini. Tapi, Amira tak lakukan, Amira memilih membaringkan dirinya di samping Alam.
"Tangan ini selalu memelukku, biarkan aku sekarang yang memeluk mu, Dear!"
Ucap Amira memeluk perut Alam yang semakin kecil. Tak ada lagi perut kotak-kotak dengan dada sixpack nya.
"Aku yakin, tangan ini akan merasakan tendangannya,"
Ucap Amira sambil mengelus lengan Alam yang tak berdaya. Amira sedikit bangkit lalu mengecup bibir kering Alam.
Bibir yang dulu selalu membuat dia melayang, memberikan apa itu kenikmatan. Tapi, semuanya sudah berubah bahkan bibir ini tak merespon sama sekali.
"Tidurlah, dear harus istirahat!"
"Sayang!"
"Aku mencintaimu!"
Amira hanya diam saja tak menyahuti ucapan Alam. Karena Amira tahu, Alam sudah melupakannya Alam hanya sedang mencoba menerima bahwa dia adalah istrinya dan ibu dari anaknya.
"Kamu harus percaya, walaupun aku lupa tapi aku masih bisa merasakan debaran ini. Kamu bisa membuat hatiku berdebar walau aku lupa, tapi hatiku tak akan lupa siapa pemiliknya!"
Amira semakin mengeratkan pelukannya mendengar ucapan Alam.
Amira memang mendengar jelas jantung Alam berdebar hebat setiap kali ia memeluk atau mencium Alam.
*Aku harap seperti itu dear, bertahanlah sebentar lagi. Kita akan merasakan tendangannya. Maaf jika aku tak bisa menepati janjiku untuk menyampaikan salam cinta dari mu untuk anak kita. Tapi, percayalah, aku sudah menulis setiap bait diksi cinta kita untuk anak kita.
Agar, kelak ketika ia dewasa, anak kita bisa mengerti bahwa aku dan kamu bukan meninggalkannya tapi menjaga dia*.
Jerit batin Amira semakin mempererat pelukannya. Seolah ini adalah detik-detik terakhir Amira bersama bisa saling berbagi cerita dan pelukan.
Bisa saling mengungkap cinta lewat perbuatan bukan kata.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen,,, dan Vote Terimakasih ...