
Semua karyawan pada pulang karena memang waktunya sudah pulang.
"Aku anterin ya!"
Tawar Andri ketika Amira bersiap pulang.
"Aku naik ojek online saja!"
"Bareng aku saja, gratis!"
"Udah Ra, bareng saja sama Andri. Bukankah kalian se arah!"
"Ya!"
Pada akhirnya Amira mau pulang bareng Andri berkat bantuan Vina.
Mereka bertiga berjalan beriringan sambil bercanda tawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Terlihat seperti seru sekali.
Bruk ...
Awsss ...
Jerit seseorang terjatuh karena bertabrakan dengan Vina yang sedang berjalan mundur.
"Kau, kalau jalan lihat-lihat. Lihat sepatuku jadi rusak!"
Bentak Tifani menatap tajam Vina. Bahkan tatapannya begitu jijik.
"Ma-maafkan saya Bu, saya tak sengaja!"
"Maaf maaf, lihat hak nya patah. Apa kau bisa menggantinya. Bahkan gajih mu saja tak cukup membeli sepatu ini!"
Bentak Tifani membuat Vina menunduk takut, karena itu memang salahnya yang berjalan mundur.
"Apa kamu mau membelanya!"
Bentak Tifani lagi menatap tajam Andri yang akan bicara. Amira hanya diam saja melihat apa yang akan di lakukan Tifani selanjutnya.
"Maafkan teman saya Bu, dia gak sengaja!"
"Tapi sepatu saya rusak gara-gara temanmu ini!"
"Sa-saya janji akan menggantinya Bu,"
Lilir Vina sudah gemetar bahkan matanya berkaca-kaca karena takut.
"Menggantinya! mau ganti pakai apa hah, kamu saya pecat!"
Deg ...
Vina begitu terkejut dengan apa yang di lontarkan sekertaris bosnya itu. Siapa yang tidak tahu Tifani. Gadis arogan, sombong yang suka semena-mena pada karyawan.
"Bu, tolong jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini!"
"Lepas!"
"Bu,"
Vina terus memohon agar dirinya tak di pecat. Jika dirinya di pecat, siapa yang akan membiayai pengobatan ibunya. Sedang hanya dia seorang yang bekerja.
"Bu saya mohon jangan pecat saya hiks ..,"
"Apa yang kau lakukan dengan tangan kotor mu, lepas!"
Sentak Tifani kasar membuat Vina tersungkur. Untung saja ada Amira yang menahannya hingga Vina tak sampai mencium lantai.
Amira yang dari tadi diam menjadi geram sendiri melihat keangkuhan Tifani.
Amira berjalan ke arah Tifani dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Cih, ini mau apa lagi! jangan ikut campur jika kau juga gak mau di pecat!"
Bentak Tifani menatap tajam Amira, office girl baru yang berani menatap tajam dirinya.
"Teman saya sudah minta maaf, kenapa anda bicara kasar!"
Ucap Amira dingin bahkan tatapannya semakin tajam.
"Apa maumu, mau membela dia. Maka kalian akan saya pecat!"
"Minta maaf pada teman saya!"
Ucap Amira dingin berjalan semakin mendekat pada Tifani. Membuat Tifani kesal karena office girl rendahan berani melotot padanya.
Plak ...
Vina dan Andri membulatkan kedua matanya melihat apa yang baru saja terjadi.
Tifani memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Amira. Niat dia yang ingin menampar Amira malah dia sendiri yang di tampar.
"Beraninya kau!"
Sengit Tifani mendekati Amira sambil memegang pipinya yang memerah.
Bruk ...
Amira menautkan kedua alisnya ketika Amira terjatuh.
"Apa yang kalian lakukan!"
Deg ...
Amira terkejut mendengar suara yang Amira kenal dengan baik siapa pemiliknya. Lalu Amira menatap Tifani yang pura-pura mengaduh sakit. Kini Amira tahu, apa yang sedang terjadi.
"Alam, tolong aku. Lihatlah office girl ini berani mendorongku. Bahkan dia menamparku!"
Rengek Tifani mencari perlindungan pada Alam. Tifani tersenyum seringai pada Amira.
"Jelaskan!"
"Tak ada yang perlu di jelaskan!"
"Lihatlah Alam, dia berani melawan mu!"
Tifani memanas-manasi Alam agar marah pada Amira. Bahkan Tifani ingin office girl barunya itu di pecat.
"Jelaskan!"
Bentak Alam menatap tajam Amira, yang malah santai saja. Sedang Tifani tersenyum puas melihat Alam marah karena membela dirinya.
"Hanya orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Buat apa pasang cctv jika masih bertanya!"
Ketus Amira sengit membuat semua orang yang ada di sana menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang Amira katakan. Seolah secara halus Amira mengatai bos mereka bodoh.
Bahkan Tifani pun sampai membulatkan kedua matanya tak percaya ada seorang office girl yang berani seperti itu.
"Dan kau, jangan pernah merendahkan teman-teman ku. Sepatu kawe saja bangga!"
Ketus Amira menatap sengit pada Tifani yang semakin bungkam.
Dom yang menyaksikan semua itu hanya bisa mengulum senyum melihat sahabatnya juga tak bisa berkutik.
"Ayo pergi!"
Alam mengepalkan kedua tangannya melihat Amira menggandeng tangan Vina dan Andri. Sungguh, Alam tak menyangka Amira bisa berbuat sejauh itu.
"Bubar semaunya bubar!"
Usir Dom menyuruh para karyawan nya bubar jangan sampai Alam semakin marah.
__ADS_1
Hingga semua karyawan pun bubar dengan berbondong-bondong karena tak mau menjadi sasaran amarah bosnya.
"Alam lihatlah, office girl baru itu begitu berani bahkan tak sopan padamu!"
Tifani memberanikan diri bicara karena dari tadi Alam hanya diam saja.
Alam menghentikan langkahnya membuat Tifani juga langsung menghentikan langkahnya juga.
"Jangan bertingkah rendah, jika kau tak mau saya pecat!"
"Sial!"
Geram Tifani, kenapa jadi dia yang kena semprot. Harusnya gadis sialan itu. Ah ... Tifani benar-benar marah.
"Awas, akan gue balas kalian!"
Geram Tifani menghentakkan kedua kakinya. Niat cari muka malah dia yang kena batunya sendiri.
.
"Ra, gimana kalau kamu di pecat gara-gara lindungi aku. Aku gak mau kamu di pecat, biar aku saja gak apa!"
Vina sungguh takut jika dia di pecat akan kejadian tadi. Tapi, Vina lebih takut jika malah Amira yang di pecat.
"Kamu tenang saja, di antara kita tak akan ada yang di pecat!"
"Tap--"
"Sudah, percaya sama aku!"
"Andri seperti nya kamu harus anterin Vina pulang, aku masih ada urusan!"
Ucap Amira langsung pergi begitu saja membuat Andri menghela nafas kasar. Niat ingin pulang bareng malah jadi gagal.
Vina hanya menunduk saja jadi tidak enak. Gara-gara dirinya rencana Andri juga gagal.
"Ayo, naik!"
"Ndri, maaf ak-"
"Tidak apa, ayo naik!"
Mau tak mau Vina naik keatas motor Andri. Sedang Amira berjalan menelusuri trotoar jalan. Lalu menghentikan langkahnya ketika ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Tanpa pikir panjang Amira masuk ke dalam mobil tersebut.
"Kenapa harus di sini sih sayang!"
"Rara gak mau teman Rara pada tahu!"
"Kamu itu memang aneh!"
Ucap Jek menggelengkan kepala melihat putrinya itu.
Jek memang memberi tahu putrinya jika dia akan menjemput. Karena Amira harus ikut Jek ke perusahaan F.B Grup, perusahaan induk keluarga Al-biru. Ada Sesuatu yang harus di bahas di sana.
Untung saja Amira cepat mengganti pakaian nya dengan pakaian yang awal dia pakai di rumah. Jika sang ayah tahu dia bekerja malah jadi office girl, maka tamat riwayatnya.
"Apa ada masalah besar yah, hingga Rara juga harus ikut!"
"Ayah kurang tahu, Om kamu tak memberi tahu ayah. Mungkin masalah keberangkatan Fatih kali!"
"Apa ingatan Fatih sudah kembali?"
"Sedikit-sedikit dia bisa mengingatnya!"
Amira terdiam, ini sudah empat tahun pasca kecelakaan itu. Apa Fatih benar-benar belum bisa mengingat semuanya.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...