Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 61 Perdebatan


__ADS_3

Di sebuah ruangan nampak terlihat mencengkram. Bahkan rasanya mereka sulit bernafas akibat kurangnya pasokan oksigen. Akibat aura yang begitu dingin di keluarkan.


Semuanya nampak diam membisu tak ada yang mau mengalah untuk membuka sebuah percakapan.


Entah harus dari mana mereka memulai. Keadaanya terlalu rumit untuk di jabarkan. Salah saja bicara maka pasti akan ada pertikaian lain. Dan, mereka harus hati-hati untuk membuka pembicaraan ini.


"Jauhkan Amira dari putraku!"


"Mah!"


Sentak Queen terkejut akan ucapan sang mama. Bagaimana mungkin sang mama menyuruh Amira menjauhi Alam. Mereka saling mencintai, tak bisakah para orang tua mengerti.


Farhan menahan sang istri agar tak terlalu keras bicara dengan Dinda. Walau bagaimanapun Dinda sedang dalam kondisi yang tak bisa konsentrasi dalam bertindak.


"Apa yang harus mama lakukan, putraku sekarat. Biarkan Amira menjemput kebahagiaan nya sendiri!"


"Tapi mah, bukan dengan cara ini. Jika memaksa Amira, hati Amira akan hancur. Gadis itu terlalu lemah untuk menghancurkan dirinya sendiri!"


"Saya setuju dengan ucapan Tante, walau bagaimanapun mereka saudara. Mereka tak bisa bers--"


"Stop kak!"


Bentak Queen sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Queen bukan Amira yang bisa masih menahan amarahnya ketika di ingatkan. Queen akan membantah jika memang layak di bantah.


"Apa kalian masih egois dalam keadaan seperti ini. Biarkan Amira tahu dan dia yang memutuskannya sendiri antara diam atau pergi. Jika kalian paksa Amira pergi tanpa kejelasan bagaimana perasaan nya. Kalian membuat dia hilang arah tanpa kalian sadari, pikirkan itu baik-baik!"


Sentak Queen benar-benar emosi, kenapa dalam keadaan seperti ini masih saja egois. Apa masalahnya, sehingga tetap saja tak ada restu. Tak kasihan kan mereka pada Amira dan Alam.


Yang satu sedang sekarat, yang satu lagi hilang arah. Apa yang di hasilkan dari keduanya jika pada ujungnya hanya akan ada kehancuran.


Dinda terdiam, memang benar apa yang di katakan Queen. Apa selama ini Dinda terlalu larut dalam kesedihannya hingga melupakan kebahagiaan putranya sendiri. Bahkan putranya selama ini kesakitan dan ia tak tahu.


Sesibuk itukah Dinda bersama kesedihannya tanpa peduli orang di sekitarnya yang sudah memberikan warna dalam hidupnya termasuk kehadiran Alam di dunia ini.


"Dad,"


"Kenapa sayang!"


Seperti biasa Fandi akan tenang menghadapi situasi istri yang sedang terguncang.


"Katakanlah, apa yang ingin di katakan. Jangan di pendam terus!"


Dinda mencengkram erat tangan Fandi ketika Fandi menggenggamnya.


Dinda melihat putrinya lalu melihat Jek dan Melati. Seperti nya keputusan ini yang harus Dinda keluarkan agar semuanya selesai.

__ADS_1


"Mama merestui mereka!"


Deg ...


Jek dan Melati saling pandang satu sama lain. Mereka terkejut dengan keputusan Dinda.


Sedang Queen tersenyum lega mendengar keputusan sang mama, ini yang terbaik di sisa waktu Alam. Dan, biarkan Alam dan Amira sendiri yang menentukan akhirnya bukan kita sebagai para orang tua.


"Saya tetap tidak setuju!"


Duarr ...


Queen mengepalkan tangannya kuat jangan sampai tangannya melayang meninju kakak tirinya itu. Walau bagaimanapun Queen masih menghormati Jek sebagai kakaknya.


Farhan dengan sigap mengelus punggung sang istri agar tenang jangan sampai terpancing emosi.


Jika masalahnya di selesaikan dengan kepala panas maka permasalahan ini tak akan ada ujungnya.


"Berikan satu alasan kuat, kenapa kalian tetap tak merestui Alam dan Amira?"


Kini Farhan yang bicara, karena jika sang istri yang bicara makan akan ada perdebatan lain.


Dinda dan Fandi diam saja, mereka sudah pasrah dengan semuanya. Melihat keadaan Alam saja membuat mereka teriris.


"Kami sudah menjodohkan Amira dengan cucu pak Broto. Bagaimana mungkin kami membatalkannya, sedang tanggal pernikahan mereka sudah di tentukan!"


"Kami yakin, Amira akan menerimanya lambat laun. Toh, Amira dan Moreo pernah menjalin hubungan!"


Farhan menghela nafas, seperti nya Farhan harus melakukan sesuatu dalam menghadapi sikap keras kepala Jek. Karena Jek tak akan mudah menyetujui hubungan Alam dan Amira.


"Silahkan rencanakan apa yang ingin kalian rencanakan. Tapi ingat satu hal, kalian seperti membunuh Amira dengan perlahan!"


"Dad, Mah, kita pergi. Percuma bernegosiasi dengan orang yang mementingkan dirinya sendiri!"


Ucap Farhan tegas, Farhan tak mau mama mertua semakin terguncang. Itu akan mempengaruhi kesehatannya.


"Tunggu sebentar!"


Ucap Dinda tiba-tiba yang sendari tadi diam mendengarkan perdebatan.


Dinda menatap Jek dan Melati dengan lembut bak tatapan seorang ibu pada anak-anak nya.


"Pertama kami akui tak merestui hubungan Alam dan Amira. Bahkan saya sampai mengusir Alam karena hal itu. Namun, sekarang saya sadar bahwa cinta mereka terlalu kuat untuk di pisahkan bahkan sampai mereka kabur berdua. Saya hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Memberikan kebahagiaan di setiap kesakitan Alam. Jika kalian tak merestui, tak masalah. Namun, izinkan Amira untuk melihat keadaan Alam sebelum Amira menikah dan Alam benar-benar pergi!"


Ucap Dinda panjang lebar, Dinda menghentikan ucapannya sejenak guna mengambil nafas ketika berkata di akhir kalimatnya. Dinda bukan menyerah akan kesembuhan Alam. Namun, melihat kondisi Alam yang seperti itu membuat Dinda kecil hati. Dinda hanya berharap ada keajaiban pada putranya untuk tetap hidup lebih lama lagi. Dan, menjalankan kehidupan normal walau tanpa Amira.

__ADS_1


"Satu yang harus kalian ingat! Amira cucu ku, apapun keputusan kalian terhadap Amira, silahkan. Namun, jangan sakiti cucuku, hati Amira mudah rapuh tanpa kalian duga!"


Lanjut Dinda, karena teringat ketika Amira hampir saja tertabrak oleh Fandi. Masih teringat jelas bagaimana rapuhnya Amira. Bahkan Amira terus mengigau jahat jahat dan jahat. Awalnya Dinda tak tahu siapa orang yang Amira maksud telah menyakitinya.


Namun, sekarang Dinda tahu, orang yang pernah menyakiti hati Amira adalah putranya sendiri. Padahal Dinda pernah berkata akan mencincang-cincang siapapun orang yang berani menyakiti Amira.


Di sana Dinda faham, ternyata Alam dan Amira saling cinta namun juga saling menyakiti karena restu. Hingga mereka berdua memutuskan berjuang. Tapi, sayang sekarang keadaannya jadi begini.


Sesudah mengatakan itu semua, Dinda pergi bersama Fandi menuju rumah sakit kembali. Sedang Farhan dan Queen memilih pulang dulu terlebih dahulu.


Walau awalnya Queen memaksa kerumah sakit langsung karena ingin menemani sang mama.


"Bee, Queen harus di samping mama!"


Protes Queen karena suaminya kekeh memutuskan pulang terlebih dahulu.


"Sayang, ingat! ada Aksara yang butuh kita juga!"


Deg ...


Queen terdiam, kenapa Queen selalu lupa akan kehadiran putra bungsunya.


Sungguh malang sekali nasib Aksara, dari mulai dalam kandungan Queen sering melupakannya karena dulu perhatian Queen pada Fatih yang sedang sakit.


Kini ketika Aksara sudah tumbuh, Queen hampir melupakannya kembali karena masalah yang terus bertubi-tubi.


"Bee, kenapa Queen selalu lupa jika kita punya Aksara!"


Bingung Queen pada dirinya sendiri.


"Sayang terlalu banyak pikiran, ingat! sayang juga harus jaga kondisi kesehatan!"


"Terimakasih bee, sudah mau mengingatkan!"


Ucap Queen tulus mulai bisa mengontrol emosinya lagi. Queen bergelayut manja di lengan kekar Farhan yang sedang fokus menyetir.


Queen melirik sekilas pada Farhan yang sedang fokus menyetir. Sungguh, suami pengertian, penyayang dan sangat mencintai dirinya.


"Bee tahu, bee ganteng!"


Cetus Farhan membuat Queen langsung melepaskan tangannya yang melingkar di lengan kekar Farhan.


"Narsis!"


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2