Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 63 Mengalah


__ADS_3

"Bagaimana keadaan putri saya dok?"


Tanya Melati cepat ketika dokter baru keluar dari kamar Amira.


Dokter terlihat menghela nafas berat dengan tatapan sendu.


"Putri anda mengalami dehidrasi, tak ada asupan makanan atau minuman ke dalam perutnya. Jika ini berlanjut itu akan membahayakan nyawa putri anda!"


Jelas dokter walau sedikit kesal, bagaimana bisa orang kaya membiarkan anaknya sampai tak makan.


"Satu lagi!"


Ucap Dokter ketika melihat ada sesuatu yang aneh ketika ia memeriksa Amira tadi.


"Maaf jika saya lancang, namun sepertinya putri anda berada dalam bawah kesadarannya. Semacam merindukan seseorang, namun ada kesakitan juga. Saya sarankan, pertemukan mereka supaya putri anda tidak hilang arah!"


Deg ...


Melati membekam mulutnya tak percaya dengan apa yang di ucapkan dokter. Bagaimana mungkin keadaan putrinya separah itu.


Melati tak menyangka jika putrinya akan seperti ini. Sebegitu besar nya cinta Amira untuk Alam sampai putrinya menyiksa dirinya sendiri.


Tak tahukah Amira bahwa Melati sanga mengkhawatirkan nya. Tapi, kenapa Amira malah menyakiti dirinya sendiri.


Sekarang apa yang harus Melati lakukan untuk mengembalikan putrinya lagi. Apa Melati harus membatalkan perjodohan itu dan melanggar janjinya.


Sungguh, Melati berada dalam situasi yang benar-benar pusing. Langkah apa yang harus ia ambil.


Melati menangis sejadi-jadinya ketika dokter yang memeriksa Amira sudah pergi.


Moreo pun hanya diam mendengar penjelasan dokter. Ada rasa sakit di hatinya mengetahui sebegitu besarnya cinta Amira untuk Alam.


Andai saja Moreo bisa mendapatkan cinta itu, mungkin Moreo adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.


Namun, cinta itu bukan untuknya tapi buat orang lain yang sama-sama sedang berjuang maut.


Karena tak kuat menahan perasaan nya Moreo memilih pergi saja.


Cklek ...


Melati masuk kedalam kamar Amira, di lihatnya Amira sedang tertidur. Bahkan dalam tidur pun nafas Amira tidak teratur.


Melati mengigit bibir bawahnya melihat keadaan putrinya yang seperti ini. Kenapa jadi seperti ini.


"Sayang ada apa?"

__ADS_1


Tanya Jek panik baru saja sampai rumah. Jek yang sedang meeting langsung menghentikan meeting nya mendengar kabar jika Amira pingsan. Jek memilih pulang karena takut terjadi sesuatu yang serius apalagi di telepon sang istri menangis.


Melati berhambur kedalam pelukan Jek berharap rasa sakit ini hilang.


"Sayang tolong jelaskan, kenapa putri kita bisa sampai pingsan?"


Tanya Jek lagi sambil melirik ke arah Amira yang tak berdaya. Wajahnya pucat dengan bibir kering.


"Sayang, batalkan saja perjodohan itu. Aku gak mau terus melihat putriku seperti ini dia dia ..,"


Sungguh Melati tak bisa melanjutkan ucapannya. Bahkan Jek sampai terkejut mendengar keputusan sang istri yang tiba-tiba merubah pikirannya. Apa ada hal serius hingga mampu mengubah pikiran Melati.


Pasalnya yang menentang hubungan Alam dan Amira pertama adalah Melati. Tapi, kenapa sekarang Melati juga yang ingin memutuskan.


"Berikan satu alasan kenapa di batalkan!"


"Dok-dokter bilang, putri kita, dia jiwanya akan terguncang jika dipaksa menyukai sesuatu yang tak Amira sukai!"


Deg ...


Jek terkejut mendengar penjelasan sang istri. Bagaimana bisa putrinya bisa seperti ini. Sebegitu besarkah cinta Amira untuk Alam bahkan sampai menyiksa dirinya sendiri. Pikiran dan hati Amira terus condong pada Alam Alam dan Alam.


Semuanya di kuasai Alam, hingga Amira rasanya tak mampu berpijak jika bukan Alam yang berada di sampingnya.


Jek memejamkan kedua matanya bingung harus bicara apalagi. Di satu sisi Jek tak mau melihat putrinya sekarat. Di sisi lain tak mau membuat pak Broto kecewa dan berdampak pada perusahaan. Dan, di sisi lain Angga berwasiat untuk tak menikahkan Amira dengan Alam.


Inikah hukum yang tak bisa di hindari. Para orang tua mencoba memutus tali hubungan yang sendari dulu menyakitkan. Namun, kenapa anak-anak mereka malah mengikatnya kembali. Seolah takdir tak menginginkan mereka putus.


Seolah takdir ingin memperbaiki rasa sakit dulu dengan rasa yang berbeda. Rasa yang tak akan sama dengan masa lalu.


"Sayang tolong lakukan sesuatu agar putri kita kembali. Aku tak mau melihat dia seperti ini. Ini terlalu sakit hiks ..,"


Jek memejamkan kedua matanya sambil memeluk erat sang istri. Seperti nya para orang tua yang kalah. Mereka yang harus mengalah demi sebuah kebaikan walau harus menyakiti hati lain dan melanggar janji.


Apa itu sebuah keputusan yang bijak demi semuanya atau keputusan tak adil bagi yang lain.


Berada dalam kubang cinta segitiga memang tak mudah. Butuh hati yang kuat untuk menahan rasa sakit. Rasa yang tak mudah di hindari untuk sekedar di sembuhkan.


"Dear,"


Jek dan Melati berbalik ketika mendengar suara lemah Amira memanggil Alam. Ya, Jek yakin yang Amira panggil adalah Alam walau dalam sebutan berbeda.


Melati dan Jek mendekat kearah Amira yang mulai membuka kedua matanya lemah.


Amira menatap sayu kedua orang tuanya yang menangis. Terlalu lemah untuk Amira berkata. Bahkan, kehadiran Alam yang Amira inginkan ketika ia membuka mata. Tapi, nyatanya kedua orang tuanya yang berada di sampingnya.

__ADS_1


Bukankah tadi Amira bersama Alam, bahkan mereka menghabiskan waktu berdua. Apa itu cuma mimpi, jika ia kenapa malah terbangun. Amira berharap ia tetap tidur agar bisa terus bersama Alam yang sedang membutuhkan dirinya.


"Sayang,"


Panggil Melati gemetar, namun hatinya mencelos ketika Amira menangis sambil berusaha membalikan badannya lemah.


Ini sudah empat hari Amira tak tahu kabar Alam. Kemana dia, sedang apa dan dimana.


"Nak, makan ya. Sudah empat hari kamu gak makan. Mama mohon, jangan siksa diri kamu sendiri!"


Bujuk Melati tak kuat melihat keadaan putrinya yang lemah, kurus tak berdaya.


"Mau sampai kapan begini, toh Alam sudah tak peduli lagi sama kamu. Dia menyerah untuk memperjuangkan kamu!"


Ketus Jek membuat Amira mengepalkan kedua tangannya erat. Bahkan rahangnya mengeras dengan mata yang memerah.


"Buat apa terus menangisi orang yang sedang menyerah!"


"Keluar!"


Lilir Amira lemah, Amira tak cukup kuat berdebat dengan sang ayah. Apapun yang sang ayah katakan, Amira tak akan percaya. Dia yakin Alam tak akan menyerah untuk terus memperjuangkannya. Amira yakin itu, yakin bahwa Alam tak akan melepaskannya.


"Makan, Ra. Apa kamu tak kasihan sama kami. Setidaknya pikirkan kami kedua orang tua kamu. Mama terus menangis melihat kamu seperti ini!"


Amira tetap saja bungkam tak mau bicara apa-apa. Bukankah selama ini dia selalu memikirkan kedua orang tuanya. Bahkan sendari dulu Amira terus giat belajar dan belajar guna memenuhi keinginan kedua orang tuanya untuk dia tetap jadi juara.


Bahkan menerima Moreo juga keinginan mereka. Lalu di sini siapa yang tak memikirkan perasaan nya. Kenapa Amira selalu harus mengalah. Tak bisakah mereka mengalah sekali saja tentang hatinya.


Jangan paksa ia lagi untuk berkorban. Amira selalu melakukan yang terbaik yang mereka inginkan.


Berpura-pura ceria ternyata sangat melelahkan.


Apalagi yang mereka inginkan, Amira cukup minta satu saja tentang kebahagiaan hatinya. Jangan paksa lagi dia untuk melakukan hal yang tak ia sukai, Amira benci itu.


Kenapa mereka tak pernah faham akan keinginannya. Kenapa mereka tak pernah mengerti perasaan nya.


Kenapa!


Andai saja Amira punya cukup kekuatan, mungkin kata-kata itu sendari tadi sudah keluar dari mulutnya.


"Tolong tinggalkan Rara sendiri!"


Namun, malah itu yang keluar dari mulut lemah Amira.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2