Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 45 Kejutan namun terkejut


__ADS_3

"Lam, jangan terlalu lelah bekerja. Ingat! jaga kesehatan kamu!"


Ucap Dom mengingatkan karena tak mau sampai Alam sakit.


"Iya, siapkan saja kepulanganku hari ini!"


Ucap Alam tanpa melihat ke arah Dom. Mata Alam tetap fokus pada berkas-berkas terakhir yang harus ia periksa dan tanda tangani.


Alam memang bekerja lembur karena ingin segera kembali. Rasa rindunya yang begitu tinggi membuat Alam berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat berharap ia bisa pulang lebih awal.


Dom hanya bisa menghela nafas berat karena sulit sekali memberi tahu sahabatnya itu. Jika sudah menyangkut Amira Alam akan selalu melakukan apa saja tanpa menghiraukan kesehatannya sendiri.


Karena tak mau menggangu, Dom keluar guna menyiapkan kepulangan Alam. Dom pun sudah tak bisa berkata apa-apa lagi jika begini.


Dom hanya bisa berharap, Alam baik-baik saja. Bahkan Dom selama ini bukan tak bisa dengan cepat mencari keberadaan adiknya Mona. Namun, Dom fokus mengurus Alam sehingga tak ada waktu untuk melanjutkan pencarian. Bagi Dom, Alam lebih penting dari Apapun. Karena Alam lah yang membantu ia keluar dari keluarga serakah. Hingga sekarang Dom bisa maju tanpa rasa takut.


"Tunggu aku Dear!"


Gumam Alam tersenyum cerah, ketika pekerjaan sudah selesai. Alam langsung membereskan semuanya. Alam sengaja tak memberi tahu Amira karena ingin memberi kejutan. Bahkan Alam juga belum memberi tahu kedua orang tuanya.


Tak lama, Dom kembali masuk ke ruang Alam.


"Sudah selesai, lebih awal dari yang di tentukan!"


Alam tersenyum mendengar ucapan Dom, Dom selalu saja bisa di andalkan dalam hal apapun.


"Kita berangkat!"


"Tapi, kamu belum makan. Setidaknya makan dulu dan minum obat Lam,"


Ucap Dom mengingatkan Alam yang selalu acuh dengan kesehatannya.


"Iya ... iya bawel, nanti kita makan di bandara!"


Dom hanya mengangguk pasrah karena percuma memberi tahu pun. Alam tetap tak mendengarkannya.


Membuat Dom jadi kesal sendiri dengan tingkah Alam. Namun, Dom bisa apa ketika Alam merasa bahagia.


Tak henti-henti nya bibir Alam tersenyum karena sebentar lagi ia akan bertemu Amira.


Penerbangan Bali-Jakarta memakan waktu kurun dari dua jam.


perkiraan Alam dan Dom akan sampai sekitar jam lima sore.


Sungguh Alam benar-benar tak sabar bertemu sang kekasih.


Walau perjalanan dua jam itu tidak terlalu lama tapi tetap saja bagi Alam itu sangat melelahkan.


.

__ADS_1


Tepat jam lima sore Alam dan Dom sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Alam tak perlu menunggu jemputan lagi, karena Dom sudah mempersiapkannya.


Namun, tiba-tiba kepala Alam terasa pusing. Membuat Dom terkejut, apalagi Alam lagi-lagi hidungnya mengeluarkan darah.


"Lam, kita kerumah sakit ya,"


"Tidak, bawa aku ke apartemen!"


"Tapi, Lam, kondisi kam--"


"Apartemen!"


Bentak Alam membuat Dom mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras. Dom benar-benar di buat kesal, marah,. dan cemas bercampur jadi satu. Hingga membuat Dom tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan Alam.


Ingin sekali saja Dom melawan dan menghajar Alam karena tak mendengarkan ucapannya.


Dom memerintahkan pada anak buahnya untuk membawa mobil santai. Karena takut, Alam semakin menjadi.


Alam sendiri dia menghapus darahnya dengan sapu tangan. Hingga darah itu benar-benar berhenti.


Alam memejamkan kedua matanya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Lam, sudah sampai!"


Perlahan Alam membuka kedua matanya, dan benar saja dia sudah sampai. Alam keluar sambil membawa tasnya. Sedangkan Dom membawa koper Alam. Mereka menaiki lif menuju unit apartemen Alam.


"Aku bukan orang lemah Dom. Kerjakanlah sesuai dengan aku perintahkan. Besok harus sudah selesai!"


Ucap Alam tegas tak mau Dom terus mengasihaninya. Alam cukup kuat untuk menahannya apalagi Alam sudah minum obat.


Dom lagi-lagi hanya menghela nafas kasar dengan tangan mengepal erat ketika Alam menutup pintu bahkan tak membiarkan ia masuk untuk membantu.


Karena benar-benar kesal, Dom pergi dengan amarah yang membuncah.


"Maafkan aku Dom,"


Gumam Alam menghela nafas pelan ketika merasa Dom sudah pergi. Alam duduk di atas shopa sambil mengendurkan dasi. Namun, Alam seperti merasa ada yang aneh, kenapa bau parfum Amira begitu melekat di apartemen nya. Apa Amira ada di sini, namun tidak mungkin.


"Seperti nya aku sudah gila!"


Gumam Alam pada dirinya sendiri. Saking kangennya Alam merasa Amira ada di apartemen nya. Ah, rasanya Alam benar-benar rindu dan tak sabar ingin memeluk Amira.


Alam berjalan menuju kamarnya berada. Dengan malas Alam membuka pintu, lalu Alam menyalakan lampunya.


Ckrek ...


Deg ..


Alam terpaku melihat gadis yang ia rindukan berada di atas ranjangnya. Namun, seketika Alam menepisnya.

__ADS_1


"Ah, seperti nya aku sudah gila. Mana mungkin Amira ada di sini!"


Gumam Alam menggeleng kuat, seolah apa yang Alam lihat hanya halusinasi. Alam membuka jasnya lalu menaruhnya di keranjang tempat baju kotor.


Alam memang laki-laki yang suka kebersihan. Jadi Alam akan selalu menyimpan barang pada tempatnya semula. Alam terus saja berjalan kesana kemari tanpa menghiraukan seseorang yang tertidur pulas. Bagi Alam ini hanya ilusi dan tentu Alam tak mau mempercayainya.


Alam masuk saja ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Tanpa membutuhkan waktu lama Alam sudah selesai dengan ritual mandinya. Lalu langsung memakai baju tidur.


Alam mengambil ponselnya guna menghubungi Amira. Rasanya Alam rindu mendengar suara Amira.


Dret ... dret ....


Deg ...


Seketika Alam mematung mendengar nada dering ponsel berbunyi. Bukankah Alam menelepon Amira, tapi kenapa di kamarnya ada suara ponsel berdering tanda telepon masuk.


Dengan sangat ragu Alam berbalik berharap bahwa dia tidak gila.


Duarr ...


Alam membulatkan kedua matanya ketika di atas ranjangnya benar-benar Amira bukan halusinasi nya. Bahkan saking terkejutnya Alam sampai mau menjatuhkan ponselnya.


Jadi, Alam tidak gila, dia waras. Apa yang ia lihat memang kekasihnya orang yang sudah satu Minggu Alam rindukan.


Dengan ragu Alam mendekat ke arah ranjang, di mana Amira sedang tertidur memunggungi posisi Alam.


Bahkan ketika ponselnya menyala, Amira tidak merasa terganggu dalam tidurnya. Mungkin karena Amira merasa lelah karena sendari tadi terus menangis.


"Dear!"


Lilir Alam tak percaya bahwa yang dia atas ranjang benar-benar kekasihnya. Sungguh, Alam berasa mimpi. Bagaimana mungkin Amira berada di apartemen nya. Sedang apa, dan kenapa berada di sini.


Alam berjongkok tepat di depan wajah Amira. Seketika Alam tertegun melihat sisa-sisa air mata yang masih menggenang. Bahkan bantal dirinya terlihat basah karena air mata.


Perlahan Alam mengusap pipi Amira, dan benar saja air mata Amira belum kering. Dan, bisa Alam tebak seperti nya Amira tidak lama terlelap.


"Dear, kamu kenapa. Apa yang membuat kamu bersedih!"


Gumam Alam tak menyangka jika Amira benar-benar ada di apartemen nya dalam keadaan tak baik-baik saja.


Alam menjadi cemas, apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya. Bahkan Dom juga tak melapor apapun hari ini.


Alam yakin, ada sesuatu yang terjadi. Tak mungkin Amira datang ke sini dalam keadaan menangis jika ada sesuatu yang menyakitkan yang membuat Amira menangis.


Jika Amira berada di apartemen nya buat apa Alam mempersiapkan sebuah kejutan besok jika sekarang saja Alam yang di buat terkejut oleh kehadiran Amira. Sungguh, kepulangannya benar-benar membuat Alam terkejut.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2