Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 53 Pah, sayang itu apa?


__ADS_3

Jek mengerahkan seluruh anak buahnya mencari keberadaan Amira. Jek yakin, Amira pergi bersama Alam. Apalagi Jek mendapat kabar jika Alam juga memang sudah beberapa hari tak masuk kantor. Hanya Dom saja sang asisten yang masuk.


Begitupun dengan Moreo, mencari dimana keberadaan Amira. Sialnya semua cctv di setiap penjuru jalan tak ada yang menangkap Amira.


Terakhir kali Amira terlihat, Hanya berhenti di persimpangan jalan dekat taman kota saja. Setelah itu tak ada jejak lagi. Seolah, semuanya tertelan bumi.


Dan, tentu semuanya sudah di atur oleh orang-orang Alam.


Bahkan, kekacauan ini sampai terdengar ke telinga Farhan dan Queen.


Dinda hanya bisa menangis mengunci dirinya di kamar ketika tiba-tiba Jek dan Melati datang. Mereka menanyakan di mana keberadaan Alam.


Namun, Dinda dan Fandi tak bisa menjawab apa-apa karena memang sudah lama Dinda tak mengizinkan Alam pulang. Hingga sampai saat ini Dinda tak tahu di mana putranya berada dan bahkan kini putranya berbuat ulah membawa Amira pergi.


Sungguh Dinda tak menyangka jika putranya bisa nekad seperti ini.


Tak henti-henti Dinda menangis membuat Fandi menjadi bingung sendiri.


Entah siapa di sini yang harus dipersalahkan.


Sungguh, Fandi juga tak menginginkan hubungan rumit seperti ini.


Andai saja dia bukan bagian Mangku Alam mungkin putranya tak akan pernah mengalami masa sulit seperti ini. Dan, istrinya tidak akan menangis setiap malam karena merindukan Alam.


Ya, Dinda selalu saja menangis setiap malam karena merindukan putranya. Namun, ego yang membuat Dinda untuk tetap tak mengizinkan Alam pulang.


"Sayang, apa kita yang harus mengalah?"


Ucap Fandi hati-hati takut menyinggung hati sang istri. Dinda hanya diam saja tak menyahuti ucapan sang suami.


"Kita mengenal putra kita, selama ini tak pernah sekalipun Alam membuat masalah. Namun, kali ini dia melakukan hal yang jauh lebih besar. Bahkan Alam tak pernah sekalipun menolak permintaan kita. Apakah kita bisa mengalah demi kebahagiaan Alam!"


Deg ...


Dinda terdiam mendengar ucapan sang suami.


Apa benar dia yang harus mengalah akan semuanya.


"Sayang, bukan aku tak memahami perasaan mu. Maaf jika ucapanku telah menyinggung perasaan mu. Sungguh aku tak bermaksud. Aku hanya ingin yang terbaik untuk semuanya. Ikhlaskan, ikhlaskan rasa sakit itu. Daddy yakin, Queen pun akan begitu!"


Dinda menatap netra suaminya dalam. Sungguh beruntung Dinda mendapatkan suami penyabar seperti Fandi. Laki-laki yang tak pernah menuntut apapun pada dirinya. Tak pernah mengeluh atau bicara kasar pada dirinya.


"Di sini, rasa sakit itu masih ada, karena ketidak ikhlasan!"


Ucap Fandi lagi sambil menunjuk hati sang istri. Benarkah rasa sakit itu masih ada karena ketidak ikhlasan dirinya menerima semuanya.


Bukankah itu sudah sangat lama, bahkan Queen pun sudah bahagia dengan keluarganya. Mendapatkan suami penyayang dan melindungi keluarganya.


Apa lagi yang harus Dinda tuntut, bukankah Angga sudah meninggal dan Queen pun tak menginginkan sepeserpun warisan dari Angga.


Bahkan Queen mengembalikannya kembali.


"Dad,"


"Di sini, aku tak akan kemana-mana!"

__ADS_1


Ucap Fandi membalas pelukan sang istri. Berharap sang istri tenang dan membebaskan semua rasa sakit di hatinya.


Fandi semakin mengeratkan pelukannya berharap sang istri merasa nyaman.


Fandi akan melakukan apa saja berharap semuanya kembali normal seperti biasanya. Fandi tak mau ada perselisihan antara istri dan keponakannya sendiri, Jek.


"Cari Alam, Dad. Cari putra kita, aku tak mau terjadi sesuatu pada dia!"


"Sayang, kamu tenang ya. Dad, sudah menyuruh anak buah Daddy untuk mencari keberadaan putra kita. Semoga saja kita lebih dulu menemukan mereka dari pada Jek!"


Ucap Fandi tegas, apapun akan Fandi lakukan demi keutuhan keluarga dan keutuhan persaudaraan.


"Sekarang sayang istirahat ya, Jangan sampai putra kita tahu mama nya sakit!"


"Dad, keluar sebentar. Ada yang harus dad hubungi!"


Dinda hanya mengangguk saja membiarkan suaminya keluar kamar.


Dinda memejamkan kedua matanya sambil memegang dadanya kuat. Tak ada yang tahu besarnya rasa sakit yang sendari dulu Dinda simpan.


Dinda dan Queen, ibu dan anak yang selalu mencoba baik-baik saja. Namun, hati mereka terlalu rapuh untuk di ulik kembali rasa sakitnya.


"Mama!"


Deg ...


Dinda perlahan membuka kedua matanya ketika mendengar suara putri kesayangannya. Dinda tersenyum melihat Queen ada di depannya. Dinda tahu, pasti Fandi yang memanggil Queen datang.


Queen berjalan menghampiri sang mama, tanpa kata Queen memeluk sang mama. Sedingin apapun sikap Queen, Queen yang tahu betul bagaimana perasaan sang mama. Karena mereka sama-sama merasa sakit oleh orang yang sama.


"Apa mama baik-baik saja?"


Jawab Dinda sambil mencari seseorang, namun tak ada.


"Aksara, ada di luar bersama, Daddy!"


Ucap Queen faham siapa yang di cari sang mama.


Aksara, adalah putra bungsu Queen dan Farhan yang sekarang sudah menginjak lima tahun.


"Mah, apa yang sebenarnya terjadi. Apa adek benar-benar ...,"


"Iya, mama mengusir Alam. Dia pergi membawa Amira hiks ...,"


Queen menarik sang mama kedalam pelukannya lagi berharap sang mama tenang. Queen bungkam dengan pikirannya sendiri.


Ternyata Adiknya sudah sejauh ini melangkah. Apa yang selama ini, yang di ceritakan Alam adalah Amira. Gadis yang membuat Alam berubah kuat. Kenapa Queen sejak awal tak menyadari itu.


Dek, kenapa kamu mengemban beban sendiri!


Batin Queen mengepalkan kedua tangannya. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Alam. Queen harus mencari keberadaan mereka. Ini tak bisa di biarkan, Queen tak mau membuat semuanya menjadi runyam.


.


Lama Queen menenangkan sang mama hingga Dinda tertidur.

__ADS_1


Terlalu besar rasa sakit yang mama rasakan, hingga kini. Apa yang harus Queen lakukan supaya rasa sakit itu hilang.


Jerit batin Queen tak kuat melihat kondisi sang mama.


Queen selama ini selalu menyalahkan dirinya sendiri akan rasa sakit yang sang mama alami. Andai saja dulu dia tak ada ke dunia, mungkin rasa sakit itu tak akan pernah ada. Namun, Queen bisa apa. Dia juga tak berharap terlahir di situasi yang rumit.


Queen tak berharap membuat sang mama menderita bahkan sampai menelantarkannya dulu. Hingga Queen menjadi pribadi yang sangat dingin.


Queen tak menginginkan berada di posisi itu, tidak.


Queen mengelus pipi sang mama, lalu menyelimuti sang mama.


Queen keluar kamar dan menutupnya kembali dengan hati-hati.


Queen menghampiri suami, anak dan sang Daddy yang sedang mengobrol di ruang keluarga.


"Bunda, nenek kemana?"


Tanya Aksara, bocah lima tahun namun kecerdasannya itu sudah terlihat.


"Nenek sedang istirahat!"


"Nenek sakit ya,"


"Tidak sayang, nenek cuma sedang tidur siang saja. Sudah Dede sama Bunda di sini!"


Aksara mengangguk lalu merangkak naik ke pangkuan sang Bunda.


"Mama baik-baik saja, Dad. Daddy jangan cemas,"


"Terimakasih sayang. Daddy hanya tak kuat melihat dia terus bersedih!"


"Ya, Daddy jangan khawatir!"


"Bunda, Dede mau petik buah di kebun belakang, boleh ya?"


Izin Aksara, seolah memilih pergi dari pada ikut kelompok orang dewasa yang tak mengerti sedang bicara apa.


"Sini sama papa, mau!"


Aksara mengangguk semangat ketika sang papa mau menemaninya.


Queen tersenyum melihat putra bungsunya tumbuh dengan sangat baik. Bahkan sikapnya berbeda dari kedua kakak nya. Aksara walaupun masih kecil, dia sudah sangat peka dalam hal apapun. Aksara sama seperti Oma Adelia dan Daddy Fandi, sikapnya selalu tenang, namun peka.


Aksara menghentikan langkahnya membuat Farhan juga menghentikan langkahnya karena bingung kenapa putranya diam.


"Kenapa Dek?"


"Pah, sayang itu apa?"


Deg ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


.



__ADS_2