
Keadaan Alam masih tetap sama, belum ada tanda-tanda Alam akan bangun dari komanya. Walau setiap hari Dinda dan Fandi tak lepas bercerita tentang semua hal. Dari mulai Alam waktu kecil hingga sampai saat ini.
Namun, belum ada respon kuat yang Akan perlihatkan. Cuma keadaannya saja yang mulai stabil.
Jika Alam masih sama, berbeda dengan Amira keadaannya mulai membaik. Bahkan tak selemah sebelum nya. Kini Amira kembali bicara dan bangun dari pembaringan.
Walau masih terlihat lemas, namun setidaknya Amira begitu banyak perubahan.
Sudah mulai makan normal dan berjalan walau Amira harus sering duduk lagi.
Amira seolah sedang mengumpulkan tenaganya kembali guna bertemu sang kekasih yang sudah satu Minggu lebih tak Amira jumpai. Bahkan Alam pun tak menjumpainya.
Kini Amira tak bertanya dimana Alam, kenapa tak menjenguknya. Apa Alam meninggalkannya atau dimana. Karena Amira tahu sang kekasih tak bisa mendatanginya. Jika Alam tak bisa datang padanya maka Amira yang akan datang pada Alam.
Kenapa bisa Amira tak mempertanyakan Alam, karena Amira sudah tahu apa yang terjadi pada Alam. Amira tahu ketika kedua orang tuanya berdebat hebat dengan kakek Fandi dan nenek Dinda.
Amira mendengar semuanya, ya Amira mendengarkan perdebatan mereka.
Hati Amira sakit bak di iris-iris pisau tajam. Mendengar apa yang terjadi pada Alam. Kekasihnya sedang berjuang maut sendirian.
Amira tak menyangka, jika Alam akan menyembunyikan kesakitannya sendirian. Sungguh, Amira tak berdaya mengetahui kenyataan pahit itu.
Namun, Amira harus bangkit, harus kuat untuk menghadapi semuanya. Alamnya tidak boleh pergi, Alamnya tak boleh meninggalkan ia sendiri an. Jika ingin pergi maka ajaklah Amira.
Bagaimana Amira bisa hidup jika Alam tak ada di sampingnya. Rasanya hidup ini tak akan berarti tanpa Alam.
Walau Amira sudah mengetahui semua kebenaran. Tetap saja Amira berpura-pura tak tahu apa-apa. Masih berpura-pura kuat di depan kedua orang tuanya. Padahal, Amira sakit, Amira sekarat, ingin menjerit sekencang-kencangnya.
Namun, Amira tak lakukan itu, Amira tetap diam membisu dalam ruang hatinya sendiri. Amira cukup kuat untuk menerima kenyataan yang ada. Amira kuat untuk menghadapinya, Amira yakin Alamnya tak akan pernah menyerah untuk tetap berada di sampingnya.
Cklek ...
Buru-buru Amira menghapus air matanya ketika mendengar pintu kamarnya di buka. Nampaklah Melati membawa buah untuk putrinya. Agar Amira cepat pulih dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
Amira berusaha tersenyum agar sang mama tidak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri atas kesedihannya.
"Mama bawa buah, supaya seger dan cepat sembuh!"
"Terimakasih, Mah!"
Ucap tulus Amira menerima satu piring buah yang sudah kupas oleh Melati.
Melati duduk di bibir ranjang guna membantu Amira duduk benar.
Perlahan Amira memakan satu persatu potongan bermacam buah yang sengaja Melati siapkan hingga habis tanpa sisa.
Melati tersenyum bahagia karena pola makan Amira mulai teratur kembali.
"Mah!"
"Iya sayang,"
"Bolehkah Rara, menjenguk Om?"
"Sayang ..,"
__ADS_1
Lilir Melati terkejut mendengar permintaan sang putri. Apa selama ini putrinya sudah tahu bagaimana keadaan Alam. Bagaimana mungkin, tahu dari siapa. Sungguh, Melati benar-benar terkejut.
"Rara sudah tahu mah, bolehkah Rara pergi?"
Ucap Amira lagi meminta izin kembali, Melati hanya diam saja karena sulit untuk bicara. Bagaimana mungkin putrinya sudah tahu semuanya tapi bisa setenang ini. Bahkan tak menyalahkan dirinya dan tak menangis.
Terbuat dari apa hati Amira kenapa ia bisa setengah ini. Sungguh, Melati tak cukup tahu tentang putrinya sendiri. Kenapa bisa seperti itu. Dan kenapa harus orang lain yang jauh lebih memahami perasaan putrinya dari pada ia ibunya sendiri.
Ibu macam apa dia, sungguh Melati mengutuk dirinya sendiri karena belum mampu jadi ibu yang baik bagi Amira.
"Mah!"
Mohon Amira sekali lagi, menatap penuh permohonan pada sang mama. Bagaimana bisa Melati melarangnya sedang melihat tatapan sendu Amira saja sudah membuat hati Melati teriris.
"Iya, biar mama sama ayah yang mengantar. Kamu tak cukup kuat menyetir sendiri!"
Putus Melati membuat Amira tersenyum cerah.
"Kamu bersiap saja, mama mau ngasih tahu ayah dulu!"
Amira hanya mengangguk saja, Melati keluar dari kamar Amira guna memberitahu sang suami perihal keinginan Amira.
Sedang Amira sendiri ia bersiap mengganti baju. Jantung Amira rasanya berdebar kencang. Entah karena gugup atau senang ia akan bertemu Alam lagi. Atau lebih dari sekedar keduanya.
"Dear!"
Lilir Amira sambil memegang dadanya, setiap kali memanggil kesayangannya jantung Amira akan berdebar-debar.
Bahkan kali ini debarannya semakin kencang membuat Amira tak sabar ingin melihat bagaimana kondisi sang kekasih.
"Tunggu Aku!"
Gumam Amira lagi berusaha terlihat baik-baik saja.
Merasa sudah siap, Amira keluar kamar menuruni anak tangga dengan hati-hati karena kakinya masih terasa lemas.
"Sayang, kenapa gak nunggu mama!"
Protes Melati dengan cepat menghampiri Amira. Rasanya jantung Melati mau copot saja melihat putrinya dengan susah payah menuruni anak tangga.
Jek sudah siap di depan halaman rumahnya menunggu istri dan anaknya.
Dengan hati-hati Melati memapah Amira karena takut terjatuh. Jek yang melihat itu merasa miris dengan cepat menghampiri dua kesayangannya itu.
Grep ...
Dengan cepat Jek menggendong Amira ringan. Entah berapa kilo Amira turun berat badannya. Kenapa Jek merasa ringan menggendong Amira.
"Ayah!"
Ucap Amira terkejut tiba-tiba sang ayah menggendongnya.
"Biar cepat, jalan kaya kura-kura!"
Canda Jek membuat Amira mengerucutkan bibirnya. Rasanya Jek gemas sekali melihat putrinya yang mulai kembali merajuk.
__ADS_1
"Sudah duduk anteng sama mama!"
Ucap Jek lagi membuat Amira memilih diam saja. Tenaganya tidak cukup kuat untuk berdebat dengan Jek.
Merasa sudah aman, Jek segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Bunda Husna.
Karena takut Amira merasa pusing, Jek sangat hati-hati membawa mobilnya. Apalagi jalanan cukup macet.
Amira memegang tangan sang mama lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang mama. Tangannya terasa dingin membuat Melati menoleh.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"
"Rara baik mah!"
Jawab Amira cepat tak mau membuat sang mama khawatir. Pasalnya memang Amira tak tenang. Semakin sampai ke tujuan jantung Amira semakin kencang berdetak.
Hingga sampailah mereka di rumah sakit Bunda Husna.
"Tunggu sebentar jangan dulu turun!"
Ucap Jek tiba-tiba membuat Amira dan Melati mengurungkan niatnya.
Nampaknya Jek sedang bicara dengan petugas kesehatan. Tak lama Jek kembali sambil membawa kursi roda.
"Ayo!"
"Yah, Rara bisa jalan sendiri!"
"Jangan proses sayang, ayah tak akan membiarkan kamu kelelahan!"
Amira pasrah saja ketika sang ayah mendudukkannya di kursi roda. Jek langsung mendorong kursi roda tersebut.
Hingga sampai mereka di lantai Lima, dimana ruangan Alam berada.
"Sayang, jika belum kuat jangan di paksa?"
"Rara gak apa mah,"
Amira berusaha tetap tenang ketika sang ayah mendorong kursi roda semakin mendekat dan tepat berada di depan pintu ruang Alam.
Melati membuka pintu ruang Alam.
Cklek ...
Deg ...
Dinda diam mematung melihat siapa yang ada di hadapan dirinya. Melati menarik kembali tangannya ketika pintu terbuka dari dalam.
Mata Dinda berkaca-kaca melihat cucu nya yang duduk di atas kursi roda. Badannya terlihat kurus dengan tatapan sendunya.
"Nek!"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1