
Hari ini Amira izin tidak masuk kerja, dan memberikan tugasnya pada Rijal.
Amira tak masuk kerja karena semalaman Amira harus menjaga Vina yang tiba-tiba demam tinggi. Hingga tadi malam suasana cukup tegang apalagi Vina sampai kejang-kejang.
Syukurlah, pagi ini demam Vina menurun tidak seperti tadi malam. Dan, membuat Amira merasakan kantuk berat karena semalaman bergadang takut terjadi sesuatu pada Vina.
"Sayang, kalau kamu mau tidur tidur saja. Vina biar mama yang jaga!"
Ucap Melati merasa kasihan pada putrinya yang terlihat kantuk. Amira mengangguk lemah karena matanya sudah tak bisa di kompromi lagi. Namun, Amira masih bisa berjalan menuju ruang tamu. Tidak mungkin kan Amira tidur di samping Vina.
Amira langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kamar tamu. Tanpa menunggu waktu lama Amira sudah terlelap dengan damai. Bahkan nafasnya terdengar teratur.
Mata hari semakin naik ke permukaan melebarkan senyumnya ke setiap penjuru dunia.
Perlahan Vina membuka kelopak matanya. Kepalanya masih terasa pusing walau tak seberat semalam. Vina mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Amira.
Vina tak mendapati Amira berada di kamar. Vina merasa badannya begitu lemas dan sakit. Bagaimana bisa Vina sampai sakit di rumah orang dan menyusahkan mereka terutama Amira.
"Nak, kamu sudah bangun!"
Ucap Melati yang baru masuk kamar sudah melihat Vina bangun.
Melati meletakan nampan yang di atasnya ada semangkuk bubur.
"Bagaimana, apa sudah lebih baik?"
"Iya, maaf kalau Vina merepotkan kan Tante!"
Ucap Vina tulus karena merasa malu, baru kenal namun sudah merepotkan orang lain.
"Tidak sama sekali nak, sekarang makan bubur ya,"
Vina mengangguk kaku, memakan bubur yang di berikan Tante Melati. Bahkan buburnya masih hangat sedikit cocok di mulut Vin walau terasa sedikit pahit.
Tanpa menunggu waktu lama Vina sudah menghabiskan bubur tersebut, lalu minum obat.
"Istirahat lagi saja, badan kamu terlihat belum cukup pulih!"
"Emmz, Tan. Boleh Vina bertanya?"
Ucap Vina ragu, Tante Melati langsung menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghadap Vina.
"Amira ke mana?"
"Rara ada di bawah, sudah kamu istirahat saja. Mungkin sebentar lagi Amira akan naik!"
Jawab tante Melati sambil tersenyum sambil berlalu pergi.
Vina menghela nafas berat, kenapa hidupnya harus se menyedihkan ini harus di kasihani oleh orang lain.
Vina mengedarkan lagi pandangannya ke setiap sudut kamar Amira. Kamar yang luas dan begitu rapi. Bahkan banyak buku-buku yang tersusun rapi di lemari. Begitupun berbagai piala, piagam dari berbagai lomba dari mulai paud sampai kuliah. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan.
Vina menyingkap selimut, lalu beranjak dari ranjang. Vina melihat satu persatu piala yang berdiri gagah di lemari.
__ADS_1
Vina tersenyum melihat betapa berprestasi Amira. Namun, melihat Poto wisuda Amira Vina hanya bisa tersenyum kecut.
Kuliah adalah impian dia, namun karena keterbatasan Vina harus mengubur mimpi-mimpi nya itu. Walau begitu, Vina tetap bersyukur di bisa lulus SMK dan bisa bekerja di perusahaan besar seperti Q.B grup.
Usia Vina memasuki usia dua puluh tahun, tak banyak orang yang tahu usia asli Vina. Bahkan dengan Amira pun Vina lebih muda tiga tahun.
Vina melanjutkan melihat-lihat ke bagian Poto yang terpasang rapi di dinding. Dari mulai Poto keluarga sampai Poto waktu Amira sekolah SMA.
"Jadi, Amira benar-benar saudara Bos!"
Gumam Vina melihat Poto Amira bersama Alam. Walau Poto itu Poto waktu kecil namun Vina masih bisa mengenali nya karena wajah mereka mirip.
Mata Vina terus berjalan menuju Poto Amira waktu sekolah. Namun, Vina merasa heran kebanyakan Poto itu hanya tiga orang saja dan beberapa anak laki-laki.
"Apa ini teman-teman Amira waktu sekolah!"
Monolog Vina mengambil Poto yang ada di atas meja belajar Amira. Poto Amira bersama dua temannya.
"Gadis ini begitu imut, dan siapa ini. Ternyata Amira juga mempunyai teman bule!"
"Cantik dan manis!"
Monolog Vina lagi melihat Poto Bunga dan Shofi.
Bisa Vina tebak, jika mereka sahabat sejati karena terlihat dari poto-poto mereka selalu bertiga. Dan senyuman mereka nampak bahagia dan saling menyayangi.
Vina jadi merasa beruntung bisa kenal dengan Amira. Gadis pintar, baik, penyayang dan penolong.
Sesudah puas melihat-lihat Vina meletakan kembali Poto tersebut di tempat asalnya.
Vina memutuskan mandi karena merasa tak enak. Untung saja Tante Melati sudah memberinya baju ganti. Berharap sesudah mandi badan Vina terlihat segar kembali.
.
Sedangkan di kamar tamu, Amira masih damai dalam tidurnya. Bahkan Amira tak terusik sama sekali. Melati pun tak berani membangunkan putrinya yang masih tertidur. Karena merasa kasihan, apalagi mungkin Amira cukup kelelahan hari kemaren di tambah makanya bergadang dan Amira bisa tidur-tidur jam tujuh pagi sampai sekarang.
Dret ... dret ...
Ponsel Amira berdering menandakan ada panggilan masuk. Namun, Amira masih saja tidak terusik.
Dret ...
Ponsel Amira kembali berbunyi untuk ke sepuluh kalinya.
Amira mulai merasa terganggu oleh panggilan telepon. Bukannya menjawab Amira malah membiarkannya dan malah merubah posisi tidur.
Rasanya Amira benar-benar masih butuh perpanjang tidur namun sialnya ponsel Amira kembali berdering.
Karena kesal Amira mematikan ponselnya langsung agar tak ada yang menelepon lagi.
Di sebrang sana Alam langsung menatap nanar ponselnya karena tak ada satupun teleponnya yang di jawab oleh Amira. Bahkan terakhir malah di tolak, Alam berusaha menelepon lagi namun nomor Amira sudah tak aktif.
"Apa kamu marah!"
__ADS_1
Gumam Alam pelan menyangka kalau Amira masih marah padanya. Karena kemaren seharian memang Alam tak memberi kabar.
Deg ...
Amira bangkit dari tidurnya ketika sadar dengan apa yang ia perbuat. Bahkan rasa kantuk yang masih ada hilang seketika ketika mengingat sesuatu.
Dengan cepat Amira menyalakan ponselnya kembali sambil merutuki kebodohannya.
"Ayo lah, cepet nyala ... cepat nyala ...,"
Gumam Amira panik bahkan tangannya sampai gemetar.
Deg ...
Amira membulatkan kedua matanya melihat puluhan panggilan biasa dan panggilan Vidio call dari Alam. Ah, Amira benar-benar merutuki kebodohannya kenapa ia bisa se ceroboh itu.
Dengan cepat Amira menelepon balik, namun nomor Alam sudah tidak aktif lagi.
"Dear, maafkan aku. Jangan marah ya!"
"Tadi aku ketiduran, kemaren hari sangat berat. Maaf ya, I Love You!"
"I Love You!"
"I Love You!"
"I Love You!"
"Kangennnnnnš!"
Amira terus mengetik pesan walau Amira tahu WhatsApp Alam tidak aktif. Tapi, setidaknya Alam akan membaca pesan dia jika sudah aktif kembali.
Huh ...
Amira membuang nafas kasar benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Kenapa bisa se ceroboh itu. Amira hanya berharap, kekasihnya tak marah.
Amira sudah sangat kangen, apalagi kemaren mereka tak sempat bertukar kabar.
"Oh my good!!!"
Pekik Amira ketika dia baru sadar jika sekarang sudah jam dua siang. Dengan cepat Amira beranjak dari ranjang, pantas saja perutnya sudah terasa sangat lapar. Tanpa menghiraukan penampilannya yang acak-acakan. Bahkan rambut Amira seperti singa yang siap menerkam.
"Mama!"
Panggil Amira mencari sang mama ke dapur. Namun tidak ada. Karena sudah sangat lapar tanpa cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu Amira membuat sandwich.
Bahkan Amira nampak lahap sekali makannya seperti orang kelaparan saja.
Melati yang baru masuk habis dari taman rumahnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya yang seperti anak kecil.
"Kamu itu masih saja ceroboh, nak. Kamu memang putri mama!"
Gumam Melati tersenyum geli akan melakukan putrinya itu.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ....