Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 54 Kerapuhan Moreo


__ADS_3

"Sayang, kenapa melamun?"


Tanya Farhan pada Queen yang sedang duduk di ruang keluarga setelah selesai menidurkan Aksara.


Queen menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Dengan tatapan lurus ke depan.


Banyak pikiran yang sendari tadi siang Queen pikirkan. Namun, Queen belum dapat satu solusi apapun.


Queen bingung harus bersikap apa nantinya. Queen pribadi, ia tak melarang adiknya mencintai Amira. Namun, Queen bingung cara bicara dengan Jek masalah Alam dan Amira.


Queen tahu, Jek orang yang keras kepala sama seperti sang ayah, Angga. Dia tak akan pernah mendengarkan orang lain, ketika apapun yang menurutnya baik maka akan baik.


"Hubby, apa kamu tahu sesuatu?"


Tanya Queen pada sang suami, mustahil jika Farhan tak tahu apa-apa tentang masalah ini. Karena Queen tahu, sang suami selalu menempatkan penjagaan ketat pada semuanya.


"Tahu apa, bukankah Alam lebih percaya sama sayang, jika bercerita!"


Queen terdiam, memang benar apa yang di katakan Farhan. Alam bercerita semuanya pada dia. Namun, kejadian besar ini adiknya melangkah sendiri tanpa melibatkan dia.


Bagaimana Queen tahu, jika sang adik sudah memutuskannya sendiri.


"Sudah, jangan terlalu lelah memikirkan Alam. Hubby percaya, Alam tak akan berbuat lebih. Sayang tenang saja, sebentar lagi kita tahu di mana Alam berada!"


"Terimakasih Hubby, kamu selalu jadi yang terbaik!"


Farhan tersenyum akan godaan sang istri. Sungguh, Farhan tak habis pikir. Sang istri akan memujinya sesuka hatinya. Pujian itu akan meluncur bagaimana suasana hatinya saja. Bahkan anehnya, jika Farhan ingin di puji istrinya malah balik cuek.


"Kamu istriku yang unik!"


"Unik-unik begini, cinta mati hubby!"


"Iya ... ya .., sekarang tidur jangan banyak pikiran lagi. Biar hubby yang urus semuanya. Sayang terima beres!"


Ucap Farhan sambil menggendong sang istri lalu membaringkannya di atas ranjang.


Sesulit apapun urusan mereka, Queen dan Farhan selalu menciptakan hal romantis dalam hal apapun.


Berbeda dengan Jek dan Melati yang di buat pusing akan semuanya. Istrinya terus menangis sepanjang waktu dan menyuruh dia mencari Amira dan Alam.


Jek benar-benar marah dengan apa yang di lakukan putrinya. Bagaimana bisa Amira melakukan semua ini dan mempermalukan dirinya di hadapan pak Broto.


Sungguh Jek tak menyangka jika putrinya akan melakukan hal mengejutkan.


Bagaimana mungkin!


Jek seolah tak mengenal putrinya sendiri. Putrinya yang selalu menurut dan membanggakan keluarga di setiap tahunnya dan kini malah membuat ulah yang sangat besar.


Jek benar-benar tak akan memaafkan Alam. Jek yakin, semua ini karena Alam, Alam yang sudah mempengaruhi otak Amira hingga membuat Amira menjadi anak pembangkang.


Jek tidak akan melepaskan Alam begitu saja, Alam harus membayar mahal rasa malu yang Amira ciptakan.


"Cari kesemua pelosok, badara dan terminal. Jangan berharap kalian aman jika putriku tidak kalian dapatkan!"

__ADS_1


Bentak Jek pada anak buahnya, sungguh Jek sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi.


Sungguh, putrinya yang selalu menurut nyatanya bisa membangkang sedemikian hebat.


Entah kemana Alam membawa Amira pergi, jejaknya seolah terhapus oleh rintikan hujan.


Bagaimana mungkin, anak buahnya tak ada satupun yang membuahkan hasil.


Dan, sialnya Moreo juga belum bisa menemukan titik terang di mana Amira berada dan kemana dia pergi.


Bahkan Moreo juga tak tahu tempat-tempat mana saja yang sering Amira datangi. Apalagi Amira tidak suka nongkrong ataupun makan di luar kecuali jika terlibat kerja.


Moreo mendatangi tempat-tempat yang pernah Amira datangi. Namun, tak satu orangpun yang yang melihat.


Entah kemana lagi Moreo harus mencari.


Akhhh ....


Jerit Moreo meluapkan kekesalannya di keheningan malam. Dada Moreo sesak, sakit yang tak bisa di jabarkan. Bahkan untuk sekedar bernafas pun rasanya sulit.


Moreo menangis sejadi-jadinya, sungguh entah yang ke berapa kalinya Amira mematahkan hati Moreo. Sungguh, penolakan dan penolakan yang Amira ucapkan. Kenapa sesulit itu menerima dirinya. Apa kurangnya dia kenapa seperti ini.


Moreo pikir, dengan menjerat Amira pada perjodohan Amira akan menerima dirinya. Namun, nyatanya salah.


Moreo pikir Amira tak akan tega menyakiti hati kedua orang tuanya nyatanya Amira lakukan.


Sungguh, rencana yang sudah Moreo susun nyatanya tak sempurna yang di bayangkan.


"Aku mencintaimu, Ra. Aku mencintaimu Amira!!!"


Tes .. tes ...


Rintikan hujan mulai turun membasahi bumi. Lama kelamaan menjadi lebat, bahkan badan Moreo sudah basah kuyup. Namun, Moreo tak peduli.


Moreo terus saja menangis meraung dengan rasa sakit selama ini. Harus sampai kapan, Moreo harus menunggu.


Sampai kapan!


Kenapa cintanya selalu di tolak oleh orang yang sama. Sudah enam tahun Moreo menunggu momen ini. Tapi, nyatanya hasilnya tetap sama.


Hatinya patah entah yang ke seberapa kali.


Mampukah Moreo bangkit kembali, kenapa sesakit ini mencintai. Bahkan jika Moreo bisa memilih. Moreo tak mau jatuh cinta jika rasanya akan nyeri.


Moreo terus saja meraung dengan tangisan yang tiada henti di bawah derasnya hujan. Haruskah sekarang Moreo menyerah. Menyerah membiarkan cinta nya bahagia dengan orang lain.


Mampu kah Moreo kuat untuk mengikhlaskan, cinta pertama nya bahagia dengan yang lain.


Sungguh, membayangkan nya saja Moreo tak sekuat itu.


Moreo tak pernah segila ini mencintai, namun Amira mampu membuat Moreo hilang akal.


Jangan temui aku, jika hatimu masih sama. Maka, kamu perlahan sama saja membunuhku!

__ADS_1


Moreo semakin mencengkram tangannya ketika bayangan ucapan Amira terngiang di telinganya.


Dan kau, aku tak pernah mengenal mu. Sahabatku tak akan pernah berbuat curang pada sahabatnya sendiri!


kenapa kau tega lakukan ini hah, sudah berapa kali aku katakan jangan paksa aku!


Dan sudah aku katakan, aku tak bisa kenapa kamu selalu memaksa aku!


Aku tak mengenal dirimu!


Akhhh ...


Moreo menjerit lagi ketika bayangan-bayangan ucapan Amira terus menghantuinya.


Amira benar-benar marah pada dia, kenapa Moreo bisa se ceroboh ini.


Jika sudah begini, masih adakah kesempatan bagi Moreo mengenal Amira lagi. Moreo yakin, Amira membenci dirinya.


Tidak!


Itu tidak boleh terjadi. Amira tak boleh membencinya. Moreo tidak akan sanggup hidup jika Amira sampai benar-benar membenci nya.


Moreo mengutuk dirinya sendiri, kenapa ia bisa melakukan hal gila ini. Bukankah Amira sudah memperingati nya. Namun, Moreo sudah di butakan oleh api cemburu pada Alam.


"Ti-tidak .. tidak Ra, jangan benci aku!"


Ucap Moreo merangkak seolah di hadapannya ada Amira.


"Jangan benci aku, maafkan aku. Maafkan aku hiks ..,"


"Ra, jangan pergi, aku mohon!!!"


Ucap Moreo terus merangkak seolah ia melihat ada Amira yang sedang menatapnya penuh kekecewaan dan kebencian. Bahkan mata Amira memerah menatap tajam Moreo.


"Ra tunggu!!"


Teriak Moreo berlari mengejar bayangan Amira yang terus berjalan tanpa mempedulikan Moreo.


Hingga tanpa Moreo sadari, ia berjalan menuju ketengah jalan.


Di ujung sana ada sebuah mobil yang melaju. Karena derasnya hujan membuat si pengemudi sulit untuk melihat Jalan.


Tiba-tiba Moreo berlari ketengah jalan membuat si pengemudi menekan klakson.


Tid ... tid ... tiddddd!!!


Moreo membulatkan kedua matanya ketika sebuah cahaya menyorotinya. Dengan suara klakson yang begitu nyaring terdengar.


Sang pengemudi membulatkan matanya juga karena terkejut melihat Moreo malah diam mematung sambil mengangkat tangannya menutupi kedua mata akibat cahaya mobil.


Tiddd!!!!


Bruk ...

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah,, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2