Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 96 Kepergian yang membuat semua patah


__ADS_3

11 Maret 2016 ...


Hari ini nyatanya kehidupan nampak berbeda. Seolah hidup namun kehidupan itu tak ada. Berdiam diri di ruang kedap suara tanpa ada bisikan-bisikan cinta yang terdengar. Tak ada bisikan-bisikan kasih sayang penuh kelembutan yang membelai.


Semua nya sudah berubah, andai saja waktu bisa terulang kembali, mungkin semua nya tak akan seperti ini.


Mungkin, ceritanya juga berbeda dari yang terlalui.


Sebuah cerita yang begitu banyak rasa yang tak bisa di ulang kembali.


Mustahil untuk bisa mengulangnya, karena semua tak akan pernah terjadi.


Tatapan kosong yang terpancar kesedihan yang mendalam. Bibir yang selalu mengoceh kini tertutup rapat seolah enggan untuk bicara. Bahkan tak ada setitik senyuman pun dari bibirnya. Seolah senyuman itu juga ikut pergi dengan pemiliknya.


Dear ...


Panggilan itu sudah tak ada lagi, bahkan enggan untuk sekedar mengucap.


Dear ...


Sekali lagi Amira memanggil nama itu dari hati terdalamnya. Debaran itu masih ada seolah sang pemilik nama masih ada. Ada di sampingnya menemani kesunyian relung hati Amira.


Tak ada yang bisa Amira lakukan selain hanya diam dengan kesunyian hati nya.


Jangan di tanya bagaimana perasaan Amira saat ini.


Hancur!


Hati Amira sangat hancur ketika sang pemilik hatinya pergi untuk selama-lamanya. Ucapannya seolah nyata, ingin merasakan tendangan kehidupan walau tak melihat.


Seolah itu sudah menjadi diksi yang sudah tertulis dan takdir yang tak bisa di hindari.


Tak ada satu orangpun yang berani menyapa, bahkan semua keluarga pun hanya diam memandang Amira dari kejauhan.


Tak bisa membelai dengan kasih sayang seolah menyampaikan ke kuatan. Mereka hanya takut, Amira akan kembali rapuh jika mereka salah berucap.


Mentari tersenyum memancarkan cahaya kehidupan yang indah namun nyatanya bagi Amira kehidupan itu sudah tidak ada lagi. Bahkan dirinya sendiri hampir sekarat.


Seulas senyum terukir di bibir pucat Amira sambil mengelus perut buncitnya.


Hampir saja baby yang dia jaga sepenuh hati pergi juga meninggalkannya.


"Nak,"


Lilir Amira menatap mentari yang mulai masuk menyinari perutnya.


"Tersenyum lah seperti mentari, berikan kehidupan bagi siapapun. Jadilah anak yang kuat seperti papa. Maaf jika ibu juga tak bisa menemani kamu tumbuh,"


"Jangan marah pada ibu ya, ibu sayang kam ..


Awwsss ..,"

__ADS_1


Amira sedikit meringis ketika anaknya menendang seolah anaknya menjawab bahwa ia tak pernah marah atau membenci keputusan sang ibu.


"Apa kamu tak marah, jika iya tolong menendang lagi ..,"


Pinta Amira penuh harap agar Amira juga tenang jika memang ia benar-benar harus pergi.


Awwss ...


Amira kembali meringis ketika anaknya menendang kembali, namun kali ini ringis-an Amira di barengi dengan senyuman seolah Amira kini merasa lega jika benar-benar harus pergi.


Amira memandang jauh kedepan, dengan perasaan baru seolah Amira baru mendapatkan ke kuatan.


Seolah akan ada kehidupan yang menanti yang akan selalu membaca setiap diksi-diksi cerita perjalanan Amira dan Alam hingga perjalanan mereka akan selalu terkenang.


Selalu teringat oleh jiwa-jiwa yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta Amira dan Alam.


Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, ketika sebuah Zat Heterogen bisa bersatu karena adanya cinta dan kasih sayang di dalamnya. Sampai Zat itu tak bisa di pisahkan lagi seolah jalan mereka harus seperti itu.


Amira tak akan menyesal dengan keputusannya karena ini sudah di takdirkan.


"Ra,"


Sebuah panggilan membuat Amira menoleh, Amira tersenyum dengan bibir pucat nya. Melihat dua sosok yang berkaca-kaca melihat bagaimana keadaan sahabat nya.


Bunga dan Shofi mendekat dengan bibir bergetar. Sungguh mereka tidak tahu keadaan apa yang telah Amira jalani.


"Ra,"


Shofi dan Bunga memeluk Amira dari samping kiri kanan.


Kini tangisan mereka pecah begitu saja, tangisan itu tak bisa di bendung lagi.


Sungguh Bunga tak menyangka dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Mendengar kabar dari Moreo membuat Bunga dan Raja langsung terbang ke Indonesia bahkan baru pagi ini mereka sampai dan langsung meluncur ke rumah sakit walau mereka menyesal tak bisa menghadiri acara pemakaman Alam.


Begitu pun dengan Shofi yang seolah berita ini bak petir yang menyambar menghantam dadanya. Bagaimana tidak shok jika kehidupan sahabatnya se-miris ini.


Mereka tak pernah ada di saat Amira membutuhkan. Dan, sekarang melihat keadaan Amira seperti ini membuat Shofi merutuki kebodohannya sendiri.


Sahabat macam apa dia yang tak ada di saat sahabat nya sedang membutuhkan. Andai saja Fatih tak memberi tahunya mungkin Shofi tidak akan pernah tahu apa-apa.


Walau pertemuan mereka juga tak bisa di bilang baik. Apalagi Shofi harus berjuang mengembalikan ingatan Fatih.


Bahkan semua keluarga juga terkejut ketika melihat Fatih datang bersama Shofi. Orang yang empat tahun tak ada kabar sama sekali.


Dan, kini muncul dalam keadaan yang tak baik-baik saja.


"Ra, kami di sini. Kami ada untuk kamu, maaf karena aku baru berkunjung,"


Sesal Shofi mengeratkan pelukannya begitu pun dengan Bunga.


Amira hanya diam saja dengan tangis yang menjawab semua. Dulu mereka bersama-sama dan keadaan yang membuat mereka berjauhan dan kini mereka kembali dalam situasi yang begitu rumit.

__ADS_1


Bunga dan Shofi bahkan tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Amira. Apalagi tadi om Jek sempat menjelaskan kalau Amira sedang sakit parah.


Yang lebih terkejut lagi di sini Shofi, karena Shofi yang tak tahu apa-apa tentang Amira. Kapan Amira menikah, hamil dan kini keadaan Amira tak baik-baik saja.


Karena keegoisan seseorang membuat Shofi harus kehilangan kontak semuanya. Bahkan Shofi tak tahu apa-apa tentang kedua sahabatnya terutama Amira.


Kenapa om Farhan sekejam itu pada Shofi, demi menjauhkan dia dengan Fatih membuat Shofi juga jauh dari kedua sahabatnya bahkan Shofi sama sekali tak tahu apa-apa.


"Kamu tak sendirian lagi, ada kami!"


Awwss ...


"Ra, kamu kenapa Ra ..,"


Panik Shofi dan Bunga melihat Amira merintih kesakitan. Bunga dan Shofi tak bisa membendung kesedihannya.


Bunga langsung menekan tombol darurat berharap dokter segera datang.


"Ra, kamu tenang Ra, hiks ..,"


Sungguh Bunga dan Shofi tak kuat untuk sekedar menenangkan Amira sedang mereka sendiri tak bisa menahan tangis.


Sang dokter dan beberapa perawat masuk kedalam membuat semua keluarga nampak terkejut.


Mereka langsung berdiri melihat dari balik kaca pintu ruang rawat Amira.


Bunga dan Shofi segera menyingkir membiarkan dokter menangani Amira. Mereka berdua keluar karena memang menyuruh Shofi dan Bunga keluar.


Bunga dan Shofi saling pegang tangan karena tak sanggup melihat keadaan Amira yang seperti itu.


Sungguh perjalanan yang begitu berat Amira lalui. Amira hanya berharap anaknya bisa selamat pada waktunya.


Tim medis bekerja keras semampu mereka untuk menyelamatkan Amira dan baby-nya.


Di luar semua keluarga nampak cemas. Mereka belum sanggup jika harus kehilangan anaknya lagi.


Belum satu hari kepergian Alam mereka tak sanggup jika harus Amira pergi juga.


Shofi menatap tajam om Farhan, seolah kemarahan Shofi terpancar jelas di sana.


Membuat suasana tegang menjadi tegang kembali.


Mereka tak ada yang menyadari itu, karena pikiran mereka tertuju pada Amira.


Berharap Amira akan baik-baik saja.


Melati, entah sudah berapa kali ia pingsan karena tak sanggup melihat anaknya seperti itu. Bagaimana bisa Amira mengambil keputusan yang sangat rumit.


Tak pernahkah Amira memikirkan kedua orang tuanya jika ia pergi, kenapa Amira malah memilih jalan ini.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2