
Jek dan Fandi yang mendapat kabar dari istri-istri kalau Alam sudah sadar langsung tanpa pikir panjang meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Bagi mereka putra mereka lebih penting dari sekedar pekerjaan mereka sendiri.
Begitupun Queen dan Farhan langsung menuju rumah sakit pulang dari menjemput Aksara.
Mereka sangat bersyukur karena Alam sudah sadar. Ini sudah dua Minggu pasca Alam koma.
Kini penantian mereka tak sia-sia, Alam mereka sudah sadar. Sungguh ini Sebuah keajaiban yang begitu indah.
Bahkan dokter Raftha pun ikut senang melihat kebahagiaan keluarga Prayoga dan Al-biru.
Dengan sangat hati-hati dokter Raftha memeriksa Alam. Bahkan pertanyaan yang selalu dokter Raftha sampaikan terdengar berbisik-bisik.
Entah ada ada dengan dokter Raftha, kenapa memeriksa Alam sambil berbisik-bisik.
Bahkan ketika memeriksa denyut jantung Alam dokter Raftha begitu pelan dan lembut seolah takut menyakiti Alam.
Bukan tanpa sebab dokter Raftha memeriksa Alam dengan hati-hati bahkan cukup pelan. Bahkan Dinda dan Melati pun berusaha menahan suaranya agar Isak tangisnya tidak keluar.
Kerana Alam mengisyaratkan jangan sampai tidur Amira terganggu.
Ya, Alam membiarkan saja Amira tidur memeluk dirinya. Untung saja Amira memeluk Alam di bagian yang memudahkan dokter Raftha memeriksa Alam.
Begitu pulas nya Amira tertidur sampai-sampai tak mendengar dan tak terusik sedikitpun oleh gerakan dokter Raftha.
Mungkin, karena semalaman Amira menangis hingga tidur larut malam. Apalagi Amira harus terbangun di subuh hari dan baru bisa tidur lagi di siang hari. Alam membiarkan saja, Amira terus tertidur.
Bahkan dokter Raftha ingin sekali tertawa melihat wajah polos Amira yang tertidur tak terusik sama sekali.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?"
Tanya pelan Dinda pada dokter Raftha yang baru selesai memeriksa Alam.
"Keadaan pasien bagus, tak ada yang perlu di khawatir kan. Bahkan saraf-saraf ototnya juga berjalan dengan normal. Namun, saya harus memastikan di bagian intinya, apa ada keluhan atau tidak. Kita lihat saja bagaimana reaksi pasien selanjutnya!"
Jelas dokter Raftha membuat Dinda dan Melati bernafas lega.
Setelah menjelaskan lebih detailnya dokter Raftha langsung pamit undur karena masih banyak pasien lagi yang harus ia periksa.
Apalagi dokter Raftha sudah ada janji bersama istri tercinta nya.
Dinda menatap Alam dengan mata berkaca-kaca. Dinda mendekat kearah sang putra sambil menahan tangisnya. Karena Dinda tahu, putranya tak mau membuat Amira terbangun dari tidurnya.
Sungguh pemandangan yang sangat indah bukan.
"Mah,"
Ucap Alam lemah ketika sang mama sudah berada di hadapannya begitupun dengan Melati.
"Sayang!"
Sungguh Dinda tak bisa menahan rasa harunya lagi melihat putranya sudah membuka mata. Dinda bertubi-tubi mencium wajah Alam. Rasanya tidak puas sampai di situ. Namun, Dinda faham dia tak bisa leluasa memeluk sang putra karena ada Amira yang mulai terusik dari tidurnya.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau berjuang!"
Lilir Dinda dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Terimakasih doa nya mah!"
Ucap Alam pelan bahkan seperti bisikan. Namun Dinda cukup dengan jelas mendengarnya karena Dinda sangat dekat sekali.
__ADS_1
"Jangan banyak bergerak dulu, kamu baru sadar!"
Cegah Dinda ketika Alam ingin memeluk nya dengan sebelah tangan Alam.
Alam melirik kearah Melati yang berada tepat di belakang sang mama.
"Terimakasih sudah bangun,"
Ucap tulus Melati membuat Alam hanya tersenyum saja.
Cklek ...
Alam, Dinda dan Melati langsung berbalik ketika mendengar suara pintu di buka. Dengan cepat Dinda dan Melati saling pandang. Lalu mereka berlari menuju pintu.
"Dad, sayang!"
Panggil Dinda dan Melati barengan ketika Fandi dan Jek masuk kedalam.
Dinda dan Melati kompak menyuruh suaminya diam. Jangan banyak omong karena Alam sudah berpesan jangan terlalu ribut, Amira sedang tidur dan belum tahu apa-apa.
"Kenapa?"
Tanya Jek dan Fandi barengan kerena merasa bingung dengan tingkah istri mereka yang membekam mulut mereka.
"Amira sedang tidur, ia belum tahu jika Alam sudah sadar. Alam meminta kita jangan terlalu berisik takut menggangu tidur Amira"
Jek dan Fandi mengangguk saja, sekarang mengerti dengan situasinya.
Fandi dan Jek mendekat kearah Alam. Fandi tersenyum melihat putranya benar-benar sudah siuman.
"Terimakasih sudah berjuang nak,"
Ucap Fandi pelan sambil mengelus rambut Alam. Alam hanya tersenyum saja karena memang belum cukup kuat banyak bicara.
Kini Jek yang bicara menatap penuh penyesalan. Andai saja waktu itu Jek bisa mengontrol emosinya. Mungkin Alam tak akan mengalami hal ini.
Namun, semuanya bukankah sudah terjadi dan tak bisa di ulang lagi.
Kini mereka hanya bisa memperbaiki semua nya. Sebelum ada penyesalan yang kedua.
"Om Alam!!!"
Teriak Aksara membuat semua yang ada di dalam menoleh. Dinda langsung menghampiri cucu bungsunya.
"Nenek, apa om sudah sembuh!"
"Iya sayang, namun jangan berisik juga ya. Omnya istirahat!"
Aksara mengangguk patuh lalu mendekat bersama Queen dan Farhan.
Queen tersenyum menatap sang adik yang sudah siuman. Begitupun Alam membalas senyuman sang kakak. Namun, Queen terlihat geli melihat Amira yang masih tertidur nyaman, damai, tanpa terusik sedikitpun.
"Bunda kok, kak Rara tidur peluk Om Alam?"
Bisik Aksara pada Queen, Bocah itu selalu saja penasaran dengan apa yang orang dewasa lakukan.
"Kak Rara kelelahan, gak apa!"
"Aksa juga mau bobo nanti peluk sama Bunda boleh?"
"Boleh, tapi minta izin dulu sama papa!"
__ADS_1
"Hore!!!"
Girang Aksara dengan cepat Queen langsung menutup mulut putranya. Ketika melihat Amira mulai terusik.
"Emmz ..,"
Gumam Amira mengeratkan pelukannya dan sedikit mencari tempat nyaman.
Semua orang menahan nafas termasuk Alam sendiri. Mereka kira Amira akan bangun.
Alam melihat tangan Amira yang melingkar erat di perutnya. Lalu Alam menatap satu persatu orang-orang. Alam memohon supaya di tinggalkan.
Melihat tatapan Alam yang memelas membuat mereka faham jika Alam butuh privasi.
Semua orang keluar meninggalkan dua manusia yang sedang melepas rindu.
Walau Queen harus membujuk putra kecilnya keluar.
Hingga tinggal Alam dan Amira saja di dalam.
Perlahan tangan Alam terulur, mengelus rambut Amira yang berada di pundaknya.
Alam sedikit cukup sulit bergerak, karena posisi Amira yang memeluk erat tubuhnya. Alam hanya bisa menggerakkan tangannya saja.
"Dear,"
Deg ...
Alam diam mematung mendengar Amira memanggil namanya. Bahkan tangannya yang ingin mengelus rambut Amira tertahan di udara.
Alam menahan nafas, Apa Amira sudah bangun atau belum. Melihat Amira yang masih memejamkan kedua matanya membuat Alam bernafas lega.
"Emmz ..,"
Tak lama terdengar suara gumaman lagi khas orang baru bangun tidur. Kali ini Amira benar-benar membuka kedua matanya.
Perlahan Amira bangun, orang yang pertama Amira lihat adalah wajah tampan Alam yang matanya masih tertutup.
"Nyatanya cuma mimpi, aku pikir om benar-benar sudah sadar!"
Gumam Amira dengan mata sayu nya, pikirannya belum benar-benar berkumpul.
Cup ...
Alam mengeratkan pejam an matanya ketika Amira mengecup bibirnya. Lalu Amira kembali menjauhkan wajahnya lagi, karena sudah puas menyesap bibir Alam.
"Cepat bangun, Dear. Aku rindu!"
Bisik Amira kini di telinga Alam, suaranya begitu lembut mengalun indah di telinga Alam. Apalagi suara Amira serak-serak khas orang bangun tidur.
"Ya Ampun, sudah sore. Om harus di lap,"
Pekik Amira tertahan, dengan cepat Amira berusaha bangun.
Deg ...
Namun, sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Membuat Amira terdiam kaku, bahkan tubuhnya mematung bak orang bodoh.
"Cinta!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...