
Sendari tadi Amira hanya diam saja karena masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Orang yang sudah dua hari Amira benci dan rindukan tiba-tiba muncul dan membawanya pergi.
Sungguh Amira tak habis pikir dengan pikiran omnya itu. Kenapa Alam selalu saja bisa menjungkir balikkan perasaannya.
Orang yang di tatap hanya cuek saja bahkan seolah tak peduli dengan tatapan Amira yang sendari tadi menatapnya.
Hingga mobil yang di tumpangi mereka berhenti di sebuah hotel.
Alam kembali menggendong Amira, kali ini Amira tak protes ataupun memberontak seperti awal tiba-tiba Alam menggendongnya.
Tatapan Amira masih terpaku saja pada Alam yang menggendongnya. Bahkan Amira tak peduli dengan orang-orang di sekitar. Karena bagi Amira, Alam adalah objek dunianya.
Alam dengan hati-hati mendudukkan Amira di atas shopa. Lalu Alam membuka jas yang ia kenakan.
"Kenapa nekad, sudah tahu gak pernah naik motor!"
Ucap Alam lembut sambil menarik kedua kaki Amira dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Bagaimana kalau tadi jatuh, bahkan ini kaki masih gemetar!"
Alam masih saja bicara sambil memijit kaki Amira lembut berharap kaki Amira tak kaku lagi.
Amira diam saja tak peduli dengan apa yang Akan ucapkan. Mata Amira hanya memandang orang di depannya saja yang nampak berubah.
Wajah yang sudah dua hari sulit membuatnya tidur nyenyak. Wajah yang sudah dua hari menyakiti hatinya. Dan wajah yang sudah dua hari begitu Amira rindukan. Kenapa sekarang Amira terlihat lemah.
Bukankah empat tahun bukan waktu yang mudah bagi Amira memendam rindu. Tapi kenapa dia hari sudah membuat Amira sekarat Bahakan kini mata Amira mulai berkaca-kaca.
Alam menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar suara isakan kecil dari bibir Amira.
Deg ...
Alam terpaku melihat gadisnya menangis dengan bibir gemetar. Bahkan Amira sampai mengigit bibir bawahnya agar tangisan itu tak terdengar keras.
"Maaf!"
Lilir Alam dengan sekali gerak sudah membuat Amira pindah keatas pangkuannya. Alam memeluk erat wanita yang sudah di sakitinya.
Tangisan Amira semakin menjadi ketika Alam memeluknya erat.
"Jahat ..., jahat!!"
Lilir Amira memukul-mukul kecil dada bidang Alam. Sungguh Amira sangat marah benar-benar marah kenapa Alam selalu bersikap seenaknya saja.
"Lepas, Rara benci om!"
Sentak Amira mulai memberontak ketika Alam semakin memeluknya erat.
"Om jahat, Rara benci om!"
Amira terus saja memberontak ingin terlepas dari dekapan Alam. Amira masih marah dan belum memaafkan perbuatan omnya tapi kenapa omnya malah memeluknya bukannya meminta maaf dengan benar.
"Lepas om lepa--"
Deg ...
Amira membulatkan kedua matanya ketika bibirnya di bungkam oleh benda kenyal nan lembut.
Bahkan Amira mencengkram kerah baju Alam ketika Alam menekan ciumannya. Otak Amira seolah bleng dengan apa yang terjadi. Bahkan tubuh Amira seketika menjadi lemas dengan mata yang masih mengerjap-enjap lucu.
Alam melepaskan ciumannya ketika merasa Amira tak memberontak lagi.
Plak ...
__ADS_1
Satu tamparan melayang di pipi Alam dengan Amira yang langsung beranjak dari pangkuan Alam. Amira benar-benar sangat marah dengan apa yang Alam lakukan. Kenapa Alam seenaknya memperlakukan dirinya. Sungguh Amira tak mengerti dengan apa yang Alam lakukan.
Amira menatap sengit omnya yang terdiam dengan tatapan dingin.
"Apa yang om lakukan, kenapa memperlakukan Rara seperti ini hiks ..,"
"Maaf!"
Hanya kata maaf dan maaf yang keluar dari mulut Alam sambil berjalan mendekat.
"Di sini sakit om, kenapa om tega menghancurkan Rara!"
Teriak Amira benar-benar sangat marah bahkan omnya berani mencium dia lagi tanpa persetujuannya.
"Maaf!"
"Maaf dan maaf, Rara gak butuh maaf om. Yang Rara butuh jelaskan apa yang om lakukan!"
Kesal Amira sambil mengguncang tubuh jangkung Alam yang hanya mengeluarkan kata maaf dan maaf saja sambil menunduk.
Karena kesal Amira menangkup pipi Alam supaya melihat kearahnya.
Deg ...
Amira terpaku ketika melihat mata Alam yang berkaca-kaca bahkan air itu sudah menetes deras membasahi pipi Alam.
Dengan perlahan Alam menangkup pipi Amira juga.
"Maafkan om, om menyesal!"
"Mencium Rara,"
"Sudah menyakiti wanita yang om cintai!"
Duarr ...
Apa?
Menyakiti wanita yang omnya cintai!
Bolehkah Amira menangis mendengar pengakuan cinta dari omnya, apa wanita yang omnya maksud adalah dirinya.
Amira diam membeku seolah ini hanya mimpi berharap waktu berhenti sejenak agar Amira bisa memastikan bahwa apa yang Alam maksud adalah dirinya bukan wanita lain.
"Si-siapa wanita yang om maksud!"
Gagap Amira memastikan bahwa apa yang dia pikirkan benar.
"Amira Putri Jacob Prayoga!"
"Om ..,"
Alam kembali mencium keponakannya sendiri. Wanita yang sendari kecil sudah mencuri perhatiannya.
Wanita yang sudah berani mencuri ciuman pertamanya waktu kecil. Alam mengingatnya, walau Alam yakin Amira tak mengingat kejadian itu.
Alam tak masalah yang terpenting ciuman dewasanya dia juga orang pertama yang mendapatkannya.
Amira mungkin lupa namun, sampai kapanpun Alam akan selalu mengenang momen itu. Momen di mana Amira terjatuh dari pohon dan menimpa dirinya.
Itulah ciuman pertama mereka Alam masih mengingat jelas di ingatannya.
Amira yang awalnya hanya diam karena masih shok dengan pengakuan Alam kini membalas setiap rasa manis yang Alam berikan.
Bahkan sekarang rasanya berbeda, tak ada paksaan dan keterpaksaan. Dua-duanya sama-sama menginginkan.
__ADS_1
.
Sesudah meluapkan rasa rindu yang dulu menyesakan dengan sebuah ciuman yang menggebu. Kini Alam dan Amira sama-sama diam duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke ranjang.
Tangan mereka saling genggam satu sama lain. Tak ada yang mau memulai pembicaraan di antara mereka. Hanya kesunyian di dalam kamar hotel tersebut.
"Ra, Om!"
Mereka berdua memanggil bersama kemudian terdiam kembali. Hingga terdengar kekeh an dari keduanya. Karena merasa lucu bercampur canggung yang benar-benar menghilangkan keberanian mereka berdua untuk memulai percakapan.
Kalau sudah seperti itu, akan di bawa kemana hubungan mereka.
"Ra!"
Panggil Alam lembut tak ada nada dingin ataupun ketus. Alam mencium punggung tangan Amira lembut.
"Maukah menjadi kekasihku?"
"Terimakasih!"
Ucap tulus Alam ketika Amira mengangguk sambil tersenyum manis padanya.
"Jangan menangis!"
Ucap Alam lembut menghapus air mata yang keluar dari mata Amira.
"Rara bahagia, benar-benar bahagia!"
Ucap haru Amira karena rasanya kini telah terbalaskan. Tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
Namun, senyuman Amira seketika lenyap. baru menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Kenapa?"
"Wajah om kenapa bisa ada luka seperti ini?"
Cemas Amira baru sadar kalau wajah tampan Alam ada bekas pukul di beberapa titik.
"Biasa masalah laki-laki!"
Jawab Alam santai, membuat Amira mengerucutkan bibirnya.
"Jangan di pikirkan, besok juga pasti sudah hilang. Jangan rusak momen ini dengan kecemasan kamu!"
Ucap Alam meyakinkan sambil menarik Amira ke dalam pelukannya.
"Apa sekarang kita sepasang kekasih?"
"Menurut mu!"
"Bagaimana dengan kedua orang tua kita?"
"Bisakah kita sembunyikan dulu hubungan kita!"
"Bagaimana kalau mereka semua menentang hubungan kita. Apa om akan terus memperjuangkan Rara!"
Alam terdiam karena dia sendiri pun bingung. Apakah harus terus berjuang akan hubungan mereka atau Alam akan menyerah.
Sedang Alam sudah tahu jawabannya, jika kedua orang tua mereka akan menentang keras hubungan mereka.
Bahkan bekas luka di wajah Alam adalah jawaban betapa menentangnya kedua orang tuanya.
"Bisakah kita seperti ini dulu!"
Amira hanya mengangguk pasrah saja. Berharap Alam tak menyembunyikan apa-apa darinya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...