Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 30 Rencana Amira


__ADS_3

Amira pulang dengan hati gelisah. Amira rasanya ingin kembali ke apartemen menemani sang kekasih di sana.


Namun, Alam memaksa Amira untuk pulang jangan sampai membuat Melati khawatir.


Tapi, se gelisah apapun Amira akan kembali bersikap biasa saja di depan orang lain. Seolah memang Amira tak ada beban.


Halnya sekarang, ketika Amira baru saja sampai rumah. Di mana sudah ada sang mama menyambutnya.


Amira tersenyum lepas tanpa beban sambil mencium pipi kanan kiri Melati.


"Mama dari mana, tumben pakaian formal?"


Tanya Amira basa-basi seolah memang tak terjadi apa-apa.


"Mama habis pulang dari arisan!"


Bohong Melati, karena tak mungkin Melati mengatakan habis pulang dari rumah Fandi. Bisa-bisa Amira curiga, jika dirinya juga terlibat. Maka, kalau itu ketahuan, sudah bisa di pastikan Amira akan marah besar. Bahkan sama Jek saja Amira belum bertegur sama bagaimana kalau Amira tahu, dirinya juga ikut terlibat maka di pastikan Amira juga akan sama mendiamkannya. Dan, tentu itu akan membuat Amira semakin jauh dan sulit di bujuk.


"Ya, sudah. Rara ke kamar dulu!"


Pamit Amira langsung beranjak menaiki anak tangga.


Melati hanya bisa menautkan kedua alisnya melihat tingkah putri ya yang bersikap biasa saja.


Apa Alam tak bercerita pada Amira dengan apa yang terjadi. Seperti nya tidak, terbukti Amira masih bersikap hangat pada ya.


"Terserah, lakukan apa yang ingin kalian lakukan untuk memisahkan kami. Tapi, saya harap kalian tak menekan Amira seperti yang kalian lakukan pada saya. Jika kalian tak ingin Amira benar-benar pergi!"


Melati menghela nafas berat mengingat ancaman Alam. Sepertinya apa yang Alam ucapkan benar. Melati tak boleh gegabah dalam bertindak. Jangan sampai Amira tahu, jika dia juga tak merestui hubungan mereka.


Entah akan ada badai apa yang terjadi jika Amira benar-benar mengetahui jika kedua orang tuanya juga turut adil bahkan memang berencana memisahkan mereka dan menjodohkan Amira dengan Moreo.


Tapi, apa alasan Alam tak menceritakan kebenaran itu. Dan, memilih tetap bungkam pada Amira.


Melati tak terlalu memikirkan itu, apapun alasannya Melati tahu di hati Alam masih ada setitik keraguan.


Tak lama Jek pun pulang karena dia tak langsung pulang bersama istrinya karena ada urusan di luar.


"Apa baik-baik saja?"


Tanya Jek pada istrinya.


"Iya, sepertinya Alam tak mengatakan apapun pada Amira!"


"Syukur lah!"


Lega Jek setidaknya Alam tak membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih rumit.


Apalagi Amira juga akhir-akhir ini dan kedepannya akan semakin sibuk. Apalagi Fatih memang sudah berangkat ke Jerman lebih cepat dalam waktu yang di perkirakan.


Mungkin, karena Amira dengan cepat faham akan bagaimana posisi dia nanti. Apalagi ada Rijal yang membantu Amira. Itu membuat Amira senang. Karena Amira tahu, bagaimana kecerdasan Rijal, bahkan waktu sekolahpun dulu Rijal adalah saingan terberat Amira.


Entah bagaimana ceritanya Rijal bisa jadi asisten Fatih. Yang jelas semuanya sudah di atur oleh Farhan jauh-jauh hari. Bahkan kuliah Rijal pun di luar negeri Farhan yang membiayai ya.

__ADS_1


Ting ....


Sebuah pesan masuk ke ponsel Amira. Amira yang baru selesai mandi langsung mengecek nya. Ternyata Email yang Rijal berikan untuk Amira pelajari. Karena besok adalah pertemuan pertama bagi Amira dengan para partner kerja perusahaan F.B Grup.


Amira sangat senang sekali bekerja sama dengan Rijal. Karena Rijal sangat bisa di andalkan bahkan cara kerja Rijal sangat cepat.


Tak lama sebuah panggilan Vidio call masuk.


"Apa kamu sudah membacanya?"


Tanya Rijal di sebrang sana, ya Rijal memang yang melakukan panggilan Vidio Call.


"Sudah!"


"Bagaimana, apa ada yang sulit!"


"No, but I'm sure I can!"


Sombong Amira membuat Rijal terkekeh di sebrang sana. Amira ternyata belum berubah, jika masalah pelajaran ia akan selalu sombong. Bahkan ternyata dalam bekerja juga sama.


Jek yang akan menemui putrinya urung ketika mendengar percakapan putrinya dengan Rijal sedang membahas pekerjaan.


Apalagi memang pintu kamar Amira tak tertutup rapat.


Karena tak mau menggangu, Jek kembali turun. Mungkin, lebih baik menunggu Amira saja di meja makan.


"Loh, Rara nya mana?"


"Dia lagi membahas pekerjaan dengan Rijal, mungkin sebentar lagi selesai!"


Dan benar saja, tak lama mereka menunggu Amira terlihat menuruni anak tangga. Amira tersenyum tipis lalu duduk di kursinya.


"Kelihatannya cuaca lagi cerah!"


Ucap Melati menghangatkan suasana meja makan.


"Besok Rara akan melakukan pertemuan pertama dengan partner kerja F.B Grup. Jadi Rara harus semangat!"


Ucap Amira tersenyum lebar, seolah Amira memang sangat antusias. Amira memang akan semangat jika sedang melakukan hal baru.


"Ayo makan, Rara sudah sangat lapar!"


Ucap Amira lagi sambil bersiap mengambil centong nasi.


Amira makan dengan lahap, tidak seperti beberapa akhir lalu.


Melati dan Jek saling tatap, mereka lega melihat kehangatan Amira kembali lagi. Seperti nya Amira sedikit bisa melupakan masalahnya karena sibuk bekerja.


Apalagi Jek dan Melati tahu, Amira si penggila belajar tapi juga si penggila kerja. Amira sangat menyukai hal-hal baru yang menantang otak cerdasnya.


Selesai makan malam, Amira membereskan piring-piring kotornya dan mencucinya kembali.


"Ayah, bisakah Ayah kirim data keuangan perusahaan dari empat tahun lalu ke email Rasa?"

__ADS_1


Deg ...


Jek terpaku ketika putrinya mengajak bicara, baru kali ini Amira mau bicara lagi dengannya. Rasanya ini seperti mimpi, bahkan sampai membuat Jek bengong.


"Ayah, apa ayah bisa mengirimnya?"


Amira mengulang pertanyaan nya lagi karena sang ayah malah bengong.


"Ya, i-ya ayah akan mengirimkannya!"


Jawab Jek ber bata karena saking senangnya.


"Terimakasih!"


Ucap Amira tulus bahkan senyuman manis itu kembali terlihat.


"Kalau begitu Rara ke atas, selamat malam!"


Ucap Amira langsung pergi menaiki satu persatu anak tangga.


Sedang Jek masih saja terpaku karena tak menyangka Amira akan menyapanya kembali. Bahkan apa tadi, Amira mencium pipinya tanda selamat malam yang selalu Amira lakukan setiap hari.


"Apa senang?"


"Rasanya aku seperti mimpi, putri kita sayang!"


Ujar Jek berkaca-kaca karena saking senangnya Amira mau bicara lagi dengannya.


"Mungkin Rara tak bisa lama-lama marahannya. Amira cuma butuh waktu!"


"Ya dan waktu itu membuat ayahnya sekarat!"


Ucap Jek memeluk sang istri saking bahagianya karena Amira menjadi hangat kembali.


Sedang Amira hanya tersenyum tipis melihat kedua orang tuanya yang nampak bahagia.


Amira kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Ternyata benar, apa yang Alam katakan. Amira harus bisa bersikap hangat kembali pada ayah nya.


Entah apa yang sedang Amira rencanakan, yang pasti Amira akan melakukan apa saja demi hubungannya dengan Alam.


Setidaknya Amira harus kembali menghangatkan suasana dengan kedua orang tuanya sebelum Amira bicara tentang hubungannya dengan Alam. Amira berharap, kedua orang tuanya tak akan menentang seperti Fandi dan Dinda. Karena harapan Amira hanya kedua orang tuanya. Amira yakin, kedua orang tuanya akan menyetujui hubungan mereka.


Apalagi Amira tahu, sang ayah dan sang mama tak akan mungkin menyakiti hati putrinya sendiri.


"Jika om berjuang mengambil hati kakek dan nenek. Maka, Rara akan berjuang mengambil hati mama dan ayah!"


Gumam Amira sambil memejamkan kedua matanya.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


.



__ADS_2