
Jantung Moreo terpacu hebat ketika ia hampir saja menabrak bocah kecil yang entah dari mana datangnya.
Untung saja Moreo masih waras, ia dengan cepat memutar stir hingga mobil Moreo menabrak pohon.
Tok .. tok ...
Moreo terkejut ketika beberapa orang mengetuk pintu mobilnya. Dengan cepat Moreo keluar dengan perasaan linglung.
"Apa anda baik-baik saja pak?"
Tanya salah satu warga yang melihat kejadian barusan.
"Saya baik-baik saja, bagaimana anak kecil tadi. Di mana dia, apa saya sudah menabraknya?"
Panik Moreo baru sadar akan bocah kecil yang tiba-tiba menyebrang jalan.
"Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, karena bapak dengan cepat membanting stir. Cuma bocah itu masih menangis mungkin karena terkejut!"
Jelas salah satu warga lagi menjelaskan.
"Di mana bocah itu?"
"Pak seperti bapak harus ke rumah sakit, kening bapak berdarah!"
Ucap warga mengingatkan, karena memang pasti Moreo yang mengalami luka. Di mana begitu hebatnya benturan tadi.
"Saya tidak apa pak, tolong tunjukan di mana bocah itu!"
"Sebelah sini pak!"
Moreo berusaha menahan pusing di kepalanya. Ia mengikuti langkah kaki bapak-bapak yang menuntun ia pada bocah itu.
Moreo mendengar suara tangisan bocah kecil dan seorang perempuan yang menenangkan nya. Seperti nya suara perempuan itu ibu dari bocah itu.
"Apa putri anda baik-baik saja, maaf saya tadi hampir saja menabraknya!"
Sesal Moreo sambil berjongkok karena bocah itu masih terlihat gemetar.
"Tidak apa, justru say--"
Deg ...
Perempuan itu tak bisa melanjutkan ucapannya karena terkejut melihat siapa lawan bicaranya.
Begitupun dengan Moreo yang terpaku, Moreo tak menyangka akan bertemu dengan Amelia di keadaan seperti ini.
Moreo menelisik wajah Amelia seksama sambil melihat bocah yang terus menangis.
Walau dulu mereka tak sedekat itu tapi Moreo dan Amelia bisa mengenali satu sama lain.
"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Mama gak marah kok. Tenang ya,"
Ucap Amelia lembut pada putrinya berharap putrinya tenang. Walau sejujurnya Amelia masih shok dengan apa yang terjadi.
Hampir saja jantung Amelia berhenti berdetak melihat putrinya yang hampir tertabrak.
__ADS_1
Moreo lagi-lagi terpaku mendengar nada bicara Amelia yang sangat lembut. Berbeda jauh dengan empat tahun lalu. Kini Amelia terlihat lebih dewasa dan semakin anggun.
Moreo menatap pada bocah kecil yang sudah mulai reda menangkisnya. Moreo menatap bocah itu seksama, wajah itu wajah yang mirip seseorang.
"Mama kening om ini berdarah!"
Celetuk Starla tersendat-sendat membuat Amelia langsung berbalik.
Benar saja, kening Moreo berdarah, tadi memang Amelia tak memerhatikan dengan jelas jadi Amelia tidak tahu jika Moreo mendapat luka. Pasti karena terlalu keras membanting stir.
"Kening kamu berdarah, apa tidak sebaiknya kamu kerumah sakit!"
"Tidak apa, ini hanya luka kecil!"
"Baiklah, tapi kening kamu harus di bersihkan!"
Ucap Amelia berdiri sambil menggendong Starla. Amelia mendudukkan Starla di salah satu kursi.
"Kemari lah!"
"Panggil Amelia meminta Moreo mendekatinya. Moreo seolah terhipnotis oleh panggilan Amelia.
"Duduk!"
Amelia menari Moreo untuk duduk di samping Starla.
Amelia mengeluarkan sebuah plaster yang selalu ia bawa kemana-mana karena terkadang Starla mendapat luka. Lalu Amelia membuka botol minum dan membasahi sedikit tisu.
Amira yang tadinya berdiri sedikit membungkukkan badannya karena Moreo sedang duduk.
"Maaf!"
Ucap Amelia ketika mendengar Moreo sedikit meringis.
Dengan telaten dan cukup hati-hati Amelia membersihkan darah yang sudah mengering. Lalu memberikan plaster pada luka Moreo.
"Sudah, selesai!"
Ucap Amelia membuat Moreo meraba keningnya yang sudah Amelia kasih plaster.
"Terimakasih,"
"Sama-sama, sepertinya aku harus segera pergi!"
Ucap Amelia tak enak lama-lama bersama Moreo. Apalagi dulu mereka tak sedekat itu.
Amelia menggendong Starla langsung, lalu pergi begitu saja. Starla melambaikan tangan pada Moreo sambil tersenyum manis. Moreo hanya bisa diam tanpa berani menahan kepergian Amelia karena mereka tak sedekat itu.
Mereka hanya sebatas kenal sendari dulu, dan mungkin Moreo juga akan sangat canggung lama-lama berdekatan dengan Amelia.
"Apa bocah itu anak yang dulu Amelia kandung!"
Gumam Moreo pada dirinya sendiri terus menatap kepergian Amelia.
"Berarti bocah itu anak Aditya,"
__ADS_1
"Jadi selama ini Amelia membesarkannya sendiri. Aku pikir gadis itu menggugurkannya!"
Monolog Moreo terus berbicara sendiri seolah tak puas. Moreo hanya sedikit merasa terkejut saja dengan fakta yang ia dapatkan.
Dulu Amelia gadis sombong dan arogan. Tapi lihatlah tadi, dia begitu sopan dan ramah. Bahkan tersenyum juga, sungguh Moreo seolah tak percaya itu. Amelia benar-benar berubah total, seolah tak ada Amelia yang dulu.
Ternyata keadaan selalu membuat seseorang berubah. Kadang kala jadi jahat kadang kala jadi baik, tergantung orangnya yang memandang hidup dan ingin memperbaiki diri.
"Apa dia merawat anaknya sendiri!"
Tanpa sadar ada rasa kagum di hati Moreo pada Amelia. Sungguh gadis arogan itu banyak sekali berubah. Padahal dulu Moreo paling membencinya.
Tapi, melihat tingkah Amelia tadi membuat Moreo menjadi penasaran bagaimana kisah yang di alami Amelia selama ini. Apakah kisahnya lebih beruntung dari dirinya atau lebih buruk dari ia.
Moreo menggelengkan kepala, rasanya otak Moreo sudah tergeser.
Moreo memutuskan pergi dari taman tersebut. Karena ada yang harus dia lakukan namun sebelum itu seperti nya Moreo harus membawa mobilnya dulu ke bengkel.
Deg ...
Moreo terdiam melihat uang beberapa lembar ratusan terjatuh di pangkuannya. Uang siapa itu, perasaan Moreo tak punya uang cash sebanyak itu.
Moreo memungut uang tersebut, dan selembar Nota yang menempel di salah satu lembar uang seratus ribu.
Entah siapa yang salah, saya harap uang ini bisa mengganti kerusakan mobil anda.
Moreo tersenyum membaca nota tersebut, sejak kapan Amelia menaruh uang di atas pangkuannya. Dan, sialnya kenapa Moreo tak menyadari itu.
Moreo sungguh merasa lucu dengan kejadian ini. Dan sejak kapan korban yang harus ganti rugi. Harusnya Moreo di sini yang salah karena terlalu kencang membawa mobil. Padahal Moreo tahu, jika jalan yang ia lewati adalah jalan dekat taman yang pasti ada banyak orang di sana termasuk anak kecil.
Sungguh Moreo ingin tertawa dengan kejadian ini. Bagi Moreo ini terlihat konyol.
Moreo menghitung uang tersebut ternyata jumlahnya dua juta.
"Gak apa lah, lumayan gak keluar uang!"
Gumam Moreo sambil tersenyum lucu, bahkan Moreo menggeleng-gelengkan kepala karena merasa tak percaya.
Amelia memberi ia uang untuk mengganti kerusakan mobil ya.
"Apa gadis arogan itu benar-benar berubah!"
Monolog Moreo sambil menyimpan uang pemberian Amelia kedalam saku dalam jasnya.
Moreo melirik mobil bagaimana depannya. Cukup parah dan mungkin jika di perbaiki totalnya akan lebih dari uang yang Amelia berikan.
Dengan cepat Moreo segera meninggalkan tempat itu menuju bengkel langganannya.
Mungkin butuh dua atau tiga hari selesai di perbaiki.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote DLL
Terimakasih ...
__ADS_1