HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 10 KISAH CINTA BIMA


__ADS_3

Cinta terhalang restu orang tua. Itulah yang di alami Bima dan Evita. Kalau keluarga Evita merestui hubungan anaknya dengan Bima, bagaimana mungkin tidak merestui hubungan itu. Siapa yang tidak kenal dengan pewaris tunggal keluarga Sanjaya? Sudah pasti pewarisnya adalah Bima Sanjaya. Berlian seperti Bima mana mungkin bisa diabaikan.


Berbeda dengan keluarga Evita, ibu Bima Sanjaya yakni Laras begitu amat sangat menentang keras hubungan anaknya dengan Evita. Pasti ada alasannya bukan. Hubungan yang sudah berjalan selama 5 tahun sejak anaknya masih kuliah itu awalnya masih mendapat restu dari Laras, namun semenjak Evita di perkenalkan pada Laras dan mengetahui seberapa kayanya keluarga Sanjaya itu, dengan perlahan gadis yang awalnya santun sederhana kini telah berubah sangat drastis.


Evita si gadis baik itu telah berubah dengan perlahan. Semakin posesif terhadap Bima, awalnya saat setelah menyelesaikan S1nya Laras berniat meneruskan pendidikan S2 Bima di luar negeri di universitas terbaik disana, punya uang punya kekuasaan dan punya otak cerdas yang di miliki anaknya akan sia-sia jika tidak di arahkan dengan sebaik mungkin. Awalnya Bima menurut dengan semua rencana keluarga Sanjaya namun saat Evita meminta putus karena ia tidak mau berhubungan jarak jauh, akhirnya Bima memilih untuk melawan mama dan papanya untuk bertahan meneruskan pendidikan di Indonesia.


Mulai saat itu rasa tidak suka Laras semakin besar. Belum lagi Evita yang suka sekali meminta uang pada anaknya untuk membeli barang mewah dan jalan-jalan keluar atau dalam negeri bersama teman temannya. Dengan bodohnya Bima memenuhi semua kemauan Evita. Bodoh, mungkin itu lah kalimat yang tepat untuk Bima, ternyata otak pintar akan berfikir tidak logis jika sudah berurusan dengan cinta. Sebucin itu Bima pada Evita.


"Turun" perintah Bima setelah menghentikan mobilnya di tepi jalan. Siang ini matahari nampak terik, menyengat jika langsung terpapar kulit.


"Kenapa Tisya diturunin disini kak?" jelas saja Zantisya bingung kenapa ia harus turun di pinggir jalan yang hanya lalu lalang banyak nya kendaraan. Mungkin kalau ia diturunkan di kedai es dugan ia tidak akan protes.


"Yang mau periksa hamil Evita bukan kamu" sinis Bima. Tanpa menatap Zantisya, Bima melemparkan beberapa uang ratusan ribu di pangkuan Zantisya.


"Ini apa kak?" Zantisya jelas heran. Sudah di suruh turun sekarang di lempari uang. Zantisya sambil menyatukan lembaran uang agar tertata rapi.


"Heh. Sekarang kamu sudah buta melihat duit. Nggak usah sok bodoh. Cepat keluar” bentaknya.


Apa tidak bisa mengatakan baik-baik saja dari pada membentak dan mengatainya buta dan apa tadi dia di katai bodoh. Bapaknya yang membesarkannya seorang diri saja tidak pernah sekasar ini. Air mata Zantisya ingin jatuh tapi ia tahan, menurutnya Bima tidak berhak mendapatkan air matanya.


Zantisya meletakkan uang di dashboard mobil. "Terimakasih kak" Ucapnya lalu keluar dari mobil.


"Nggak usah sok nggak doyan duit. Kurang?" sinis Bima menatap punggung Zantisya yang akan keluar mobil.


Sabar. Apa perlu orang seperti Bima selalu ia sabari. Zantisya mungkin akan terima di pukul dari pada ia harus mendengar cacian yang bima lontarkan terus padanya. Jangan karena ia masih Sembilan belas tahun maka ia akan terima saja di perlakukan seperti ini oleh Bima. Tidak akan.


Dengan berani Zantisya membalas tatapan Bima lekat. Untuk pertamaka kalinya mereka bertatapan mata sedalam ini, dalam bukan karena cinta tapi karena amarah yang terpendam. Untuk beberapa detik bima terhipnotis dengan tatapan Zantisya. Mata cantik dengan bulu mata lebat dan lentik itu tak lama berkedip.


"Kalau kakak tahu uangnya kurang kenapa hanya memberiku segitu. Kakak kira lontang lantung di jalanan menunggu kakak menelpon ku untuk pulang tidak butuh makan, tempat meneduh?"

__ADS_1


Bima diam-diam memperhatikan bibir Zantisya yang mungil tengah bicara dengan sedikit bergetar, karena memang ini pertama kalinya Zantisya menjawab amarahnya. Namun bukan Bima namanya kalau ia akan berbelas kasih atau rasa iba terhadap istrinya itu. Tanpa ia sadari ia melamun sejenak lalu ia menoleh di kursi sampingnya, Zantisya sudah tidak ada dan pintu mobil pun sudah tertutup. Tanpa pikir panjang ia langsung mengemudikan mobilnya menjemput kekasihnya, Evita.


.


.


.


"Keadaan janin dan ibunya sehat pak" ucap dokter setelah memeriksakan kehamilan Evita. Ini adalah kali ke dua Evita dan Bima periksa hamil. Usia kehamilan Evita pun kini sudah sepuluh minggu.


"Syukurlah" lirih Bima sambil mengusap punggung Evita.


"Ini resep obatnya bisa bapak dan ibu tebus di apotik"


"Baik dokter, terimakasih" ucap Bima. Setelah bersalaman keduanya pun langsung menuju ke apotik.


"Sayang nanti malam kita ke hotel lagi ya" bisik Evita menggoda.


"Ihhh… kok pakek tanya sih" kesal Evita sambil memukul manja lengan Bima.


Bima terkekeh geli dengan sikap manjanya Evita. "Iya sayang. Tapi mulai malam ini kita udah bisa menghabiskan waktu di apartemen"


"Udah selesai renovasinya?" tanya Evita antusias.


Bima mengangguk. "Setelah ini kamu aku antar ke apartemen terus aku harus ke kantor dulu ok" Evita mengangguk. Sebuah keberuntungan besar baginya bisa memiliki cinta Bima sehingga apapun yang ia mau bisa di turuti oleh Bima dengan mudah. Benar-benar berlian bagi Evita.


.


.

__ADS_1


.


Hari sudah semakin sore, Zantisya sesekali melihat ponselnya menunggu Bima menelponnya untuk segera pulang. Namun sampai matahari sudah mulai tenggelam, mega merah nampak mewarnai langit yang sudah akan menggelap. Dilihatnya baterai ponselnya sudah mau habis karena sejak tadi ia membuka aplikasi youtube melihat acara podcast nomor satu di Indonesia yang ramai penontonnya.


Beruntungnya, Laras mudah sekali percaya dengan perkataan anaknya itu. Setiap Bima keluar dengan Zantisya dan kalau mereka tidak pulang ke rumah itu artinya mereka akan bermalam di apartemen Bima atau di salah satu hotel milik keluarga Sanjaya.


Sejak kematian suaminya dua tahun lalu. Perusahaan menjadi tanggung jawab Bima sepenuhnya. Sedangkan Laras hanya mengurus beberapa bisnisnya sendiri.


"Apakah malam ini aku pulang saja ke rumah" batin Zantisya sambil melihat sekitar alun-lun. Ia pun melangkah ingin segera mencari ojek untuk pulang ke rumah.


Namun tiba-tiba hujan turun dengan cukup deras. Terpaksa Zantisya berteduh disalah satu ruko yang tutup. Beruntung disana banyak perempuan yang ikut meneduh juga.


"Dek kemala" suara dan wangi yang cukup di kenali Zantisya.


Ia menoleh di sumber suara. "Mas Arjun"


"Ngapain kamu disini dek?" tanya Arjuno heran. Bagaimana tidak heran karena alun-alun kota dengan jarak rumahnya sangat lah jauh. apa lagi ini sudah magrib.


"Hanya main mas. Mas sendiri?"


Arjuno memperlihatkan kantong plastic berisi camilan. "Beli camilan. Tadi aku kira salah lihat tapi karena penasaran jadi aku samperin kamu dek"


Zantisya mengangguk. "Mas baru pulang kerja?" tanya Zantisya karena melihat Arjuno memakai setelan jas.


Arjuno mengangguk. "Rumah ku nggak jauh dari sini, mau mampir?"


Bersambung...


Duh mas duda maen ngajakin istri orang pulang kerumahnya aja ih😀

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya 😊 kasih like dan komennya 💋


__ADS_2