HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 52 BERTEMU EVITA


__ADS_3

Semalaman Evita tetap terjaga. Matanya sungguh sulit diajak lelap karena pikirannya yang terus mengingat kejadian tadi.


Bima yang dulu sangat sangat mencintainya kini rasa itu sepertinya hambar padanya. Suaminya itu kini sudah mulai gila, gila terhadap perasaannya untuk Zantisya.


Hingga matahari mulai menampakkan cahayanya, Evita belum juga memejamkan mata. Rasa sakit hatinya semakin menumpuk dan menyesakkan dada. "Aku harus menemuinya"


.


.


.


"Bi, kangkungnya mana?" tanya Zantisya yang baru saja membuka kantong belanja sayuran bi Tami.


Bi Tami langsung menghampiri Zantisya ikut melihat belanjaan yang baru dibelinya. "Loh kok nggak ada ya mbak?"


"Bi Tami lupa ya? padahal Tisya pengen makan pake tumis kangkung"


"Bibi tak kesana lagi ya mbak?"


"Nggak usah bi, cuma kangkung aja bi Tami harus ke pasar lagi" ucap Zantisya sambil menata sayuran.


"Di pojok jalan kan ada tukang sayur mbak"


"Oh iya ya. Ya udah bi, biar Tisya aja yang kesana" ucap Zantisya yang langsung meninggalkan bi Tami yang hendak melarang.


.


.


.


"Mas…" Panggil Zantisya setelah Arjuno mengangkat sambungan video call.


"Iya sayang"


"Mas, Aku mau keluar sebentar beli kangkung di pojokan jalan sana boleh ya?" pinta Zantisya sambil berjalan keluar rumah. "Bi tami tadi lupa beli waktu ke pasar"


"Ya sudah, tapi jangan dimatikan telponnya ya"


Zantisya tersenyum dan mengangguk. "Tersayang deh mas pokonya" girang banget pokoknya Zantisya dibolehkan keluar sebentar.


Suami posesif milik Zantisya itu selalu menemaninya kemanapun ia mau, tapi beruntungnya Zantisya tidak merasa terkekang dengan sikap suaminya.


Zantisya ingin segera pulang karena sudah membeli satu ikat kangkung. Namun saat berbalik dan melangkah terus menuju rumah, matanya mendapati keberadaan Evita yang kini berdiri tepat didepannya.


"Mas, baterai hape ku habis. Assalamualaikum" tanpa mendengarkan jawaban dari Arjuno, Zantisya langsung memutuskan sambungan video mereka.


"Aku mau bicara"


Zantisya melihat sekeliling tempat. Meski tidak ramai orang, tidak pantas mereka berbicara disini.

__ADS_1


"Mau mampir ke rumah mbak?" usul Zantisya ramah.


"Nggak perlu. Aku nggak sudi menginjak rumah perempuan penggoda"


Zantisya yang awalnya berwajah ramah kini menatap Evita dengan tatapan sinis. Jujur ia sangat malas jika harus berdebat dengan masalah yang sudah berlalu sepagi ini. Merusak keceriaan pagi hari saja.


"Siapa yang penggoda mbak?"


"Dasar nggak tahu malu, sudah jelas waktu itu kamu menggoda suami ku agar menyentuh mu kan? Murahan"


"Murahan. Sepertinya kata itu lebih tepat untuk perempuan yang mau ditiduri lelaki diluar pernikahan, lelaki yang sudah bersuami hanya untuk mendapatkan hartanya dengan alasan cinta"


Ucapan Zantisya itu membuat evita tersindir telak. Bagaimana pun memang selama ini ia menyerahkan diri secara suka rela agar Bima memenuhi apapun yang ia mau. Urusan cinta itu nomor sekian karena yang utama adalah uang.


Zantisya langsung menangkap tangan Evita yang hendak menamparnya. Lalu menghempaskan secara kasar karena rasa jengkel yang memenuhi hatinya.


"Aku nggak terima kalau harus mendapatkan pukulan atas hal yang nggak aku lakukan"


"Tapi kamu memang menggoda Bima kan? Karena suami kamu tidak sekaya Bima"


Zantisya tersenyum mengejek pada Evita. "Untuk apa aku menggoda lelaki orang kalau aku sendiri memiliki lelaki hebat yang aku cintai dan mencintai aku. Mbak ini aneh, kalau aku menginginkan harta keluarga suami mbak yang kaya raya itu untuk apa semua yang menjadi hak ku, aku kembalikan"


"Akan lebih baik mbak berubah mengambil hati suami mbak yang sudah bercabang. Agar dia tidak mengusik kebahagiaan ku bersama suamiku" masih sempat Zantisya menasehati Evita sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan perempuan yang masih terpaku ditempat.


.


.


.


"Ini langsung disiram mbak bunganya" tanya amel setelah selesai menanam bunga miliknya.


"Iya, secukupnya aja Mel menyiramnya jangan terlalu banyak ya"


Amel mengangguk paham dan langsung menyirami bunga.


Tak lama kemudian mobil Arjuno sudah memasuki halaman rumah. Zantisya tentu saja senang dan langsung mencuci tangannya. Perempuan berjilbab itu langsung menghampiri suaminya yang telah keluar dari mobil.


"Lagi ngapain sayang?" Arjuno langsung memeluk Zantisya tanpa sungkan padahal disana ada pak Totok yang sejak tadi sudah menjemput bi Tami.


"Mas, aku bau lo baru nanam bunga sama Amel" ucap Zantisya sambil menunjuk Amel yang masih terus menyirami bunga.


Arjuno langsung mencium pipi Zantisya. "Wangi kok"


"Dasar kang gombal, modus terus kerjaannya"


Arjuno tersenyum mendengarkan ejekan Zantisya yang memang nyata, nyata modusnya. Arjuno langsung membuka pintu mobil bagian belakang mengambil empat bungkus martabak.


"Ini buat pak totok, bi Tami sama pak Edi ya" Arjuno meletakkan tiga kantung plastik martabak.


"Terimakasih ya mas" betapa sangat bersyukurnya pak totok kala kehilangan mata pencaharian, kini ia mendapatkan pekerjaan dari Arjuno dan dengan gaji yang lebih dari sebelumnya.

__ADS_1


"Sama-sama. Dek aku masuk duluan ya. Tuh Amel temenin biar cepet selesai"


Zantisya tepok jidat. "Untung mas ingetin, bahaya kalau potnya banjir air" Zantisya langsung lari begitu saja.


.


.


.


Setelah bi Tami pulang, Zantisya langsung naik keatas menuju kamarnya sambil membawa martabak manis yang sudah ia pindahkan ke piring.


"Masih mandi mungkin ya" gumam Zantisya sambil duduk di sofa dan langsung mengambil satu potong martabak.


Tak lama kemudian Arjuno keluar dengan menggunakan bethrobenya berwarna hitam. Arjuno langsung ikut duduk di samping Zantisya.


"Enak sayang?"


"Enak lah mas" ucap Zantisya sambil menyuapkan martabak pada Arjuno. "Makin sayang deh kalau tiap hari kaya gini" puji Zantisya.


Arjuno tersenyum menatap istrinya. "Mau suapan spesial?" tawar Arjuno.


Zantisya langsung menatap lekat Arjuno. "Aku tau mas pasti mau modusin aku kan?" todong Zantisya saat mengingat suapan spesial ala Arjuno.


"Ini beda lagi" masih mencoba menawarkan jasa suapan.


"Apa bedanya mas?" sepertinya Zantisya mulai terpancing.


"Mau tau?" Zantisya langsung mengangguk penasaran. "Gigit ya nanti potongan martabaknya dek"


Setelah Zantisya mengangguk lagi, Arjuno langsung menggigit potongan martabak sekecil mungkin dan ia gigit diantara giginya.


"Heh" isyarat Arjuno agar Zantisya segera melahap suapan alanya kini.


"Mas modus ya?" curiga Zantisya. Dan Arjuno langsung cepat menggeleng dan menatap istrinya agar cepat melahap potongan martabak.


Saat Zantisya sudah mendekatkan wajahnya ingin melahap martabak dalam gigitan Arjuno. Detik itu juga Arjuno langsung memasukkan martabak gigitan minimalisnya dan langsung mencecap bi*bir Zantisya. Kecanduan banget sepertinya Arjuno kini.


Zantisya yang sudah hapal dengan ke modusan suaminya langsung memejamkan matanya membalas cecapan yang sangat ia sukai.


Arjuno langsung membawa tubuh Zantisya ke pangkuannya agar tubuh keduanya semakin dekat. Arjuno yang nakal mulai membuka resleting baju istrinya yang ada di bagian depan.


"Mas…" Zantisya langsung menghentikan tangan Arjuno.


"Kenapa?"


"Aku mandi dulu" ucap Zantisya yang langsung lari secepat mungkin menuju kamar mandi. Bukan niat menolak suaminya tapi Zantisya merasa nggak nyaman dengan badan yang masih terasa lengket karena peluhnya tadi.


Bersambung...


Tadi pagi dibuat kesel sama Bima sekarang aku kasih bonus Evita😂

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Selamat malam dan selamat istirahat ❤️🥰😊


__ADS_2