HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 59 KEBUN BINATANG


__ADS_3

Setelah solat subuh Arjuno mengajak Zantisya rebahan kembali diatas ranjang. Lelaki itu tidak mengizinkan istrinya beranjak dari sana. Arjuno terus mendekap Zantisya erat-erat seolah takut istrinya itu kabur.


"Mas pengap nih" keluh Zantisya. Sejak tadi wajahnya memang menelusup di dada suaminya itu.


Arjuno langsung merenggangkan pelukannya. Menatap wajah Zantisya yang kini menatapnya.


"Mas ini kenapa sih manja banget deh"


"Manja sama istri banyak pahalanya lo dek"


"Ya kalau manja terus nanti kita kelaparan mas. Biarin aku masak ya?"


"Biar bi Tami aja dek nanti yang masa. Sini" Arjuno masih mau bermanja-manja ria. Nempel terus.


Mohon di mengerti karena sejak beberapa minggu terakhir waktunya bersama Zantisya berkurang karena ia banyak menghabiskan waktu dikantor dan proses pembangunan yang sudah enam puluh persen jadi.


"Bi Tami datangnya siang lo mas, nanti mas gak bisa sarapan" Zantisya mulai mengingatkan. Akhir-akhir ini Arjuno memang berangkat lebih pagi dan pulang malam.


"Dek kita liburan yuk" usul Arjuno tiba-tiba.


"Kemana mas"


"Adek mau kemana?"


Zantisya nampak memikirkan sesuatu. "Ke kebun binatang mas. Mau nggak"


"Ayolah berangkat" Arjuno langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur semangat.


"Loh mas memangnya nggak ke kantor?"


"Dari kemarin kerjaan numpuk dek. Bari ini kita liburan dulu"


Zantisya langsung tersenyum bahagia. Memang akhir-akhir ini suaminya sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi ia mengerti dengan segala kesibukan suami modusnya ini.


.


.


.


Beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya mobil Arjuno masuk ke parkiran mobil. Mereka langsung segera keluar dari mobil.


"Mbak Rani"


"Loh Tisya, Uno kalian disini juga?" tanya Rani yang nggak disangka-sangka bertemu dengan pasangan romantic ini.


"Iya mbak, emmm… gimana kalau kita jalan bareng-bareng ke dalamnya" usul Zantisya.


"Memangnya kami nggak ganggu?" tanya Rani nggak enak hati.


"Enggak lah mbak. Ya kan mas?"


Arjuno menatap istrinya yang kini menatapnya meminta jawaban atas pertanyaan yang jelas paksaan. "Iya nggak apa-apa sayang"


"Eh Radit, salaman dulu sama om dan aunty"

__ADS_1


Radit menurut dan langsung bersalaman dan mencium punggung tangan Arjuno dan Zantisya. Begitu juga Rania.


"Anak pinter" ucap Zantisya. "Boleh aku gendong Rania mbak?"


"Rania berat loh Tisya" bukan nggak boleh sama Rani, hanya saja memang kenyataannya balita itu nampak jelas gembul. Belum lagi karena terburu-buru mbak yang mengasuh Rania lupa membawa kereta dorongnya.


"Nggak apa-apa kok mbak, siapa tahu aku cepat ketularan"


Rani yang melihat senyum Zantisya penuh harap pun langsung memberikan Rania pada Zantisya.


"Maaf aku baru dateng Ran" ucap Sari yang baru ikut gabung. "Loh ada Uno sama Tisya juga" nggak menyangka juga kalau akhirnya bertemu pasangan bahagia ini.


"Ya sudah ayo. Aku beli tiket dulu"


"Biara aku aja Uno yang beli tiket buat kita semua" ucap Rani menghentikan langkah Arjuno.


"Aku saja" ucap Arjuno singkat.


"Kenapa ucapannya seperti menjaga jarak dengan ku? Meski aku masih ada rasa tapi dia nggak perlu kan bersikap begitu, toh aku nggak akan mengusik kebahagiaan mu Uno" Batin Rani menatap punggung Arjuno yang melangkah lebih dulu.


Sedangkan Zantisya sejak tadi mengamati keduanya. Jelas sebagai perempuan Zantisya dapat merasakan apa yang dirasakan Rani. Tapi dari pada memikirkan itu, Zantisya lebih tidak menyangka kalau suaminya membuat jarak untuk Rani.


"Aku nggak boleh berfikir buruk tentang suami ku lagi. Padahal aku sudah tahu kalau mas Arjun nggak akan sakiti aku" batin Zantisya lalu mencium pipi Rania gemas karena sejak tadi tiada hentinya berceloteh.


"Ayo jalan ikutin pak bos" ajak Sari menggandeng Radit.


Kini mereka semua sudah memasuki area wisata kebun binatang. Berbagai macam hewan jinak, hewan ternak, hewan buas, reptile dan yang lainnya ada disana.


Sejak tadi juga Arjuno yang mengambil alih menggendong Rania, dan kini Raditlah yang ingin di gandeng Zantisya.


Rani, Sari dan pengasuh Rania hanya mengikuti mereka yang malah terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.


Sejak tadi ia memang lebih fokus melihat bagaimana dengan telatennya Arjuno dan Zantisya memberi tahu kedua anaknya itu nama dan jenis hewan yang mereka lihat.


Sari mengangguk. Sejujurnya ia pun merasa ingin memiliki keluarga bahagia seperti Zantisya. Tapi rasa trauma Sari atas kegagalan pernikahan karena kekerasan membuatnya masih enggan untuk membuka hati lagi.


"Mereka memang beruntung bertemu dengan pasangan yang tepat" ucap Sari merangkul pundak Rani. "Kalau di pikir-pikir kenapa nasib kita apes banget ya Ran"


"Maksudmu?"


"Kita sama-sama janda, dulu kamu ditinggal selingkuh kalau aku disiksa sebegitu teganya"


"Semoga nanti kita menemukan orang yang tepat dan mencintai kita Sar. Aku juga mau punya lelaki yang bucinin aku" ucak Rani dengan ekspresi sok gemesnya.


"Kita udah tua masih aja mikirin bucin"


"Hello… tuh kita lihat Uno. Umurnya aja lebih tua dari kita, tapi keliatan bucinnya ya Allah gusti"


"Bener juga. Masih ada stok spek model kaya begitu nggak ya?"


"Kayanya langka"


"Astaga… kita ngomongin apa sih?" makin nggak habis fikir juga Sari kini.


"Ngomongin kita yang udah kaya bodyguard"

__ADS_1


"Ckckck… Nasib… Nasib..."


Mereka pun langsung melangkah cepat menyusul Arjuno dan Zantisya yang sudah semakin menjauh saja.


Setelah cukup lama berkeliling melihat hewan disana, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Karena sudah cukup lelah berkeliling mengitari tempat wisata itu.


.


.


.


"Laper nggak dek?"


"Jelas laper dong mas"


"Mau makan apa?"


"Beli rawon yuk mas" ajak Zantisya semangat.


"Mau nostalgia ya sama makanan itu?" goda Arjuno.


"Emang ada apa ya mas dengan makanan itu?" tanya Zantisya ikut menggoda dengan sok lupanya.


"Apa ya… yang pasti perempuan yang sudah jatuh cinta sama cowok ganteng ples modus"


"Sadar diri juga kalau modusan mas ini?" ucapan Zantisya malah mengandung praduga Arjuno.


"Jadi beneran saat itu adek udah jatuh cinta sama aku?"


"Siapa yang bilang?" elak Zantisya.


"Itu tadi barusan?" pancing Arjuno.


"Emang keliatan banget ya mas?" nah loh, ikan sudah memakan umpan.


"Jadi sejak kapan adek jatuh cinta sama aku?" mulai melancarkan penyelidikan.


"Ih mas keppo ya?"


Arjuno langsung memarkirkan mobilnya karena memang sudah sampai di salah satu rumah makan. Memang aneh lelaki satu ini, punya restoran, punya chef yang di percaya menjaga cita rasa menu yang tersedia disana tapi dia sendiri sangat jarang makan di restorannya sendiri.


"Dek jawab dulu" Arjuno mengejar Zantisya yang dengan cepat keluar mobil dan lari memasuki rumah makan. Sengaja menghindari pertanyaan suaminya.


"Dek jangan bikin aku penasaran" ucap Arjuno ikut duduk di samping Zantisya.


"Makan dulu mas, biar aku nggak lupa kapan aku jatuh cinta sama mas"


"Tapi nanti beneran di jawab ya?"


"Iya suami ku yang keppo"


Bersambung...


Masalah Rani sudah selesai ya. Kita sudah tidak perlu khawatir kalau dia bakal merusak kebahagiaan Arjuno sama Zantisya. Tinggal kita selesaikan masalah Bima dan Evita. Dan junior Arjuno pastinya 😂 nggak lucu dong modus terus masak gak jadi-jadi🤭

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️ follow akun author juga ya 🥰


Selamat malam dan selamat istirahat 🥰


__ADS_2