HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 99 KAMAR UTAMA


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu. Arjuno terus saja disibukkan dengan seluruh pekerjaannya. Lelaki itu sampai melupakan hal yang ingin ia bahas dengan sang istri karena selalu berangkat pagi pulang malam. Sudah mau menyerupai bang Toyib sepertinya.


Arjuno melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia langsung menghela nafas karena saat ini jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB. Artinya ia masih 2 jam berada di kantor.


Arjuno beranjak dari kursi kerjanya. Berdiri mendekati kaca untuk melihat cuaca di luar sana. Sangat nampak jelas langit terlihat mendung. Sudah dapat dipastikan kalau langit akan menurunkan air menyirami bumi.


Arjuno langsung kembali duduk dan langsung menekan telepon yang ada dimeja kerjanya.


"Sep, tolong antar berkas yang perlu aku periksa." Ucap Arjuno pada Septi. Perempuan yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Ia yang menghandle pekerjaan Resti selama sekertaris Arjuno itu Cuti.


"Baik pak."


Arjuno berfikir akan lebih baik ia pulang. Melihat langit mendung yang sudah siap menurunkan hujan. Membuat hati Arjuno sangat merindukan sang istri.


.


.


.


Jam masih menunjukkan pukul 11.00 WIB. Setelah sejak tadi pagi Zantisya bermain bersama Al. menjaga dua anaknya yang semakin aktif. Merambat kesana kemari sesuai maunya. Kini ia tengan menidurkan dua anaknya.


Zantisya mengAsi safir secara langsung. Sedangkan Ruby, minum Asi menggunakan dot. Gadis kecilnya itu bisa memegang botol dotnya sendiri. Namun tetap saja harus diawasi. Siapa lagi kalau bukan Yanti yang menjaga Ruby.


Meski ini bukan kali pertama Yanti berada di dalam kamar ini. Tapi mata Yanti sejak tadi terus menelisik setiap sudut ruangan yang menjadi saksi bagaimana panasnya kedua orang tua Al beradu mesra. Membuat pikiran Yanti semakin tidak karuan membayangkan dirinya bersama suami Zantisya.


Zantisya langsung membenarkan tidurnya Safir setelah pucuk pusat produksi Asi sudah lepas dari sedotannya. Zantisya menata guling di pinggir Safir agar anaknya tidak terbentur tembok.


"Kamu istirahat saja Yan. Biar ku teruskan jaga Ruby." Ucap Zantisya setelah turun dari ranjang ukuran besar yang rencananya ia dan Al akan tidur siang disana.


"Baik bu." Ucap Yanti yang langsung keluar dari sana.


Yanti melangkah pelan sambil memperhatikan setiap sudut ruangan atas. Langkahnya terhenti saat ia berada di depan pintu kamar utama. Kamar yang belum pernah ia masuki sama sekali selama bekerja dirumah ini.


Jangankan Yanti. Bi Tami dan bi Siti saja bisa dihitung jari berapa kali mereka memasuki kamar utama itu. Kalau dulu setiap hari bi Tami masuk dan membersihkan kamar Arjuno saat belum menikahi Zantisya. namun pekerjaannya berkurang begitu Zantisya sudah dinikahi Arjuno.


Zantisya dan Arjuno memang sangat privasi sekali dengan kamar mereka. Masalah membersihkan kamar mereka sudah ada alat canggih tanpa harus bersusah payah menyapu dan mengepel.

__ADS_1


Karena terlalu penasarannya dengan kamar majikannya itu. Dengan beraninya, Yanti langsung masuk kedalam kamar utama setelah melihat keadaan sekitar.


Wangi Vanila langsung bisa tercium menguasai indranya Yanti. Memberikan kesan manis dan romatis setelah pintu ia tutup lagi.


Nuansa kamar juga sangat menyenangkan dengan kamar yang tertata rapi. Bunga tulip juga nampak menghiasi sia meja kecil di setiap sisi ranjang.


Yanti menatap foto pernikahan dan foto majikannya di hamparan bunga tulip yang indah. Mereka nampak jelas bahagia dari gambar yang dilihat Yanti. Ia tersenyum sinis menatap hal itu.


Yanti langsung melangkah membuka setiap lemari yang ada disana. Bagaimana banyaknya baju Zantisya yang tergantung didalamnya. Semua lemari diabsen Yanti karena penasaran.


Yanti menuju meja rias melihat apa yang di pakai Zantisay sehingga membuat kulit wajah Zantisya terlihat halus bersih tanpa noda. Dan yang pasti wajah majikannya itu terlihat lebih muda darinya.


Yanti mencium satu persatu botol parfum yang tertata rapi di tempatnya. Mencari wangi mana yang seriung tercium di indranya saat Zantisya melewatinya.


"Sepertinya ini." Gumam Yanti yang langsung menyemprotkan minyak wangi yang sudah pasti mahal harganya.


.


.


.


Mobil Arjuno memasuki halam rumah tepat saat hujan lebat turun membasahi bumi. Ia langsung keluar dari mobil saat sudah memasukkan mobilnya kedalam garasi.


"Loh tumben mas sudah pulang?" Tanya bi Tami keheranan melihat Arjuno yang pulang terlalu awal.


"Iya bi. Kemala sama Al, sudah tidur dari tadi bi?"


"Sudah mas."


Arjuno langsung naik keatas setelah bebincang singkat dengan bi Tami. Baru saja ia akan membuak handle pintu kamarnya, tiba-tiba listrik padam.


Klek


Arjuno masuk kedalam kamar dan langsung menutup pintu. Begitu ia masuk, bukan hanya aroma kamar yang tercium oleh Arjuno. Tapi juga aroma tubuh Zantisya yang biasa ia gunakan. Wangi kesukaan Arjuno.


"Dek." Panggil Arjuno. karena ruang kamar menjadi gelap dengan minim cahaya karena mati lampu dan cuaca mendung diluar sana membuar arjuno tidak bisa melihat dengan jelas wujud istrinya.

__ADS_1


Arjuno langsung mendekati perempuan yang sudah wangi itu. Setelah meletakkan tas kerjanya dan melepaskan jasnya.


Sedangkan Yanti yang dikira Arjuno adalah Zantisya, langsung melepas ikat rambutnya agar memanjang. Lalu membuka beberapa kancing bajunya.


"Kamu goda aku ya dek. Dipanggil kok diam saja." Ucapan Arjuno seketika membuat Yanti berharap sesuatu dengan cuaca yang mendukung seperti ini.


Arjuno langsung menyentuh kedua pundak perempaun yang ia kira istrinya dan mencium rambutnya. Namun.


Brug...


"SIAPA KAMU?" Lantang Arjuno setelah detik berikutnya menyadari kalau yang ia sentuh bukan pundak Zantisya. Rambutnya saja tidak tercium wangi seperti rambut istrinya.


Arjuno tidak bisa dikelabuhi walau kini wajah orang yang ia hempaskan begitu saja tidak terlihat jelas. Ia sangat hapal dengan tubuh Zantisya. Karena setiap hari ia menyentuh istrinya. Memeluk erat istrinya. Ia akan paham dengan cepat saat ada sedikit saja perubahan pada tubuh Zantisya.


"Pak."


Mendengar suara Yanti barusan membuat amarah Arjuno memuncak.


"Beraninya kamu memasuki kamar ini?" Geram Arjuno. "Keluar." Usir Arjuno marah.


"Pak, saya suka sama bapak. Semenjak bapak menolong saya waktu itu, saya benar-benar tertarik dengan bapak."


"Berani sekali kamu ngomong sama saya seperti ini."


"Saya mau menjadi simpanan bapak. Saya ikhlas walau hanya menjadi pelampiasan. Mumpung ibu tidur saya mau jika bapak ingin melakukan hal itu." Ucap Yanti sambil bangun. Lalu melangkah mendekati Arjuno.


"BERHENTI." Bentak Arjuno. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan kamar.


Arjuno melangkah lebar menuju pintu. Ia ingin keluar lebih dulu dari dalam kamarnya. Namun baru beberapa langkah Arjuno, pintu kamarnya terbuka dan lampu langsung menyala terang.


"Dek."


"Mas. Kok sudah pulang?" Tanya Zantisya yang langsung masuk kedalam kamar. Dan detik berikutnya matanya dikejutkan dengan sosok Yanti dengan kancing baju yang terbuka.


"Mas kenapa Yanti ada di kamar kita?" Tanya Zantisya pelan sambil menatap Arjuno.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2